Pos
Sunan Gunung Jati | Rakyat BPK Memilih Presiden Baru
nuruljadid.net – Mendidik serta melatih rasa tanggung jawab para peserta didik Badan Pembinaan Khusus (BPK), Rabu (10/01/2018) BPK mengadakan kaderisasi dan peremajaan yang dikemas dengan pemilihan Presiden BPK periode 2018-2019 di Halaman Asrama Sunan Gunung Jati (A).
Kegiatan tersebut dimulai pukul 20.00 WIB. Pemilihan Presiden BPK terbagi menjadi dua yakni pemilihan Presiden BPK Inggris dan Arab. Adapun pasangan calon (paslon) dari masing-masing lembaga bahasa. Adapun paslon Presiden BPK Arab ialah paslon 1 (Farhan Mahfud Ramadani dan Musfikur Royhan) serta paslon 2 (Muhammad Jakfar Holikur Ridho dan Muhammad Aluf Zainuddin). Sedangkan paslon presiden BPK Inggris ialah paslon 1 (Akbar Fikri Putra dan Syarif Hidayatullah) serta paslon 2 (Faiziz Sururi dan Afi Ahmad Ridho).
Dalam pelaksanaannya, pemilihan Presiden BPK Arab dan Inggris dipilih oleh seluruh peserta didik BPK sesuai dengan bahasanya. Pemilihan Presiden BPK Arab dipilih sebanyak 56 peserta didik BPK Arab sedangkan Presiden BPK Inggris dipilih sebanyak 39 peserta didik BPK Inggris.
Alhasil, semua paslon 2 berhasil menjadi Presiden BPK dimasing masing bahasa. Muhammad Jakfar Holikur Ridho dan Muhammad Aluf Zainuddin sebagai Presiden dan Wakil Presiden BPK Arab sedangkan Presiden dan Wakil Presiden BPK Inggris terpilih adalah Faiziz Sururi dengan Afi Ahmad Ridho.
Setelah pencoblosan selesai, harapan demi harapan muncul dari banyak pihak salah satunya ialah Direktur BPK, Ust. Ahmad Rifqi Baharuddin. Dia berharap seluruh Presiden dan Wakil Presiden BPK terpilih dapat mengharumkan nama baik BPK lebih – lebih nama baik Pondok Pesantren Nurul Jadid.
“semoga presiden BPK terpilih mampu membuat perubahan BPK yang lebih baik BPK sehingga lebih-lebih dapat mengangkat nama Pondok Pesantren Nurul Jadid” ujarnya saat terwawancara oleh wartawan nuruljadid.net.
Tak hanya itu, harapan juga disampaikan oleh Sutan Batara, siswa aktif BPK. Dia berharap agar presiden BPK terpilih mampu meningkatkan prestasi BPK melebihi dari Presiden BPK devisioner. (qz/Ahmad)
Debat Kandidat, Awal Pesta Demokrasi Rakyat Diniyah
nuruljadid.net – Yang muda yang berkarya adalah kalimat yang tak asing lagi dikalangan santri PP. Nurul Jadid. Pasalnya mereka sudah terbiasa hidup dengan berorganisasi sehingga jiwa kepemimpinan mereka sudah dikatakan “mampu” untuk me-manage organisasi dengan baik.
Kamis (04/01/18) pukul 20.00 WIB pesta demokrasi dilaksanakan oleh Asrama Diniyah dengan mengadakan debat kandidat ketua dan wakil Almuradi. Almuradi merupakan sebuah organisasi yang berada dibawah kendali Pengurus Asrama Diniyah yang betugas untuk melaksanakan kegiatan keseharian peserta didik terutama dalam kegiatan extrakulikuler lembaga.
“tujuan diadakannya debat kandidat ini untuk mencari pemimpin yang sesuai dengan hati nurani para santri Asrama Diniyah,” Ujar Ust. Dani Syaifur Rahman salah satu pengurus aktif Asrama Diniyah.
3 orang kandidat telah terpilih berdasarkan perencanaan yang matang oleh Pengurus Diniyah devisioner dan malam ini merupakan debat kandidat pertama dan debat kandidat yang kedua akan dilaksanakan malam esok.
“Debat kali ini bertemakan tentang Keorganisasian,” Tambah Ust. Dani (sapaan akrab Ust. Dani Syaifur Rahman).
Visi dan Misi telah dipaparkan oleh 3 kandidat. Panggung panas semakin memanas ketika 2 Dewan Juri menyampaikan beberapa pertanyaan kepada masing-masing calon ketua dan wakil ketua Almuradi.
