Pos

Galeri Foto: Lomba Tartil pada Bulan Lomba HAUL & HARLAH ke 71

P4NJ Banyuwangi Ngaji Kitab Syu’abul Iman Di Pondok Pesantren Nurul Jadid

nuruljadid.net- Pembantu Pengurus Pondok Pesantren Nurul Jadid (P4NJ) Banyuwangi ngaji kitab syu’abul iman bersama KH. Moh. Zuhri Zaini, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid. Ngaji bareng pengasuh ini diikuti oleh 50 orang, ditempatkan di AULA MINI Pondok, Jum’at sore (07/02) WIB.

Nampak hadir mengikuti kegiatan ngaji bareng itu, Ketua P4NJ Pusat KH. Junaidi Mu’thi, Sekretris P4NJ H. Syamsul Arifin, Kasubag Protokoler Nurul Jadid Ustadz Bashori Alwi

Ustadz Rofiq Syamwil saat dikonfirmasi mengatakan bahwa kegiatan ngaji kitab syu’abul iman oleh Pembantu Pengurus Pondok Pesantren (P4NJ) Banyuangi dilaksanakan setiap tiga bulan sekali. Kiai Zuhri sendiri yang mengisi kegiatan tersebut. Dan kegitan itu berlangsung kurang lebih 2 tahun bertempat di Banyuangi.

“Kami P4NJ Banyuangi ingin ngaji ke Pondok Nurul Jadid langsung. Biar tidak Kiai Zuhri terus yang rawuh ke Banyuangi. Kegiatan ini sudah lama dilaksanakan mas, dua tahun yang lalu,” Tutur Rofiq.

Insya Allah barokahnya lebih banyak saat kami ngaji langsung ke Pondok, sekalian kami jum’at malam langsung ikut Istighosah sabtu wage,” Sambungnya.

 

Pewarta : PM

Galeri Foto: Silaturahmi dan Ngaji Bareng STAI At-Taqwa Bondowoso

Alumni Nurul Jadid Asal Jember Jadi Budayawan Nasional

 nuruljadid.net- SUASANA sunyi dan sepi memasuki kawasan Kebun Sanggar Bermain (KSB) di Jalan Agus Salim 32 Mumbulsari. Tempat itu dikelilingi oleh pepohonan yang menghadirkan kesejukan. Ketika memasuki pintu gerbang, tampak beberapa pendapa yang sepertinya sangat indah untuk dijadikan tempat berekreasi.

Setelah Radar Jember Jawa Pos mengucapkan salam, istri dari pemilik KSB tersebut mempersilahkan masuk di ruang tamu yang berbentuk pendapa. Selang beberapa menit, lelaki berambut panjang dengan kumis dan jenggot memutih yang bernama Oonk Fathorrahman tersebut menyapa. Dia merupakan alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid.

KSB tersebut didirikan pada 1987 oleh pria yang biasa disapa Gus Oonk ini. Berangkat dari kekecewaan terhadap pendidikan yang hanya menekankan aspek pengetahuan tanpa membekali siswa dengan karakter dan mental kehidupan. “Jadi pada masa orde baru, siswa hanya dicekoki dengan pengetahuan saja tanpa ada pemberian pemahaman pada siswa tentang bagaimana menjalani kehidupan dengan benar,” jelas Oonk.

Selain itu, kegelisahan terhadap akhlak para pemuda yang semakin tidak terarah, mengantarkannya pada kemantapan untuk mendirikan sanggar tersebut. Karena pondasi utama yang harus dimiliki oleh manusia adalah mental dan karakter atau akhlak yang baik. “Saya merasakan sendiri waktu itu bagaimana pemuda itu membutuhkan ruang untuk bergerak mengekspresikan diri tapi terarah,” ungkapnya.

