Pos

Ikatan Santri Kalimantan Barat Sowan Masyayikh ke Pondok Pesantren Nurul Jadid

nuruljadid.net – Ikatan Santri Kalimantan Barat Pusat bersilaturrahmi ke Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo (29/09/2023) menerima kunjungan istimewa dari Ikatan Santri Kalimantan Barat. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari program Sowan Masyayikh ke Provinsi Jawa Timur dari Kalimantan Barat. Kunjungan ini bertujuan untuk mempererat silaturrahmi dan tabarrukan antara santri alumni dari berbagai pondok pesantren kepada para masyayikh di Jawa Timur.

Pada acara tersebut, rombongan Ikatan Santri Kalimantan Barat diterima dengan hangat langsung oleh pengasuh, KH. Moh. Zuhri Zaini, didampingi oleh sekretaris pesantren, H, Tahiruddin. Acara penyambutan berlangsung di Aula Mini Pondok Pesantren Nurul Jadid Lantai dasar.

Tausyiah pengasuh Kiai Moh. Zuhri Zaini pada acara Kunjungan Ikatan Santri Kalimantan Barat Pusat di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton

Kegiatan ini diawali dengan sesi seremonial pembukaan oleh perwakilan rombongan Ikatan Santri Kalimantan Barat. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan tujuan sowan masyayikh dan silaturrahmi ke beberapa pondok pesantren di Jawa Timur salah satunya Nurul Jadid Paiton. Beliau juga mengungkapkan bahwa santri memiliki peran penting dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa lewat silaturrahmi.

Selama kunjungan ini, para santri Kalimantan Barat diajak untuk mendengarkan tausyiah dari Kiai Moh. Zuhri. Mereka berkesempatan mengikuti secara langsung nasehat-nasehat baik dari kiai Zuhri tentang pentingnya menjaga silaturrahmi dan penguatan peran santri di tengah Masyarakat. Selain itu, rombongan juga melakukan sesi foto bersama usai kegiatan penyambutan dan tausyiah dari pengasuh Kiai Zuhri Zaini.

Sesi foto bersama pengasuh Kiai Moh. Zuhri Zaini pada acara Kunjungan Ikatan Santri Kalimantan Barat Pusat di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton

Kunjungan Ikatan Santri Kalimantan Barat ke Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton diharapkan akan menjadi wasilah untuk merekatkan tali silaturrahmi antara santri dengan pondok pesantren dalam rangka tafaqquh fiddin dan ukhwah islamiyah. Disamping itu, kunjungan ini juga menciptakan peluang untuk memperluas pengetahuan dan pengalaman santri dalam menjaga persatuan bangsa dan keberagaman.

(Humas Infokom)

Kiai Hamid Terima Penghargaan Atas Prestasi Nurul Jadid Sebagai Pesantren Pertama di Indonesia yang Mengajarkan Bahasa Mandarin

nuruljadid.net – Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid KH. Abdul Hamid Wahid menerima penghargaan Widyaiswara dari Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) dalam acara peringatan HUT ke-78 RI yang digelar oleh Komunitas Grup Arek Suroboyo (GAS) di Surabaya, Jum’at (11/08/2023).

Momentum tersebut menjadi sebuah refleksi bangsa Indonesia untuk memperkuat rasa nasionalisme dan patriotism, khususnya warga kota setempat.

“Jadi, kami berusaha untuk lebih merangkul semua teman-teman lebih cinta lagi agar bisa bersama-sama membangun negara dengan lebih baik lagi dengan kasih dan persahabatan,” kata perwakilan GAS, Tania, di sela acara di Surabaya, Jumat malam.

Dia berharap seluruh masyarakat Indonesia lebih menjunjung semangat persatuan, sehingga mampu mengikis pemikiran yang bisa berdampak pada kondisi stabilisasi negara.

“Harapannya ke depannya kami bisa lebih damai, sejahtera, lebih banyak saling mengasihi, dan saling tepo sliro,” pungkasnya.

Selain itu, pada acara tersebut juga digelar penyerahan piagam apresiasi kepada Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Kiai Haji Abdul Hamid Wahid sebagai pemrakarsa pondok pesantren berbasis mandarin pertama di Indonesia.

Bapak Muchamad Taufik dari Widyaiswara Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Jawa Timur memberikan piagam apresiasi ini kepada Pondok Pesantren Nurul Jadid berkat inisiatif dalam pengembangan pembelajaran bahasa mandarin.

Kiai Hamid Wahid bersama bapak Muchammad Taufiq dari BPSDM Jawa Timur dan pimpinan lainnya ramah tamah di sela acara yang dilaksanakan oleh GAS Surabaya

Kiai Abdul Hamid Wahid dipandang cakap dan mampu membawa Pondok Pesantren Nurul Jadid menjadi percontohan lantaran memasukkan bahasa mandarin bagian dari kurikulum pendidikan dan berhasil membangun jaringan kerja sama yang luas dengan sejumlah lembaga di China.

“Satu-satunya pondok pesantren yang mengembangkan kurikulum bahasa mandarin di Indonesia, bahkan sudah kerja sama dengan lembaga pendidikan di China, maka dari itu kami beri penghargaan,” tuturnya.

Sementara, Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid Kiai Hamid menyatakan alasan memasukkan bahasa mandarin di kurikulum pondok pesantrennya karena ingin para santri belajar banyak hal tentang peradaban dan perkembangan keilmuan dari sana.

Kiai Abdul Hamid Wahid menyebut selain metode pengajaran melalui pendidikan di kelas, pondok pesantrennya juga mengirim sejumlah santri untuk menimba ilmu dan pengalaman di China.

“Kami mengirim kesana mulai tahun 2000-an awal, generasi berikutnya sekitar lima tahun setelahnya dan mulai tahun 2010-an mereka mulai kembali. Sekarang kami juga sudah menyebar untuk saling belajar,” ucapnya.

“Mereka bahkan ada yang sudah menguasai di tingkat pemahaman mendalam sastra, filosofi, dan sejarahnya,” kiai Hamid menambahkan.

Harapannya dengan perhargaan ini dapat terus meningkatkan layanan dan kualitas pendidikan di Pondok Pesantren Nurul Jadid khususnya pendidikan bahasa Mandarin dan mampu menjadi inspirasi bagi pesantren yang lain.

(Humas Infokom)

Neng Imaz on Women’s Talk: Jangan Insecure, Perempuan Harus Punya Konsep Diri Positif dan Keberhargaan Diri

nuruljadid.net – Perempuan, sama seperti siapapun, seharusnya memiliki konsep diri yang positif dan keberhargaan diri yang kuat. Ini penting karena memiliki dampak besar pada kesejahteraan fisik, emosional, dan sosial mereka. Sebagaimana dipaparkan secara gamblang oleh neng Imaz pada event Women’s Talk yang dimoderatori langsung oleh cucuk Kiai Haji Hasan Abdul Wafi pengarang Sholawat Nahdliyah Neng Viki.

Dengan mengusung tema “problematika muslimah kekinian” dibahas secara menarik dan menggelitik para perempuan yang kerap merasa insecure dan tidak sedikit termakan oleh standar kecantikan di media sosial yang acapkali berseliweran dan meracuni pola pikir perempuan itu sendiri. Neng Imaz dengan santai namun santun menyampaikan urgensitas seorang perempuan memiliki konsep positif dan keberhargaan diri.