Konsep dan program kerja tak luput dari sorotan para Juri. Tak hanya itu, para Juri juga bertanya kepada 3 kandidat ketua dan wakil Almuradi mengusut tentang asal – usul dari visi dan misi pasangan calon ketua dan wakil ketua Almuradi. (Ahmad)
Memperingati HUT NU ke 92, IPPNU Nurul Jadid Adakan Perlombaan
nuruljadid.net – Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama’ atau dikenal dengan dengan IPPNU merupakan organisasi sayap NU yang melaksanakan kebijakan NU dikalangan pelajar dan santri berasaskan dengan Pancasila dan beraqidah Islam Ahlussunah Wal Jama’ah.
Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, IPPNU di Pondok Pesantren Nurul Jadid Kamis, (04/01/2018) mengadakan beberapa perlombaan ditingkat lembaga formal dan non formal. Kegiatan tersebut bertujuan untuk memperingati Hari Ulang Tahun NU (HUT NU) ke 92.
Adapun lomba yang akan digelar adalah beat box, Lukis Logo NU, Manaqib, Shalawat, MHQ 30 Juz. Kegiatan tersebut dilaksanakan sejak tanggal 04 hingga 19 Januari 2018.
Anis Sulalah selaku ketua panitia pelaksana kegiatan dalam sambutannya menyampaikan bahwa tujuan utama dari pelaksanaan kegiatan ini adalah untuk menumbuhkan bakat minat santri. Tak hanya itu, dia juga mengatakan bahwa diharapkan para peserta untuk mengikuti perlombaan dengan baik dan menunjukkan skill dan kemampuannya secara maksimal.
Kegiatan pembukaan lomba yang bertempat di Pendopo Wilayah Az Zainiyah ini disaksikan langsung oleh seluruh santriwati Wilayah Az Zainiyah. Selain itu, kegiatan ini dibuka sekaligus dihadiri oleh ketua PAC NU Paiton Probolinggo, Rifqotul Hasanah.
Sebelum membuka acara, Rifqotul Hasanah menyampaikan ucapan terimakasihnya kepada IPPNU Nurul Jadid atas kegiatan pembukaan lomba yang digelar pada malam hari ini. Dalam sambutannya, harapan yang dia ucapkan dalam sambutannya senada dengan apa yang disampaikan oleh Ketua Panitia Pelaksana.
“Terimakasih kepada IPPNU Nurul Jadid atas kegiatan yang diselenggarakan. Dengan diselenggarakannya kegiatan ini, saya berharapan agar seluruh santri dapat mengikutinya dengan maksimal sehingga bakat minat yang mereka miliki bisa berkembang dengan baik” ujarnya.
Pembukaan kegiatan ini secara simbolis ditandai dengan pemotongan pita oleh ketua PAC Paiton Probolinggo. Setelah acara pembukaan lomba digelar, acara dilangsungkan dengan lomba Beat Box. (qz)
Begini Cara Santri Nurul Jadid Sambut Tahun Baru
nuruljadid.net – Berbagai cara dilakukan oleh santri Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo, dalam menyambut tahun baru masehi 2018, salah satu contohnya seperti yang dilakukan oleh santri yang berdomisili di Asrama Diniyah.
Hari ini, (01/01/18) tepat pada pukul 00.00 WIB santri asrama Diniyah mengadakan kegiatan perayaan hari tahun baru masehi 2018 di Auditorium Madrasah Diniyah Nurul Jadid. Kegiatan tersebut diisi dengan beberapa kegiatan seperti Istigosah, Muhasabah, Pembacaan Puisi dan yang terakhir ialah makan tabhek atau makan bareng (budaya santri Nurul Jadid).
Selaku Kepala Wilayah Sunan Bonang (N), Ust. Imron Sadewo menyampaikan dengan diadakannya kegiatan ini diharapkan para santri yang berdomisili di Asrama Diniyah bisa ber-Muhasabah atau evaluasi diri.
“harapan kedepannya yang diinginkan semoga momen – momen tahun baru seperti ini bisa diisi dengan hal – hal yang bermanfaat dan bisa bermuhasabah atau evaluasi diri atau dengan renungan,” cakap Ust. Dewo (sapaan akrab Kepala Wilayah N). (qz/salim)
Untuk Penanggulangan Degradasi Nasionalisme, PP. Nurul Jadid ikutkan 18 Santrinya ke Sekolah Kebangsaan
nuruljadid.net – Dalam rangka pendidikan mental generasi muda Indonesia, 18 santri Pondok Pesantren Nurul Jadid dari unsur Pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) di masing masing lembaga pendidikan tingkat menengah mengikuti Sekolah Kebangsaan bersama TNI AL yang diprakarsai oleh Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (LAKPESDAM) NU dengan TNI Angkatan Laut.
Kegiatan ini diselenggarakan di Pusat Latihan dan Pendidikan Dasar Kemiliteran Komando Pengembangan dan Pendidikan Angkatan Laut (red. singk = Puslatdiksarmil Kobangdikal) Juanda Sidoarjo. Kegiatan ini dilaksanakan selama 2 hari sejak tanggal 21 hingga 22 Desember 2017.
