KH. Moh. Zuhri Zaini : Waqafkan dan Abdikan Diri Anda untuk Al Qur’an

nuruljadid.net – Mempelajari ilmu agama tidaklah mudah, tidak cukup hanya berakal saja, namun belajar agama harus memiliki guru sebab ilmu agama itu lebih banyak mengarah kepada yang ghoib. Oleh karena itu, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini memberikan tausiyah pada kegiatan Studium General PPIQ Nurul Jadid.

“Bersyukurlah saudara saudara sekalian, karena saudara adalah orang orang pilihan Allah  (tentara Allah) yang memiliki tugas untuk menjaga dan memelihara Al Qur’an yang telah dijamin keasliaannya oleh Allah SWT” dawuh beliau diawal tausiyahnya.

Semua santri di Nurul Jadid bisa dan mampu belajar Al Qur’an, namun perbedaan antara peserta didik PPIQ dengan santri lainnya adalah mampu mempelajari, mendalami dan menghafal Al Qur’an secara intensif. Hal itu merupakan hal plus bagi peserta didik PPIQ.

Mempelajari Al Qur’an merupakan suatu kemuliaan. Karena Al Qur’an merupakan pintu dari semua ilmu yang ada pada saat ini. Dijaman sekrang, perkembangan IT sangat pesat. Dan IT sangat laris dimanapun kita berada. Karena IT disebut sebagai sumber ilmu. Siapa yang menguasai informasi, maka dia akan menguasai dunia. Tapi sayang, IT hanya mampu memberikan informasi dunia saja.

Al Qur’an yang merupakan sumber dari sumber ilmu yang ada mengandung beberapa pernyataan yang bisa dibenarkan secara ilmiah dalam bidang ilmu. Salah satu contohnya adalah dalam bidang biologi, fisika dan lain sebagainya.

“Al Qur’an adalah sesuatu yang mulia, karena itu muliakanlah kandungan Al Qur’an dan muliakanlah diri kita dengan mengikuti ajaran Al Qur’an” dawuh Pengasuh ke IV Pondok Pesantren Nurul Jadid.

“Waqafkan dan abdikan diri anda untuk Al Qur’an. Banyak bonus yang akan Allah berikan kepada orang yang menghafalkan Al Qur’an dengan ikhlas. Dan Allah juga akan menjamin kelapangan hidup bagi orang yang menghafalnya” tambah beliau memotivasi peserta didik PPIQ untuk belajar dan menghafal Al Qur’an. (QZ)

Sejelek Apapun Keadaan Kita, Jangan Pernah Putus Asa Akan Rahmat Allah

nuruljadid.net – Di dunia banyak manusia yang mengaku berkuasa bahkan ada juga yang mengaku sebagai tuhan. Akan tetapi di akhirat, tiada manusia yang berkuasa. Semuanya tunduk dan patuh kepada Allah. Andaikan  di dunia ini, Allah menggunakan sifat adilNya, artinya ketika manusia berbuat dosa langsung disiksa mungkin kita semua akan binasa. Tetapi karena sifat RahmatNya lebih besar daripada murkaNya, akhirnya Allah tidak menyiksa kita di dunia sekalipun manusia sudah banyak  berbuat dosa. Inilah yang patut kita tiru sebagai hamba Allah. Sekalipun tidak harus sama dengan sifat tuhan. Kecuali sifat kebesaran tuhan, maka tidak boleh kita tiru, karena kita tidak mempunyai sifat besar, kalau tuhan memang mempunyai sifat Al-Mutakabbir,  kalau kita meniru sifat besar tuhan berarti kita sombong.

Dalam keadaan seperti itu Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh Zuhri Zaini, memberi nasihat kepada kita dalam pengajian Ramadhan kitab Irsyadul ‘Ibad

“Perlakuan tuhan kepada hambaNya tergantung bagaimana hamba tersebut meyakini. Apabila seseorang meyakini bahwa Allah mempunyai sifat pemurah, pengasih, pengampun dan maha penyayang, apabila kita memohon ampun dengan sungguh – sungguh pasti Allah akan mengampuni. Akan tetapi sebaliknya, apabila kita berburuk sangka kepada Allah maka hal itu akan terjadi kepada kita. Misalnya seperti orang yang berputus asa, karena orang yang putus asa adalah orang yang berburuk sangka kepada Allah. Semisal dia mengatakan saya tidak mungkin jadi orang baik, karna keturunan saya keturunan perampok, bapak saya keturunan perampok, kakek saya keturunan perampok, apabila keyakinan kita kepada Allah seperti itu, maka pasti kita akan menjadi prampok beneran” Dawuh Pengasuh.

Beliau melanjutkan, sejelek apapun keadaan kita jangan pernah berburuk sangka kepada Allah, jangan pernah putus asa, kita harus tetap memiliki harapan, artinya harapan kepada Allah, bukan harapan kepada selain Allah apalagi berharap kepada diri kita sendiri. Banyak kejadian – kejadian diluar nalar kita seperti orang yang tenggelam namun masih bisa diselamatkan. Terutama ketika kita dalam keadaan mendesak, maka jangan sekali – kali kita putus asa dan berburuk sangka kepada Allah. (zainul,zaky/red)

KH. Moh. Zuhri Zaini : Tak Ada Yang Terjadi Secara Kebetulan Di Dunia Ini, Semua Itu Sudah Takdir Allah.

Nuruljadid.net-Memiliki cita cita yang tinggi hampir dimiliki oleh semua orang. Mereka terus berjuang untuk menggapai cita cita tersebut. Namun terkadang ketika manusia terlalu berambisi untuk menggapai cita citanya mereka melupakan Sang Pencipta.

Dalam hidup ada yang namanya Sunnatullah, manusia boleh memiliki cita cita yang sangat tinggi, namun hal yang perlu diingat adalah diatas cita cita yang manusia miliki masih terdapat kekuasaan Allah SWT. Ada yang namanya Takdir dan qoda’ Allah. Terkadang manusia terlalu egois, melakukan sesuatu dengan seenaknya sendiri. Tidak menyadari bahwa hidup ada yang mengatur, mendesain dan berkuasa diatas kuasa manusia yaitu Allah SWT.

