Gus Fayyadl Jabarkan Enam Sistem Tatanan Dunia Baru Perspektif Geopolitik

nuruljadid.net – Narasi “Fikih Siyasah dan Tatanan Dunia Baru” Mudir Ma’had Aly Nurul Jadid Kyai Muhammad Al-Fayyadl membahas terkait Fikih Siyasah merupakan hasil dari tatanan dunia yang berkembang pada masanya. Dengan itu, beliau mengatakan bahwa topik pembahasan Halaqah Fikih Peradaban yang diadakan di Pondok Pesantren Nurul Jadid sudah masuk pada perbincangan mengenai maddatul hadorohnya atau materi peradabannya.

Ungkapan itu disampaikan oleh Gus Fayyadl saat menjadi pemateri dalam acara Halaqah Fikih Peradaban menyambut hari lahir 1 Abad Nahdlatul Ulama’ (NU) pada Ahad (2/10) siang.

Lebih lanjut beliau mengkhulasohi atau mereview sub materi Tatanan Dunia Baru yang kompleks dan memiliki cakupan sangat luas. Beliau menyebutkan ada enam segmentasi tatanan dunia baru secara geopolitik yang mencirikan kehidupan peradaban manusia dari waktu ke waktu.

“Secara geopolitik, peradaban dunia itu ada enam sistem. Fase pertama, peradaban suku (Tribal Societies – Mujtama’ Al Qabailiyah) ini yang diisyaratkan dalam kitab suci al-quran ‘inna khalaqnakum syu ubawwaqaba ila’, jadi peradaban suku ini sangat kental jika kita melihat dalam sejarah islam fase awal.”

Kemudian disusul dengan tatanan dunia yang kedua atau fase kedua, yaitu lompatan dari peradaban suku kepada peradaban imperium (Imperial Societies – Mujtama’ Dauliyah). Dalam fase ini, dimana saat itu di zaman Nabi Muhammad SAW ada dua imperium besar, yaitu Romawi dan Persi. Secara umum, terdapat ciri-ciri kehidupan politik dalam kitab-kitab Fikih Siyasah kita, karena di peradaban ini muncul konsep-konsep yang sangat berpengaruh bahkan di dalam praktik, misalnya dalam konsep jihad.

“Yaitu adanya konsep dan praktik futuh (penaklukan) jangan dibayangkan ini penaklukan militer, tapi lebih tepat pada pendirian masyarakat Islami dengan tatanan politik tertentu, yang seringkali juga terkadang melalui proses perdamaian, seperti Fathu Mekkah itu sendiri. Peradaban imperium ini berlangsung sangat lama,” imbuh beliau.

(Potret K. Muhammad Al-Fayyadl sedang memberikan pemaparan materi tentang Fikih Siyasah dan Tatanan Dunia Baru)

Dilanjukan dengan fase ketiga dan keempat, dimana tatanan dunia memasuki Era Kolonialisme dan Imperialisme (Colonial Estates – Isti’mariyah)  termasuk berkembangnya faham-faham wathoniyah. Era kolonialisme ini melahirkan Era Negara Bangsa (Nation State), dan kita sedang berada di dalamnya.

Fase kelima yaitu tatanan Global Order. Istilah ini sangat kental dengan nuansa perang dingin, bisa dibilang pada era ini muncul blok-blok, misalnya blok barat dan blok timur, yang diistilahkan dengan Musyarokah Syiasiah.

Kemudian selanjutnya, fase keenam adalah Global Governance atau Global Transnational Governance. Fase ini merupakan yang terkini dan paling kontemporer berupa pengaturan dunia melalui skema-skema dan desain politik, ekonomi, dan bidang lainnya yang berbasis kepentingan oleh beragam aktor, baik sipil, militer, swasta, dan negara.

“Secara umum, ini yang menjadi awal pentingnya kita berpikir mengenai fikih siyasah ini. Karena secara umum fikih siyasah yang dipakai di kalangan kita itu merupakan produk era keemasan imperium Islam, atau daulah-daulah islamiyah, dan fikih ini terus relevan dipakai sampai di era kolonialisme,” pungkas beliau.

 

 

(Humas Infokom)

Expo Kerajinan Handmade Santri Hiasi Sepanjang Koridor Halaqah Fikih Peradaban

nuruljadid.net – Memeriahkan kegiatan Halaqah Fikih Peradaban, Pondok Mahasiswi (Pomasi) Universitas Nurul Jadid (UNUJA) mengadakan expo kerajinan tangan (handmade) karya santri di sepangan koridor lantai 1 gedung kantor pusat Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Ketua Pomasi Unuja, Ny. Hj. Khodijatul Qodriyah menuturkan display kerajinan tangan santri dan karya literasinya akan ditampilkan saat halaqah fikih peradaban PBNI untuk mengapresiasi karya santri agar dapat dinikmati oleh tamu undangan dan pengunjung lainnya.

(Potret display karya kerajinan tangan santri mahasiswi pada expo halaqah fikih peradaban)

“sengaja kami display seluruh karya mahasiswi perwakilan wilayah dan fakultasnya untuk mengapresiasi jerih payah usaha proses pembuatan karyanya dari nol sampai jadi,” Neng Iah menuturkan.

Kerajinan tangan, di masyarakat, merupakan salah satu industri yang digerakkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Selain mengaji dan kuliah, mahasiswi Pomasi juga mendapatkan ruang untuk berkarya dan menumbuhkan keterampilan kerajinan tangan.

Tidak hanya kerajian tangan, mahasiswi santri dan umum diberikan wadah untuk menuliskan esainya dalam rangka menghidupkan literasi yang menyenangkan songkok di lingkungan pesantren.

(Potret display karya kerajinan tangan santri mahasiswi pada expo halaqah fikih peradaban)

Jangan heran, banyak karya santri mahasiswi membuat kerajianan tangan (handmade) yang bagus dan kreatif. Mereka membuat miniature atau prototype gedung yang berada di wilayah Al-Hasyimiah. Tidak sedikit pengunjung tak berdecak kagum. “Masyaallah, karyanya luar biasa bagus dan mirip dengan aslinya, sungguh kreatif,” terang Ichsan saat melewati koridor tersebut.

Adapun, kerajinan tangan yang dibuat meliputi miniatur bangunan gedung pesantren dan asrama, produk anyaman dan kerajianan bahan daur ulang untuk dijadikan logo pesantren atau Unuja.

 

 

(Humas Infokom)

Gus Fayyadl Ungkap Fikih Adalah Bahasa Santri Menyapa Pergaulan Global

nuruljadid.net – Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo menjadi tuan rumah Halaqah Fikih Peradaban pada hari Ahad (2/10). Acara tersebut menghadirkan empat narasumber dari kalangan Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) diantaranya Wakil Rais Aam PBNU KH. Afifuddin Muhajir; Ketua Lakpesdam PBNU KH. Ulil Abshar Abdalla; Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya KH. Moh. Syaeful Bahar; Mudir Ma’had Aly Nurul Jadid Kiai Muhammad Al-Fayyadl.