Saat dihubungi melalui selulernya, Imam Syafi’i menyampaikan bahwa “Sekarang ini banyak faham – faham ideologi yang tidak sesuai dengan pancasila dan karakter bangsa, yang dalam hal ini mulai menyerang dengan faham ideologi – ideologi lain (red. Radikal dan intoleran) yang menyerang para pelajar. Oleh karena itu kegiatan ini tujuannya adalah untuk mengisi pemahaman mereka yang belum terisi dengan pemahaman kelompok – kelompok yang radikal itu. Tapi bagi mereka yang sudah punya basic, justru bisa semakin meningkatkan nasionalisme mereka sekaligus kebangsaannya.” Cakapnya sebagai Ketua Panitia Pelaksana kegaitan Sekolah Kebangsaan bersama TNI AL.
“hasil survey belakangan ini agak (baca: hampir,red) memprihatinkan. Sebagian kalangan pelajar anak muda menyetujui adanya tentara islam dan jihad. Dan ada pula sebagian mereka yang tidak setuju dengan hal itu. Misalnya, tidak boleh mengucapkan hari raya kepada orang lain ini (baca: pemeluk agama lain,red) “kan bahaya”. Benih – benih toleransi seperti itu bisa menjadi benih kekerasan radikal” imbuhnya.
Selain itu, Bapak Imam Syafi’i juga menyampaikan alasan mengapa memilih pengurus OSIS sebagai bidikan utama dalam kegiatan ini.
“alasan kenapa kami memilih OSIS sebagai peserta sekolah kebangsaan ini karena mereka untuk sementara ini adalah pemimpin di sekolah mereka masing masing. Dan pada akhirnya mereka akan menjadi pemimpin dimasa mendatang. Mudah – mudahan hasil dari sekolah ini bisa diimplementasikan dengan baik di sekolah mereka masing masing karena mereka adalah pemimpin sekolah.” Ujar Bapak Imam Syafi’i yang sekaligus menjabat sebagai Pimred JTV dengan menghela nafas.
Kegiatan ini juga mendapatkan respon positif dari Kepala Pesantren Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Abd. Hamid Wahid.
“Dengan kegiatan ini kita berharap ada ikhtiar untuk terus memperkokoh semangat kebangsaan dikalangan pelajar, yang semenjak reformasi ini kurang mendapat porsi perhatian dari berbagai pihak. Lebih – lebih bagi kalangan santri pesantren sebagai pelopor dan perintis penghayatan kebangsaan” dawuh beliau saat dihubungi via seluler. (Qz)
Hanya Paskibra Peringatan Hari Santri Nasional 2017 Yang Menggunakan Sandal Jepit
nuruljadid.net- Hari Santri Nasional (HSN) 2017, Minggu (22/10/2017) peringatan hari santri nasional yang diselegarakan oleh Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ) bertempat di Lapangan Raya Pondok Pesantren Nurul Jadid padat dengan manusia. Tidak hanya santri, masyarakat yang terdiri bapak-bapak dan ibu-ibu rumah tangga pun juga sangat antusias. Mereka rela dempet-dempatan di pinggir lapangan ingin menyaksikan proses upacara peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2017.
Yang menarik bukan hanya itu saja. Justru kita akan menemukan pandangan yang tak lazim seperti pengibaran di upacara memperingati hari kemerdekaan yang dilaksanakan setiap 17 Agustus. Bagaimana tidak, kita kenal biasanya pasukan pengibar bendera (PASKIBRAKA) merah putih memakai seragam lengkap dengan atribut resmi seperti sepatu dan lainnya.
Tidak seperti paskibraka pada umunya, pasukan yang berjumlah sekitar 70 orang itu malah menampilkan nuansa yang kental ala santri. Dengan kopyah nasional, berbaju koko putih, dan sarung khas PP. Nurul Jadid mereka dengan apik memasuki lapangan upacara.

Yang menjadi sorotan masyarakat bukan baju atasannya, tapi pasukan pengibar bendera santri itu justru memakai sandal jepit merk swallow. Sandal yang dikenal dengan sandal mandi itu malah masuk juga di upacara perayaan HSN. Hal itu tidak lain dan tidak bukan hanyalah untuk mengungkapkan santri adalah sosok sederhana yang jiwa nasionalismenya tak bisa ditawar lagi.
Penulis : Sholehuddin
Editor : Co
Pesan KH. Abdul Hamid Wahid dalam Sambutan Istighosah Akbar Malam Hari Santri Nasional
nuruljadid.net- Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH Abdul Hamid Wahid menyampaikan kepada seluruh peserta istighosah akbar, Sabtu (21/10/2017) di lapangan raya Pondok Pesantren Nurul Jadid agar mensyukuri Peringatan Hari Santri Nasional, Minggu (22/10/2017). Sebab peran santri dan pesantren secara de fakto telah diakui oleh negara.