“inilah yang bahaya, makanya kenapa perempuan itu harus punya konsep diri positif pertama, harus punya rasa keberhargaan diri yang tinggi, dia tidak boleh insecure,” ungkap beliau di hadapan ribuan santri termasuk para neng dan nyai Nurul Jadid.

Paparan menyoal Perempuan itu juga mengupas tentang bagaimana dua konsep itu dibangun melalui pola pengasuhan yang baik dari kedua orang tua khususnya dari sosok seorang ayah.

“ini kita harus membangun dari rumah, dari bagaimana orang tua kita mendidik kita, terutama peran seorang ayah, maka penting sekali peran pengasuhan untuk membentuk konsep diri yang positif dan keberhargaan diri yang tinggi bagi seorang perempuan,”

“karena ketika seorang perempuan itu tau dirinya berharga dia tidak akan sembarangan mau diajak pergi oleh laki-laki. Mau nikah aja pilih-pilih dulu”

Konsep diri yang positif dan keberhargaan diri ini akan berimbas kepada banyak lini dalam kehidupan seorang Perempuan Muslimah yang tentunya akan mampu meningkatkan kualitas hidup (quality of life) diantaranya:

Kesejahteraan Emosional

Konsep diri positif membantu perempuan merasa lebih bahagia, percaya diri, dan memiliki hubungan yang lebih sehat dengan diri mereka sendiri. Ketika seseorang merasa percaya diri dan menerima diri sendiri apa adanya, mereka cenderung memiliki kecenderungan untuk mengatasi stres dan tekanan dengan lebih baik.

Kesehatan Mental
Konsep diri yang positif dapat membantu mencegah masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan. Saat seseorang merasa berharga dan memiliki pandangan positif tentang diri mereka sendiri, mereka cenderung lebih optimis dan memiliki ketahanan mental yang lebih baik dalam menghadapi tantangan hidup.

Hubungan yang Sehat

Keberhargaan diri yang kuat membantu perempuan dalam memilih hubungan yang sehat dan bermakna. Mereka cenderung tidak akan mentolerir perilaku yang merendahkan diri atau merugikan dalam hubungan. Ini dapat membantu mencegah terjebak dalam hubungan yang tidak sehat atau beracun.

Pencapaian Pribadi dan Profesional

Konsep diri positif dapat memberikan motivasi bagi perempuan untuk mengejar tujuan pribadi dan profesional. Ketika seseorang merasa yakin dengan kemampuan dan potensinya, mereka lebih cenderung untuk mengambil risiko yang diperlukan untuk mencapai kesuksesan.

Kemajuan Generasi Mendatang

Sikap dan pandangan perempuan tentang diri mereka sendiri akan memberikan pengaruh besar pada anak-anak perempuan yang akan datang. Konsep diri yang positif dan keberhargaan diri yang ditunjukkan oleh perempuan saat ini dapat membentuk pola pikir anak-anak perempuan di masa depan, memberikan contoh tentang pentingnya mencintai dan merawat diri sendiri.

Pemberdayaan

Konsep diri yang positif dapat memberikan perempuan rasa pemberdayaan untuk berbicara dan berpartisipasi dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk politik, bisnis, pendidikan, dan budaya. Ketika seseorang merasa memiliki nilai dan suara yang penting, mereka lebih mungkin untuk berkontribusi secara aktif dalam masyarakat.

Singkatnya, memiliki konsep diri positif dan keberhargaan diri bukan hanya menguntungkan perempuan secara pribadi, tetapi juga berdampak pada lingkungan sekitar mereka dan masyarakat secara keseluruhan. Ini adalah langkah penting menuju pemberdayaan dan kesetaraan gender di kalangan pesantren dan Muslimah yang lebih baik.

Tonton full video : https://www.youtube.com/watch?v=Ov2OPUs5mE4&t=203s

(Humas Infokom)

BKOSS Nurul Jadid Sambut HUT ke-78 RI dengan Asah Bakat Santri Lewat Kompetisi Futsal Tournament

nuruljadid.net – Bidang Koordinasi Olahraga dan Seni Santri (BKOSS) Pondok Pesantren Nurul Jadid sambut HUT ke-78 Republik Indonesia dengan kompetisi Futsal Tournament antar daerah. Di bawah kepemimpinan KH. Makki Maimun Wafi, BKOSS Nurul Jadid menjadi salah satu primadona santri. Pasalnya mayoritas santri gemar olahraga dan kesenian hingga tak heran jika kegiatan olahraga juga seni menjadi idaman para santri untuk hiburan dan pelepas kejenuhan dari padatnya kegiatan pesantren.

(Keseruan turnamen futsal santri oleh Bidang Koordinasi Olahraga dan Seni Santri (BKOSS) di halaman SMA Nurul Jadid)

Futsal tournament ini juga bertujuan meningkatkan semangat kompetitif dan jiwa sportifitas antar santri yang ada di Pondok Pesantren Nurul Jadid, BKOSS bekerjasama dengan pengurus setiap daerah mempersiapkan santrinya untuk berpartisipasi dan menyukseskan turnamen bergengsi ini. Kegiatan yang dihelat sejak bulan lalu ini (17/07/2023) dilaksanakan di halaman SMA Nurul Jadid putra.

Sebanyak kurang lebih 20 club futsal turut bertanding dalam kompetisi yang menggunakan sistem kompetisi penuh (liga) yang tengah dimulai sejak bulan lalu hingga senin malam kemarin (14/8/2023) dan kemungkinan akan berakhir usai 17 Agustus 2023. Masing-masing club tersebut terdiri dari gabungan santri tingkat SLTP dan SLTA.

(Keseruan turnamen futsal santri oleh Bidang Koordinasi Olahraga dan Seni Santri (BKOSS) di halaman SMA Nurul Jadid)

Di sela kegiatan Selasa kemarin (14/08/2023), salah satu santri Nurul Jadid asal Gorontalo Royan Mamangkay menjelaskan bahwa kegiatan ini sangat positif dan menghibur. Santri yang tinggal di Bone Raya itu merasa senang dan kerasan di pesantren karena banyak kegiatan yang dapat menghilangkan kejenuhan dan rasa rindu kepada kedua orang tua.

Sementara itu, Khofifuddin salah satu pengurus BKOSS menyampaikan tujuan turnamen ini diantaranya sebagai wadah hiburan bagi santri agar betah tinggal di pondok dan juga diharapkan mampu melahirkan bibit-bibit pemain terbaik khususnya futsal. “Selain Liga Futsal, kami juga ke depan mengadakan lomba lain seperti sepak bola, dan festival banjari santri,” ujar Khofi.

(Keseruan turnamen futsal santri oleh Bidang Koordinasi Olahraga dan Seni Santri (BKOSS) di halaman SMA Nurul Jadid)

Kiai Maimun Wafi menambahkan, “Saya berharap kegiatan ini bisa menjadi hiburan bagi santri di sela-sela padatnya rutinitas yang mungkin membuat mereka jenuh dan tidak kerasan tinggal di pondok pesantren khususnya bagi santri baru,” tutup kiai Maimun kepada Nurul Jadid Media.

 

 

(Humas Infokom)

Antara News : Ponpes Nurul Jadid Kiblat Peradaban Indonesia Tahun 2045

nuruljadid.net – 22 tahun dari sekarang, kita akan menyaksikan momentum bersejarah, sebab Indonesia genap berusia 100 tahun atau satu abad. Berangkat dari hal ini yang menjadi salah satu alasan munculnya ide, wacana, dan gagasan Generasi Emas 2045.