Dalam kesempatan tersebut, keempat narasumber mengupas tuntas materi yang bertajuk “Fikih Siyasah dan Tatanan Dunia Baru”. Forum halaqah tersebut dimoderatori oleh Ahmad Sahidah, Ph.D. dan memberikan waktu sekitar 20 menit kepada setiap narasumber untuk memaparkan materi yang telah masing-masing persiapkan.

(Gus Fayyadl  (kiri) sedang memaparkan materi bersama para pemateri di depan peserta halaqoh)

Di sisi lain, Mudir Mahad Aly Nurul Jadid Kiai Muhammad Al-Fayyadl membuka sesi diskusinya dengan mengungkapkan bahwa dewasa kini sangat terasa betapa gagapnya masyarakat pesantren terhadap isu-isu global yang marak dan semakin masuk ke ruang-ruang kehidupan.

“Kita memang sekian lama hidup di dalam lingkungan-lingkungan yang lokal atau regional, dan alhamdulillah dengan Islam Nusantara setidaknya sudah me-nasional, dan sekarang sudah meng-global atau go international,” tuturnya.

Di kesempatan yang sama, kiai muda intelektual yang kerap disapa Gus Fayyadl ini menanggapi dengan hadirnya fenomena tersebut dalam kehidupan masyarakat pesantren, santri harus mempelajari satu perangkat keilmuan, yaitu fikih. Karena menurut beliau, Fikih adalah software santri dalam menyapa pergaulan global.

“Satu perangkat keilmuan yang mau tidak mau harus dipelajari adalah fikih, karena fikih ini adalah software kita, bahasa kita sebagai kaum santri di dalam menyapa pergaulan global tadi,” dawuh Gus Fayyadl.

Beliau juga mengulas fikih siasah dari relevansinya, ia menjelaskan bahwa fikih siasah merupakan hasil dari tatanan dunia yang berkembang pada masanya.

 

(Humas Infokom)

Putri Gus Mus Neng Ienas dan dr. Mirrah Women of The Year 2021 Ikut Membedah Buku “Pilar Penyelamat Pembangunan”

nuruljadid.net – Buku “Pilar Penyelamat Pembangunan” karya tiga tokoh penting Pondok Pesantren Nurul Jadid kemarin (02/10/2022) dibedah oleh Pondok Mahasiswi (Pomasi) Universitas Nurul Jadid (UNUJA) untuk menghidupkan giat literasi di lingkungan pesantren.

Dalam buku ini terbagi menjadi tiga segmen penting yaitu pendidikan, perempuan dan pesantren sebagai pilar penopang guna menyelamatkan pembangunan sebuah bangsa yang tidak sekedar fisik namun ke dalam hal lebih substantif.

Buku “Pilar Penyelamat Pembangunan” hasil kolaborasi pemikiran tiga tokoh besar Pondok Pesantren Nurul Jadid Alm. KH. A. Wahid Zaini (pengasuh ke-III PP. Nurul Jadid), KH. Abd. Hamid Wahid (kepala pesanten sekaligus rektor Unuja) serta istri beliau Ny. Hj. Khodijatul Qodriyah (Direktur Klinik Az-Zainiyah Nurul Jadid).

Putri Dr. (H.C.) K.H. Ahmad Mustofa Bisri atau lebih sering dipanggil dengan Gus Mus, Neng Ienas Tsuroiya ikut hadir membedah buku karangan kiai dan nyai Nurul Jadid. Neng Ienas hadir bersama suaminya Gus Ulil yang pada saat bersamaan juga mengisi kegiatan Halaqah Fikih Peradaban di Aula 1 pesantren.

Neng Ienas lebih menyoroti dari aspek perempuan dan pesantren, dimana Islam mengajarkan bahwa perempuan adalah tiang negara. Karena kualitas dan peran aktif perempuan akan memiliki dampak signifikan dalam pembangunan sebuah bangsa yang berkeadaban.

Al-ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq.” Ibu adalah sekolah utama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik. Demikian bunyi hadist tentang peran penting seorang perempuan.

Dalam konteks ini, Rasulullaah menyerukan kepada keluarga khususnya para Ibu untuk menjadi sekolah bagi anak-anaknya. Sehingga perempuan wajib berpendidikan dan memiliki wawasan luas serta berakhlaq baik melalui pendidikan di pesantren.

Sedangkan peraih penghargaan ‘Women of The Year 2021 Probolinggo’ sekaligus Direktur RS. Rizani Paiton Dr. dr. Mirrah Samiyah, M.Kes membedah dari kaca mata perempuan dan kesehatan. Menurut dr. Mirrah menjadi perempuan inspiratif bagi lingkungan sekitarnya itu penting karena perempuan memiliki andil dalam menciptakan generasi yang sehat dan kuat.

“Menjadi perempuan inspiratif bagi lingkungan itu penting, karena perempuan punya andil besar salah satunya di bidang kesehatan yaitu membangun Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)” jelas dr. Mirrah.

Perempuan dan kesehatan sebagaimana disampaikan dr. Mirrah tidak hanya fokus pada kesehatan jasmani namun tidak kalah pentingnya kesehatan rohani atau sering kita sebut mental health (kesehatan mental). Semua itu dapat dimulai keluarga sehingga mampu menjadi bibit atau benih sebuah pola hidup yang harmonis dan bersih.

 

 

(Humas Infokom)

 

Meriahkan Halaqah: Pomasi Unuja Apresiasi Karya Literasi dan Kerajinan ‘Handmade’ Santri

nuruljadid.net – Pada kesempatan bedah buku “Pilar Penyelamat Pembangunan” yang dilaksanakan kemarin pagi (02/10/2022) di Aula 2 Pondok Pesantren Nurul Jadid, Pondok Mahasiswi Universitas Nurul Jadid memberikan apresiasi dan penghargaan kepada pemenang lomba karya literasi dan kerajinan handmade santri mahasiswi.

Lomba literasi dan keterampilan membuat kerajinan tangan (handmade) ini merupakan program Pomasi Unuja bagi santri mahasiswi dan umum dalam rangka menyambut Halaqah Fikih Peradaban PBNU yang bertempat di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, Jawa Timur.

Kerajian tangan yang dibuat santri putri ini berupa miniatur bangunan atau gedung yang berada di lingkungan pesantren putri. Selain itu, tidak sedikit dari mereka membuat karya dari anyaman dan bahan daur ulang berupa bucket bunga, mendesain logo pesantren dan Unuja.

Pembina Pomasi Unuja, Ny. Hj. Khodijatul Qodriyah biasa disapa Neng Iah menyampaikan bahwa kegiatan ini sebagai upaya kita meningkatkan kecintaan santri terhadap dunia literasi dan kreatif dalam berkarya.

