Pos

Surat Resmi Pengembalian Santri

nuruljadid.net- Pondok Pesantren Nurul Jadid resmi mengeluarkan surat edaran tentang pengembalian Santri. Surat edaran ini ditanda tangani oleh Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo KH. Abdul Hamid Wahid, M.Ag.

Memerhatikan Surat edaran bernomor: NJ-B/0250/A.III/06.2020 pada tangal 05 Juni 2020 tentang menyambut kedatangan santri dan tanggal pengembalian santri Pondok Pesantren Nurul Jadid, dilengkapi dengan protokol kesehatan, mulai dari protokol persiapan keberangkatan, selama dalam perjalanan, saat tiba di pesantren dan selama berada di pesantren  . Adapun surat edaran sebagai berikut :

adaapun surat lampiran terkait pernyataan kembali santri dapat di unduh pada link di bawah :

20200608_lampiran-2-dan-3

 

Pribadi Bersih Baginda Nabi

Kebersihan menjadi barometer terjaga nya kesehatan baik dalam badan maupun lingkungan. apalagi di musim pandemi ini, semua orang di wanti-wanti untuk selalu mencuci tangan, menjaga stamina tubuh, menggunakan masker, menjauh dari keramaian, serta mengurangi sentuhan ke area wajah dan benda-beda di tempat umum sebagai upaya menghindari terjangkit virus covid 19.

Sebagai inspirasi terbesar dalam gerik gerik kehidupan dan sosok suri teladan, Nabi juga sangat memperhatikan kebersihan badan beliau. Indikasi terbesar bahwa baginda merupakan sosok yang sangat menjaga kebersihan ialah keistimewaan beliau, yakni memiliki keharuman badan dan keringat yang melebihi bau minyak wangi dan aroma misik.

Uraian tentang sosok pribadi yang sangat memperhatikan kebersihan anggota badannya ini dapat dibaca dalam kitab berjudul Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam al-Insan al-Kamil karya Sayyid Muhamad bin Sayyid Alawi bin Sayyid Abbas al-Maliki al-Hasani dalam bab كمال إعتنائه بمظهره الشريف Berikut penjelasannya,  

Pertama, Sayyid Alawi al-Maliki memaparkan bahwa Nabi selalu menjalankan aktivitas mencuci tangan baik sebelum maupun sesudah makan, senantiasa bersiwak dalam segala keadaan, memelihara kebersihan sisi-sisi tubuh dengan memotong kuku dan kumis serta mencabut bulu ketiak. Rasulullah juga memerintahkan umatnya untuk selalu menjaga kebersihan, sebab Allah sebagai  zat yang maha bersih mencintai kebersihan. Beliau mengutip hadis yang diriwayatkan oleh imam Thurmudzi,  Rasulullah bersabda:

إن الله طيب يحب الطيب نظيف يحب النظافة وكريم يحب الكرم جواد يحب الجود

(sesungguhnya Allah adalah zat yang maha baik (dan) mencintai kebaikan, maha bersih (dan) mencitai kebersihan, maha mulia (dan) mencintai kemuliaan, maha dermawan( dan) mencintai kedermawanan) (H.R. Thurmudzi)

Kedua, memperhatikan kebersihan rambut dan dan bercelak. Nabi tidak hanya membersihkan rambutnya, tetapi juga melumuri dengan minyak rambut. Sayyid al-Maliki mengutip dari Sebuah riwayat dikisahkan dari sahabat Anas r.a bahwa Nabi sering menggunakan minyak rambut dan mengurai jenggot nya serta menggunakan qana’ (sepotong kain kepala yang melindungi serban ketika menggunakan minyak rambut), beliau juga memakai celak disetiap malam.

Ketiga, memelihara kebersihan gigi. Nabi selalu memastikan kebersihan di sela-sela gigi beliau setelah mengunyah makanan. Sayyid Alawi al-Maliki melanjutkan bahwa Nabi dalam upaya menjaga kebersihan dan wangi nya mulut senantiasa bersiwak di setiap keadaan, seperti ketika hendak melaksanakan sholat dan melantunkan al-Quran, ketika akan dan setelah bangun dari tidur, ketika hendak berangkat atau setelah kembali dari perjalanan, bahkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh imam Bukhori Nabi bersabda;

لولا ان اشق على امتي لأمرتهم بالسواك

 “andai saja tidak memberatkan atas umatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak” (H.R. Bukhori) dalam riwayat lain dari Imam al-Barazi dan al-Tabrani menggunakan redaksi “ Niscaya akan aku wajibkan bersiwak atas mereka ketika hendak menunaikan shalat sebagaimana aku wajibkan atas mereka berwudhu’ ”

 Keempat, perhatian atas pakaian. Sayyid Alawi al-Maliki menuturkan bahwa Nabi Muhammad merupakan pemimpin para nabi, oleh sebab itu beliau merupakan paling bersihnya mahluk Allah dalam segi badan, pakaian, rumah dan majelis nya. Sebuah hadis diriwayatkan oleh Ibnu Sinni bercerita bahwa Nabi memperindah diri dan menganjurkan untuk melakukan hal serupa, beliau bersabda;

ان  االله  الجميل يحب الجمال

“sesungguhnya Allah adalah zat yang maha indah (dan) mencintai keindahan”

 Sayyid Alawi al-Maliki mengutip sebuah kisah ketika ada beberapa utusan datang kepada Nabi, beliau terlebih dahulu memperindah diri dengan pakaiannya sebelum menemui mereka. Ketika hari raya datang beliau memakai pakaian yang khusus sebagaimana juga beliau lakukan pada saat mendirikan shalat jumat, hal itu senada dengan perintah beliau dalam hadis yang diriwayatkan oleh imam al-Hakim

أحسنوا لباسكم وأصلحوا رحالكم  حتى تكونوا كأنكم شامت في الناس

”Perindahlah pakaian dan perbaikilah tunggangan kalian sehingga kalian seakan-akan terlihat gembira dihadapan orang” (H.R. Ibnu Sinni), tentu hal ini bukan untuk memamerkan diri atau kekayaan, akan tetapi agar menciptakan sebuah kondisi yang menyenangkan satu sama lain.