Hal yang lebih menginspirasi pendirian KSB tersebut yakni ketika membaca sejarah pemuda Ashabul Kahfi. Menurutnya, para pemuda tersebut lari dari seorang raja yang zalim yang selalu memberikan teror terhadap perkembangan kepribadian manusia. Sehingga mereka memasuki goa untuk menghilangkan segala hal yang meneror dirinya. “Goa itulah yang saya analogkan dengan KBS. Agar orang-orang yang masuk di dalamnya bisa menyelami arti sesungguhnya dari kehidupan. Sehingga ketika keluar mereka menjadi orang yang tangguh,” tambah Oonk.

Dari sanalah KSB mulai berdiri dan didatangi beberapa pemuda yang ingin mencari filosofi kehidupan. Namun, yang masuk ke sanggar tersebut adalah mereka yang memiliki kenakalan yang luar biasa, tapi tidak menemukan wadah. “Mereka pemuda yang orang tuanya sudah tidak sanggup mengasuh karena sangat nakal,” akunya.

Selain itu, yang ikut bergabung dengan sanggar tersebut adalah anak jalanan yang tidak menemukan kemerdekaan dalam dirinya. Bahkan mereka tinggal di sanggar tersebut hingga menikah dan membina rumah tangga di lingkungan sekitar. “Ada yang saya temui di jalanan, lalu saya ajak kesini,” imbuh ayah angkat penyanyi religi Opick ini.

KSB tersebut mendidik para pemuda untuk peka terhadap lingkungannya dengan menekankan pada kepedulian terhadap alam dan manusia serta kesadaran akan nilai-nilai kehidupan. Sehingga untuk mencapai tujuan tersebut, KSB memiliki beberapa kegiatan yang mendukung tercapainya keinginan itu.

Pendidikan kepada para pemuda tersebut difasilitasi oleh KSB sendiri, sesuai dengan potensi yang dimiliki. Seperti kesenian teater, melukis, berpuisi, mengukir, maupun bermain musik. “Jadi setiap minggu mereka menyetor satu puisi. Ada yang setoran lukisan,” tambah lelaki yang pernah menjadi anak asuh W.S. Rendra ini.

Bahkan, teater anak-anak di KSB pernah tampil di beberapa negara, seperti Jerman, Jepang, Filipina, dan Vietnam. Hal tersebut sebagai latihan bahwa mereka memiliki mental yang kuat meskipun tinggal di daerah terpencil.

Dalam mengajarkan kepekaan terhadap segala hal, di sanggar tersebut diajarkan olah badan, nyanyian jiwa, dan menari. “Misal gerakan-gerakan menari yang diikuti dengan zikir pada Allah SWT,” tandasnya.

Setiap Selasa malam dan Kamis malam, mereka rutin berkumpul untuk melakukan introspeksi. Anak-anak tersebut diberi kesempatan mengungkapkan segala kegelisahan yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, pembentukan karakter pada mereka yakni dengan sikap-sikap yang baik. Seperti kedisplinan. Bila ada anak yang mentalitasnya buruh, maka mereka diberi tugas untuk membuang sampah. Sebab disana mereka bisa belajar tentang kecerobohan manusia. “Sehingga dia tahu kecerobohan yang diperbuat manusia melalui sampah yang dibuangnya. Lalu ketika dia sukses di situ, dipindahkan menyapu halaman,” kata Oongk mencontohkan sikap kedisiplinan tersebut.

Di samping itu, KSB tersebut juga melatih para pemuda untuk bertahan hidup dengan segala keadaan. Mereka tidak hanya diajarkan tentang arti kehidupan, namun juga diberikan pemahaman tentang dunia kerja. “Jadi kami juga ajarkan mereka cara bertahan untuk hidup, seperti menjual bakso, membuka laundry, dan sebagainya. Kami dengan keras mengajarkan mereka untuk tidak meminta-minta dan bermalas-malasan,” tegasnya.