“kegiatan ini sangat positif sebagai upaya dalam meningkatkan tingkat literasi santri dan mendorong mereka agar lebih kreatif dalam berkarya di pesantren,” Neng Iah menuturkan.

Lomba kerajinan tangan (handmade) itu diperuntukkan baik untuk seluruh wilayah di lingkungan pesantren juga antar fakultas di Unuja. Sedangka lomba literasi diselenggarakan untuk umum dan antar fakultas.

Untuk mengetahui daftar pemenang lomba literasi dan kerajinan tangan (handmade) ini, dapat dilihat pada daftar berikut.

Lomba Handmade Antar Wilayah

  • Juara 1 (Wilayah Zaid Bin Tsabit)
  • JUARA 2 (Wilayah Al-Lathifiyah)

Lomba Handmade Antar Fakultas

  • Juara 1 (Fakultas Teknik Unuja)
  • Juara 2 (Fakultas Soshum Unuja)

Lomba Literasi Untuk Umum 

  • Juara 1 (Irma Sari Fadillah. Nasution. Judul: “Adikku baik-baik saja”)
  • Juara 2 (Mamluk Nurul Wada’ah. Judul : “Hadiah dibalik Pengorbanan”)

Lomba Literasi Antar Fakultas

  • Juara 1 (Fakultas Soshum Unuja. Judul : “Kongow Kelas Semesta”
  • Juara 2 (Fakultas Teknik Unuja. Judul : “Inspirasi Perempuan Cerdas Di Masa Pandemi”.

 

 

(Humas Infokom)

 

Halaqah PBNU Revitalisasi Tradisi Pemikiran Ilmiah Para Kiai NU

nuruljadid.net – Perhelatan halaqah fikih peradaban di Pondok Pesantren Nurul Jadid ini disebut oleh pengasuh kiai Zuhri dan Gus Ulil sebagai gagasan untuk menghidupkan kembali tradisi pemikiran para kiai Nahdlatul Ulama (NU).

Figur bersahaja dan tawadu’ kiai Zuhri menuturkan bahwa halaqah PBNU adalah upaya menghidupkan kembali sunnah-sunnah NU yang kian luntur beberapa tahun terakhir ini.

“Halaqoh yang digagas oleh PBNU ini untuk menghidupkan kembali sunnah-sunnah NU yang sudah kurang begitu diperhatikan,” ungkap kiai Zuhri dalam sambutannya.

Kaia Zuhri menambahkan “Saat ini, kepengurusan PBNU yang baru sudah mulai kembali menghidupkan sunnah-sunnah NU dalam mengasah pemikiran dan wawasan warga NU.”

Perwakilan PBNU pada acara halaqah fikih peradaban di Nurul Jadid Gus Ulil sekaligus ketua umum Lakpesdam PBNU menyampaikan bahwa halaqah ini akan diadalah selama 5 bulan penuh.

“halaqah itu akan diadakan oleh PBNU selama 5 bulan. Jadi hampir setiap bulan minimal ada tidak kurang dari 60 halaqah, setiap hari ada 2 halaqah yang diselenggarakan di berbagai tempat di seluruh Indonesia selama 5 bulan setiap hari” tegas Gus Ulil.

Untuk menyambut muktamar internasional fikih peradaban, PBNU mengadakan serangkaian halaqah-halaqah di berbagai tempat dengan melibatkan para kiai baik dari pusat kota sampai ke pelosok desa.

Gus Ulil menambahkan “Tujuan PBNU melibatkan para kiai agar memberikan masukan bagi muktamar nanti yang akan didadakan tahun depan. Jadi halaqah yang diadakan di Paiton ini adalah salah satu halaqah yang nanti memberikan kontribusi.”

Setiap halaqah yang dilaksanakan diharapkan melahirkan sebuah rumusan dan keputusan yang bisa diusulkan kepada PBNU untuk memperkaya diskusi di dalam muktamar internasional pada bulan Februari mendatang.

Tidak kalah penting, halaqah fikih peradaban ini juga bertujuan untuk merevitalisasi tradisi diskusi ilmiah di kalangan kiai sebagai pemikir dan intelektual muslim yang bertanggung jawab mendampingi masyarakat di tengah arus globalisasi dewasa ini.

“Insyallah, halaqah-halaqah ini akan menghidupkan kembali percakapan ilmiah di kalangan kiai-kiai,” ungkap lulusan Harvard tersebut.

Gus Yahya juga menekankan agar halaqah ini diadakan di pesantren dan pesertanya kiai. Ketua umum PBNU tidak mengijinkan pelaksanaan halaqah diadakan di perguruan tinggi walaupun PTNU. Karena tujuan dari Gus Yahya bahwa halaqah ini memang dikhususkan untuk para kiai. Oleh sebab itu, halaqah-halaqah ini memang seluruhnya diadakan di pesantren.

 

 

(Humas Infokom)

Gus Ulil Sebut Halaqah Nurul Jadid Unggulan Sebab Ikatan Historis dengan NU

nuruljadid.net – Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Ulil Abshar Abdalla dalam Halaqah Fikih Peradaban menyampaikan bahwa Halaqah di Nurul Jadid merupakan halaqah unggulan karena memiliki ikatan historis dengan NU.

“Ini salah satu halaqah fikih peradaban yang saya anggap unggulan, karena ini diadakan di pesantren yang mempunyai kaitan historis yang cukup penting sekali dengan NU” terangnya.

Gus Ulil sapaan akrab KH. Ulil Abshar Abdalla menceritakan kenangan beliau bersama sosok yang disegani di NU yaitu KH. Wahid Zaini.

“Di tempat ini, di pondok ini ada sosok yang sangat dihormati di NU, terutama di kalangan para aktivis muda NU pada tahun 80-an dan 90-an yaitu KH. Wahid Zaini,” kenang Gus Ulil.

Bersama KH. Wahid Zaini, Gus Ulil pernah menggagas Program Pengembangan Wawasan Keulamaan (PPWK) di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton. Sehingga pesantren Nurul Jadid ini memiliki ikatan historis yang penting di tubuh NU.

Halaqoh yang diselenggarakan di Pondok Nurul Jadid ini menurut pengakuan Gus Ulil merupakan salah satu halaqah penting selain halaqah-halaqah lain yang sudah diadakan di beberapa tempat karena ikatan historis sebagaimana diceritakan sebelumnya.

Halaqah fikih peradaban ini adalah program yang cukup ambisius. Terdapat 250 halaqah plus 50. Gus Ulil tidak menyebutkan total 300 halaqoh karena halaqah terbagi dalam dua kategori yakni utama dan turunannya.

“Kenapa saya sebut 250 plus 50 kenapa tidak 300? Karena memang 250 halaqah utama plus 50 halaqah ikutannya.”