Mewujudkan Indonesia Emas 2045 merupakan langkah permerintah dalam membangun Indonesia agar kelak menjadi megatrend dunia yang semakin syarat akan persaingan super ketat.

Dalam mewujudkan hal tersebut, Pemerintah membangun pilar Visi Indonesia 2045 sebagai bahan acuan untuk memanifestasikan cita-cita bangsa demi Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian, sebagai pedoman setiap langkah pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahan. Pencapaian impian dan visi Indonesia 2045 dibangun dengan 4 pilar berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar berbangsa, bernegara dan konstitusi.

Keempat Pilar Visi Indonesia 2045 itu adalah pembangunan manusia serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, pembangunan ekonomi berkelanjutan, pemerataan pembangunan serta pemantapan ketahanan nasional dan tata kelola kepemerintahan.

Tujuan dari empat pilar Indonesia itu adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan Melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, serta keadilan sosial.

Mimpi besar itu akan berekses pada lembaga pendidikan pesantren. Sebab itu, Pesantren idealnya tak cukup hanya mempertahankan tradisi-tradisi kepesantrenan. Pesantren harus bergerak lebih maju dalam menyambut tantangan arus globalisasi.

Pesantren tidak boleh alergi dengan kemajuan teknologi yang makin hari kian berkembang. Arus perubahan teknologi yang begitu cepat ini, berharap agar pesantren mampu beradaptasi dan merangkulnya.

Lembaga pendidikan Islam seperti pesantren jika hanya berkutat pada budaya-budaya yang “dipandang” sebagai budaya paten dan menutup diri dengan budaya baru, tidak menutup kemungkinan akan mengalami hambatan-hambatan dalam mewujudkan pendidikan bermutu (quality education) untuk menciptakan sumber daya manusia yang baik.

Salah satu pesantren yang tidak menjadikan arus perkembangan teknologi sebagai momok bagi karakter pesantren adalah Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo. Pesantren ini memiliki nilai-nilai ideologis yang telah mengakar pada sistem pendidikan, pengaderan, dan aktivitas keseharian santri.

Idiom ini telah terpopulerkan melalui trilogi dan panca kesadaran santri Pondok Pesantren Nurul Jadid. Ruh ini pun yang menjadi spirit KH. Zaini Mun’im saat mendirikan pesantren. Kiai Zaini tahu bahwa akan ada perkembangan zaman yang kelak harus disambut oleh pesantren.

Penyambutan itu harus dilandasi dengan karakter pesantren yaitu, ilmu. Sebab peradaban ilmu telah mengakar di dunia pesantren. Ilmu adalah satu-satunya sarana untuk melanggengkan visi-misi pesantren dalam berbagai kondisi dan tempat yang berbeda-beda.

(Santri Nurul Jadid pengibar bendera merah putih saat upacara peringatan Hari Santri Nasional)

Internalisasi spirit nilai Kiai Zaini terjewantahkan melalui prinsip pesantren yang dikenal dengan trilogi dan panca kesadaran santri.

Lahirnya prinsip ini tak lepas dari bacaan Kiai Zaini berkait perkembangan dunia, termasuk Indonesia. Menurut pengasuh Ponpes Nurul Jadid KH. Moh. Zuhri Zaini, hakikat santri adalah Islam Nusantara. Santri adalah kiblat keislaman yang damai, ramah, sejuk, dan pemersatu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, bahkan di antara sesama manusia.

Pesan itu menggambarkan betapa progresifnya pemikiran Kiai Zuhri dalam membaca dunia. Berbicara Islam tak hanya berkutat pada wacana keagamaan. Lebih dari itu, agama yang “dinahkodai” oleh Nabi Muhammad ini membincang seluruh aspek pengetahuan. Sebagai ajaran ilahi, Islam terus mentransformasikan nilai-nilai progresivitas menyambut kedatangan arus perubahan yang sangat cepat.

Kiai Zaini sadar, pesantren sebagai satu-satunya lembaga pendidikan tertua di negeri kita merupakan benteng yang tangguh untuk adaptif terhadap kondisi apapun.

Tetobosan-terobosan Pondok Pesantren Nurul Jadid dalam menyambut tahun 2045 telah dibunyikan melalui Program Induk Pesantren (PIP) 20 tahun jauh ke depan sebagai blueprint arah pengembangan pesantren.

Pengembangan dan peningkatan sumber daya manusia tengah mendapatkan perhatian sangat serius dibuktikan dengan pelatihan dan pengembangan dengan berbagai kursus dan workshop. Pemasaran teknologi pun juga dikenalkan ke kalangan masyarakat pesantren, dengan disediakannya asrama jurusan teknologi yang terintegrasi dengan pendidikan formal.

Pondok Pesantren Nurul Jadid juga berkomitmen membangun ekonomi keummatan melalui alumninya yang terhimpun dalam wadah organisasi Pembantu Pengurus Pondok Pesantren Nurul Jadid (P4NJ). Pengembangan dan peningkatan ekonomi masyarakat merupakan salah satu gerakan yang terus diimpi-impikan, dan menjadi cita-cita luhur pesantren yang lokasinya terletak tidak jauh dari masyarakat nelayan ini.

Tentu spirit untuk mencetak generasi emas telah terbumikan melalui program-program yang ada di satuan kerja pesantren saat ini. Dengan itu, selayaknya Pondok Pesantren Nurul Jadid dinobatkan menjadi kiblat peradaban menyambut Indonesia Emas 2045.

 

Sumber : https://jatim.antaranews.com/berita/719733/ponpes-nurul-jadid-kiblat-peradaban-indonesia-tahun-2045

Sunnah Dengan Yang Mewah, Santri Nurul Jadid Berbuka Menu Spesial Usai Puasa Asyura

nuruljadid.net – Biro Kepesantren Pondok Pesantren Nurul Jadid dalam rangka menghidupkan bulan mulia Muharram 1445 H, selain melakukan pembiasaan dan pembinaan santri dengan amalan sunnah seperti puasa Tasu’a dan Asyuro juga melakukan istighasah dan pembacaan al-Ikhlas sebanyak 1000 kali (28/07/2023).

Sebagaimana anjuran, umat Islam yang berpuasa di tanggal 10 Muharram atau puasa Asyuro untuk berbuka dengan yang mewah atau menu spesial yang membedakan dari hari biasanya. ‘Mewah’ disini tidak dimaknai berlebihan namun sesuai tuntunan Rasulullah (sederhana namun bermakna). Sunnah inipun menjadi perhatian pengurus Biro Kepesantrenan Bidang II Penataan Wilayah dan Kesejahteraan Santri yang diketuai oleh ustaz Abdul Ghofur Haikal, M.Pd.

Pasalnya para santri diberikan sajian penambah gizi seperti susu sapi asli dari Krucil Probolinggo dan lauk ayam disertai nasi dan sayur. Ini merupakan menu yang cukup mewah bagi santri yang notabene kesehariannya mengonsumsi menu sederhana seperti nasi dengan tahu, tempe, telur dan sayuran.