Akhirnya sebagai diri yang sempurna, Rasulullah juga mengajarkan akan pentingnya aspek-aspek lahiriah untuk dijaga disamping selalu memperbaiki jiwa rohani kita, hal ini adalah upaya terciptanya stabilitas dalam hidup baik dalam aspek lahiriah lebih-lebih dalam aspek batiniah manusia, sebab selama masih hidup didunia manusia tidak akan terlepas dari dua hal tersebut.

 Penulis : Nadzif Fikri Abady

Editor : Ponirin Mika

18 Ramadan 1441 H

Tangisan Rindu Nurul Jadid, Santri Asal Kepulauan

nuruljadid.net- “Pada saat terbangun dari tidur, aku selalu ingat pada teman-temanku di Pondok, ingat pada kiai dan guru-guru. Terkadang aku menangis mama, hingga air mata membasahi bajuku. Lihat jika mama tidak percaya” Kalimat ini diucapkan oleh Ahmad Subhan, Santri yang berasal dari Pulau Kangean Madura.

Setelah Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, Jawa Timur memutuskan liburan Pesantren lebih awal akibat mewabahnya pandemi covid-19 di Indonesia. Maka liburan panjang dialami oleh santri-santri Nurul Jadid.
Akibatnya, banyak ungkapan kerinduan pada Pesantren. Kerinduan tersebut diungkapkan melalui video pendek dengan berbagam macam kalimat. Berbeda dengan santri yang bernama Ahmad Subhan. Ia lebih menceritakan kerinduannya pada mama dan ayahnya.

Ahmad Subhan santri berasal dari Kepulauan Kangean, Sumenep, Maduara. Ia merupakan santri yang berstatus siswa di Madrasah Aliyah Nurul Jadid (MANJ) bertempat di kelas XI, ingin segera balik ke Pondok. Ia menceritakan kerinduan untuk balik ke Pesantren kepada mamanya hampir setiap hari dengan mata yang membengkak akibat menangis yang tak berkesudahan. Sehingga membuat mamanya tidak mampu menahan air matanya juga, sembari berkata:

“Nak, kita berdo’a ya, agar virus corona segera hilang di dunia ini terutama di Indonesia. Nanti setelah virus ini tiada, Pesantren akan mengeluarkan pemberitahuan waktu kembalian santri dengan segera. Saya yakin itu nak. Makanya disamping kita harus mengikuti protap yang ditetapkan pemerintah, kita jangan lalai berdo’a kepada Allah. Karena Dialah dzat yang mengatur segalanya,” Ucap Siti Maryam, Mamanya Ahmad Subhan dengan suara terbata-bata.

Iya ma, saya selalu memanjatkan do’a saya pada Tuhan. Saya meminta agar virus yang menakutkan ini segera berakhir dan semua sahabat-sahabat saya santri yang lain bisa belajar lagi di Pesantren.

Diam dirumah dan tidak memiliki aktifitas yang produktif ini sangat membosankan. Tidur, bangun, main HP, tidur lagi, bangun lagi. Ini sebenarnya saya lakukan untuk menghilangkan kejenuhan. Saya ingin belajar seperti di Pesantren Nurul Jadid tempat saya mondok, yang sangat teratur, ada guru pendamping yang paling sangat saya ingat saat ngaji kepada para kiai di Pesantren,” Kata Ahmad Subhan pada nuruljadid.net-.

Pria yang berumur 17 tahun ini, mengungkapan kerinduan pada Pesantren kepada teman-temannya, ini salah satu cara agar kerinduannya bisa sedikit terobati.

“Lewat do’a saya, terpanjat harapan agar semua keluarga besar Pondok Pesantren Nurul Jadid dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa. Begitu juga guru dan sahabat-sahabat saya, semoga Tuhan melimpahkan kasih sayang pada mereka,” Tambahnya.

 

Pewarta : PM

Kapolres Probolinggo Sowan Ke Ponpes Nurul Jadid

nuruljadid.net- Kapolres Probolinggo AKBP Ferdy Irawan sowan ke kediaman Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo KH. Moh. Zuhri Zaini, Kamis siang (14/05).

Kedatangan kapolres bersama anggotanya disambut oleh Pengasuh KH. Moh. Zuhri Zaini, Sekretaris Yayasan KH. Hefny Rozak, Kabag Humpro Ustadz Ernawiyadi, Kasubbag Humas Ponirin Mika, Kasubbag Protokoler Ustadz Bashori Alwi.

Bapak Ferdy Irawan menyampaikan, sebenarnya keinginan saya untuk berkunjung ke Ponpes Nurul Jadid cukup lama, hanya terbentur dengan adanya wabah virus corona. Dan ada protap pemerintah dan bagian kesehatan harus diikuti. Jadi ditunda sampai hari ini. Kami bersilaturrahmi ke Ponpes Nurul Jadid untuk membangun sinergitas antara polres dan Pesantren Nurul Jadid.

“Kami siap bekerjasama dengan Pesantren Nurul Jadid, jika ada kegiatan di Pesantren ini, kami siap mengawal,” Ucapnya.

Mantan Kapolres Tanggerang selatan ini banyak bertanya tetang sejarah Pondok Pesantren Nurul Jadid dan jumlah santri yang mondok di Pesantren Nurul Jadid.

Kiai Zuhri menjelaskan dengan detail berkait sejarah Pondok Pesantren Nurul Jadid sekaligur profil singkat pendiri Pesantren KH. Zaini Mun’im.

Bapak Ferdy Irawan yang baru menjabat tiga bulan di polres probolinggo banyak bercerita tentang kondisi covid-19 yang saat ini mewabah.

” Dalam kondisi saat ini, lebih utama kita mengikuti protap kesehatan dan juga ketahanan tubuh (imun) perlu di jaga. Disamping itu, kejujuran masyarakat menjadi kunci keselamatan,” Kata AKBP Ferdy.

“Yang penting jangan takut berlebihan,khawatir ketakutan itu malah membuat persoalan baru,” Sambung Kiai Zuhri.