Di akhir sambutannya Gus Ulil meminta doa para kiai dan bu nyai agar Halaqoh ini dapat berjalan dengan lancar bersamaan dengan ridho Allah SWT.

 

 

(Humas Infokom)

 

Hidupkan Literasi, Pomasi UNUJA Bedah Buku “Pilar Penyelamat Pembangunan” Karya 3 Tokoh Besar Nurul Jadid

nuruljadid.net – Pondok Mahasiswi (Pomasi) Universitas Nurul Jadid (UNUJA) gelar bedah buku “Pilar Penyelamat Pembangunan” karya tiga tokoh besar Pondok Pesantren Nurul Jadid untuk menghidupkan giat literasi serta memberikan asupan wawasan ilmu pengetahuan kepada santri mahasiswi. Acara digelar bersamaan dengan pelaksanaan Halaqah Fikih Peradaban pada minggu (02/10/2022) di Aula 2 Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Bedah buku disajikan oleh tiga narasumber perempuan luar biasa yakni Neng Ienas Tsuroiya (admin Ngaji Ihya Gus Ulil Abshar Abdalla), Dr. dr. Mirrah Samiyah, M.Kes (Women of The Year 2021 Probolinggo), beserta Ny. Hj. Khodijatul Qodriyah (Direktur Klinik Az-Zainiyah Nurul Jadid). Pada acara bedah buku yang dimoderatori oleh Dr. Hamidatul Musyarrofah seorang dokter di Klinik Az-Zainiyah membahas pilar penyelamat pembangunan yang menitikberatkan pada aspek pendidikan, perempuan dan pesantren.

Buku “Pilar Penyelamat Pembangunan” tersebut merupakan buku hasil kolaborasi tiga pemikiran tokoh pesantren Nurul Jadid yakni Alm. KH. A. Wahid Zaini (pengasuh ke-III PP. Nurul Jadid), KH. Abd. Hamid Wahid menjabat sebagai kepala pesanten sekaligus rektor Unuja serta istri beliau Ny. Hj. Khodijatul Qodriyah saat ini memimpin Klinik Az-Zainiyah Nurul Jadid.

Pasalnya, isi dari bedah buku tersebut membahas tentang besarnya arti dan pengaruh figur perempuan, institusi pendidikan dan pesantren yang memiliki peran krusial serta ikut andil dalam mengawal berdiri tegaknya sebuah negara dan bangsa.

Dalam sambutannya Ny. Hj. Khodijatul Qodriyah menyampaikan bahwasanya buku tersebut tidak hanya sekedar dicetak, akan tetapi untuk mengabadikan nilai-nilai dan pemikiran dari almarhum KH. Abdul Wahid Zaini yang sangat bermanfaat untuk kehidupan kita di masa mendatang.

“Buku ini dicetak dan alhamdulillah bisa disampaikan pada para santri dalam rangka mengabadikan dan menghidupkan beberapa buah pemikiran almarhum KH. Abdul Wahid Zaini yang selama tujuh tahun berinteraksi secara langsung dengan saya, semoga lewat buku ini menjadi amal sholeh yang membermanfaati bagi generasi pejuang pendidikan yang mencerahkan di masa kini maupun nanti,” terang Neng Iah.

Acara bedah buku ini dikemas dalam bentuk diskusi interaktif dan sharing gagasan dengan tujuan untuk memberikan peluang kepada peserta mahasiswi berdiskusi langsung dengan narasumber yang ahli di bidangnya masing-masing sehingga memberikan banyak perspektif untuk memperkaya khazanah keilmuan dan wawasan berpikir.

(Pemberian tanda mata kepada para tokor pemikir Buku Pilar Penyelamat Pembangunan dan narasumber Bedah Buku di Aula 2 Pondok Pesantren Nurul Jadid)

Melalui bedah buku dan dialog interaktif ini juga dapat melatih Public Speaking serta mengasah mentalitas serta kepercayaan diri para peserta mahasiswa saat bertanya. Narasumber Ny. Ienas Tsuroiya membahas tentang peran perempuan dan pesantren. Tidak hanya itu, disusul oleh Dr. dr. Mirra Samiyah, M.Kes dengan topik bahasan perempuan dan kesehatan, yang terakhir Ny. Hj. Khodijatul Qodriyah selaku penulis buku lebih menyoroti tentang perempuan dan pendidikan.

Di akhir sesi pematerian disusul dengan pemberian penghargaan kepada tiga tokoh yang pemikirannya diabadikan dalam buku Pilar Penyelamat Pembangunan dan ketiga narasumber yang membedah buku tersebut. Almarhum KH. Abdul Wahid Zaini diwakili oleh istrinya Ny. Hj. Zubaidah Toha, sedangkan KH. Abdul Hamid Wahid dan Ny. Hj. Khodijatul Qodriyah hadir secara langsung menerima tanda mata dari pimpinan Universitas Nurul Jadid di forum bedah buku yang berlangsung kurang lebih 1,5 jam itu.

 

 

(Humas Infokom)

Ketua Lakpesdam PBNU Gus Ulil: KH. Abd. Wahid Zaini Sosok Yang Dihormati di NU

nuruljadid.net – KH. Ulil Abshar Abdalla yang akrab dipanggil Gus Ulil dalam sambutannya di forum halaqah fikih peradaban di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo, Jawa Timur menyampaikan bahwa KH. Abd. Wahid Zaini adalah sosok yang dihormati di Nahdlatul Ulama (NU).

“Di tempat ini, di pondok ini (red Nurul Jadid), ada sosok yang sangat dihormati di NU, terutama di kalangan para aktivis muda NU pada tahun 80-an dan 90-an yaitu almarhum KH. Abd. Wahid Zaini,” kenang Gus Ulil.

Kiai Wahid Zaini adalah sosok ulama karismatik dan tokoh NU yang kaya akan khazanah keilmuan. Perjuangannya malang melintang di organisasi NU. Pemikiran dan sepakterjangnya turut mendorong laju organisasi yang dipimpinnya.

KH. Abdul Wahid Zaini adalah putera kedua KH. Zaini Mun’im, pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid. Ia lahir pada hari Jumat tanggal 17 Juli 1942 di Desa Galis, Pamekasan Madura.

Ketua Lakpesdam PBNU Gus Ulil memberikan testimoni kiprah luar biasa KH. Wahid Zaini dalam kaderisasi kiai NU melalui program pengembangan wawasan ulama.

“Saya berinteraksi cukup banyak dengan kiai wahid zaini, dan pernah datang ke pondok Nurul Jadid mungkin pada tahun 90-an pertengahan. Sudah lama sekali ketika melalui lembaga lakpesdam, saya menyiapkan suatu program yang disebut dengan Program Pengembangan Wawasan Keulamaan (PPWK).” jelas tokoh NU lulusan AS tersebut.