Kasi Logistik dan Kosmara ustaz Ahmad Darsono Asy’ari, S.Pd. yang didapuk sebagai ketua pelaksana menyampaikan bahwa menu spesial ini selain memang untuk memuliakan 10 Muharram juga merupakan layanan pesantren untuk memberikan yang terbaik kepada santri sesuai kemampuan.

“Kami menyediakan menu spesial ini selain untuk memuliakan 10 Muharram juga berbagi kebahagian dengan sahabat santri yang tinggal jauh dari orang tuanya,” pungkasnya.

“sehingga sunnah yang lain selain makan mewah juga membahagiakan keluarga dan bagi kami pengurus, saat ini sahabat santrilah keluarga yang perlu kami bahagiakan. Semoga kita semua mendapatkan barokah dan pahala keutamaan 10 Muharram,” ungkap ustaz Darsono dengan mata berkaca-kaca, yang kesehariannya memang akrab dengan para santri.

Saat Azan Magrib berkumandang, rasa bahagia dan gembira seolah telah memperoleh kemenangan meliputi seluruh santri yang tengah berkumpul di teras asrama daerah dan wilayah masing-masing. Tampak wajah sumringah dan senyum lebar yang tak dapat disembunyikan terpancar dari setiap santri saat melihat menu spesial di hadapan mereka sambil bersama melafalkan do’a berbuka puasa yang dipandu wali asuh.

Sebagaimana dalam hadist dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda “Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan yaitu kegembiraan ketika dia berbuka dan kegembiraan ketika berjumpa dengan Rabbnya”.

Ada rasa istimewa tersendiri yang dirasakan oleh para santri Pondok Pesantren Nurul Jadid bisa buka bersama pada puasa Asyura khususnya bagi santri baru yang perdana merasakan nuansa berbuka bersama dengan teman barunya.

Tidak berhenti dengan buka bersama, dalam memeriahkan 10 Muharram 1445 H ini, side event yang diinisiasi oleh bidang II Biro Kepesantrenan adalah lomba creative short video tentang keseruan para santri di setiap daerah saat berbuka puasa bersama.

Suksesnya rangkaian kegiatan buka bersama ini juga tidak luput dari partisipasi dan kontribusi semua pihak termasuk support admin bidang II Biro Kepesantrenan yaitu Ikhwan Abdillah, Subhan, Ahmad Ayyubi dan seluruh pengurus wilayah dan masing-masing daerah baik pusat maupun satelit.

 

(Humas Infokom)

Upgrading Soft Skill Konseling dan Kewaliasuhan, Pengurus Putri Nurul Jadid Studi Tiru ke Bumi Blambangan

nuruljadid.net – Pengurus Putri Pondok Pesantren Nurul Jadid melakukan studi tiru ke Pondok Pesantren Shafiyah Rogojampi Banyuwangi Jawa Timur (6/7/2023). Kegiatan ini merupakan inisiatif Biro Kepesantren Putri yang melibatkan Biro Pendidikan dan Biro Pengembangan beserta pengurus wilayah untuk upgrading soft skill konseling dan kewaliasuhan dalam rangka ciptakan ruang tenang dan ruang asuh bagi santri.

Rombongan Nurul Jadid disambut hangat oleh Ibu Nyai Nurun Sariyah, pengasuh muda Pondok Pesantren Shafiyah bersama suami dan pengurus. Meskipun ketibaan rombongan Nurul Jadid ke lokasi sudah menjelang malam, tepatnya ba’da isyak namun pihak tuan rumah tetap melayani dengan sangat baik. Keterlambatan ini disebabkan jarak yang cukup jauh dan macet.

(Ibu Nyai Nurun Sariyah, pengasuh muda Pondok Pesantren Shafiyah tengah mendemonstrasikan praktik baik dalam menciptakan ruang tenang dan nyaman melalui permainan)

Kegiatan studi tiru ini berfokus pada pengkondisian ruang tenang dan ruang asuh bagi santri sehingga tumbuh kembangnya bisa optimal. Rangkaian kegiatan berlangsung sejak pukul 20.00 WIB sampai pukul 23.00 malam.

Fokus kegiatan ini banyak memberikan pembelajaran diantaranya bagaimana penguatan diberikan kepada santri baru agar betah di pesantren dan mengenali tindakan preventif terhadap kasus perundungan (bullying). Tidak kalah pentingnya, tips bagaimana merencanakan ruang asuh bersama secara rutin dengan Wali Asuh bahkan untuk Wali Santri.

Perencanaan konten sharing wali asuh menjadi perhatian khusus dalam acara studi tiru ini sebelum membersamai anak asuh. Secara Praktis, dengan permainan atau role playing bersama para santri ternyata bisa menciptakan manfaat yang cukup signifikan apabila dikonsep dan desain sesuai kondisi objektif para santri di lapangan.

(Rombongan pengurus putri Pondok Pesantren Nurul Jadid saat melakukan focus group discussion (FGD) usai pematerian dan demonstrasi)

Peserta studi tiru dari Pondok Pesantren Nurul Jadid terdiri dari Waka. Pesantren II Hy. Hj. Nur Diana Khalidah; Wakil Sekretaris Ny. Muthmainnah Waqid; Waka. Biktren. Ny. Mamnuhatur Rohmah; Waka. Birpend. Ny. Nurul Fajriyah; Kepala BP3M Faiqotul Hikmah; Wakabid. BKWA Madinatul Munawarah; Wakabid. Kelembagaan dan Peserta Didik Lina Surtianah; Wakasi. BKWA & Motivasi Belajar Ny. Mabruroh Zain; kepala wilayah, admin Biktren, staf Biktren, dan staf Birpeng yang ada di wilayah putri pusat.

Diketahui, rombongan menggunakan moda transportasi mini bis pesantren dari Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton menuju Pondok Pesantren Shafiyah Rogojampi Banyuwangi. Banyak ilmu dan pengalaman praktik baik yang bisa didiseminasi kepada pengurus lainnya untuk meningkatkan layanan kepada santri Nurul Jadid.

(Pengurus Putri Pondok Pesantren Nurul Jadid lakukan sesi foto bersama usai kegiatan bersama pengurus Pondok Pesantren Shafiyah Rogojampi Banyuwangi)

Usai kegiatan menjelang tengah malam, sebelum pulang dilakukan sesi foto bersama antara rombongan studi tiru Nurul Jadid dengan tuan rumah. Pengurus putri Nurul Jadid pulang melewati jalur Gumitir sebab jalur Baluran macet total karena pintu masuk ke penyeberangan Gilimanuk tengah ditutup dampak dari cuaca ekstrem.

 

 

(Humas Infokom)

Lembaga Adat Melayu Nobatkan Kiai Abdul Hamid Wahid Gelar Datuk Guru Atas Perjuangan Dakwah Islam Moderat

nuruljadid.net – K.H. Abdul Hamid Wahid selaku Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid sekaligus Rektor Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo, Jawa Timur, menerima penganugerahan gelar Datuk Guru Ketika melakukan kunjungan ke Pulau Belakang Padang, Batam, Kepulauan Riau, Selasa (12/6) silam.

Acara penganugerahan gelar Datuk Guru kepada KH Abdul Hamid Wahid dilakukan di tengah kunjungan silaturahim pimpinan Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, bersama Pembantu Pengurus Pondok Pesantren Nurul Jadid atau P4NJ Batam ke kecamatan Belakang Padang.