Pewarta : PM

Korban Framing Kekerasan Wacana dan Kekerasan Fisik

Korban Framing Kekerasan Wacana dan Kekerasan Fisik: Andai Kalimat Tauhid tidak Dijadikan Simbol Bendera ISIS dan Hizb al-Tahrīr.

Kalimat “lā ilāha illa Allāh Muhammad rasūl Allāh” merupakan kalimat paling agung dan paling sakral bagi pemeluk agama Islam. Karena salah satu keistimewaannya adalah kandungan dua kalimat tersebut mampu mencakup semua ajaran-ajaran Islam dan menjadi pondasinya. Kalimat ini, menjadi pintu pertama untuk masuk ke dalam agama Islam dan menjadi syarat mutlak untuk diakui keislaman seseorang di dunia ini, terutama di akhirat nanti. Juga, semua umat Islam pastinya mendambakan agar akhir hidupnya membawa bekal dan ditutup dengan dua kalimat di atas.

Tapi entah mengapa, belakangan ini, saya pribadi terkadang merasa risih tidak enak, seperti ada perasaan yang mengganjal dan rasa hawatir, ketika akan menuliskan kalimat ini di publik atau sekadar untuk menyampaikan dalam sebuah pengajian. Ini mungkin karena alam bawah sadar saya mulai terjajah oleh framing yang seolah-olah dua kalimat sakral ini memiliki stigma negatif, -antara lain- akibat dipakai sebagai simbol bendera organisasi Hizb al-Tahrīr yang saat ini menjadi organisasi terlarang di banyak negara di dunia. Juga, menjadi simbol bendera organisasi ISIS (Islamic State of Iraq and Suriah) yang kerap terlihat melakukan penindasan dan kekejamannya sambil mengibarkan panji tauhid dan mengikat kepalanya dengan simbol kalimat tauhid yang sakral itu, sehingga menjadikan trauma masyarakat dunia, bahkan berujung pada phobia terhadap Islam.

Jujur, saya tidak sepakat dengan konsep dan pergerakan ISIS serta khilafah yang diusung oleh Hizbu Al-Tahrīr. Alih-alih, jika akan diterapkan di Indonesia yang faktanya berideologi Pancasila yang notabene adalah ‘mitsāqon ghalīda dan konsensus perjanjian bersama atas seluruh elemen masyarakat Indonesia dengan berbagai latarbelakang yang berbeda-beda. Apakah umat Islam akan menjadi umat yang pertama kali atau paling awal yang akan merusak dan mengkhianati perjanjian dan kesepakatan bersama ini? Tentu jawabannya adalah tidak, karena memang dalam Islam tidak terdapat nash qath’i yang mengatur secara rijit terkait bentuk dan sistem negara. Sementara itu, di Indonesia secara khusus, konsep khilafah ini tidak memiliki landasan historis dan normatif, bahkan bertolak belakang dengan ideologi negara dan konsensus bersama.

Kembali pada pembahasan perasaan tidak enak dan risih pada saat menulis atau melihat dua kalimat sakral di atas. Rasa risih ini, misalnya untuk saya pribadi, juga seringkali muncul ketika melihat tulisan kalimat tauhid tersebut di media-media sosial, pada pigora yang biasanya terpampang di ruang tamu, saat mendengar ceramah-ceramah dan semacamnya. Anehnya, terkadang ketika melihat dua kalimat tersebut, tiba-tiba yang tergambar dan terlintas pertama kali di benak dan alarm pikiran saya adalah langsung mengarah kepada HT dan ISIS, bukan pada keagungan dua kalimat tersebut atau mengingat Allah dan rasul-Nya. Inilah yang saya sesalkan. Andai saja ISIS dan HT tidak menggunakan simbol kalimat sakral itu dalam benderanya, barangkali fenomena perasaan semacam ini tidak akan terjadi dalam diri dan benak saya yang semestinya di saat melihat tulisan ini bisa langsung mengingatkan pada Tuhan, tapi kok malah berubah jadi ingat HT dan ISIS.

Selain itu, perasaan yang sangat mengganggu psikis saya ini, juga kadang timbul karena saya hawatir dituduh atau sekadar dianggap sebagai pengikut atau simpatisan kelompok ekstrim kanan. Ya entahlah, mengapa bisa muncul perasaan seperti ini. Barangkali karena saya gagal faham atau memang akibat framing liar yang terlanjur terbaca saat berseliweran di beranda internet dan media sosial saya sebelum-sebelumnya, yang bisa jadi kontennya tidak komprehensif,  sepotong-sepotong dan tidak mendudukkan terlebih dahulu terkait sudut pandang kalimat sakral ini, apakah dalam konteks ceramah keagamaan, konteks ajaran agama Islam, konteks organisasi, konteks dunia perpolitikan global serta tidak mendudukkan antara agama dan oknum pemeluknya. Dan yang lebih parah adalah berita-berita kekerasan, baik kekerasan wacana maupun kekerasan fisik.

Dari fenomena di atas, saya menjadi sadar bahwa menjadikan simbol-simbol sakral dan kata kunci keagamaan dalam dunia politik, jika tidak tepat dan bijak, maka dapat berefek negatif pada agamanya dan dapat mengotori kesucian dari kalimat sakral dan agama itu sendiri. Itulah mengapa ulama kita dan founding fathers bangsa ini, tidak menjadikan kata kunci dan istilah kunci agama sebagai simbol negara. Karena memang, jika simbol agama tersebut dipakai sebagai ideologi negara dan ternyata di kemudian hari tidak mampu menjaga marwah simbol tersebut dalam realitasnya, maka agama akan terkena imbasnya juga. Itulah salah satu hebatnya mengapa ulama kita tidak memasukkan istilah-istilah kunci agama dalam bernegara demi menjaga kesucian dan kesakralan sebuah agama serta keutuhan bangsa.

Jadi, meskipun ulama kita tidak memakai istilah Islam secara eksplisit dalam bernegara, bukan berarti beliau-beliau itu anti Islam atau tidak islami. Juga sebaliknya, seumpama ada suatu kelompok yang menggunakan simbol-simbol Islam dalam dunia perpolitikan, juga belum tentu kelompok tersebut adalah pro lahir batin pada Islam, contohnya seperti kelompok ISIS yang muncul di Timur Tengah. Ini barangkali yang perlu digaris bawahi agak tebal.