Di sanggar tersebut tidak ada struktur organisasi. Sebab, ikatan yang terjalin bersifat kekeluargaan. Sehingga panggilan kepada pendiri sanggar tersebut adalah ayah dan ibu. Sedangkan untuk beberapa yang bergiat di sanggar tersebut adalah saudara.

Seluruh kebutuhan hidup penghuni sanggar ditanggung ditanggung oleh Gus Oonk. “Bahkan dari makan sampai uang transport untuk kuliah, kami yang tanggung. Karena saya memposisikan diri sebagai ayah,” terangnya.

 

Sumber Berita : p4njjember.com

32 Dosen STAI Attaqwa Bondowoso, Ngaji Bareng Di Pondok Pesantren Nurul Jadid

nuruljadid.net- Sebanyak 32 Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Attaqwa Bondowoso, ngaji bareng KH. Moh. Zuhri Zaini di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Rabu (05/02) bertempat di Aula Mini Pesantren.

Wakil Rektor I STAI Attaqwa Dr. Rifa’i, S.Ag, M. Pd, dalam sambutannya menuturkan alasannya memilih Pondok Pesantren Nurul Jadid pada kegiatan ini.

“Kita tahu bahwa PP. Nurul Jadid memiliki visi keislaman, sebagai pengayom umat dan melahirkan banyak tokoh yang memiiliki karakter kepesantren dan nilai-nilai islam rahmatan lilalamin”, Ungkapnya.

Pria yang berprofesi sebagai dosen ini menyampaikan harapannya, “Kami mohon banyak ilmu dan tausyiah dari Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid agar kami civitas akademika yang memang dosen-dosen STAI banyak alumni Pesantren, tetapi kalau sudah lama bergaul dengan masyarakat perlu penyegaran kembali”, Sambungnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan Tausyiah Pengasuh PP. Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, diakhiri dengan do’a, pemberian cindera mata dan foto bersama.

Pewarta : PM

Galeri Foto: Lomba Hadrah Ala Santri pada Bulan Lomba HAUL & HARLAH ke 71

Siswa SMANJ Sabet Juara I Lomba Dramatisasi Bahasa Mandarin Se-Jatim

nuruljadid.net- Kemarin tanggal 1 Pebruari 2020, Siswa Sekolah Menengah Tingkat Atas Nurul Jadid atau lebih dikenal dengan sebutan SMANJ meraih juara 1lomba  dramatisasi bahasa mandarin Se- Jawa Timur yang diselenggarakan Universitas Negeri Malang.

Lomba drama yang diberi tema “Mengenalkan Pesantren dan Islam melalui Visualisasi Drama Dengan Menggunakan Bahasa Mandarin” ini  diikuti oleh beberapa sekolah se Jawa Timur.

Ustadz Dzulqomar WKM Kesiswaan SMA Nurul Jadid Paiton, Probolinggo menuturkan harapannya agar prestasi yang diraih oleh siswanya, tidak membawa mereka cepat merasa puas.

“Prestasi ini sangat bagus, apalagi juara I lomba dramatisasi menggunakan bahasa mandarin. Namun harapan saya kepada anak didik saya yang telah meraih juara I tidak cepat puas, karena ini akan berakibat kepada tidak semangatnya untuk terus berusaha semakin baik. Masih ada lomba-lomba yang harus diikuti pada event yang lebih besar. Lomba tingkat nasional lebih-lebih tingkat internasional”.

Masih kata Ustadz Qomar, Juara lomba dramatisasi mandarin oleh siswa kami ini, keluarga besar SMANJ berharap Pondok Pesantren Nurul Jadid semakin berkibar dan semakin bias bersaing dengan dunia luar khususnya berkait bahasa dalam bidang bahasa mandarin.

“Dengan diraihnya juara I ini, Sekolah Menengah Atas Nurul Jadid atau SMANJ, berharap bisa bertambah jaya dan unggul bersaing dengan sekolah-sekolah favorit diluar sana”, tambahnya.