Diketahui, gelar tersebut diberikan langsung oleh tokoh sesepuh Adat Melayu, Datuk H. Said Hasyim Alattas dari Lembaga Adat Melayu Kecamatan Belakang Padang, Batam, Kepulauan Riau.

Gelar datuk berasal dari Bahasa Sansekerta yang bermakna orang yang mulia. Sementara masyarakat kita mengartikan, gelar datuk berarti orang yang patut karena kemampuan serta pengabdiannya kepada masyarakat.

Kiai Hamid menerima penganugerahan ini atas dasar kapasitas, kapabilitas, kontribusi dan perjuangan dakwah Islam moderat beliau di tengah masyarakat yang beragam. Khususnya kiprah kiai Hamid untuk turut serta membangun masyarakat Belakang Padang, Batam.

Sepak terjang Kiai Hamid melalui pendidikan serta dakwah Islam yang moderat di berbagai kalangan khususnya masyarakat Belakang Padang, Batam, memberikan dampak dan ceriman Islam yang rahmatan lil alamin.

“Kedatangan Kiai Hamid ke Batam dan khususnya ke Pulau Belakang Padang ini menegaskan kiprah serta kontribusi beliau dalam mendukung serta mendorong kemajuan masyarakat Batam, khususnya di Pulau Belakang Padang ini,” kata ketua P4NJ Batam, Kepri, Julaeni.

Sementara itu, menurut K.H. Abdul Hamid Wahid, penganugerahan gelar Datuk Guru itu memiliki urgensi bukan bagi dirinya sebagai individu, melainkan bagi seluruh proses serta ikhtiar masyarakat Batam pada umumnya dalam mengupayakan tercapainya masyarakat madani.

Kiai Hamid melanjutkan, bahwa penganugerahan gelar tersebut menandai penerimaan masyarakat terhadap pelayanan, perjuangan dan pengabdian kaum santri di tengah-tengah masyarakat.

“Maka penganugerahan gelar serta penghormatan ini penting artinya bukan untuk saya, melainkan untuk segenap upaya perjuangan dan pengabdian yang dilakukan kaum santri di tengah-tengah masyarakat,” pungkasnya.

Menurut Kiai Hamid, jika selama di pondok tugas santri adalah belajar dan mengabdi, mengaji dan membina akhlakul karimah, maka tugas itu terus menjadi tanggung jawab seorang santri ketika ia telah kembali ke masyarakat.

“Di Batam ini ada santri-santri, meskipun mungkin jumlahnya tidak sebanyak di Jawa. Yang perlu diingat bahwa tidak ada bekas santri. Kesantrian itu dibawa sepanjang hayat dan harus terus dihidupkan melalui perjuangan dan pengabdian kepada masyarakat,” tutur Kiai Hamid.

 

(Humas Infokom)

Kepala Pesantren Kiai Hamid Wahid Resmikan Pondok Pesantren Nurul Jadid Batam

nuruljadid.net – Kiai Abdul Hamid Wahid kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo (pesantren pusat) sekaligus rektor UNUJA bersama pimpinan lainnya menutup kunjungan kerja sama luar negeri ke beberapa negara ASEAN dengan peresmian Pondok Pesantren Nurul Jadid Batam Senin pagi ini (12/06/2023).

Peresmian ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan UNUJA Go ASEAN sejak beberapa hari lalu tepatnya 5 Juni 2023. Setidaknya terdapat tiga Negara yang telah dikunjungi yaitu Thailand, Malaysia, dan Singapura.

Rombongan Pondok Pesantren Nurul Jadid saat tiba di Batam kemarin, Minggu (11/6/2023) malam, disambut hangat dan dijamu secara khusus di kediaman H. Haerul Saleh, tokoh masyarakat setempat.

(Kepala Pesantren Kiai Abdul Hamid Wahid saat memberikan sambutan pada Peresmian Pondok Pesantren Nurul Jadid Batam)

H. Haerul Saleh selaku tokoh masyarakat setempat sekaligus pendiri Yayasan Nurul Jadid Batam menjelaskan, pendirian Ponpes Nurul Jadid Batam ini bermula dari dorongan, dukungan, dan ikhtiar dari almarhum K.H. Abdul Wahid Zaini pengasuh ketiga Ponpes Nurul Jadid Paiton, ayahanda dari K.H. Abdul Hamid Wahid

Pada era 90-an, sebut H. Haerul Saleh, K.H. Abdul Wahid menjadi pelopor dalam pengembangan pendidikan dan dakwah Islam di Batam sampai akhirnya berdirilah Ponpes Nurul Jadid Batam yang saat ini diresmikan.

Peresmian Ponpes Nurul Jadid Batam yang awal diagendakan akan dihadiri Gubernur Kepri langsung namun karena suatu hal akhirnya diwakilkan kepada Staf Ahli Gubernur Kepulauan Riau, Mahadi Rahman; Sedangkan Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Batam, Drs. Samudin hadir mewakili Wali Kota Batam.

Selain itu, turut hadir juga Kepala Dinas Pendidikan Kepri, Kepala Kantor Kemenag Kota Batam, Ketua PCNU Batam berserta Banom dan lembaga, pimpinan Baznas Kota Batam, serta Ketua DPC PKB Batam.

(Kepala Pesantren Kiai Abdul Hamid Wahid berpose bersama dengan pengurus setempat dengan pakaian adat Batam sesuai acara peresmian)

Pendiri Yayasan Nurul Jadid, H. Haerul Saleh menyampaikan harapannya di sela kegiatan agar pondok pesantren ini, dapat memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan pendidikan dan kehidupan masyarakat di Batam khususnya, serta masyarakat luas pada umumnya dengan nilai-nilai keislaman.

Kiai Hamid selain mengapresiasi kiprah Ponpes Nurul Jadid Batam dalam pengembangan pendidikan dan dakwah Islam juga mengungkapkan bahwa kunjungannya ke Batam dan peresmian pondok pesantren tersebut menjadi bagian dari komitmen dalam memperkuat silaturrahim, memperluas jaringan kerja sama guna kemaslahatan bersama.

 

 

(Humas Infokom)

Kiai Hamid Wahid Tekankan Urgensitas Adab Pada Guru Saat Silaturrahim Temu Alumni P4NJ Malaysia

nuruljadid.net – Kepala Pesantren K.H. Abd. Hamid Wahid bersama rombongan pimpinan Pondok Pesantren Nurul Jadid melakukan silaturrahim dalam rangka temu alumni P4NJ (Pengurus Pembantu Pondok Pesantren Nurul Jadid) Malaysia, Kamis (08/06) di ibu kota Malaysia Kuala Lumpur.

Dalam acara silaturrahim, Kepala Pesantren, K.H. Abdul Hamid Wahid menyampaikan urgensitas menjaga adab untuk menghormati para pendahulu dan almarhumin, yakni para guru dan sesepuh. “Sebaik dan sehebat apapun generasi saat ini, tidak akan pernah terlahir tanpa ada sentuhan para guru, oleh sebab itu adab dan tatakrama harus tetap dikedepankan”, tutur kiai yang dikenal dengan sikap moderatnya.

Kiai Hamid juga menegaskan pesan muassis Kiai Zaini Mun’im bahwa santri yang sudah kembali ke masyarakat sudah menjadi milik masyarakat dan harus berbaur. Menurut kiai Hamid, santri wajib mengambil peran dalam membangun masyarakat dan bangsa lintas sektor yang dibutuhkan dalam menghadapi globalisasi dan era disrupsi.