Tokoh intelektual NU Gus Ulil menceritakan bahwa Kiai Wahid terlibat cukup dalam pada kegiatan NU yang saat itu digagas oleh Lakpesdam.

“Saya dulu bersama kiai wahid menyiapkan program ini (PPWK) dan kiai wahid tidak hanya terlibat secara ‘dalam bahasa anak Jakarta sekarang’ tipis-tipis. Tetapi beliau terlibat dengan mendalam sekali bahkan beliau ikut menyeleksi peserta atau kiai-kiai muda yang ikut di dalam program PPWK,” tegasnya

Oleh karena itu, halaqah yang diadakan di Pondok Nurul Jadid ini menjadi halaqah yang sangat penting bagi Gus Ulil dan NU selain halaqah-halaqah lain yang sudah diadakan di beberapa tempat.

 

 

(Humas Infokom)

KH. Moh. Zuhri Zaini: Halaqah Fikih Peradaban Bukan Hanya Silaturahim Biasa

nuruljadid.net – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid KH. Moh. Zuhri Zaini mengungkapkan bahwa hadirnya Halaqah Fikih Peradaban ini bukan hanya silaturahim biasa atau ketemu muwajahah, tapi juga ada silatul afkar yaitu sambung pikiran dan pemahaman.

Memaknai hal tersebut, Kiai Zuhri berharap kita bisa saling menghargai jika terdapat perbedaan pendapat. Karena menurutnya, hidup ini tidak akan pernah selalu sama, jadi dengan adanya perbedaan pendapat asalkan disikapi dengan benar yaitu saling menerima dan saling mengisi, insyallah akan menjadi hikmah.

Hal ini disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid KH. Moh. Zuhri Zaini melalui sambutannya pada acara Halaqah Fikih Peradaban dalam rangka memperingati Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) di Aula I Pondok Pesantren Nurul Jadid, Ahad (2/10/2022).

(Potret suasana Halaqoh Fikih Peradaban di Aula I Pondok Pesantren Nurul Jadid)

Kiai yang akrab disapa dengan Kiai Zuhri ini melanjutkan, hadirnya Halaqah Fikih Peradaban di Pondok Pesantren Nurul Jadid merupakan obat rindu kami terhadap kegiatan-kegiatan NU yang sering diadakan beberapa tahun lalu.

“Adanya Halaqah Fikih Peradaban ini menghidupkan kembali sunnah-sunnah NU yang sudah kurang begitu diperhatikan, sebab masa yang lalu kita sering ketemu melalui kegiatan-kegiatan seperti ini. Saya mewakili pesantren sebagai shohibul bait, merasa mendapat kehormatan ditempati kegiatan ini, sebab sudah lama saya merindukan adanya kegiatan-kegiatan seperti ini,” ungkap Kiai Zuhri.

Kiai Zuhri berharap halaqah ini bisa membuahkan sesuatu yang konkrit, ada tindak lanjut, dan menjadi ruang bagi kita agar bisa saling mengenal satu sama lain, bukan hanya pribadinya tetapi juga pemikiran dan pemahamannya.

“Harapan kita adalah silaturahim ini sekalipun mungkin belum membuahkan sesuatu yang konkrit tapi mudah-mudahan ada tindak lanjut, tapi andaikan tidak, sudah bersyukur bisa ketemu seperti ini, sebab ketemu-ketemu sekarang ini sangat mahal, bukan mahal ongkosnya, tapi karena kesibukan kita masing-masing, ya mungkin ini adalah tanda sudah mendekatnya kiamat, katanya semakin dekat kiamat, kesibukan semakin banyak sehingga silaturrahim sulit untuk dilaksanakan,” dawuh Pengasuh.

Beliau juga mengucapkan terima kasih atas rawuhnya para masyayikh dan telah menjadikan Pondok Pesantren Nurul Jadid sebagai salah satu titik tempat digelarnya Halaqah Fikih Peradaban.

“Dan mohon untuk tidak kapok lagi untuk rawuh kesini dan mengadakan kegiatan disini, kami sangat terbuka, sangat welcome dengan kehadiran dan hadirnya kegiatan halaqoh disini,” dawuh pengasuh menutup sesi sambutannya.

 

(Humas Infokom)

PBNU Helat Halaqah Fikih Peradaban di Pondok Pesantren Nurul Jadid Sambut 1 Abad NU

nuruljadid.net – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggandeng Pondok Pesantren Nurul Jadid untuk menyelenggarakan Halaqah Fikih Peradaban dalam rangka menyambut peringatan Satu Abad NU) di Aula KH. Zaini Mun’im Pondok Pesantren Nurul Jadid pagi ini (02/10/2022).

Kegiatan Halaqah Fikih Peradaban ini merupakan bagian dari rangkaian Hari Lahir (Harlah) 1 Abad NU yang akan dilaksanakan tahun depan dan dilaksanakan di 250 titik plus 50 di seluruh Indonesia.

Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid KH. Moh. Zuhri Zaini dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan Halaqoh ini merupakan upaya untuk menghidupkan kembali sunnah-sunnah NU.

“Halaqoh yang digagas oleh PBNU ini untuk menghidupkan kembali sunnah-sunnah NU yang sudah kurang begitu diperhatikan.” Kiai Zuhri menuturkan.

Saat ini, kepengurusan PBNU yang baru sudah mulai kembali menghidupkan sunnah-sunnah NU dalam mengasah pemikiran dan wawasan warga NU.

(Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid KH. Moh. Zuhri Zaini saat menyampaikan sambutannya di Pembukaan Halaqah Fikih Peradaban)

Kiai Zuhri mengungkapkan rasa syukurnya karena dipercaya untuk menjadi salah satu tuan rumah penyelenggara Halaqah Fikih Peradaban dalam rangka menyambut Harlah 1 Abad NU.

“Alhamdulillah, saya merasa mendapat kehormatan ditempati kegiatan ini (halaqah), sebab sudah lama saya merindukan kegiatan-kegiatan seperti ini,” Kiai Zuhri menambahkan.

Sosok sederhana dan tawadu’ tersebut juga mengungkapkan perasaan bahagia dan keriduannya akan kegiatan semacam halaqah ini yang cukup terobati. Karena halaqah ini, tidak sekedar silaturrahmi yang membawa barokah umur, rezeki dan ilmu. Lebih dari itu kiai Zuhri berharap ada hasil konkrit yang bisa bermanfaat untuk ummat. Meskipun tidak, paling tidak forum semacam ini akan mempererat ukhwah antar sesama santri, ummat Islam bahkan sebagai anak bangsa.

Sebagai narasumber sekaligus mewakili ketua PBNU KH. Yahya Cholil Staquf yang berhalangan hadir, Ketua Lakspesdam PBNU KH. Ulil Abshar Abdalla dalam sambutan menjelaskan Ponpes Nurul Jadid menjadi salah satu pesantren tuan rumah dari 250 titik dalam program Halaqah Fiqih Peradaban .