 

Pewarta ; PM

Persatuan Humas Nurul Jadid Adakan Bincang Santai Bulanan

nuruljadid.net- Persatuan Humas Se- Nurul Jadid melakukan upaya peningkatan kinerja humas dengan bentuk bincang santai melalui pertemuan bulanan. Kali ini, Senin (03/02) bincang santai (binsai) yang kedua bertempat di Ruang Rapat UNUJA, setelah pertemuan pertama yang dilaksanakan minggu lalu, tepat pada tanggal 10 Januari 2020 bertempat di kantor pesantren lanrai II.

Kabag Humpro Ustadz Ernawiyadi Munsy berharap adanya pertemuan rutin ini mampu meningkatkan kinerja humas sebagai etalase pesantren dan juga bisa membangun komunikasi secara intens antara humas yang ada dilingkungan Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Masih menurut Ustadz Erna, pertemuan humas se Nurul Jadid ini akan kami jadikan sebagai pertemuan yang berkulitas.

Ustadz Abdul Hadi Humas SMK Nurul Jadid merasa senang dengan pertemuan bulanan semacam ini. “Pertemuan humas se-Nurul Jadid tempatnya harus gantian di sekolah-sekolah yang ada. Agar kita semakin akrab dan bisa memberi masukan positif terhadap humas setiap lembaga.

Ponirin Mika Humas Pesantren mengapresiasi keinginan setiap humas. “Kami humas Pesantren, mengapresiasi semua keinginan baik humas sekolah. Sebab itu merupakan langkah bagus untuk mewujudkan humas yang diinginkan oleh Pesantren.

 

Pewarta : PM

Galeri Foto: Perkembangan Masjid Jami’ Nurul Jadid bulan Februari 2020

Galeri Foto: Seminar Al-qur’an dan Pelatihan Tajwid Nada, Pusat Pendidikan Ilmu Al-qur’an (PPIQ)

Galeri Foto: Pembukaan Bulan Lomba Haul dan Harlah PP. Nurul Jadid ke 71

Galeri Foto: Penampilan Teater AMOEBA dalam Pembukaan Haul dan Harlah PP. Nurul Jadid ke 71

Regenerasi Organisasi, FKO Nurul Jadid menggelar Pemilu

nuruljadid.net – Panitia Komisi Pemilihan Umum (KPU) Forum Komunikasi OSIS (FKO) Nurul Jadid di bawah Bidang Kelembagaan dan Peserta Didik Biro Pendidikan menggelar pemilihan ketua FKO masa bakti 2020-2021 dengan mengadopsi sistem seperti pemilihan umum (Pemilu), Jum’at (24/1). Kegiatan yang digelar di aula SMK Nurul Jadid tujuannya, untuk memberikan pendidikan demokrasi dan pengetahuan sejak dini tentang tata cara pemilu bagi para siswa dan melanjutkan estafet kepemimpinan organisasi itu sendiri.

Pemilu ini merupakan rangkaian kegiatan akhir organisasi untuk regenerasi kepengurusan yang sebelumnya digelar Sidang Paripurna untuk forum Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) dan Tes Kelayakan (Fit and Proper Test) Bakal Calon Ketua FKO dari setiap lembaga pendidikan menengah atas yang juga dihadiri oleh perwakilan OSIS dan organisasi se Nurul Jadid.

Sebelum mencoblos, siswa perwakilan OSIS dari setiap lembaga mengikuti acara penyampaian visi-misi dan Debat Kandidat yang dipandu langsung oleh Panelis Bapak Mujiburrohman (Pembina) dan Fathul Irfan Arridho (Ketum Demisioner). Puluhan siswa nampak mengantre untuk melakukan pencoblosan di bilik Suara yang telah disediakan setelah memperoleh kertas suara dari kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS). Setelah mengisi absensi, para siswa mendapatkan kertas suara.