Dalam kondisi demikian, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh Zuhri Zaini, memberikan nasihat kepada kita semua melalui pengajian Kitab Bulan Ramadhan, ( Irsyadul ‘Ibad ), (Rabu, 31 Mei 2017)

“Orang kalau sudah kenal kepada Allah dalam keadaan mendesak lalu kemudian orang tersebut berdo’a kepada Allah, pasti Allah akan mengabulkan do’a orang tersebut. Selalu ada solusi bagi orang yang kenal kepada Allah. Orang yang kenal kepada Allah memahami bahwa semua itu terjadi bukan secara kebetulan, tapi karena pertolongan Allah. Dan orang yang kenal kepada Allah selalu menyadari bahwa semua yang terjadi karena takdir Allah, Sebab tidak ada kamus kebetulan di Alam semesta ini” Dawuh Beliau.

“Semuanya ada yang mengatur, dan yang mendesain. Allah lah yang mendesain semua itu. Seperti hidung menghadap kebawah, itu bukan kebetulan tapi Allah yang mentakdirkan. Lalu kalau semua hidung manusia menghadap keatas kemudian seperti apa jadinya. Didalam hidung ada yang namanya bulu hidung dan itu bukan kebetulan. Tapi Allah yang mendesain sebagai filter bagi kita semua. Di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan semuanya ada yang mendesain, dan yang mendesain adalah Allah.” Tambah beliau.

Beliau melanjutkan nasihatnya, Terkadang di alam semesta ini Allah membuat yang namanya skenario terkait keselamatan seseorang yang jauh diluar nalar manusia. Banyak peristiwa – peristiwa yang diluar nalar manusia, yang dapat mengantarkan manusia menyadari akan kekuasaan Allah. Serta mengantarkan manusia kembali kepada jalan Allah. Tetapi semua ini bagi orang yang hatinya lembut, kalau hatinya keras dan gelap sekalipun mau dipaksa maka tetap tidak bisa, seperti dalam sebuah berita tentang bandar Narkoba yang berada di penjara, didalam penjara dia masih menjalankan bisnis Narkoba, dia masih belum berhenti, kecuali dengan dihukum mati, ini kalau orag hatinya sudah keras. Oleh karena itu kita harus menjahui perbuatan dosa dan mengumbar hawa nafsu agar supaya hati kita tidak keras dan gelap. Saudara sekalian puasa yang kita lakukan ini bertujuan  sebagai pengendali hawa nafsu kita.

Kekuasaan Allah yang berperan di Alam semesta ini terkadang jauh dari nalar manusia, karna manusia tidak bisa melihat Tuhan dan terkadang manusia tersebut tidak menyadari dan tidak percaya kalau itu semua Allah yang mentakdirkan. (zainul,zaky/red)

 

Sumber : Pengajian Kitab Irsyadul ‘Ibad Ramadhan 1438 H.

KH. Moh. Zuhri Zaini : Jangan Menjual Ilmu Demi Kepentingan Dunia

nuruljadid.net – Manusia diciptakan oleh Allah untuk beribadah dan menjadi khalifatullah di muka bumi, dengan segala potensi yang dimiliki serta akal yang menjadi pengendali hawa nafsu memberikan jalan kepada manusia untuk menjadi ahli ibadah, yang menjadi cita – cita luhur diciptakannya manusia.

Dengan kenikmatan serta kebahagian hidup yang dimiliki, manusia terkadang lupa akan tujuan luhur diciptakannya manusia itu sendiri. Manusia terkadang terbuai oleh kenikmatan serta kemewahan dunia, tak jarang apabila dengan kondisi demikian manusia sering melalaikan kewajibannya sebagai makhluk ciptaan-Nya.

Dalam menjalani hidup, tentunya manusia berkeinginan untuk hidup bahagia. Namun, tak semua manusia mengetahui jalan menuju kebahagian tersebut. Tak jarang ditemui, apabila manusia menukar kehidupan akhiratnya demi kehidupan dunia, dan tak jarang pula manusia menghalalkan segala cara demi kenikmatan dunia. Ironisnya lagi, masih banyak manusia yang menukar ilmunya dengan dunia dan menjual ilmunya demi dunia. Sebab ilmu yang kita miliki bukanlah untuk kesenangan dunia, bukanlah untuk meraih jabatan dunia, tetapi ilmu yang kita miliki adalah semata – mata untuk mengantarkan kedekatan kita kepada Allah.

Melihat kondisi tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh Zuhri Zaini, memberikan nasihat kepada kita dalam Pengajian Kitab (Irsyadul ‘Ibad) Bulan Ramadhan.

“Ada orang alim, ahli ibadah kalau dia melihat keatas dia langsung melihat Arsy dan do’anya “manjur” akan tetapi dia senang dunia, senang harta. Dia terjebak dengan kenikmatan dunia, dia menjual ilmunya dengan dunia, pada akhirnya derajatnya jatuh, yang awalanya dia “manjur” akhirnya tidak lagi karena terjebak dengan kesenangan duniawi. Itulah bahayanya dunia. Kita jangan merasa aman – aman, jangan merasa baik –baik saja, sekalipun kita berada di Pondok. Istiqomah mengaji dan beribadah setiap hari. Kita jangan sombong dengan amal ibadah kita, sebab kita tidak tau kita akan jadi seperti apa.” Dawuh Pengasuh ke IV PP. Nurul Jadid.

Beliau melanjutkan, terkadang ada orang yang awalnya baik, tapi pada akhirnya dia menjadi orang yang buruk. Begitupun sebaliknya, orang awalnya buruk tapi pada akhirnya dia mejadi orang yang baik. Oleh karenanya, jangan pernah putus asa sekalipun kita bukan keturunan orang yang baik, dan janganlah besar hati sekalipun kita keturunan orang yang baik. Sebab  kebaikan, kemuliaan dan ilmu tidak bisa diwariskan. (zainul,zaky/red)

Sumber : Pengajian Ramadhan 1438 H Kitab Irsyadul ‘Ibad

KH. Moh. Zuhri Zaini : Akal yang Sehat, Pengendali Hawa Nafsu

nuruljadid.net – Manusia mempunyai akal untuk membedakan antara dirinya dengan binatang. Dengan akalnya, manusia mampu membedakan mana yang baik dan yang buruk. Dan dengan akal pula manusia derajatnya menjadi terangkat. Dengan akal manusia dapat mendidik serta mengontrol hawa nafsunya agar menjadi hawa nafsu yang Mutma’innah, hawa nafsu yang mengantarkan manusia menjadi manusia yang baik.