(Ketua Lakpesdam PBNU KH. Ulil Abshar Abdalla saat menyampaikan sambutannya di Pembukaan Halaqah Fikih Peradaban)

“ini salah satu Halaqoh Fikih Peradaban yang saya anggap unggulan dan penting, pertama karena ini diadakan di pesantren yang mempunyai kaitan historis yang cukup penting sekali dengan Nahdlatul Ulama. Di tempat ini, di pondok ini ada sosok yang sangat dihormati di NU terutama di kalangan para aktivis muda NU pada tahun 80-an dan 90-an yaitu almarhum kiai Wahid Zaini,” kenang Kiai Ulil Abshar di hadapan ratusan peserta halaqah.

Ketua Lakpesdam juga menyampaikan bahwa kegiatan Halaqah ini yang diselenggarakan di 250 titik inti plus 50 halaqah turunan.

“kegiatan ini merupakan ide Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf atau dikenal dengan panggilan Gus Yahya. Gus Yahya yang sudah lama memimpikan hal ini sebagai kelanjutan dari serial Halaqah serupa yang pernah diselenggarakan pada era Gus Dur,” ungkapnya.

Halaqah yang pernah dilakukan pada era Gus Dur maupun Gus Yahya saat ini memiliki semangat yang sama, yakni melakukan rekontekstualisasi fiqih agar NU mampu menjawab problematika peradaban baru di masa sekarang. Bedanya, Gus Dur melakukan itu dalam konteks Indonesia, sedangkan Gus Yahya menproyeksikan pada skala global atau dunia.

Puncak peringatan Harlah 1 Abad NU ini akand dilaksanakan pada 16 Rajab bertepatan pada 7 Februari di Jakarta namun sebelumnya akan dihelat Muktamar Internasional Fikih Peradaban dan akan menhadirkan sekitar 300 ulama di seluruh dunia.

(Kondisi peserta dan tamu undangan pada Pembukaan Halaqah Fikih Peradaban)

Halaqah-halaqah ini akan menghidupkan kembali percakapan ilmiah di kalangan kiai sebagaimana pesan Kiai Yahya harus diselenggarakan di pesantren bukan perguruan tinggi meskipun perguruan tinggi NU. Karena tujuannya untuk pererat ukhwah ma’hadiyah dan silaturrahmi para kiai mulai dari perkotaan sampai ke pelosok daerah.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Pesantren KH. Abdul Hamid Wahid, Wakil Kepala Pesantren KH. Najiburrahman Wahid, Guru Besar UIN Khas Jember Prof. Dr. Moh. Dahlan, M.Ag., Sekretaris Pesantren H. Faizin Syamwil, Pimpinan UNUJA, Pimpinan Pesantren Nurul Jadid dan puluhan kiai serta ibu nyai di lingkungan tapal kuda. Kegiatan ini dilaksanakan dalam sehari yang terbagi menjadi dua sesi.

Usai sambutan, acara dilanjutkan forum halaqah inti yang dimoderatori oleh Dosen Universitas Nurul Jadid Ahmad Sahidah, Ph.D. sedangkan narasumber yang akan menyajikan materi diantaranya Wakil Rais Aam PBNU KH. Afifuddin Muhajir; Ketua Lakpesdam PBNU KH. Ulil Abshar Abdalla; Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya KH. Moh. Syaeful Bahar; Mudir Ma’had Aly Nurul Jadid Kiai Muhammad Al-Fayyadl.

 

 

(Humas Infokom)

Libur Maulid Segera Tiba, Sekretariat Gandeng P4NJ se-Nusantara Adakan Rapat Koordinasi Secara Hybrid!!!

nuruljadid.net – Menjelang hari libur Maulid santri, Sekretariat Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo adakan rapat koordinasi untuk Pulangan Bersama santri dalam rangka menyambut bulan Maulid Nabi Muhammad SAW 1444 H. Rapat kali ini diadakan bersama Pembantu Pengurus Pondok Pesantren Nurul Jadid (P4NJ) se-Nusantara secara hybrid pada hari Kamis (29/09/2022) pagi yang bertempat di ruang rapat pesantren secara luring dan zoom meeting bagi yang mengikuti secara daring.

Rapat ini dilaksanakan dengan tujuan untuk memberikan penjelasan dan sosialiasi terkait teknis dan prosedur pulangan bersama santri. Selain itu, rapat koordinasi ini juga dijadikan ajangn untuk menampung keluhan, saran ataupun kendala yang dialami oleh P4NJ serta wali santri dalam proses mempersiapkan pulangan bersama santri mengaca pada tahun sebelumnya. Sehingga melalui forum rapat ini harapannya dapat menemukan solusi yang bisa disepakati untuk dijalankan bersama.

Pada libur Maulid kali ini, santri dipulangkan berdasarkan tanggal yang sudah ditetapkan pada surat edaran sekretariat Pondok Pesantren Nurul Jadid. Untuk libur santri putri dimulai sejak tanggal 5 s/d 15 Oktober 2022. Sementara itu, jadwal pulang santri putra dimulai tanggal 6 s/d 16 Oktober 2022.

(Terlihat antusias peserta rapat online juga turut aktif mengikuti rapat melalui kediamannya masing-masing)

Rapat ini membahas beberapa hal, yakni terkait kebijakan yang dikeluarkan oleh pihak pesantren terkait kepulangan santri secara rombongan. Keterlibatan P4NJ daerah sangat dibutuhkan untuk mengkoordinir dan menginformasikan kepada wali santri untuk menjemput putra-putrinya di titik dropspot yang telah ditentukan. Pada pelaksanaannya nanti, semua santri akan dipulangkan secara rombongan berdasarkan daerah masing-masing dengan armada Bis atau jenis transportasi lainnya yang sudah pesantren sediakan. Setiap rombongan satu bus akan didampingi oleh satu pengurus yang berasal dari daerah yang sama sehingga para santri terawasi dan terarahkan sampai ke kedua orang tuanya atau walinya.

Pelaksanaan rapat digelar dengan sistem hybrid, yakni secara daring dan luring. Untuk yang daring melalui Zoom Meeting sedangkan yang luring hadir langsung ke Pondok Pesantren Nurul Jadid. P4NJ yang hadir secara offline diantaranya pengurus P4NJ yang daerahnya tidak terlalu jauh dari pesantren, seperti P4NJ daerah Tapal Kuda, Bondowoso, Jember, Situbondo, Banyuwangi dan P4NJ Pusat. Sedangkan P4NJ yang jauh dari pesantren mengikuti melalui Zoom Meeting,  seperti P4NJ Sumenep, Jabodetabek, Bali, Kalimantan dan beberapa daerah lainnya.