“Sangat penting peran alumni Nurul Jadid khususnya dan umat Islam umumnya untuk berpartisipasi aktif membangun masyarakat lewat pendidikan, penguatan sektor ekonomi, dst yang dibutuhkan dalam menghadapi dinamika global saat ini,” pungkasnya.

Tidak sendiri, kiai Abdul Hamid Wahid hadir bersama dengan pimpinan pesantren dan UNUJA lainnya, Direktur Klinik Az-Zainiyah, Ny. Hj. Khodijatul Qodriyah; wakil kepala pesantren K.H. Najiburrahman Wahid; Kepala Biro Pengembangan, K.H. Faiz Abdul Haq Zaini; Kepala Biro Kepesantrenan, K.H. Fahmi Abd. Haq Zaini; Bendahara Pesantren, K.H. Achmad Zaki Nur Chatim Zaini; Warek III, M. Noer Fadli Hidayat; Kepala LP3M, Achmad Fawaid, Kepala BAUAK, Luqman Hakim; Kepala Humaker, Mohammad Bahrul Ulum dan Staf khusus pimpinan Alfi Syukrin.

Kepala pesantren sekaligus rektor UNUJA yang akrab disapa Gus Hamid ini mengaku kehadirannya dalam silaturrahim Temu Alumni P4NJ Malaysia merupakan salah satu kiat untuk memberikan dukungan dan saling bertukar kabar dengan alumni yang merantau di negeri jiran dalam penguatan peran dan eksistensi alumni di tengah masyarakat.

(Humas Infokom)

Pondok Pesantren Nurul Jadid Bekali Santrinya Keterampilan Abad 21 Siap Hadapi Tantangan Global

nuruljadid.net – Saat ini, kita telah memasuki abad 21 ditandai dengan perkembangan dunia yang sangat pesat. Perubahan ini dapat memberikan peluang jika dapat dimanfaatkan dengan baik, akan tetapi juga dapat menjadi bencana jika tidak diantisipasi secara sistematis, terstruktur, dan terukur. Itulah sebabnya, Pondok Pesantren Nurul Jadid membekali santrinya dengan keterampilan abad 21 dalam menghadapi tantangan zaman.

Tak dapat dipungkiri bahwa, dibutuhkan sumber daya manusia tangguh yang memiliki sejumlah kompetensi dan keterampilan agar dapat bertahan hidup (survive) di tengah perubahan yang begitu cepat dan unpredictable atau tidak dapat diprediksi. Keterampilan abad 21 merupakan keterampilan penting yang harus dikuasai oleh santri agar berhasil dalam menghadapi tantangan, permasalahan, kehidupan, dan karir di era digital dewasa ini.

National Education Association telah mengidentifikasi keterampilan abad 21 sebagai keterampilan “The 4Cs.” “The 4Cs” meliputi keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah (critical thinking), keterampilan berpikir kreatif (creativity), keterampilan berkomunikasi (communication) dan keterampilan berkolaborasi (collaboration).

Di lain sisi, menurut Lee Crocket (2011) dalam bukunya “Literacy is not enough: 21st Century Fluencies for the Digital Age” memaparkan paling tidak terdapat 6 keterampilan yang harus dikuasai seseorang di era digital diantaranya: keterampilan Problem Solving, Creativity, Collaboration, Analytical Thinking, Communication and Ethic & Accountability.

Pondok Pesantren Nurul Jadid dalam rangka penyiapan sumber daya manusia yang menguasai kompetensi dan keterampilan tersebut melakukan penguatan mutu pendidikan dan pengasuhan di pesantren. Menghadapi abad 21 yang penuh dengan tantangan dan ketidakpastian dan kualitas pendidikan kita yang belum membanggakan, diperlukan adanya berbagai terobosan dan strategi dalam dunia pendidikan.

Paradigma pendidikan pesantren harus disesuaikan untuk pengembangan kualitas SDM di era global ini. Berbagai strategi dan langkah pembelajaran serta asesmen yang terukur di berbagai bidang studi senantiasa diupayakan oleh Pondok Pesantren Nurul Jadid. Upaya ini tentu tidak dapat dilakukan tanpa adanya langkah terencana dan sistematis. Perubahan fundamental perlu dilakukan untuk membuat proses pendidikan relevan dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik.

Melalui penguatan nilai luhur kepesantrenan Trilogi dan Panca Kesadaran Santri, Pondok Pesantren Nurul Jadid melakukan berbagai macam upaya untuk membekali santrinya dengan keterampilan abad 21 yang dibutuhkan.

  1. Kesadaran Beragama

Penanaman nilai kesadaran dalam beragama, menjadi hal awal yang dilakukan oleh pesantren terhadap santrinya untuk beragama dengan penuh kesadaran. Menjalankan ajaran agama sebagai pilihan dan kebutuhan hidup bukan sebagai tuntutan keluarga apalagi warisan. Sehingga proses kesadaran beragama akan melatih dialektika santri yang mengasah berpikir analitis (Analytical Thinking) dengan tetap mengedepankan etika dan penuh tanggung jawab atas pilihannya (Ethic and Accountability).

  1. Kesadaran Berilmu

Menuntut ilmu dan terus belajar menjadi nilai wajib yang melekat dalam individu santri baik di dalam kelas maupun di lingkungan pesantren dalam konteks kehidupan yang luas. Pendidikan pesantren mengarah ke beberapa aspek pembelajaran; instruction should be student-centered, yakni pengembangan pembelajaran menggunakan pendekatan yang berpusat pada santri. Santri ditempatkan sebagai subyek pembelajaran yang secara aktif mengembangkan minat dan potensi yang dimilikinya. Sehingga dapat mengasah analytical thinking, critical thinking and creativity di ruang belajar.

Education should be communicative and collaborativeyakni santri harus dibelajarkan untuk dapat berkomunikasi dan berkolaborasi dengan orang lain. Elemen komunikasi menargetkan santri dapat menguasai, mengatur (manajemen) dan membuat hubungan komunikasi yang baik dan benar secara tulisan, lisan maupun multimedia. Santri diberi waktu untuk mengelola hal tersebut dan menggunakan kemampuan komunikasi untuk berhubungan seperti menyampaikan gagasan, berdiskusi hingga memecahkan masalah yang ada.

  1. Kesadaran Bermasyarakat

Learning should have context, yakni pembelajaran tidak akan banyak berarti jika tidak memberi dampak terhadap kehidupan santri di luar pesantren. Oleh karena itu, materi pelajaran perlu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari santri. Pendidik mengembangkan metode pembelajaran yang memungkinkan santri terhubung dengan dunia nyata (real world).

Pesantren should be integrated with society, yakni dalam upaya mempersiapkan santri menjadi warga negara yang bertanggung jawab, pesantren memfasilitasi santri untuk terlibat dalam lingkungan sosialnya. Misalnya, mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat, dimana santri dapat belajar mengambil peran dan melakukan aktivitas tertentu dalam lingkungan sosial sehingga mereka bisa belajar mengembangkan keterampilan problem solving, communication and collaboration.