Setelah mencoblos, siswa melipat surat suara seperti semula. Selanjutnya, surat suara dimasukan ke kotak suara. Sebelum meninggalkan lokasi pemungutan suara, KPPS memberikan checklist di daftar hadir peserta agar tidak ada yang memilih lebih dari satu kali.

Panitia Pemilihan Ketua FKO saat menghitung suara

Panitia Pemilihan Ketua FKO saat menghitung suara

Ketua FKO Demisioner, Fathul Irfan Arridho, mengatakan pemilihan Ketua FKO layaknya Pemilu merupakan kegiatan rutin yang sudah digelar sejak awal berdirinya. Tujuannya memberikan pendidikan demokrasi dan mengenalkan siswa-siswi santri sejak dini tentang tahapan dalam Pemilu.

“Kegiatan pemilihan ketua FKO ini diawali penjaringan calon, seleksi, debat kandidat, pemaparan visi misi dan proses pemilihan”, kata Irfan.

Setelah itu, kata Irfan dilanjutkan dengan penghitungan suara oleh para petugas TPS disaksikan oleh saksi. Setelah surat suara dihitung, hasilnya dapat dilihat hari itu juga.

Sementara itu, Pembina FKO Nurul Jadid Mujiburrohman mengapresiasi pelaksanaan pemilihan ketua FKO Nurul Jadid. Melalui pemilihan ini maka perwakilan siswa akan terlibat dalam pesta demokrasi tingkat lintas sekolah/madrasah.

Mujib mengatakan kagum, ketika Ia mengetahui bahwa kegiatan ini dilaksanakan mendadak karena dikejar waktu namun bisa terlaksana dengan baik. Terlebih Mujib dibuat takjub ketika bertanya kepada para siswa, akan memilih yang satu sekolah atau beda sekolah? Kemudian mereka jawab yang terpenting visi misinya Pak. “Ini adalah refleksi demokrasi, mudah-mudahan adanya pemilihan seperti ini memberikan pemahaman kepada santri sejak dini”, pungkas Mujib.

Pelaksanaan Pemilu Putra pada pagi hari dengan perolehan suara Ahmad Zainul Khofi (SMK Nurul Jadid) 79% suara, M. Abdi Maulana Ilyas (SMA Nurul Jadid) 11% suara dan Muhammad Syafakhorrahman (MA Nurul Jadid) 10% suara, sehingga Ketua FKO terpilih berdasarkan vote adalah Ahmad Zainul Khofi dari SMK Nurul Jadid.

Sedang Pemilu putri dilaksanakan pada siang hari dengan perolehan suara, Nurul Fadilah (MAN 1 Probolinggo Putri) 33% suara, Citra Nova Ramadana (SMA Nurul Jadid) 36.5%, Jazilah Makkiyah (MAN 1 Probolinggo Putri) 30,5% dan Ketua FKO Terpilih diperoleh oleh Citra Nova Ramadana dari SMA Nurul Jadid dengan perolehan suara terbanyak 36,5%.

Penulis : Mujiburrohman Bakri

Galeri Foto: Lapresio Champions Program Unggulan Putra SMA Nurul Jadid

Asrama Nurus Shobah, Biasakan pola hidup mandiri

nuruljadid.net – Asrama yang lokasinya berada dibawah naungan Pondok Pesantren Nurul Jadid ini memang sesudah membiasakan pola hidup mandiri bagi santri yang tinggal didalamnya. Meskipun santri disini masih berusia kisaran 8-12 tahun mereka tetap bersemangat melaksanakan kegiatan santri pada umumnya, seperti pengajian Qur’an, kitab dan kegiatan pesantren lainnya.