(Potret suasana rapat Pulangan Santri Libur Maulid 1444 H bersama P4NJ)

Turut hadir dalam rapat tersebut dari unsur pimpinan Sekretaris Pesantren H. Faizin Syamwil yang sekaligus memimpin jalannya rapat kala itu. Beliau didampingi ketua panitia pulang bersama ustaz Syaiful Anam menyampaikan banyak hal pada pengantar rapat. Salah satunya memberikan motivasi dan mengungkapkan rasa terimakasih kepada P4NJ di seluruh Indonesia yang senantiasa berkenan untuk berkhidmat kepada pesantren.

“Pelaksanaan pulang rombongan ini adalah kegiatan tambahan bagi P4NJ dari pesantren untuk melayani wali santri, kami berterimakasih atas bantuannya selama ini,” tutur Bapak Faizin.

“Di samping itu, adanya Puber ini justru mampu menguatkan sambungan tali silaturahmi antar pengurus P4NJ dengan pesantren dan P4NJ dengan wali santri, sehingga menjadi lebih kompak dan solid lagi”. tutup bapak Faizin

 

 

(Humas Infokom)

Studium Generale, UNUJA Hadirkan Profesor UIN Jember Bekali Wawasan Mahasiswa Pascasarjana

nuruljadid.net – Merespon berbagai fenomena di era Society 5.0, Program Pascasarjana Universitas Nurul Jadid (UNUJA) melangsungkan Studium Generale dengan mengusung tema “Kebijakan Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka dalam Penguatan SDM Unggul di Era Society 5.0 dan Pendidikan Abad 21,” pada Kamis (29/09) pagi di Aula KH. Zaini Mun’im Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Pascasarjana Universitas Nurul Jadid menghadirkan narasumber Profesor Bidang Manajemen Pendidikan dari UIN KHAS Jember Prof. Dr. H. Moh. Khusnuridlo, M.Pd. Pada kesempatan itu, turut hadir menyambut sebagai tuan rumah, Rektor UNUJA KH. Abdul Hamid Wahid, M.Ag., Wakil Rektor I Bidang Akademik dan SDM Drs. H. Hambali, M.Pd., Wakil Rektor II Bidang Keuangan & Sarana KH. Najiburrahman Wahid, M.Ag., serta jajaran civitas akademik lainnya.

(Potret pimpinan Universitas Nurul Jadid dan Civitas Akademika bersama Narasumber Prof. Dr. H. Moh. Khusnuridlo, M.Pd. di acara Studium Generale)

Era Super Smart Society (Society 5.0) dirancang sebagai antisipasi gejolak disrupsi yang diakibatkan oleh Revolusi Industri 4.0. Hal itu menjadi kekhawatiran bersama, ditakutkan invasi tersebut berpotensi mengecilkan peran manusia dan menggerus jati diri kemanusiaan. Sehingga puncaknya ada pada problematika yang begitu kompleks dan ambigu.

Di hadapan ratusan mahasiswa pascasarjana dan civitas akademika, Prof. Dr. H. Moh. Khusnuridlo, M.Pd. menjelaskan cara sederhana untuk menghadapi era Society 5.0, utamanya bagi mahasiswa sebagai pelaku pendidikan agar mampu survive di tengah pusaran dinamika yang dihadapi oleh bangsa ini.

“Modal utama adalah dalam hati, dari berbagai riset itu menunjukkan bahwa motivation adalah kunci sukses. Sebesar keinsafanmu, sebesar itu pula keberuntunganmu. Ini penting harus muncul dari dalam diri anda, karena saat ini anda berada pada lingkungan yang mengkooptasi, lingkungan luar anda terus menyerang anda. Kalau anda punya daya tangkal sesuai dengan visi niat anda belajar, maka insyaallah anda akan sukses,” terang Prof. Khusnuridlo.

(Prof. Dr. H. Moh. Khusnuridlo, M.Pd. sedang memaparkan materi di depan ratusan peserta)

Selain itu, Prof. Khusnuridlo juga menguraikan panjang lebar problematika yang menjadi sebab perlunya merdeka belajar diimplementasikan menjadi sistem pendidikan Indonesia.

“Saat ini kita mengalami krisis pembelajajan di dunia sistem pendidikan, krisis ini tidak berarti negatif di dunia pendidikan, ilmu itu dinamis, jadi komplementer, memang ada hal-hal yang perlu ditambah. Selanjutnya terjadi simplikasi kurikulum pendidikan. Selain itu, juga sebab Pandemi COVID-19, kompetensi anak didik kita menjadi hilang, dan perlu pemulihan pembelajaran memberi kebebasan memilih kurikulum. Oleh karenanya, terjadi implementasi kuikulum merdeka secara bertahap” tambahnya.

(Rektor UNUJA KH. Abdul Hamid Wahid sedang memberikan sambutan pada acara Studium Generale)

Di sisi lain, Rektor Universitas Nurul Jadid berharap, kedatangan Prof. Dr. H. Moh. Khusnuridlo, M.Pd.  mampu memberikan pencerahan terutama dalam meneguhkan semangat, wawasan, dan seni kepada mahasiswa dan civitas akademika agar bisa beradaptasi dengan perubahan.

“Saya berharap kita dapat mengikuti dengan saksama dan dapat mengambil manfaat dari kegiatan siang ini, harapan kita bahwa unuja sebagai kampus berkeadaban dapat terus mengambil peran dalam perubahan ini dengan melakukan inovasi-inovasi, sehingga kita bisa terus hidup beradaptasi dengan baik dengan perkembangan yang ada, bahkan bisa memberikan warna, dan berperan bukan hanya sekedar sebagai pengikut ataupun bagian pelengkap dari perkembangan yang ada.” pungkas beliau.

 

 

(Humas Infokom)

Nurul Jadid Gelar Pra Halaqah Fikih Peradaban Sambut Satu Abad NU

nuruljadid.net – Sebagai salah satu tuan rumah acara Halaqah Fikih Peradaban dalam rangka menyambut Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU), Pondok Pesantren Nurul Jadid gelar kegiatan Pra Halaqah yang mengusung tema “Fikih Siyasah dan Tantangan Dunia Baru”, pada Kamis 29/09/2022 pagi di Aula Mini Pesantren bersama beberap kiai dan pakar kitab fikih di daerah sekitar Probolinggo.

Kegiatan tersebut diadakan sebagai langkah awal untuk mempersiapakan materi dan usulan yang akan diajukan pada acara inti Halaqah Fikih Peradaban minggu besok 02 Oktober 2022. Berdasarkan informasi yangterhimpun, kegiatan Halaqoh Fikih Peradaban 2 Oktober tersebut akan melibatkan ratusan kyai dan nyai di daerah Jawa Timur bahkan penyaji yang didatangkan ada yang dari luar jatim bertaraf nasional. Tidak hanya itu, santri, akademisi dan kaum intelektual juga berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Rencananya, akan turut hadir dalam kegiatan tersebut sebanyak 25 peserta yang terdiri dari para kyai dan gus lintas pesantren daerah kabupaten/kota Probolinggo serta ketua dan aktivis MWCNU Probolinggo dan Besuki Situbondo.