Di zaman modern yang ditandai dengan majunya teknologi informasi dan komunikasi, menuntut manusia untuk selalu mengimbangi serta menyesuaikan diri dengan perkembangan tersebut. Majunya teknologi membuat hidup manusia serba instan, seakan – akan apapun yang dibutuhkan manusia dapat terpenuhi dengan teknologi, terkadang manusia yang terlalu larut dengan kemajuan teknologi dan tidak bisa mengontol diri akibatnya dia menjadi manusia yang diatur oleh teknologi (menkultuskan teknologi). Bukan menjadi manusia yang mengatur teknologi, Ketika orang diatur teknologi, lalu pertanyaannya dimana posisi akal yang selama ini menjadi pengendali serta pengontrol diri kita.

Dalam kondisi tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, memberikan nasihat kepada kita, melalui pengajian Kitab Bulan Ramadhan (Irsyadul ‘Ibad)

Orang yang berbuat Maksiat, berarti orang tersebut orang yang tidak punya rasa malu kepada Allah, Ketika manusia kehilangan akal sehat karna dorongan hawa nafsunya, maka manusia tersebut lebih jahat daripaadan binatang. Manusia kalau sudah kadung sombong, maka manusia tersebut bisa mengaku dirinya sebagai Tuhan, seperti Fir’aun.

Beliau melanjutkan penjelasannya, Sebaliknya jika nafsu manusia terdidik, maka manusia tersebut akan lebih tinggi derajatnya ketimbang Malaikat. Dengan akal manusia dapat menggapai derajat yang tinggi, dan ketika akal manusia tidak berfungsi, maka manusia akan berada dipaling rendahnya derajat.

Demikian nasihat yang beliau sampaikan, semoga menjadi bekal bagi kita untuk menggapai derajat yang tinggi disisinya. Dan semoga nasihat beliau bisa kita jadikan pijakan hidup untuk menjalani kehidupan sehari hari yang semakin hari semakin berkembang. (zainul,zaky/red)

jika nafsu manusia terdidik, maka manusia tersebut akan lebih tinggi derajatnya ketimbang Malaikat. Dengan akal manusia dapat menggapai derajat yang tinggi, dan ketika akal manusia tidak berfungsi, maka manusia akan berada dipaling rendahnya derajat.

Sumber : Pengajian Ramadhan 1438 H Kitab Irsyadul ‘Ibad

KH. Moh. Zuhri Zaini : Perbuatan Dosa, Menjadikan Hati Menjadi Gelap

nuruljadid.net – Roda kehidupan selalu silih berganti, hidup tidak bisa ditebak, terkadang kenyataan hidup tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Dalam hidup semuanya bisa berubah, kecuali perubahan itu sendiri yang tidak pernah berubah. Layaknya siang dan malam, layaknya bahagia dan kesedihan, layaknya kesuksesan dan kegagalan, seperti itulah gambaran hati manusia selalu berubah – rubah terkadang dengan perbuatan dosa hati yang awalnya baik berubah menjadi jelek, hati yang awalnya terang bersinar berubah menjadi hati yang gelap gulita. Seperti itu pulah gambaran iman seseorang, terkadang dengan perbuatan baik, iman seseorang bertambah, terkadang pula dengan perbuatan jelek iman seseorang berkurang.

Dalam kondisi yang sudah tidak menentu ini, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo, KH. Moh. Zuhri Zaini, dalam Pengajian Khotmil Kutub Bulan Ramadhan (Kitab Irsyadul ‘Ibad) mengingatkan bahwa ketika perbuatan dosa masuk kepada hati kita, maka iman akan tersingkir. Jangan pernah merasa suci, sekalipun kita sudah mengaji dengan istiqomah setiap hari, sebab yang namanya dosa ada yang nampak dan ada pula yang tidak. Seperti sifat sombong dan ngerasani orang, yang mengakibatkan hati menjad gelap.

Beliau melanjutkan penjelasannya, Hindari pergaulan bebas, yang mengara kepada perzinaan. Kalau orang ketika berbuat dosa hanya tenang – tenang saja, berarti orang tersebut hatinya sudah gelap. Kita menghindari pergaulan bebas yang mengara kepada perbuatan dosa, bukan berarti kita sok suci, tapi karena kita sering lupa bahwa perbuatan tersebut adalah dosa. Karna kita punya potensi berbuat dosa, maka hindari jalan2 yang mengantarkan kita kepada perbuatan dosa.

Demikian pesan singkat yang beliau sampaikan, semoga menjadi bekal kita semua, dalam menjalani kehidupan, untuk lebih berhati-hati agar tidak terjerumus kepada perbuatan dosa, yang mengakibatkan hati menjadi gelap. (zainul,zaky/red)

Kalau orang ketika berbuat dosa hanya tenang – tenang saja, berarti orang tersebut hatinya sudah gelap.

KH. Hefni Mahfudz : Santri Sejati adalah Santri yang Mau dan Terus Belajar Serta Berkhidmah

nuruljadid.net – KH. Hefni Mahfudz salah satu Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid sekaligus menjadi pemangku Wilayah Zaid bin Tsabit (K) puteri rawuh untuk memberikan tausiyah kepada undangan dan para wisudawati Tahfidzul Qur’an dan Tahasinul Qiro’ah Lembaga Pendidikan Ilmu Qur’an (LPQ) Wilayah Al Hasyimiyah Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo (12/05) malam.

Diawal tausiyah, beliau berharap semoga acara ini membawa manfaat dan barokah untuk semuanya terutama bagi walisantri dan para wisudawati yang telah dikukuhkan malam hari ini. Dan semoga ilmu yang telah didapatkan oleh mereka (wisudawati) dapat menghantarkan mereka untuk mendapatkan ridho Allah SWT.