Selanjutnya, selain kalimat sakral di atas, masih ada banyak istilah-istilah kunci yang kerap mengganggu kondisi batin saya. Misalnya di saat menyebut istilah “tauhid”, “syariat Islam”, “syariat Allah”, “jihad”, “hijrah”, “Ikhwan” dan lain sebagainya. Padahal kalimat tersebut merupakan istilah-istilah kunci yang memang terdapat dalam al-Quran, al-Hadits, kitab-kitab klasik dan sumber agama Islam  lainnya. Bahkan juga digunakan dalam praktik keagamaan umat Islam. Salah satu contoh seperti kata “ikhwan”. Istilah ini sering dipakai dalam komunitas tarekat sebagai kata sapaan. Tapi yang membuat saya tidak habis fikir adalah ketika menyebut atau mendengar istilah “ikhwan” tersebut, maka kadang yang terlintas pertama kali di benak saya adalah organisasi Ikhwanul Muslimin wa Akhowatuha. Ini masalah namanya.

Fenomena seperti di atas, juga bisa saja terjadi akibat seringnya istilah-istilah kunci tersebut dibenturkan atau digunakan pada tempat yang tidak semestinya. Semisal, istilah “tauhid” ini sering digaungkan para teroris saat melakukan kejahatannya, istilah “syariat” dipakai untuk menggaungkan slogan “NKRI bersyariah”. Sementara istilah “jihad” dan “hijrah” juga kerap dipakai oleh kelompok jihadis dan para teroris dengan cara mempersempit dan mereduksi makna keduanya untuk kepentingan mereka.

Baik, di sini akan saya coba ulas sedikit terkait masalah jihad di atas sejauh pemahaman saya. Ajaran jihad yang bermakna (perang) dalam agamà Islam  memang benar adanya, tapi kapan ajaran ini boleh diamalkan? apa alasannya sehingga harus berjihad? bolehkah mengobarkan semangat jihad perang sembarangan?. Ajaran jihad memang boleh diamalkan jika waktu, cara dan alasannya jelas dan benar, misalnya seperti saat resolusi jihad pada tahun 1945. Itupun masih tetap dalam batasan etika/moral yang harus tetap dijaga dan tidak boleh serampangan dalam berjihad. Jika suatu negeri dalam kondisi damai, tidak dalam kondisi agama diserang, tidak dalam upaya membela negara, tidak dalam kondisi diusir dari tanah air, tidak dalam kondisi dihalang-halangi dan tidak diganggu dalam menjalankan agama, maka jihad perang tidak boleh diamalkan karena tidak ada sebab dan tidak memenuhi syarat untuk berjihad. Hal ini dapat dianalogikan misalnya dengan ajaran Islam tentang kewajiban melaksanakan salat maktūbah. Contoh, salat dzuhur memang wajib dilaksanakan bagi tiap-tiap muslim yang ‘āqil bāligh. Tapi kapan?, apakah boleh salat dzuhur (adā’an) pada pukul 7 pagi? apakah boleh salat dzuhur tanpa wudu’ dalam kondisi normal? bolehkah salat dzuhur dalam keadaan haid?, Kesemuanya, jawabannya adalah tidak boleh.

Nah, karena itu, dalam upaya menjalankan hukum Islam, tidak cukup hanya memahami hukum taklifi (wajib, sunnah, makruh, haram dan mubah). Tapi lebih dari itu, harus juga memperhatikan hukum wadh’inya. Terlebih, ketika akan mengamalkan atau menerapkan hukum taklifi tersebut di lapangan. Misalnya, apakah sebabnya sudah ada?, apakah syarat-syaratnya sudah terpenuhi semuanya?, apakah masih ada penghalang (mani’) atau tidak?, dan lain sebagainya.

Barangkali fenomena seperti inilah yang juga perlu direnungkan, terutama bagi saya pribadi, agar perasaan yang cukup mengganggu batin saya ini tidak berubah meningkat dan menjelma ke ranah phobia terhadap istilah-istilah kunci agama Islam yang sebenarnya berpengaruh besar bagi kehidupan dan pandangan hidup umat Islam secara umum. Karena itu, ke depan harus lebih bijak lagi dalam menggunakan simbol-simbol Islam dan sebisa mungkin menempatkannya pada tempat yang semestinya, tidak serta-merta menuduh dan prasangka negatif pada sesama, berusaha hidup rukun, bersatu dan bekerjasama dalam merawat perdamaian dan kebhinekaan.

Selain itu, dalam upaya menjaga kesucian agama Islam adalah berusaha untuk tidak mengunakan dalil-dalil agama sebagai justifikasi teologis pada hal-hal yang nyatanya masih belum jelas benar-salahnya agar tidak terjerumus pada prilaku “cocoklogi” yang tidak jarang sampai memperkosa dalil al-Quran dan al-Hadits dengan penjelasan yang tidak seharusnya dan memasukkan kepentingan-kepentingan kotor yang tidak sejalan dengan makna sesungguhnya.

Efek daŕi yang demikian itu, antara lain dapat meresahkan masyarakat awam, bahkan bisa  membuat mereka bergabung dengan kelompok-kelompok garis keras karena terlanjur takut menolak doktrin penjelasan mentornya yang kebetulan melegitimasi pendapatnya yang salah dan penuh kepentingan tersebut dengan menggunakan ayat-ayat al-Quran dan Hadits. Hal ini terjadi karena kalangan awam menganggap bahwa jika menolak penjelasan mentornya dengan tipe di atas, berarti seolah menolak al-Quran dan al-Hadits. Padahal tidak seperti itu. Karena itu, harus dibedakan, yang mana teks Quran dan teks Hadits, yang mana tafsir, mana produk penjelasan atau ulasan yang disandarkan pada al-Quran dan al-Hadits.