Asrama ini membiasakan sholat berjama’ah lima waktu sebagai bentuk usaha untuk melatih dan membiasakan santri nya yang notabene masih anak kecil dengan sholat berjama’ah. Selepas sholat subuh berjama’ah para santri kemudian mengikuti pembinaan Al-Qur’an dan bagaimana mereka belajar untuk mengetahui cara baca dan melatih kefashihan membaca Al-Qur’an. Bersih-bersih juga menjadi kegiatan wajib harian, dimana semua santri membersihkan Asrama yang mereka tempati mulai dari kamar sampai halaman Asrama. Diasrama ini mereka memang diajari untuk mempersiapkan semua kebutuhan sendiri, termasuk ketika ingin berangkat ke sekolah. “Untuk kegiatan asrama setiap harinya selepas sholat subuh berjamaah, itu ada pembinaan Al-Quran sampai pagi, setelah itu bersih-bersih halaman atau kamar masing-masing, kemudian anak-anak diarahkan untuk persiapan sekolah di Madrasah Ibtida’iyah Nurul Mun’im”. Begitu ungkap mantan kepala wilayah Nurus Shobah, Ustadz Syukron.

Bermain adalah hal yang paling disukai anak-anak, utamanya pelajar SD/MI/Sederajat. Biasanya selepas penat di Sekolah, anak-anak akan menyibukkan diri dengan bermain. Namun berbeda dengan siswa Madrasah Ibtida’iyah Nurul Mun’im yang bermukim di Asrama Nurus Shoabah. Ya, mereka di sibuk kan dengan berbagai macam kegiatan yang ada di asrama.

“Mereka memiliki waktu istirahat selepas pulang sekolah, kemudian ba’da Sholat ashar berjama’ah mereka harus kembali ke Madrasah Ibtida’iyah Nurul Mun’im untuk mengikuti pembelajaran di Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) Nurul Mun’im. Setelah kembali ke asrama mereka kemudian diarahkan untuk bersiap-siap melaksanakan sholat maghrib berjama’ah. Ada juga pelaksanaan kegiatan belajar mandiri bersama, yang dilaksanakan setiap selesai sholat isya’ berjama’ah, kegatan ini bersifat rutin kecuali hari libur.” Terang ustadz Syukron.

Selain kegiatan rutin tersebut, asrama Nurus Shobah juga mengembangkan kajian kitab meski kitab yang dikaji hanya kitab bagi santri pemula. Kitab Akhlakul Lil Banin menjadi pilihan tepat yang dikaji di asrama ini. Kitab tersebut memang mengajarkan materi Akhlak dasar. “Owh, kajian kitab disini belum di ikutkan ke pusat, Asrama memang mengadakan kegiatan sendiri, soalnya materinya masih materi dasar. tidak mungkin lah santri sekelas anak MI ini ikut mengaji kitab kuning, ya hanya kitab-kitab dasar saja.” Paparnya.

Asrama ini juga mengenalkan berbagai tradisi pesantren seperti Yasinan, Tahlilan, Burdaan. dan pembacaan Maulid Diba’i. Kegiatan tersebut biasanya dilaksanakan per minggu di malam jum’at. “Setiap malem jum’at itu ada kegiatan pembacaan maulid diba’i selepas pembacaan yasin dan tahlil di Astah pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Zaini Mun’im. Ziarah Maqbaroh ini memang menjadi nilai plus yang diajarkan dan kebiasaan yang ditanamkan pada para santri disini” cerita Ustadz Syukron. “itu setiap malam selasa juga sehabis sholat maghrib ada kegiatan praktik ibadah” lanjutnya.

Pola hidup mandiri memang berhasil diterapkan di asrama ini, mulai dari kegiatan, kebersihan, mandi, makan, dan lain sebagainya. Selain dari faktor didikan sang ustadz, hal itu juga disebabkan keuletan dan kesiapan santri untuk membiasakan diri dengan se-gudang kegiatan dimasa-masa bermain mereka. Namun meski begitu mereka juga menyempatkan diri bermain dan mengisi kekosongan kegiatan dengan bercanda gurau.

Pewarta : Nur Azizah