Dalam kesempatan ini beliau menyempatkan diri untuk memberikan pesan kepada para wisudawati yang hendak menlanjutkan studinya di lembaga lain. Beliau berdawuh agar para santri senantiasa mengingat bahwa santri sejati adalah santri yang mau dan terus belajar serta berkhidmah. Dalam kehidupan sehari hari tidak cukup hanya belajar saja, namun kita harus juga mengajar karena salah satu bentuk berkhidmat adalah mengajar.

“Teruslah belajar dan berkhidmah sekalipun sudah keluar dari Pondok Pesantren Nurul Jadid. Karena kita adalah orang yang mau belajar dan mengamalkan Al Qur’an.” Tambah beliau dalam tausiyahnya.

Kelemahan seorang manusia adalah tidak memiliki jiwa semangat serta kemauan untuk belajar. Baik belajar ilmu umum maupun ilmu agama. Terutama dalam hal menghafal Al Qur’an. Terkadang dalam menghafal kebanyakan mereka merasa malas untuk melanjutkan hafalannya. Disitulah lemahnya manusia yang lemah untuk belajar.

Menyandang predikat hafidz dan hafidzoh itu tidak lah cukup dalam belajar al qur’an . Al Qur’an yang merupakan petunjuk bagi ummat manusia memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Namun bagaimana bisa dikatakan petunjuk jika kita tidak bisa menjadikan dan memahaminya sebagai petunjuk ummat. Selanjutnya, tugas kita sebagai manusia dan ummat Nabi Muhammad SAW adalah bagaimana kita bisa mempelajari dan memahami Al Qur’an serta menjadikannya sebagai petunjuk.

KH. Hefni Mahfudz memberikan Tausiyah pada acara Wisuda Lembaga Pendidikan Qur’an (LPQ) Al Hasyimiyah. (Foto : Zaky/Red)

“Al Qur’an harus dibaca benar sesuai dengan bacaan Rosulullah. Memang kita tidak pernah berguru kepada Rosulullah, namun kita dapat berguru kepada guru yang sanatnya nyambung kepada Rosulullah. Supaya bacaan kita bisa dipertanggungjawabkan.” Dawuh beliau.

Dalam faktnya, masih banyak sekali santri yang hanya bisa membaca dan menghafalkan Al Qur’an tanpa bisa memahami makna dari ayat yang terkandung dalam Al Qur’an. Dalam tausiyah, beliau mengingatkan kepada santri untuk bisa memahami Al Qur’an minimal bisa mengetahui maknanya. Karena salah ucap membaca Al Qur’an dapat berakibat fatal dalam pemaknaan bahkan dapat membatalkan shalat.

Oleh karena itu, perlu diadakan evaluasi untuk mengurangi kesalahan dan kefatalan dalam membaca Al Qur’an.  Santri sebagai penyambung lidah dari guru harus bisa melaksanakan tugasnya dengan baik. Santri harus mau menyebarkan ilmu yang telah didapatkan dari gurunya. Tambah beliau diakhir tausiyahnya. (Q2/Red)

KH. Abd. Hamid Wahid : Santri Harus Mengamalkan 3 Point Penting

nuruljadid.net –  “Sebuah proses pelantikan kelulusan setelah menempuh masa belajar pada suatu instansi pendidikan”. Demikianlah banyak orang menyebutnya dengan wisuda. Ajang ini bolehlah bisa kita sebut sebagai momentum yang penting. Akan tetapi, hal ini bukan lantas menjadi sebuah tahap akhir dari tugas kita untuk terus selalu berjuang dan meneruskan belajar. Ini adalah sebuah pengingat bagi kita untuk terus menerus melakukan perjalanan dalam mencari ilmu.

Jangan pernah merasa bahwa dengan didapatkanya ijazah bahkan ijab sah sekalipun menjadi pertanda akan akhir dari proses pencarian ilmu. Termasuk komponen yang dimaksudkan di sini adalah santri. Santri adalah termasuk status yang tidak ada pensiun dan berhentinya. Sekali seseorang menjadi santri maka dalam seluruh lini kehidupanya mempunyai tugas kesantrian dan tugas belajar terus menerus tanpa ada batasnya.

Ada tiga poin penting sebenarnya yang ingin disampaikan dalam tulisan ini. Pertama adalah status dan posisi kita sebagai santri. santri adalah kader yang bertugas untuk berbuat dan mengabdikan diri kepada masyarakat. Dalam sebuah firman Allah Al-quran surat At-taubah ayat 122 yang artinya “tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam tentang agama dan untuk memberi peringatan pada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”.

Kepala Pesantren Pondok Pesantren Nurul Jadid (KH. Abd. Hamid Wahid) pada saat memberikan Tausiyah Wisuda Madrasah Diniyah Al Hasyimiyah. Foto (Zaky/Red)

Ayat ini merupakan peringatan kepada Rasulullah ketika gentingnya dalam masa-masa perang untuk tidak menyertakan seluruh umatnya ikut berperang. “Mbok ya jangan ikut perang semua sisakan satu kelompok untuk mendalami ilmu agama,” begitu kira-kira. Tujuanya adalah agar kelompok yang tidak ikut berperang tadi mendalami agama dan disyiarkan kepada masyarakat luas. Sebab, bagaimana mungkin akan lestari bila semisal seluruh umat islam pada waktu itu turut serta berperang semua dan gugur di medan perang? Hal ini yang tentunya tidak diinginkan.

Ini merupakan salah satu bagian tanggung jawab yang harus disandang santri. santri tidak cukup hanya hidup untuk dirinya saja tanpa pernah peduli memperjuangkan syiar agama islam. Santri juga harus memberikan sumbangsih pada masyarakatnya.  KH. Zaini Abdul Munim pengasuh sekaligus pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid sangat memperdulikan keadaan umatnya. Salah satu dauhnya yang sering digaungkan bahwa “Santri yang hanya sekedar hidup untuk dirinya sendiri sekedar untuk ekonominya sendiri, sekedar untuk pendidikanya sendiri  maka dia sudah berbuat maksiat pada Allah,”.