Misalnya, ketika ada muballig menafsirkan ayat اني جاعل فى الارض خليفة dengan memaknai dan menjelaskan makna “khalifah” dalam ayat itu dengan arti “negara khilafah ala Taqiyuddin An-Nabhani”. Maka, saya pasti akan menolak penjelasan tafsir seperti itu. Jadi, dalam konteks penolakan ini, yang saya tolak bukan teks suci al-Quran nya. Tapi, yang saya tolak adalah produk penafsirannya yang salah, karena menerjemahkan kata “khalifah” dalam teks ayat tersebut dengan makna “Negara Khilafah”, yang dalam pandangan saya merupakan salah satu bentuk pemaksaan penafsiran atau distorsi penafsiran. Contoh lain misalnya, yang tidak jauh beda dengan fenomena di atas adalah rumor yang cukup meresahkan masyarakat luas belakangan ini, yakni, isu ramalan tentang bakal terjadinya peristiwa “dukhon” yang katanya akan terjadi pada hari jumat (8/5/2020) pertengahan bulan ramadan 1441 tahun ini.

Barangkali, itulah beberapa “curhatan akademik” suatu pengalaman pribadi yang selama ini sempat mengganggu dan menyerang sisi psikologis saya. Kini, saya sadar bahwa dunia maya di samping memiliki sisi positif tapi juga bisa berdampak negatif. Tergantung bagaimana cara kita menggunakan dan menyikapinya. Karena itu, saring dulu sebelum share, jangan lupa filter dan perkuat anti virusnya. (AHM)

Wa allāhu a’lam bi al-Şawāb.

Penulis : Abdul Hafidz Muhammad, Alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid

Editor : Ponirin Mika

Alumni Nurul Jadid Paiton, Berbagi Kebahagiaan Bersama Kaum Dhu’afa

nuruljadid.net – Alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid daerah Jember yang tergabung dalam organisasi Pembantu Pengurus Pondok Pesantren Nurul Jadid Kabupaten Jember (P4NJ Jember) bersama Forum Komunikasi Santri Nurul Jadid Jember ( FKSNJ Jember) berbagi kebahagiaan dengan kaum dhu’afa diantaranya : orang jompo, fakir miskin, janda tua, anak yatim piatu, Senin sore (10/05) di Kecamatan setempat.

H. Abdul Aziz atau dikenal dengan panggilan H. Ayek berkata, kami sangat prihatin dengan adanya pandemi covid-19 dimana banyak masyarakat teedampak secara ekonomi. Meskipun pemerintah telah menyalurkan bantuan melalui program PKH, PBNT, BLTDD namun masih ada masyarakat yang tidak mampu yang luput dari bantuan ini (salah sasaran).

Ketua P4NJ Jember ini melanjutkan, kami Pengurus P4NJ Jember berkolaborasi dengan FKSNJ memberikan bantuan mereka kaum lemah, fakir miskin, anak yatim, orang tua jompo yang tidak dapat bagian dari sumbangan pemerintah tersebut.

” Insya Allah rancangan kami, setiap kecamatan di Jember akan kami berikan bantuan sejumlah 200 orang berupa beras 5 kilo dan uang,” Kata H. Ayek, mantan pengurus ubudiyah Pondok Pesantren Nurul Jadid ini.

Kita berharap adanya bantuan ini, mampu meringankan beban ekonomi mereka ditengah pandemi virus corona yang belum reda,” Sambungnya.

 

Pewarta : PM

Kau yang selalu ku cari dan ku nanti (Lailatul Qadr)

lailatul qadr adalah malam yang sangat diharapkan oleh kalangan umat muslim khususnya yang berpuasa karena malam itu ialah sebuah malam yang misterius adanya tidak mudah untuk ditebak kapan datangnya, maka dari itu pembahasan selanjutnya mencoba memaparkan lailatul qadr, keutamaan serta tanda-tanda akan adanya lailatul qadr.

Lailatul Qadr: merupakan malam yang sangat dianjurkan untuk kita cari, karena malam itu ialah malam mulia, barokah yang sangat agung serta yang paling diutamakan yang mana pada waktu itu sangat diharap istijabahnya doa dan ia merupakan paling utamanya malam, sekalipun juga malam jum’at tetap lebih utama lailatul qadr , sebagaimana firman Allah : {لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ} dalam artian bangun malam serta berbuat baik pada malam itu lebih baik dari pada seribu bulan, lalu rasulullah bersabda : Barang siapa yang melakukan puasa ramadlan dengan dasar iman dan semata-mata karena Allah, maka dosa-dosa yang terdahulu akan diampuni oleh Allah SWT kemudian diriwayatkan dari sayyidah aisyah bahwa rasulullah bangun malam dengan beribadah serta membangunkan keluarganya dan tidak menyetubuhi istri-istrinya pada sepuluh akhir bulan ramadlan , lalu diriwayatkan dari Imam Ahmad dan Muslim: Ketika masuk pada sepuluh akhir bulan ramadlan rasulullah sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah berbeda dengan sebelumnya.

Lailatul qadr hanya terbatas pada sepuluh akhir bulan ramadlan di tanggal-tanggal ganjil pada waktu itu, berdasarkan hadist rasulullah : “carilah lailatul qadr pada sepuluh akhir bulan ramadlan pada tanggal-tanggal ganjil”, Paling unggulnya beberapa pendapat dari kalangan ulama’ bahwa lailatul qadr itu terjadi pada malam 27 ramadlan, Abu bin Ka’ab berkata: “Allah telah memberitahu Ibnu Mas’ud bahwa lailatul qadr itu terjadi pada malam 27 ramadlan, akan tetapi dimakruhkan bagi dia memberitahu kepada orang lain, maka bertawakkallah, kemudian diriwayatkan dari Mu’awiyah bahwa rasulullah bersabda : “lailatul qadr terjadi pada malam 27 ramadlan” lalu Ibnu mas’ud mengunggulkan pendapat tersebut dengan mengatakan ”surat al-qadr itu ada 30 kalimat, pada urutan kalimat yang ke 27 itu lafadz “هي” yang bermakna lailatul qadr diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang shohih dari Ibnu Umar : “Barang siapa mencari-mencari lailatul qadr maka hendaklah mencarinya pada malam 27 ramadlan” atau beliau berkata: “carilah lailatul qadr pada malam 27 ramadlan”.