  1. Kesadaran Berbangsa dan Bernegara

Peran santri yang utama adalah mempertahankan dan mengisi kemerdekaan dengan menjaga dan mengawal NKRI sebagai warisan leluhur para ulama’. Dalam jiwa santri tentu tertanam panca-jiwa, panca-jangka, panca-bina dan panca-dharma. Selain itu, santri juga berkontribusi dalam memecahkan masalah yang dihadapi oleh bangsa dengan bentuk kontribusi kecil di lingkungan masyarakatnya.

Melalui pesantren, santri diajarkan menjaga dan membina etika yang baik serta bertanggung jawab terhadap tugas dan tanggung jawabnya sebagai bagian dari bangsa Indonesia sehingga santri dapat mengasah keterampilan (problem solving, ethic and accountability).

  1. Kesadaran Berorganisasi

Berorgansiasi merupakan salah satu nilai kesantrian yang perlu dimiliki santri sebagai bekal kelas di masyarakat. Tujuan organisasi santri yaitu untuk menyatukan, mengembangkan, membentuk serta memfasilitasi apa yang dibutuhan santri serta membangun jiwa seorang pemimpin yang berkepribadian matang. Dalam organisasi, santri dilatih dan ditempa mengasah keterampilan diri seperti problem solving, communication, collaboration, creativity, ethic and accountability.

 

 

 

(Humas Infokom)

5 Tahun Berdiri, Universitas Nurul Jadid Paiton Masuk dalam Daftar Ranking Kampus Dunia

nuruljadid.net – Universitas Nurul Jadid (UNUJA) Paiton, Probolinggo, Jawa Timur merupakan kampus berbasis pesantren dengan segudang prestasi di Jawa Timur. Setelah 5 tahun berdiri sebagai universitas, tahun ini 2023 UniRank memasukkan UNUJA dalam daftar universitas terbaik ranking dunia.

Setidaknya, UniRank merilis 582 kampus asal Indonesia yang memenuhi seleksi daftar rangking dunia. Probolinggo menjadi salah satu daerah di Indonesia yang memiliki perguruan tinggi yang cukup kompetitif dan dengan pertumbuhan yang dinamis baik negeri maupun swasta.

UNUJA sebelumnya berhasil memperoleh sertifikasi ISO untuk dua kategori sekaligus, yakni ISO 9001:2015 untuk bidang Sistem Manajemen Mutu, dan ISO 21001:2018 untuk bidang Sistem Manajemen Organisasi Pendidikan dan dinobatkan sebagai Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) terbaik 4 se-Indonesia.

Berdasarkan laman pemeringkatan UniRank 2023, di Probolinggo sendiri berhasil mencatatkan dua kampus terbaik. Universitas Nurul Jadid berada di peringkat 283 nasional dan 9844 dunia dan Universitas Panca Marga peringkat 389 nasional dan 11495 dunia. Sehingga UNUJA berdasarkan pemeringkatan ini menjadi kampus terbaik di Probolinggo.

Pemeringkatan yang dilakukan dinilai berdasarkan 3 kriteria yakni; Akreditasi, Gelar Sarjana dan memberikan kursus dalam format pendidikan tradisional, tatap muka, dan non-jarak.

Dikutip dari Website 4 International Colleges and Universities atau 4ICU adalah suatu mesin pencari dan direktori yang melakukan penilaian berdasarkan kepopuleran situs yang dimiliki oleh 11.307 perguruan tinggi di seluruh dunia yang telah terakreditasi dan tersebar dalam 200 negara.

Selain 4ICU UniRank, AD Scientific Index atau Alper-Doger Scientific Index adalah pemeringkatan tingkat dunia untuk ilmuwan dan perguruan tinggi berdasarkan kinerja publikasi. AD Scientific Index merilis daftar universitas terbaik berdasarkan skala global, regional, dan negara; serta ilmuwan terbaik berdasarkan bidang, negara dan perguruan tinggi.

Berikut adalah daftar peringkat dan prestasi Universitas Nurul Jadid (UNUJA) dari berbagai laman pemeringkatan dunia yang populer dan sering menjadi rujukan universitas dunia.

2022     Peringkat 4 PTNU Nasional versi AD Scientific Index World University Ranking

2022     Peringkat 14 Nasional untuk perguruan tinggi yang berdiri sejak 2010 (AD Scientific Index)

2022     Peringkat 170 Nasional, 2810 regional Asia, 7751 Dunia (AD Scientific Index)

2023     Peringkat 117 Nasional, 2666 regional Asia dan 7463 Dunia (AD Scientific Index)

2023     Peringkat 283 Nasional dan urutan ke 9844 Dunia (4ICU UniRank)

Silahkan tonton disini : https://www.youtube.com/shorts/eQw3Axirwsk

 

(Humas Infokom)

Ribuan Santri Nurul Jadid Kembali Mengaji dan Tempa Diri Pasca Libur Idul Fitri

nuruljadid.net – Pasca libur Ramadan dan Idul Fitri 1444 H, ribuan santri Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo kembali mengaji dan siap menempa diri. Dua puluh lima hari telah berlalu, kini mereka siap mengikuti aktivitas belajar sebagaimana biasanya.

Kedatangan santri ini dibagi menjadi dua tahap, tanggal 02 Mei 2023 untuk santriwati dan 03 Mei 2023 untuk santriwan. Pengembalian santri ini juga dikoordinir oleh P4NJ masing-masing daerah untuk mempermudah pengkondisiannya.

“Dalam dua hari ini ada sekitar 7.000 santri Nurul Jadid dari berbagai daerah di Indonesia yang kembali ke pondok. Mereka datang dalam dua tahap yakni putri tanggal 02 Mei 2023 dan putra keesokan harinya,” ujar Ketua Panita Pulang Bersama Umar Taha saat ditemui di sela penyambutan kedatangan rombongan santri, Rabu sore.

(Kondisi kedatangan santri putra pasca libur Idul Fitri 1444 H di lapangan raya Pondok Pesantren Nurul Jadid)

Ketua panitia memaparkan bahwa proses mulai dari kepulangan santri sampai dengan pengembalian santri ini berjalan lancar dan tidak menemukan kendala berarti. Ini semua berkat kerja keras dan kerja sama seluruh panitia beserta pengurus P4NJ bersama wali santri.

“Alhamdulillah, rangkaian kegiatan pemulangan dan pengembalian santri tahun ini berjalan lancar. Saya ucapkan terimakasih kepada seluruh panitia yang bertugas dan pengurus P4NJ bersama wali santri yang ikut aktif membantu,” kata pria yang juga alumni Ponpes Nurul Jadid ini.

Ia menjelaskan bahwa pengembalian santri Nurul Jadid ini menggunakan beragam moda transposrtasi, mereka yang dari pulau Jawa mayoritas menggunakan moda transportasi darat, sedangkan mereka yang berasal dari luar pulau dan luar negeri menggunakan moda transportasi laut dan udara. Sebagian lainnya menggunakan kendaraan pribadi masing-masing wali santri. Selain itu, keberangkatan santri putera dan puteri juga dipisah.

(Kondisi kedatangan santri putri pasca libur Idul Fitri 1444 H di lapangan raya Pondok Pesantren Nurul Jadid)

Sementara itu, salah seorang wali santri, Syamsuri Hasan mengatakan sangat senang anaknya sudah kembali ke pondok, sehingga anaknya bisa kembali berkonsentrasi belajar dan aktivitasnya terpantau juga terarah di lingkungan pesantren.