Dauh beliau ini untuk memperkuat dan memperkokoh pada status kesantrian kita bahwa santri adalah kader yang harus menjadi tanaman tumbuh dan bermanfaat, tumbuh dan berkembang, berkembang dan berbuah yang buahnya dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Meski beliau KH. Zaini tidak mengharuskan santrinya untuk menjadi Kiyai atau Bu Nyai saja. Tapi dalam tempat dan kondisi apapun ia berbuat silahkan asal dengan tetap membawa nilai-nilai kesantrian. Nilai ini yang sebenarnya dalam sistem pendidikan kita Pondok Pesantren terkandung dalam tiga hal komponen penting yakni trilogi santri.

Sebagai santri Nurul Jadid tentunya harus hafal pada trilogi santri ini. Komponen pertama  isi dari kandungan dari trilogi santri tersebut adalah santri mempunyai perhatian untuk melaksanakan Fardlu Ain. Kedua santri mempunyai perhatian untuk meninggalkan dosa-dosa besar. Ketiga mempunyai adab yang baik kepada Allah dan makhluknya. Ketiga hal tersebut bukan berarti apa yang dicari santri dan bukan berarti ketika tiga hal tersebut tercapai tugas santri selesai. Akan tetapi, ini adalah modal dasar hal fardlu ain yang wajib bagi mukallaf, muslim dan mukmin untuk melakukanya. Kemudian posisi yang kedua menularkan adalah perbuatan fardlu kifayah.

Maksudnya adalah sisi yang menjadi tugas eksklusif dari sebagian orang dan menjadi gugur tugas kewajiban itu bagi sebagian masyarakat yang lain. Kerap kali tidak kita sadari bahwa apa yang kita lakukan di pondok sebetulnya upaya persiapan besar yang akan kita lakukan ketika pulang. Tentang persiapan ini Imam Syafii pernah mengingatkan pada kita semua bahwa hendaknya kita mengkaji ilmu dan pengalaman sebelum kita menduduki pekerjaan dan jabatan.

Poin yang kedua adalah ilmu yang kita cari dan gali harus beriorientasi pada manfaat dan amal. Ilmu tanpa amal seperti pohon yang tak berbuah. Buah dari ilmu adalah amal. Santri ilmunya harus amaliyah dan amaliyahnya harus ilmiyah. Kita seharusnya selektif dalam memilih ilmu yang sesuai denga masa depan kita. Disesuaikan pada porsi yang dibutuhkan masyarakatnya.

Orang yang mencari ilmu tidak mesti ilmunya manfaat. Ilmu yang manfaat urusan Allah, bagian dari rahmat dan hidayah Allah. Tanda dari orang yang ilmunya manfaat dapat menyelamatkan da mendekatkan dirinya kepada Allah. Semakin menggairahkan kita untuk melakukan tugas dan kewajiban kita sebagai hamba. Orang yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya berarti ia jauh dari Allah.

Poin ketiga adalah bahwa nilai-nilai dari seseorang itu sama dengan baju yang dikenakan. Baju yang kita kenakan menjadi bagian hidup dari penampilan. Baju yang digunakan untuk beramal itu adalah akhlak dan adab, etika dan etiket. Ini hal penting yang harus diperhatikan dan terus kita pelihara sehingga menjadi kebiasaan dan watak kita. Watak adalah asalnya pengetahuan yang dibiasakan. Kebiasaan terbentuk menjadi ciri khas da karakter. Watak ini dapat dibentuk ketika dalam masa pembentukan karakternya. Dan tak akan dapat dibentuk lagi selagi sudah sampai pada usia 40 tahun. Akhlak yang baik diperoleh dari kebiasaan. Bagi manusia baju yang dipakai untuk berhias dan memperindahkan kehidupan adalah akhlak dan adab. Berilmu tidak berakhlak sama saja ilmunya tiada. Sebab ukuran manfaat dari ilmu adalah bagusnya perangai dan etika. Selamat Ber-etika! Wallahu a’lam bisshowab. (DL)

Sumber : Tausiyah Kepala Pesantren Pondok Pesantren Nurul Jadid (KH. Abd. Hamid Wahid) Pada Kegiatan Wisuda Purna Awwaliyah III Madrasah Diniyah Al Hasyimiyah.

Pengajian Rutin Kitab Al Hikam di Musholla Riyadus Sholihin PP. Nurul Jadid dikaji langsung Oleh KH. Moh. Zuhri Zaini, Pengasuh PP. Nurul Jadid
KH. Moh. Zuhri Zaini : Tau Diri dan Sadar Diri Adalah Kunci Keselamatan Hidup

nuruljadid.net – Manusia mudah terbujuk dengan sesuatu yang tampak (Lahiriyah), tanpa melihat terhadap hikmah dan substansinya, manusia hanya berpikir tentang aspek lahiriyah dan kesenangan sesaat tanpa melihat dan menyadari posisi sebagai manusia.

Fenomena di era modernisasi yang menuntut manusia untuk mengimbangi dan menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Tanpa  harus menukar dan mengorbankan identitas serta posisi diri, sering kali manusia lupa dan tidak menyadari hakikat diri. Karena manusia sering  tertipu dengan bungkus yang sangat indah, sekalipun content-nya kering dari nilai – nilai atau substansi yang baik dan menyelamatkan.

Terkadang ketika manusia diberi nikmat, ketika itu juga terkadang manusia lupa, bahwa nikmat tersebut Allah yang memberikan, dengan kelalaiannya mengabaikan rasa syukur tehadap nikmat yang diberikan Allah kepadanya. Ketika Allah tidak memberikan nikmat, seketika itu juga terkadang manusia tidak menyadari bahwa posisinya sebagai seorang hamba, hanyalah sebatas mampu meminta dan berkeinginan dan yang menentukan hanyalah Allah.

Ditengah lupanya manusia untuk ma’rifatun nafsi, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini mengingatkan, ”dengan ma’rifatun nafsi orang akan tau kepada posisi dirinya,” kadang – kadang kita lupa bahwa diri kita adalah makhluk”.