Hikmah dirahasiakannya lailatul qadr: Agar para umat muslim bersungguh-sungguh dalam mencari lailatul qadr, dan bersungguh-sungguh dalam beribadah dengan sangat menginginkan lailatul qadr sebagaimana dirahasiakannya doa istijabah pada hari jum’at, dan dirahasiakannya asma Allah yang paling agung serta keridlaannya dalam perkara-perkara baik dsb. Perkara yang sangat dianjurkan ketika datang lailatul qadr bagi orang mukmin hendaknya berdoa :

«اللهمّ إنك عفوّ تحب العفو فاعف عني»

sebagaimana yang diriwayatkan oleh sayyidah aisyah, beliau bertanya kepada rasulullah : “wahai rasulullah ketika datang lailatul qadr doa apa yang sunnah saya panjatkan?, kemudian rasulullah menjawabnya : panjatkan lah doa,

اللهمّ إنك عفوّ تحب العفو فاعف عني”

Tanda-tanda akan datangnya lailatul qadr: pendapat yang sangat masyhur sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abi bin Ka’ab dari rasulullah SAW: “Sesungguhnya matahari terbit pada pagi hari yang sangat terang tanpa adanya bayangan” kemudian disebagian hadist juga disebutkan “sinar putihnya seperti air” di riwayat lain dijelaskan dari rasulullah SAW “tanda-tanda datangnya lailatul qadr: malam yang sangat terang seperti perak seakan-akan adanya bulan yang bersinar terang serta tenang tidak dingin dan tidak pula panas dan tidak ada satu pun bintang yang muncul pada malam itu, dan termasuk dari tanda-tanda datangnya lailatul qadr bahwa matahari terbit di pagi hari dalam keadaan datar tanpa adanya bayangan sama seperti bulan pada malam perang badar, dan pada waktu itu tidak ada satupun setan yang keluar” kemudian diriwayatkan dari Ibnu Huzaimah dari hadist marfu’ Ibnu Abbas : “pada malam lailatul qadr tidak ada cuaca dingin dan tidak pula panas, pada pagi harinya matahari akan terbit dalam keadaan tidak terlalu merah” kemudian diriwayatkan Imam Ahmad dari ‘Ubadah : “pada malam lailatul qadr tidak akan terasa cuaca panas dan dingin, yang mana pada malam itu terasa tenang dan bulan bersinar terang” dan terdapat pula beberapa hadist yang menerangkan tanda-tanda datangnya lailatul qadr yaitu dari Jabir bin Samrah dari Ibnu Abi Syaibah, dan juga dari Jabir bin Abdullah dari Ibnu Huzaimah, dan dari Abu Hurairoh dari Ibnu Huzaimah, serta dari Ibnu Mas’ud dari Ibnu Abi Syaibah dan dari Selainnya.

Kemudian ada sebagian referensi menyatakan bahwa lailatul qadr bisa diketahui dengan melihat kepada awal mula terjadinya puasa pendapat ini sebagimana yang dikemukakan oleh imam ghazali, apabila awal puasa terjadi pada hari ahad atau hari rabu maka kemungkinan besar lailatul qadr terjadi pada malam 29 ramadlan, atau pada hari senin maka bisa-bisa lailatul qadr terjadi pada malam 21 ramadlan, atau pada hari selasa atau jum’at maka lailatul qadr terjadi pada malam 27 ramadlan, atau pada hari kamis maka lailatul qadr bisa diperkirakan terjadi pada malam 25 ramadlan atau pada hari sabtu maka lailatul qadr kira-kira terjadi pada malam 23 ramadlan, Syeikh Abu Hasan berkata : “semenjak saya baligh tidak pernah saya melewati akan lailatul qadr dengan berlandasan qaidah di atas” kemudian Imam Syihab Qulyubi menadomkan akan hal tersebut.

Waallahu a’lamu
بيد الحقير الفقير ميم راء

Penulis : Mustain Romli santri Mahad Aly Nurul jadid

Menyelami Psikologi Anak Dalam Mendidik, Ini Kata Kiai Zuhri

nuruljadid.net- Ada banyak kekeliruan yang dilakukan oleh orang tua maupun seorang pendidik (guru) dalam mendidik anak-anak atau murid-muridnya. Mendidik hanya dipahami sebagai transformasi ilmu pengetahuan semata kepada seorang anak untuk bisa memahami pengetahuan sesuai dengan apa yang disampaikannya. Tidak sedikit dari orang tua maupun seorang pendidik memaksakan anak atau muridnya agar sama seperti dirinya dengan melakukan berbagai macam cara supaya keinginannya bisa tergapai.

Padahal menjadi orang tua dan seorang pendidik harus memahami potensi yang dimiliki oleh para anak-anak dan murid-murid mereka. Agar di dalam mendidik bisa memperoleh hasil yang maksimal. Setiap anak mempunyai kelebihan yang berbeda satu sama lain, bahkan dengan orang tuanya pun memiliki pengetahuan dan karakter yang berbeda. Menggali potensi setiap diri seorang anak merupakan sesuatu yang sangat urgen dalam melaksanakan proses pendidikan. Disini pentingnya orang tua atau seorang pendidik mengetahui psikologi perkembangan kognisi, afeksi maupun psikomotorik anak dengan baik.

Dalam pengajian kitab Adabu Salikul Murid bertempat di Musalla Riyadhus Sholihin, Kamis malam (07/05) KH. Moh. Zuhri Zaini Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid mengatakan, Jadi orang tua atau pendidik harus menyelami perkembangan psikologi anak-anaknya supaya tidak memaksakan seperti dirinya, itu bisa menimbulkan ketidak stabilan bagi seorang anak. Sebab kalau dipaksa anak tidak akan takut dan menentang.

 

 

Pewarta : PM

Pesantren Salurkan Ramuan obat Untuk Pengobatan Covid- 19

nuruljadid.net- – Pemberian obat ramuan untuk pengobatan covid-19 (Bio Nuswa) dilakukan oleh Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Sabtu malam (03/05) kepada keluarga pengasuh, tim gugus tugas dan pengurus pesantren yang masih bertugas ditengah pandemi covid-19.