“Kalau di rumah, anak-anak kan masih main kemana-mana. Kami orang tua juga khawatir, apalagi pergaulan anak sekarang cukup memprihatinkan. Tapi dengan di pondok, kami lega, anak-anak tidak kemana-mana dan bisa kembali mengikuti kegiatan kepesantrenan,” kata pendidik yang juga alumni Ponpes Nurul Jadid ini.

(Humas Infokom)

Mendahului Kembalian Santri, Keluarga Besar Nurul Jadid Gelar Halal Bihalal

 nuruljadid.net – Pasca libur Ramadan 1444 H selama hampir satu bulan (25 hari) sampai bulan syawal, Pondok Pesantren Nurul Jadid mengawali kegiatan kepesantrenan dengan Halal Bihalal bersama ratusan pengurus baik dari unsur keluarga pengasuh, pimpinan sampai dengan pegawai pada Senin pagi (01/05/2023) di auditorium I pesantren.

Momentum bulan syawal merupakan waktu bagi umat muslim di dunia untuk saling meminta maaf. Idul Fitri juga saat kita semua kembali fitri. Mengawali bulan Mei sehari sebelum santri balik ke pesantren, ratusan pengabdi Pondok Pesantren Nurul Jadid mengikuti acara Halal Bi Halal sebagai kegiatn rutin tahunan.

Dari sekitar seribu lebih Pegawai Nurul Jadid (PNJ) dari data di Pedatren, yang hadir hanya 69% yakni sekitar 697 orang putra-putri. Ini merupakan kegiatan Halal Bihalal kali kedua pasca pandemi Covid-19. Hal ini juga sebagai upaya untuk mempersiapkan pegawai Nurul Jadid menyambut kedatangan santri pasca libur Ramadan.

KH. Abdul Hamid Wahid selaku kepala pesantren dalam sambutannya menyampaikan kepada seluruh hadirin “Taqobballallahu minna waminkum taqobbal ya karim, minal ‘aidzin wal faizin mohon maaf lahir dan batin” dawuhnya.

Sejumlah pesan Kiai Hamid dalam kapasitas sebagai pimpinan pesantren menyampaikan pentingnya kita sebagai pengabdi sekaligus pengurus untuk fokus pada tujuan yang telah ditetapkan oleh pesantren.

“dalam melangkah kita harus fokus dengan tujuan yang telah direncanakan jangka pendek melalui AKUP yaitu Arah Kebijakan Umum Pesantre, perencanaan 5 tahunan dalam bentuk rencana strategis (Renstra) dan perencanaan jangka panjang 20 tahunan melalui PIP, Perencanaan Induk Pesantren,” imbuh kiai Hamid

Selepas sambutan, pengasuh KH. Moh. Zuhri Zaini menyampaikan tausyiah sebagai salah satu rangkaian acara untuk memberikan siraman rohani kepada seluruh pengabdi dan pengurus di lingkungan pesantren.

Kiai Zuhri berharap tidak hanya sampai disini saja jalinan silaturrahmi ini dan beliau juga berharap acara halal bihalal ini membawa keberkahan dalam melakukan perbaikan di Pondok Pesantren Nurul Jadid.

“Perbaikan yang harus dilakukan di pondok harus mengacu pada visi-misi Pesantren” tutur Kiai Zuhri.

“Pesantren sebetulnya melanjutkan para pendahulu-pendahulu termasuk melanjutkan perjuangan Nabi Muhammad SAW,” imbuh pengasuh.

Halal bihalal ini juga diisi dengan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh KH. Zainul Mu’ien Husni dan ditutup dengan doa bersama dipimpin oleh KH. Najiburrahman Wahid. Usai doa, peserta meninggalkan ruangan setelah pimpinan dan keluarga Nurul Jadid terlebih dahulu beranjak meninggalkan lokasi acara.

 

 

(Humas Infokom)

Ketum PBNU Gus Yahya Paparkan Agenda PBNU Saat Silaturrahim ke Nurul Jadid

nuruljadid.net – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) K.H. Yahya Cholil Tsaquf akrab disapa Gus Yahya memaparkan agenda PBNU yang menjadi komitmen beliau saat silaturrahim ke Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo, Ahad pagi (30/04/2023)

Mengawali pengarahan, Gus Yahya mengucapkan Selamat Idul Fitri 1444 H dan memohon maaf lahir batin mewakili PBNU kepada seluruh hadirin dalam forum silaturrahim tersebut.

Selain sowan, Gus Yahya mengajak warga nahdliyin hal-hal penting terkait Thariqoh Ad-Diniyah yakni cara beragama kita di tengah keberagaman masyarakat Indonesia dan dunia.

“NU merupakan jalan penentu bagi hidup kita termasuk Thariqoh Ad-Diniyah atau cara beragama kita dalam bermasyarakat. seperti tidak menuntut negara Khilafah,” pungkasnya

(Ketum PBNU Dr. (H.C) KH. Yahya Cholil Tsaquf saat memberikan sambutan pada acara silaturrahmi ke Pondok Pesantren Nurul Jadid)

“NU telah memilih NKRI, sebagaimana amanah dan keputusan muassis NU. Jika mau mencari hujjah syariah silahkan! Karena keputusan muassis itu sudah termasuk dalil itu sendiri,” ungkap Gus Yahya.

“Kita bukan negara komunis yang memilih berperang!” tegasnya di hadapan seluruh hadirin

Gus Yahya juga menekankan bahwa NU mengajarkan kita cara hidup di tengah keberagaman dalam dekapan NKRI “Thoriqoh Nahdliyah terbukti menguatkan kita semua dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara,”

Hasil survei mutahir yang disampaikan Gus Yahya bahwa 59.2% dari total umat muslim di Indonesia mengaku berafiliasi dengan NU. Ini merupakan bukti bahwa NU organisasi besar dengan pengikut yang tidak sedikit.

“Di tengah padang sejarah yang begitu luas ini, kemana arah kita? Apakah hanya bergerombol atau mengarah ke satu tujuan yang besar dan mulia,” terangnya

Setidaknya dua agenda PBNU yang Gus Yahya paparkan pertama gerakan keluarga maslahah; kedua verifikasi dan validasi kepengurusan organisasi NU

“Gerakan keluarga maslahah NU akan diwujudkan dalam, kegiatan masyarakat di tingkat desa jadi dihandel ranting. Ada sekitar 8000 desa lebih,”

“Akan ada instruksi langsung dari PBNU, berikut dengan pedoman satgas yang dibentuk oleh PBNU. Orang-orang yang betul-betul tau dengan kerjanya.” Jelas Gus Yahya

Gerakan keluarga maslahah adalah keluarga yang dapat memenuhi atau memelihara kebutuhan primer (pokok), baik lahir maupun batin. Selain itu juga kepastian validitas data struktur kepengurusan yang sesuai dengan prosedur tata kelola administrasi PBNU.

“Semua kepengurusan NU, harus mengikuti ketentuan administrasi yang telah ditetapkan. Jangan sampai ada banom NU yang tidak mendapat SK sesuai prosedur yang berlaku,” tegasnya.

Agenda yang dipaparkan Gus Yahya lebih fokus pada kegiatan di ranah ranting. Kegiatan ini merupakan instruksi langsung dari PBNU ke pengurus NU tingkat ranting.

“Ini instruksi langsung dari PBNU, tidak ada perantara. Supaya instruksinya jelas!” tandas Gus Yahya.

(Humas Infokom)