“Kita tidak sendirian, dalam hidup kita bersama Allah dan makhluk Allah yang lainnya. Kita harus tau kapasitas dan posisi kita, tau diri dan sadar diri, sekali kita jadi hamba jadilah hamba yang baik, ketika jadi guru jadilah guru yang baik, ketika jadi suami jadilah suami yang baik, artinya kita tau kepada keadaan/posisi kita. Kita sebagai makhluk sering kali terbujuk dengan benda – benda lain, sehingga kita lupa bahwa diri kita adalah makhlukNya.” Nasihat sekaligus penjelasan beliau dalam Pengajian rutin Kitab Al Hikam Karya Ibnu Athoillah As-Sukandari.

Tau diri dan sadar diri merupakan kunci serta jalan bagaimana cara meraih keselamatan di dunia dan akhirat, yang menjadi keinginan manusia. (Zhen/Red)

“Kita tidak sendirian, dalam hidup kita bersama Allah dan makhluk Allah yang lainnya. Kita harus tau kapasitas dan posisi kita, tau diri dan sadar diri, sekali kita jadi hamba jadilah hamba yang baik, ketika jadi guru jadilah guru yang baik, ketika jadi suami jadilah suami yang baik, artinya kita tau kepada keadaan/posisi kita. Kita sebagai makhluk sering kali terbujuk dengan benda – benda lain, sehingga kita lupa bahwa diri kita adalah makhlukNya.”

KH. Moh. Zuhri Zaini : Hidup Sederhana, Kunci Kelapangan Hidup

nuruljadid.net – Hidup serba mewah menjadi dambaan dan keinginan sebagian orang, yang tujuannya hanya mencari kemewahan dunia serta menghabiskan kenikmatan hanya didunia tanpa menyisakan kenikmatan untuk akhirat. Pola kehidupan yang tujuannya hanya untuk meraih kemewahan serta kenikmatan  didunia, merupakan tipikal manusia modren yang butuh terhadap siraman – siraman hikmah untuk menghidupkan spiritualitas, agar tidak menjadi kering dengan kemewahan serta kenikmatan dunia.

Kehidupan manusia selalu dibayangi dengan yang namanya “Kebutuhan Hidup”, didalam persepsi sebagian orang sudah tertanam bagaimana cara agar kebutuhan hidup terpenuhi, bahkan ada sebagian orang yang dengan beraneka ragam cara yang dilakukan agar kebutuhan hidup bisa terpenuhi, sekalipun dengan cara yang melanggar aturan – aturan Syari’at Islam. Bahkan orang berpikir bukan hanya kebutuhan hidup yang terpenuhi, dengan sikap rakusnya terkadang manusia melebihi dari kebutuhan hidupnya, semisal ada sebagian orang yang kebutuhannya satu bulan tiga juta, dengan sikap rakus bahkan ada yang lebih dari tiga juta, bahkan dua kali lipatnya tiga juta.

Kondisi di era moderen saat ini, menuntut masyarakat untuk menyesuaikan dengan kondisi yang ada, yang identik dengan hidup serba mewah, modren dan instan. Dengan alasan tetap memilih dan mengoreksi apakah moderen tersebut sesuai dengan tradisi keislaman dan budaya lokal indonesia.

Dalam kondisi masyarakat yang saling berlomba – lomba untuk mendapatkan kemewahan, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini mengingatkan.

“Kalau hanya nafsu yang diumbar, maka hidup bermewah – mewahan tidak akan ada cukup. Hidup di dunia ini seharusnya tidak bermewah – mewahan, karna kita harus berpayah – payah beramal dan mencari bekal untuk akhirat” Dawuh Beliau.

Beliau melanjutkan penjelasannya dalam Pengajian Kitab Riyadhoh As-Sholihin di Masjid Jami’ Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

“Dengan meniru hidup Nabi Muhammad SAW beserta para sahabat beliau yang hidup sederhana, hidup kita akan menjadi lapang”. Nasihat Beliau kepada santri.

Menjalani hidup sederhana amatlah sangat penting bagi manusia untuk meraih sukses yang hakiki, yaitu bukan hanya sukses didunia tetapi sukses di akhirat yang menjadi impian semua orang. (Zhen/Red)

“Kalau hanya nafsu yang diumbar, maka hidup bermewah – mewahan tidak akan ada cukup. Hidup di dunia ini seharusnya tidak bermewah – mewahan, karna kita harus berpayah – payah beramal dan mencari bekal untuk akhirat”

Kekeringan Spiritual, Derita Manusia Modern

Semua manusia siapapun orangnya pasti mencita-citakan dan mendambakan kebahagiaan. Namun tidak semua manusia tahu dan mau serta mampu menempuh jalan menuju cita-cita tersebut. Mungkin karena tidak tahu. Mungkin tahu tapi tidak mau. Atau tahu dan mau tapi tidak mampu. Banyak orang mengira bahwa kebahagiaan dapat di raih dengan harta yang melimpah, jabatan yang tinggi atau popularitas yang luas. Namun setelah semua itu di raih, ternyata kebahagiaan tidak juga datang.

Banyak orang kaya tapi selalu di hantui ketakutan-ketakutan. Misalnya takut bangkrut. Bahkan tidak sedikit orang kaya tidak dapat menikmati kekayaannya karena ia terkena penyakit kikir. Ia hanya menumpuk-numpuk kekayaan dan sangat berat untuk membelanjakannya untuk amal-amal sosial dan bahkan untuk kepentingan dirinya sekalipun. Ada juga orang kaya yang bermewah-mewah dengan kekayaannya; namun ia tidak pernah puas ia mengidap penyakit tamak yang selalu merasa kurang dan kurang. Tidak pernah mensyukuri nikmat yang dia dapat.

Begitu pula dengan jabatan dan kekuasaan. Tidak semua orang yang mendapatkannya menjadi tenang dan bahagia. Semua itu terjadi karenan mereka telah mengalami kekeringan spiritual. Antara lain ditandai dengan kegelisahan batin, selalu tidak puas, merasa diri terasing, ketidak berartian hidup dan bahkan keputus asaan.