Tentunya, mereka juga butuh suplemen untuk memperkuat daya tahan tubuh agar dapat menangkal virus corona dan juga dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan maksimal, ” Ungkap Ustadz Bahrudin saat menyalurkan ramuan obat tersebut bersama rombongan.

Adalah Prof. Dr. Sukardi alias Prof Dr. Ainul Fatah alias Gus Inul adalah Sang Penemu BIO NUSWA merupakan satu dari enam Prof Ahli Mikro Kultur bakteriologi di dunia. Menempuh pendidikan di Ryukyu University, sebuah Universitas di pulau Kyushu Okinawa Jepang. S2 mengambil bidang mikrobakteriologi, S3 mengambil bidang mikro kultur bakteriologi.

Kepala Pesantren Nurul Jadid KH. Abdul Hamid Wahid, M. Ag mengatakan, suplemen ini mengandung bakteri yang dapat mengelilingi virus COVID-19 sehingga membuat virus ini tidak aktif kemudian membuka epitel/cangkangnya sehingga tubuh dapat cepat mengenali virus tersebut dan mengeluarkan antibodi untuk melawannya. Seseorang yang dinyatakan positif COVID-19 dalam 1 – 3 hari setelah minum suplemen ini bisa negatif.

Kiai Hamid menambahkan, untuk pencegahan cukup sekali 3 sdt (5ml) diminum atau dicampur minuman. dan dua kali sehari untuk pengobatan jika sudah ada gejala sakit sehari 3 kali @1 sdm (15ml).

Sementara Sekretaris Pesantren H. Faizin Syamwil menyampaikan, Pesantren sementara masih menyediakan ramuan untuk kalangan terbatas, yaitu untuk keluarga pengasuh, tim gugus covid-19 dan pengurus yang masih bertugas manjaga Pondok Pesantren Nurul Jadid.

 

 

Pewarta : PM

“Prihatin Dampak Pandemi, PPNJ Salurkan Bantuan Sembako”

nuruljadid.net- Sabtu, 2 Mei 2020, pagi hari sejumlah orang berkumpul di depan Posko Layanan Laziskaf Azzainiyah. Mereka diundang untuk menerima bantuan sembako. Akibat sepinya pekerjaan efek pandemi Covid-19, warga masyarakat mulai merasakan dampak pandemi terhadap rumah tangga mereka.

Untuk mengantisipasi kebutuhan darurat pangan warga sekitar selama pandemi, PPNJ menyalurkan bantuan berupa sembako yang digalang dari donatur. Bantuan tersebut disalurkan oleh lembaga amil zakat Laziskaf Azzainiyah sesuai kriteria Mustahiq yang berlaku.

Terdapat sekitar 100 paket sembako yang disiapkan dan disalurkan selama bulan Ramadan. Donasi tersebut diperoleh PPNJ dari PWNU (Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama) Jawa Timur, juga sumbangan donatur Yayasan Bhakti Persatuan Surabaya dan Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya, serta donatur individual.

“Semua harus saling peduli dan membantu di saat sulit sekarang. Dan mohon diterima secara ikhlas bantuan ini. Kalau ada yang punya kebutuhan darurat, jangan segan melapor”, kata Gus Fayyadl selaku direktur Laziskaf Azzainiyah, saat memberi pengantar singkat sebelum serah terima.

Hingga Hari Raya Idul Fitri 1441 H, Laziskaf Azzainiyah secara bertahap menggalang dan menyalurkan bantuan untuk Mustahiq yang membutuhkan. Baik berupa zakat fitrah, zakat mal, maupun shodaqah-infaq.

Donasi dapat ditransfer ke Nomor Rekening BRI a/n Laziskaf Nurul Jadid, 6518-01-024798-53-1.

 

 

Pewarta : Sekretaris Laziskaf

Selamat, Unuja Kampus Pesantren Dapat Sertifikasi ISO

nuruljadid.net- Universitas Nurul Jadid (UNUJA) kampus pesantren pertama yang mendapatkan sertifikasi ISO. Kampus yang berada disebuah Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur, terus mengalami kemajuan dan selalu berupaya agar bisa mengabdikan diri bagi Nusa, Bangsa dan Agama.

Dengan penghargaan yang diraih, Rektor Universitas Nurul Jadid KH. Abdul Hamid Wahid, M.Ag mengucapkan rasa syukur yang sedalam-dalamnya.

“Alhamdulillah, syukur yang sedalam-dalamnya. Ya Allah, ditengah Pandemi Covid-19, Universitas Nurul Jadid (UNUJA) memperoleh dua sertifikasi ISO: 9001:2015 dan ISO 21001:2018
Semoga capaian ini, lebih meningkatkan semangat pengabdian dan nilai manfaat UNUJA bagi Nusa, Bangsa dan Agama,” Kata Kiai Hamid lewat akun facebooknya.

Sementara Wakil Rektor I H. Hambali, M. Pd, bahwa sebelum didapatkannya sertifikasi ISO kepada nuruljadid.net Pada tanggal 26-27 Februari 2020 Tim dari PT Global group terlebih dahulu datang melaksanakan final audit kepada pihak manajemen UNUJA untuk melaksanakan penilaian terhadap 11 elemen dalam perguruan tinggi, yakni kepemimpinan, akseptabilitas, ethical conduct, tata kelola kampus, capaian kinerja, manajemen risiko.

Wakil Rektor I menambahkan, pada tanggal 23 maret dapat kabar dari PT Global Group bahwa sertifikat ISO UNUJA sudah dapat diterbitkan. Sementara sertifikat baru diperoleh kemarin Senin 27 April 2020 setelah pihak global group menyerahkan kepada UNUJA.

Dengan ketercapaian ini, H. Hambali memiliki harapan yang sangat tinggi agar ada keserasian irama dalam kiat kinerja civitas akademika dengan manejemen mutu dan organisasi UNUJA semakin meningkat.

“Harapan kami setelah memperoleh sertifikat ISO ini, kita tidak boleh berhenti untuk dinamis, terus melangkah maju meraih mimpi menjadi kampus berkeadaban melalui jump two steep ahead. terus melaju – bergerak melakukan peningkatan tata kelola manejemen mutu dan organisasi UNUJA.