Dalam kegiatan tersebut membahas tentang fikih siyasah dalam konteks berbangsa dan bernegara yang harapannya dapat menjadi rujukan bagi umat Islam Indonesia, bahkan dunia untuk membangun tatanan dunia baru yang berkeadilan, sejahtera, damai sentosa.

(Forum Diskusi Pra Halaqah Fikih Peradaban Di Aula Mini Pondok Pesantren Nurul Jadid)

Ketua pelaksana, Dr. Syamsuri Hasan, M.HI mengatakan, halaqah ini digelar dalam rangka menghidupkan percakapan pemikiran dan intelektual kyai. Pihaknya juga mengatakan kegiatan tersebut untuk membekali peserta halaqah agar bisa terarah dalam menyampaikan ide dan gagasan yang telah dikajinya untuk diangkat pada saat acara Halaqah Fikih Peradaban digelar tanggal 02 Oktober 2022 mendatang.

Halaqah Fikih Peradaban tersebut tidak hanya digelar di Pondok Pesantren Nurul Jadid saja akan tetapi digelar di 250 titik di seluruh Indonesia. Sebarannya yakni digelar di 75 titik di Jawa Timur, 75 titik di Jawa Tengah dan DIY, 50 titik di Jawa Barat-DKI-Banten dan 50 titik di luar Pulau Jawa. Sesuai yang dilansir pada portal berita NU Online bahwa terdapat delapan kegiatan lain yang bakal dihelat dalam rangkaian harlah Satu Abad NU tersebut, yakni NU Tech, pembentukan NU Women, Festival Tradisi Islam Nusantara, Anugerah Tokoh NU, Pekan Olahraga NU, Religion of Twenty (R- 20), Peluncuran Gerakan Kemandirian NU, dan Resepsi Satu Abad NU.

 

 

(Humas Infokom)

 

Eksklusif! Nurul Jadid Media Gembleng Aliansi Pers Santri Lewat Ngaji Jurnalistik

nuruljadid.net – Pada hari Rabu (28/09/2022) siang pukul 14.00 WIB, Pondok Pesantren Nurul Jadid helat “Ngaji Jurnalistik” yang bertempat di Aula KH. Zaini Mun’im. Acara ini diinisiasi oleh Nurul Jadid Media Humas dan Infokom Sekretariat pesantren dalam rangka menggembleng keterampilan dan kompetensi jurnalistik insan media santri yang tergabung di berbagai aliansi pers di lingkungan pesantren baik lembaga maupun wilayah.

Ngaji Jurnalistik ini merupakan kegiatan rutin Humas dan Infokom untuk menggalakkan gerakan literasi santri dalam bidang kemampuan tulis menulis khususnya jurnalistik. Pada kesempatan kali ini, Nurul Jadid Media menggandeng Sidogiri Media sebagai fasilitator selain untuk menjalin ukhwah ma’hadiyah juga untuk menggali lebih dalam kiat dan tips bagaimana media jurnalistik santri bisa berkembang secara konsisten dan mandiri secara penerbitan bahkan ikut menyumbangkan sekian persen kepada pesantren.

Tim Sidogiri Media hadir dengan 5 orang personel untuk mengisi pelatihan intensif pada kegiatan ini salah satu dari mereka adalah pimpinan bidang usaha Sidogiri Media. Para fasilitator memfasilitasi peserta di empat kelas yang berbeda. Kelas desain grafis, kelas penulisan artikel, kelas berita dan wawancara. dan kelas periklanan.

Pimpinan Redaksi Sidogiri Media, Ustadz Alil Wafa saat memberikan pengantar jurnalistik kepada peserta

Sebelum masuk pada acara inti Ngaji Jurnalistik, Sekretaris Pesantren H. Faizin Syamwil pada acara seremonial pembukaan memberikan sambutan hangat kepada tim Sidogiri Media dan peserta ngaji jurnalistik yang hadir saat itu. Dalam sambutannya, bapak Faizin menyampaikan beberapa hal.

“Ngaji Jurnalistik ini adalah bagian untuk meneruskan apa yang menjadi harapan para sesepuh (pengurus pesantren sebelum-sebelumnya) dalam melestarikan budaya liteasi dan tulis-menulis. Agar dunia jurnalistik pesantren itu lebih ditingkatkan dan memberikan dampak positif kepada ummat,” ungkap Sekretaris Pesantren yang tengah mengenakan jasko silver tersebut.

“Media dakwah itu bukan hanya kita berceramah, tapi tulis-menulis adalah bagian dari media untuk berdakwah,” bapak Faizin menambahkan.

Di akhir sambutannya, Sekretaris Pesantren mengharapkan suburnya kreativitas para santri dalam bidang jurnalistik agar kian bermunculan usai digelarnya pelatihan Ngaji Jurnalistik ini. Karena salah satu indikator suksesnya sebuah kegiatan adalah ketika ada dampak yang dihasilkan pasca kegiatan tersebut dilaksanakan.

“Jangan hanya pesantren memberikan uang, terus kemudian anak-anak yang sudah diberi kesempatan ini tidak memberikan kreasi yang baik. Jadi kita ingin, bagaimana apa yang menjadi cita-cita pesantren itu dikembangkan oleh anak-anakku sekalian,” pungkasnya.

Peserta ngaji jurnalistik berjumlah kurang lebih 50 orang yang merupakan peserta delegasi dari lembaga pers di masing-masing sekolah seperti LPS Iqro, Kharisma, Masa, dan Misi. Mulai dari tingkat SLTP hingga tingkat Universitas. Ditambah lagi dengan dua lembaga pers wilayah Jalaludin Ar-Rumi (G) dan wilayah Al-Amiri (J). Masing-masing mendelegasikan 7 anggotanya untuk berpartisipasi dalam acara ini dengan pembagian tugas berdasarkan kelas yang ada.

Suasana kelas membuat artikel yang cukup kondusif

Peserta sangat antusias dan khusyuk mengikuti pelatihan tersebut. Pasalnya, semua materi yang diberikan tidak disampaikan kepada semua peserta melainkan dengan dibagi menjadi kelas-kelas khusus. Sehingga, setiap peserta delegasi bisa belajar lebih intensif dan fokus sesuai dengan bidang yang digeluti.

Pelatihan kelas eksklusif tersebut sempat terjeda untuk istirahat sejenak sholat ashar dan maghrib. Kemudian kelas dilanjutkan kembali hingga pukul 20.45 WIB dan ditutup dengan doa serta pemberian door prize untuk peserta terbaik dari setiap kelas oleh tim Sidogiri Media.

 

 

(Humas Infokom)