Kekeringan spiritual di sebabkan karena lemahnya atau bahkan hilangnya hubungan baik antara diri seseorang dengan Tuhan, penciptanya, pemberi nikmat berupa fasilitas hidup baginya. Dan lemah atau hilangnya hubungan baik dengan Tuhan itu akan berdampak negatif terhadap hubungan baik dengan sesama manusia bahkan dengan dirinya sendiri dan juga makhluk-makhluk yang lain termasuk lingkungan hidupnya. Keadaan seperti ini banyak terjadi pada manusia modern.

Memang modernitas ibarat mata uang yang mempunyai dua sisi. Disatu sisi ia (modernitas) membawa manfaat bagi kehidupan manusia. Namun disisi lain ia menimbulkan dampak samping yang negatif. Sisi positif dan negatif tersebut disebabkan sifat yang melekat pada diri manusia modern dan modernitas itu sendiri.

Manusia modern dengan modernitasnya ditandai antara lain dengan; selalu berfikir logis dan rasional (pertimbangan untung rugi terutama terkait dengan materi dan uang), bersikap dan bertindak serta bekerja secara profesional, dan mempunyai kemandirian dan kepercayaan diri yang tinggi serta cenderung individualistik.

Sikap rasional, profesional dan mandiri adalah sikap-sikap yang baik yang bisa mendorong kemajuaan dan kesuksesan terutama secara pribadi (perorangan). Namun kepercayaan diri yang berlebihan serta kecenderungan sikap individualitik dapat menyebabkan kerengggangan hubungan atau hubungan tidak baik antara diri seseorang dengan lingkungannya baik dengan sesama manusia dan makhluk yang lain bahkan dengan tuhan. Aplagi sikap individualistik dan egois (mementingkan diri sendiri) adalah merupakan sifat dasar yang tak dapat dipisahkan dari diri manusia. Maka modernitas yang tidak diimbangi dengan spiritualitas yang tinggi akan lebih memperkuat sifat egoisme dan individualisme manusia.

Memang sifat egoisme dan individualisme tidak bisa dilepaskan dari diri manusia, karena ia memang merupakan watak dasar manusia sebagai makhluk individual. Bahkan dalam urusan ibadah dan pengabdian dan urusan akhirat yang lain, kita harus mendahulukan dan mementingkan diri sendiri. Artinya sebelum kita menyuruh orang lain melakukan ibadah atau pengabdian, hendaklah kita yang melakukannya lebih dulu sebelum mengajak orang lain melakukannya.

Sebaliknya dalam urusan dunia, (harta, kedudukan dan lain-lain) sebaiknya kita mengalah, mendahulukan orang lain bahkan mengorbankan hak diri kita untuk kepentingan orang lain. Sikap ini dalam bahasa Agama disebut dengan istilah ‘Itsar (mengalah). Sikap ‘itsar ini memang sangat dianjurkan dalam hal-hal yang berkaitan dengan urusan dunia (harta dan lain-lain). Sedangkan dalam urusan akhirat seperti ibadah dan pengabdian misalnya bersedekah, maka sikap ‘itsar menjadi tidak baik.

Namun yang terjadi dalam masyarakat justru sebaliknya. Dalam urusan dunia kebanyakan kita berebutan, tidak bersikat ‘itsar. Sementara dalam urusan akhirat, misalnya dalam shalat jama’ah dan sedekah, justru saling “mengalah”. Bukannya berebut melakukannya sendiri, tetapi justru mempersilahkan orang lain melakukannya. Sementara dirinya melakukannya belakangan atau bahkan tdak melakukanya sama sekali.

Hal ini disebabkan karna mereka terbujuk oleh godaan nafsu dan keindahan dunia sehinga menjadikan kesenangan dunia sebagai tujuan hidup dan target setiap usahanya. Godaan dunia itu telah menyebabkan mereka rebutan harta, jabatan dan pengaruh yang mengakibatkan terjadinya persaingan tidak sehat, konflik dan ketegangan. Dan godaan dunia itu pula telah menjerumuskan banyak orang kepada korupsi, penipuan, pelacuran dan pelanggaran hukum dan etika yang lain.

Sering pula ketamakan akan kekayaan dan kemewahan telah menyebabkan mereka terbujuk oleh rayuan gombal dan janji-janji kekayaan sekalipun janji-janji itu tidak masuk akal. Misalnya janji-janji yang diberikan Dimas Kanjeng kepada para pengikutnya yang kemudian terbukti bohong dan palsu. Banyak orang yang mengorbankan kehormatan dirinya dan mengkhianati kebenaran yang diyakininya demi uang, kedudukan dan kesenangan sesaat.

Memang dampak modernitas tidak selamanya negatif. Berkat modernitas manusia di era modern ini telah mengalami kemajuan yang luar biasa baik dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) maupun budaya. Dan berkat kemajuan IPTEK khususnya teknologi komunikasi dan informasi (ICT) semuanya berjalan dengan mudah, murah dan cepat. Mulai dari kegiatan berkomunikasi, mencari maupun menyampaikan informasi, usaha-usaha bisnis (ekonomi), pendidikan dan dakwah bahka politik, misalnya kampanye pemilu dan lain-lain.

Namun IPTEK dengan segala perangkatnya hanyalah alat (instrument). Nilainya tergantung kepada tujuan penggunaannya dan dampaknya. Dan pengguna teknologi itu adalah manusia yang selain mempunyai potensi kearah kebaikan juga mempunyai potensi kearah keburukan/kejahatan. Karena itu peerlu penguatan potensi baik pada diri manusia itu serta menekan dan meminimalisir-walaupun tidak dapat menghilangkan-potensi jeleknya.

Penguatan potensi baik adalah dengan peningkatan aspek spiritualitas dan pengendalian sifat-sifat kebinatangan yang melekat pada diri manusia dengan cara menekan keinginan-keinginan nafsu melalui riyadoh dan mujahadah. Karena itu, kita yang hidup di era modern ini hendaknya meningkatkan aspek spiritualitas kita dengan memperkuat sambunga vertikal kita kepada Tuhan melalui pemahaman (makrifat) kita tentang Tuhan disertai perbaikan akhlak dan adab kita terutama kepada Tuhan dan kepada sesama manusia bahkan dengan makhluk yang lain.