Untuk itu Hari Santri Nasional diperingati dengan pelbagai rangkaian kegiatan seperti seminar pendidikan, seminar remaja, seminar anti narkoba dan radikalisme dan lain-lainnya. Ini merupakan bagian dari tafaqquh fiddin. Tatapi yang lebih penting dari semua itu adalah bagaimana ilmu yang dipelajari saat mondok dapat disampaikan dengan baik ditengah-tengah kehidupan masyarakat.
“Ini proses kita bertafaqquh fiddin dan memahami agama sebagai laku kehidupan. Tugas santri untuk bertafaqquh fiddin sebenarnya hanyalah hantaran saja, tetapi yang terpenting adalah melakukan dakwah secara nyata di masyarakat,” jelas Kiai Hamid. Adapun istighosah akbar malam ini adalah upaya mempertegas hubungan vertikal antara manusia dengan Allah SWT.
“Bahwa yang memberikan hasil dari usaha kita adalah Allah melalui perantara Rasulullah,” tambah beliau. Oleh karenanya santri yang berani hidup dari keterbatasan bukan alasan untuk mengeluh dan merasa rendah diri. Karena ada banyak orang yang mempunyai keterbatasan fisik seperti Rafli Firdaus, pemenang lomba tartil mampu meraih prestasi tanpa merasa rendah diri.
disamping itu, Makan Tabhek 10.000 santri akan menghiasi acara puncak besok, untuk itu Kiai Hamid teringat terhadap pesan Kiai Zuhri Zaini terkait lunturnya makan Tabhek. Untuk itu perlu kiranya mempertahankan makan khas pesantren tersebut
“Pengasuh berpesan bahwa Tabhek sebagian dari kita mulai hilang, untuk itu kita harus kembali pada tradisi yang baik yang harus dipertahankan sebelum mengambil hal-hal lain dari luar” terang Rektor IAINJ ini. (Rizky)
Istighosah Akbar Hari Santri Nasional
nuruljadid.net- Semarak Hari Santri Nasional di Lapangan Raya Pondok Pesantren Nurul Jadid, Sabtu, (21/10/2018) diikuti oleh ribuan santri dan masyarakat. Istighosah Akbar dalam rangka mengenang dan mendoakan jasa-jasa perjuangan para ulama terdahulu.
Dipimpin oleh KH Mohammad Romzi Al Amiri Mannan, peserta mengikutinya dengan khidmat. Kiai humoris sekaligus tegas dan sederhana ini telah mengarang 70 lebih karya berupa kitab dan buku.
Untuk mengetahui siapa sebenarnya siapa sebenarnya beliau ini, berikut profil singkatnya.
Lahir pada tanggal 12 Juli 1969 dari pasangan KH Abdul Mannan dan Nyai Hajjah Kina’ah di suatu desa terpencil di Pragaan, Kecamatan Pragaan, Sumenep. Sejak kecil telah belajar ngaji dan kitab kuning pada ayah-bundanya yang juga mengasuh Pondok Pesantren Hidayatut Thalibin.
Setelah lulus Madrasah Intidaiyah milik ayahnya, KH Romzi melanjutkan pendidikan formal di salah satu sekolah menengah pertama. Lulus dari SMP kemudian melanjutkan Sekolah Menengah Akhir di Pondok Pesantren Krapyak, Jogyakarta asuhan KH Ali Maksum. Di sini ada banyak pengalaman beliau dengan KH Ali Maksum. Salah satunya sering diajak makan bersama.
Setelah tiga tahun mengenyam pendidikan di Krapyak, Kiai Romzi kemudian pulang ke tanah kelahirannya di Madura untuk melanjutkan pendidikan tinggi di STISA Anuqoyah, Guluk-Guluk, Sumenep. Di tanah kelahirannya beliau aktif di organisasi Nahdlatul Ulama.
Namun tak sampai selesai, beliau kemudian mondok di Pesantren Al Anwar, Rembang asuhan KH Maemon Zubaer. Di sini Kiai Romzi hanya tiga tahun. Setelah itu boyong dan menikah dengan Nyai Hajjah Nur Lathifah Wafi, putri kelima KH Hasan Abdul Wafi.
Kini menetap di Pondok Pesantren Nurul Jadid dan mengasuh Wilayah Lathifiyah (Gang J). Selain itu beliau juga menjadi Dekan Fakultas Dakwah, aktif mengisi pengajian, seminar dan organisasi Nahdlatul Ulama serta telah menempuh gelar doktoral di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel.
Penulis : Rizky
Editor : Co
























































































































