 

Pewarta : PM

Keceriaan dan Kelucuan Satgas Covid-19 Nurul Jadid

nuruljadid.net- Keceriaan dan kelucuan satgas covid-19 Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, saat mereka bercanda dan bergurau sesama tim satgas saat melaksanakan tugasnya, jum’at (10/04).

Dari penuturan ketua satgas covid-19 Ustadz Kholid, tim yang bertugas selalu menyelingi pekerjaannya dengan senda gurau tanpa mengurangi kewaspadaan terhadap tengah menyebarnya covid-19 saat ini. Mereka satu sama lain saling melempar joke-joke segar terutama saat mau bertugas kelapangan.

“Mereka terkadang tertawa lepas bersama sesame temannya dilokasi tugas, ini yang membuat mereka tidak letih dan lesuh hilang seketika. Hal itu tentu tidak mengurangi terhadap kewaspadaannya dalam melaksanakan amanah Pesantren,” Ungkap Ustadz Kholid Rabu malam (15/04).

Lanjut Ustadz Kholid, kepenatan yang selama ini, terhibur dengan adanya satgas covid-19 yang selalu bercerita dan tertawa bersama, apalagi setelah berkumpul dikantor satgas, diakuinya dapat menghibur tim satgas yang lain.

 

Pewarta : PM

Screening Kesehatan, Pembagian Masker dan Brosur Covid-19 Kepada Wali Murid

nuruljaadid-net- Anggota tim satgas covid-19 saudara Azrul Anam mengucapkan syukurnya atas kesempatan yang diberikan pesantren untuk mengabdi kepada masyarakat dalam menghadapi pandemi covid-19 yang tengah mewabah di bumi Nusantara saat ini. Kepada tim www.nuruljadid.net- (15/04). Dia banyak bercerita tentang pengalaman lapangan saat melaksanakan tugas sebagai satgas covid-19 yang dibentuk oleh Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.

“Saya ucapkan syukur kepada Allah dan berterima kasih kepada pesantren yang telah memberikan kepercayaan kepada saya. Ini kesempatan yang langka dan sangat menyenangkan menjadi satgas covid-19, apalagi saat berbagi kepada masyarakat sekitar,” Ucap Azrul

Harus melanjutkan, selama 4 hari, senin-kamis besok kami mendampingi wali murid di Madrasah Nurul Mun’im (MINIM), karena ada acara pembagian tabungan murid kepada walinya oleh pihak Madrasah. Bersamaan dengan acara tersebut kami (tim satgas) melakukan screening kesehatan, membagikan masker dan brosur, agar wali murid memakai masker saat keluar rumah upaya menghindari penyebaran corona virus.

Dengan kepedulian satgas covid-19 tersebut, Ustadz Umar Taha Guru Madrasah Nurul Mun’im menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya, karena satgas covid-19 mengawal kegiatan sangat tangkas dan tanggap.

“Terima kasih tim satgas covid-19 Nurul Jadid yang telah mengawal pembagian tabungan murid Madrasah Nurul Mun’im (MINM) kepada walinya,” Kata Ustadz Umar

Tidak hanya itu, salah satu wali murid MINM mengapresiasi satgas covid-19 atas dedikasi dan kepeduliannya terhadap masyarakat. Mereka sangat bangga dengan pelayanan yang diberikan pesantren.

“iya, mereka (wali santri) merespon baik bahkan ada yang memberi kue pada kami,” Ujar Nazrul sambil tertawa.

 

 

Pewarta : PM

Meski Terbatas, Satgas Covid-19 Nurul Jadid, Tetap Kerja Prima

nuruljadid.net- Direktur Klinik Az-Zainiyah sekaligus penanggung jawab Satgas Covid-19 Ny. Hj. Khodijatul Qodriyah menuturkan, Seusai Kepulangan Santri yang dimajukan, otomatis tim Satgas Covid-19 baik di Tim Screening, disinfeksi maupun Tim Edukasi mengalami penyusutan. Dengan kepulangan personil Tim Saka Bakti Husada dan SBH (Saka Bakti Husada) yang berjumlah 300 orang. Sehingga saat ini hanya mengandalkan Tim yang ada ( Kamtib, Klinik Azzainiyah dan SP3 – Santri Patriot Panji Pelopor-) namun tidak mengurangi semangat kami, bahu membahu menjalankan Tugas mulia dari Pesantren.

“Disinfeksi dalem para keluarga besar Pesantren Nurul Jadid terus dilakukan, juga asrama santri. Disamping itu, satgas covid-19 melakukan screening setiap tamu masuk yang mempunyai hajat di Pesantren,”Tutur Ning Iah.

Ning Iah menambahkan, cek suhu dan edukasi bukan hanya dilakukan dilingkungan Pesantren semata. Akan tetapi dilaksanakan juga di masjid-masjid yang ada di sekitar Pesantren, seperti masjid baitis salam, tanjung. Pembagian masker kepada masyarakat sekitar Pesantren, sebagai bentuk kepedulian kita.

“Pejuang Covid-19, seringkali ada agenda yang bersamaan untuk dikerjakan. Tapi tetap semangat,” Lanjutnya.

Dengan adanya bantuan penanganan cek suhu dan disinfektan di Masjid Baitissalam, Bapak Budi Warga desa setempat mengapresiasi kerja dan kepedulian satgas covid-19 Pondok Pesantren Nurul Jadid.

“Saya bersyukur kepada Allah dan berterima kasih yang tak terhingga kepada Pesantren Nurul Jadid, khususnya Satgas Covid-19 PPNJ yang telah membantu pencegahan covid-19 di desa kami. Semoga hal ini bisa mengedukasi masyarakat setempat. Sehingga nantinya bisa satu sama lain saling member keselamatan,” Tegasnya.

Ning Hanun, tak hentinya-hentinya memberikan dukungan kepada satgas covid-19 yang tengah berjuang melawan virus corona.

“Jazakumullah Satgas Covid-19 NJ. Sehat selalu dan tetap semangat. Amin,” Ucap Ning Hanun.

 

 

Pewarta : PM