Tentu untuk memperoleh pemahaman yang benar (makrifat) tentang Tuhan perlu sumber informasi yang akurat dan dapat dipercaya yakni informasi dari Tuhan itu sendiri melalui orang yang juga dapat dipercaya yakni RasulNya dengan bukti-bukti yang meyakinkan yakni mu’jizat yang diberikan Allah kepada RasulNya. Karena itu hendaknya kita jangan mudah percaya kepada pengakuan (klaim) kebenaran tanpa dasar yang kuat dan bukti yang meyakinkan seperti yang sering terjadi akhir-akhir ini.

Maka pemahaman ilmu wahyu (syariat) adalah suatu keniscayaan dan keharusan agar kita terhindar dari pemikiran-pemikiran yang menyesatkan dan informasi-informasi yang salah dan penipuan. Dan banyak-banyak lah melakukan taqorrub (mendekatkan diri) kepada Allah sambil memohon bimbingan dan petunjukNya.

“SEMUA MANUSIA SIAPAPUN ORANGNYA PASTI MENCITA-CITAKAN DAN MENDAMBAKAN KEBAHAGIAAN. NAMUN TIDAK SEMUA MANUSIA TAHU DAN MAU SERTA MAMPU MENEMPUH JALAN MENUJU CITA-CITA TERSEBUT. MUNGKIN KARENA TIDAK TAHU. MUNGKIN TAHU TAPI TIDAK MAU. ATAU TAHU DAN MAU TAPI TIDAK MAMPU.”

Penulis : KH. Moh. Zuhri Zaini (Pengasuh PP. Nurul Jadid)

Sumber : Majalah Al Fikr no 29 November 2016 – April 2017

FKO NJ
KH. Abd. Hamid Wahid : FKO Sebagai Motor Penggerak Utama Dalam Pembentukan Karakter Siswa

nuruljadid.net- Ketegangan nampak di raut wajah peserta pelantikan Pengurus Forum Komunikasi OSIS (FKO) Nurul Jadid. Duduk diatas kursi empuk memang menyenangkan, namun tidak bagi mereka kali ini. Pasalnya mereka pada hari ini jumat (03/02) akan mendapatkan pengukuhan sebagai pengurus FKO periode 2017-2018. Amanah yang akan mereka pikul adalah amanah besar yang tidak semua santri Nurul Jadid bisa melakukannya. Dengan usia mereka yang masih belia, mereka sudah harus memperlajari dan mengukuti serta berproses menjadi sosok pemimpin yang bijaksana dan bisa memimpin dengan baik. Teori  teori kemepimpinan sudah tertanam diusia mereka. Disaat hari ini (03/02) santri lain sedang melakukan aktifitas sendiri, para pengurus FKO harus duduk manis diatas kursi pernikel untuk menantikan dikukuhkannya mereka sebagai pengurus FKO Nurul Jadid.

Seragam pesantren menghisai tubuh mereka. Dilengkapi dengan berkopyah nasional mereka harus rela untuk berikrar sebagai pengurus FKO baru. FKO yang kiprahnya sudah besar bagi perkembangan Nurul Jadid itu sudah ada sejak tahun 1980 an. Pada zaman itu, FKO adalah motor penggerak utama pembentukan karakter dan upaya untuk melahirkan kepemimpinan dari kalangan siswa. Berjaya dizamannya adalah sebuah kebanggaan tersendiri bagi mereka (FKO tahun 1980-an). KH. Mursyid Romli (Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda, Paowan, Situbondo), Akik Zaman (DPRD), Amin Said Husni (Bupati Bondowoso sekarang) merupakan salah satu output yang masih eksis sampai saat ini.

“FKO ini punya catatatan sejarah emas di pesantren ini dan memberikan kontribusi besar di Nurul Jadid. Salah satu aspek kesadaran yang dikembangkan di PP. Nurul Jadid adalah kesadaran berorganisasi. Dengan kesadaran itu, maka pesantren mengajak santri untuk mengembangkan diirnya agar mereka bisa berorganisasi dengan baik” dawuh KH. Abd. Hamid Wahid, Kepala Pesantren Pondok Pesantren Nurul Jadid saat ini.

“Organisasi itu adalah merumuskan cita cita bersama dan mewujudkan cita cita bersama itu menjadi perubahan yang ada secara kolektif di masyarakat. Untuk mencapai perubahan diharuskan memiliki kesadaran kolektif untuk berubah kemudian melakukan langkah untuk perubahan” tambah beliau ketika memberikan sambutan dalam pelantikan FKO pagi tadi (03/02).

Hidup bermanfaat adalah merupakan tujuan manusia. Cara untuk mendapatkannya adalah dengan cara membiasakan diri untuk berorganisasi. Dengan berorganisasi maka setiap individu atau orang akan mampu untuk berfikir secara kolektif. Oleh karenanya, organisasi sejak dini sangat perlu dilakukan agar mereka (pengurus FKO) dapat memikirkan sesuatu agar bisa bermanfaat bagi orang lain.

“Berogranisasi sejak siswa adalah salah satu bentuk untuk berpraktek didalam merumuskan dan mewujudkan cita cita bersama” Dawuh KH. Abd. Hamid Wahid.

Beliau juga menambahkan, “Berproses, berkesempatan mengurus orang lain, bermasalah dan berurusan dengan kesulitan akan mengasah kita menjadi pribadi yang terus meningkat. Dengan begitu kita akan bisa bermanfaat kepada orang lain. Hidup bersama tidak memiliki sekolah. Hidup bersama dan bermanfaat diperoleh dengan kita menjalaninya”

Diakhir sambutan beliau, beliau memberikan sedikit motivasi kepada Pengurus FKO terpilih untuk tetap bekerja keras dan berlatih mengabdi kepada pesantren. Dan beliau juga mengajak para Pengurus FKO terpilih untuk napak tilas mengikuti jejak kejayaan FKO dimasa dahulu, kejayaan yang harus diulang pada periode kali ini. FKO diharapkan dapat menjadi motor penggerak  dalam pembentukan karakter dan melahrikan jiwa kepemimpinan dikalangan siswa.