Pentingnya Membangun Citra Positif Organisasi dan Mengelolah Informasi Publik

berita.nuruljadid.net– – Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, kembali menunjukkan komitmennya dalam penguatan tata kelola informasi dan komunikasi publik dengan menggelar kegiatan upgrading kehumasan, Sabtu (24/05/2025), bertempat di ruang rapat utama pesantren.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Sub Bagian Humas dan Infokom Pesantren Nurul Jadid dan diikuti oleh para staf humas dari unit-unit pendidikan serta lembaga internal pesantren. Tema yang diangkat adalah “Humas dan Personal Branding”, yang relevan dengan kebutuhan dunia komunikasi modern.
Ponirin Mika, Kepala Sub Bagian Humas dan Infokom, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan dan keterampilan para praktisi humas di lingkungan pesantren.

“Institusi humas di pesantren sangat urgen dalam menjembatani keinginan pesantren dan publik, begitu juga sebaliknya. Maka penting bagi kita untuk memahami ilmu public relation secara mendalam,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa branding lembaga tak lepas dari kemampuan humas dalam mengelola pesan, membangun jejaring, dan menciptakan citra positif di tengah masyarakat. Humas adalah ujung tombak citra institusi.
Lebih lanjut, Ponirin menyebut bahwa humas tidak hanya bekerja di balik layar, tetapi juga menjadi wajah pesantren dalam ruang publik—baik secara daring maupun luring.
Dalam kesempatan tersebut, hadir pula narasumber utama, Dr. Rochman Hidayat, Kepala SDM PT POMI Paiton, yang memberikan materi penguatan kapasitas humas dalam membangun komunikasi strategis dan branding institusional. Dr. Rochman menegaskan bahwa kemampuan humas dalam membentuk persepsi publik sangat menentukan kualitas interaksi pesantren dengan stakeholder-nya.

“Citra sebuah lembaga, apakah baik atau tidak, sangat ditentukan oleh kemampuan humas dalam mengelola informasi publik secara cerdas dan profesional,” terangnya di hadapan para peserta.

Menurutnya, peran public relation (PR) bukan hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai penghubung strategis antara lembaga dan masyarakat luas. PR harus mampu menyusun narasi, mengelola krisis, serta menjangkau akar rumput secara efektif. Ia juga menyoroti perbedaan mendasar antara perusahaan dan pesantren. Jika di perusahaan tidak ada tokoh sentral, maka di pesantren, posisi kiai menjadi sentral dalam komunikasi kelembagaan

“Di pesantren, keberadaan kiai adalah bagian dari identitas lembaga. Maka humas harus bisa menyinergikan peran tersebut dalam membentuk komunikasi yang kuat dan bernilai,” ujarnya.

Humas, lanjutnya, harus mampu mengajak mitra eksternal untuk berkontribusi membangun citra lembaga. Ini mencakup kerja sama media, sinergi dengan tokoh masyarakat, serta membangun kepercayaan publik.
Dr. Rochman juga mengingatkan pentingnya kemampuan menjawab dan merespons pertanyaan publik secara cepat, cermat, dan akurat. “Respons cepat itu bagian dari reputasi,” tegasnya.
Dalam materinya, ia menguraikan aspek-aspek penting dalam tugas kehumasan: society engagement, pemberitaan, pengelolaan media sosial, iklan, komunikasi massa, manajemen acara (event management), publikasi, informasi publik, dan hubungan masyarakat (community relation).

Peserta upgrading juga diberikan simulasi tentang bagaimana membangun personal branding sebagai representasi profesionalisme humas, termasuk cara berpakaian, berkomunikasi, serta etika menyampaikan informasi. Kegiatan ini ditutup dengan sesi refleksi dan diskusi antar peserta tentang tantangan humas di lingkungan pesantren, termasuk dinamika komunikasi dengan wali santri, stakeholder pendidikan, dan publik luas. Upgrading ini diharapkan menjadi langkah awal pembentukan humas yang adaptif, profesional, dan mampu mengikuti arus perkembangan teknologi informasi serta tantangan komunikasi publik era digital.

Ponirin berharap kegiatan semacam ini bisa dilakukan secara berkelanjutan agar humas di lingkungan pesantren tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi menjadi pilar penting dalam membangun kepercayaan publik terhadap pesantren. Dengan kegiatan ini, Pondok Pesantren Nurul Jadid kembali menegaskan visinya sebagai lembaga yang tidak hanya unggul dalam pendidikan dan keagamaan, tetapi juga dalam pengelolaan komunikasi publik yang strategis dan berkelanjutan.

 

Pewarta   : Ahmad Zainul Khofi

Pewarta   : Ponirin Mika

Humas dan Infokom Gelar Uprading Kehumasan dan Personal Branding

berita.nuruljadid.net – Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, menggelar kegiatan Upgrading Kehumasan dan Personal Branding sebagai upaya memperkuat peran strategis humas dalam membangun citra lembaga. Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu (24/05/2025) di ruang rapat utama pesantren dan diikuti oleh para praktisi humas dari unit-unit pendidikan serta lembaga internal pesantren.
Kepala Sub Bagian Humas dan Infokom Pesantren, Ponirin Mika, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam tentang pentingnya keterampilan kehumasan dan strategi membangun personal branding yang kuat.
“Institusi humas sangat penting sebagai jembatan antara pesantren dan publik. Oleh karena itu, para humas harus menguasai ilmu public relation agar mampu menjawab tantangan komunikasi modern,” jelasnya.

Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa keberhasilan citra sebuah lembaga sangat dipengaruhi oleh cara humas mengelola informasi dan membangun relasi. Ia berharap upgrading ini mampu meningkatkan profesionalisme dan kepercayaan diri para pelaku humas.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber utama Dr. Rochman Hidayat, Kepala SDM PT POMI Paiton. Dalam penyampaian materinya, ia menyoroti pentingnya peran humas dalam membentuk persepsi publik terhadap lembaga, khususnya pesantren.

“Citra baik atau buruk suatu institusi sangat ditentukan oleh kemampuan humas dalam mengelola informasi publik secara profesional dan etis,” terangnya.

Menurutnya, humas bukan sekadar penyampai informasi, tetapi juga aktor utama dalam membangun komunikasi strategis dan hubungan yang harmonis antara lembaga dan masyarakat.
Ia juga menekankan perbedaan mendasar antara perusahaan dan pesantren. Di pesantren, kata dia, ada tokoh sentral yang menjadi wajah utama lembaga, yaitu kiai. Oleh karena itu, humas harus mampu menyelaraskan peran kiai dalam membentuk narasi komunikasi kelembagaan.
Selain itu, ia menekankan pentingnya keahlian humas dalam menjalin kemitraan eksternal dan menjawab kebutuhan informasi publik dengan cepat dan akurat. Kepercayaan publik, menurutnya, dibangun dari komunikasi yang terbuka dan responsif.

Dr. Rochman juga menguraikan tugas-tugas utama public relation yang meliputi pengelolaan media, hubungan masyarakat, pengelolaan acara (event management), informasi publik, dan promosi lembaga melalui berbagai kanal komunikasi digital.
Peserta upgrading juga dibekali strategi personal branding, mulai dari cara berkomunikasi, membangun kepercayaan, hingga etika dalam menyampaikan informasi yang berdampak positif bagi citra lembaga.

Kegiatan ini diakhiri dengan sesi diskusi terbuka dan berbagi pengalaman dari para peserta mengenai tantangan kehumasan di lingkungan pesantren, termasuk komunikasi dengan wali santri dan pemangku kepentingan lainnya.
Melalui upgrading ini, Pondok Pesantren Nurul Jadid menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas kelembagaan, termasuk dalam hal komunikasi publik yang profesional, adaptif, dan berbasis nilai-nilai pesantren
.
“Kami berharap, dengan kegiatan seperti ini, humas Nurul Jadid dapat tampil lebih percaya diri, komunikatif, dan mampu membawa citra pesantren ke arah yang lebih progresif,” pungkasnya.

 

Pewarta   : Ahmad Zainul Khofi

Editor      : Ponirin Mika

Dari Nurul Jadid untuk Nusantara: BEM PTNU Kukuhkan Komitmen Keumatan dan Pendidikan

berita.nuruljadid.net – Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (BEM PTNU) menggelar Kongres Nasional ke-VIII bertajuk “Merajut Persatuan Mahasiswa Nahdliyyin untuk Mendorong Kualitas Pendidikan dan Kemandirian Umat”, yang bertempat di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, pada Sabtu (17/05/2025).

Kongres ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, antara lain Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, Rektor Universitas Nurul Jadid, Bendahara Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Wakil Menteri, serta para pejabat dan pimpinan daerah. Suasana kongres semakin semarak dengan hadirnya ratusan delegasi mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi NU se-Nusantara, termasuk para Koordinator Wilayah (Korwil) BEM PTNU dari berbagai daerah. Kehadiran mereka mencerminkan semangat kolektif untuk memperkuat peran mahasiswa NU dalam kemajuan bangsa.

Kongres yang berlangsung selama empat hari, sejak 17 hingga 20 Mei 2025 ini, juga menandai babak baru dalam konsolidasi internal BEM PTNU. Setelah sempat dilanda konflik dualisme kepemimpinan, seluruh pihak yang berselisih sepakat untuk melebur dan kembali bersatu dalam satu barisan, berlandaskan arahan dan mediasi PBNU. Momen penyatuan ini menjadi tonggak penting bagi soliditas gerakan mahasiswa NU ke depan.

Dalam kongres tersebut, A. Baha’ur Rifqi kembali dipercaya menjabat sebagai Presiden Nasional BEM PTNU periode 2025–2027. Penunjukan ini dilakukan oleh PBNU melalui Bendahara Umum PBNU, KH. Gudfan Arif Ghofur, dengan mengedepankan mekanisme musyawarah mufakat, selaras dengan prinsip dasar organisasi.

“Saya menerima amanah ini sebagai bentuk kepercayaan yang harus saya jaga sebaik-baiknya,” ujar Baha, sapaan akrabnya, dalam pidato sambutan usai penetapan.

Baha menegaskan pentingnya sinergi antara mahasiswa, institusi perguruan tinggi, dan jam’iyah NU dalam merespons tantangan zaman. Ia mengajak seluruh elemen BEM PTNU untuk tetap menjaga soliditas, menjunjung tinggi integritas, serta aktif dalam gerakan sosial, intelektual, dan keumatan.

“Kami akan terus berkomitmen untuk mengawal arah perjuangan BEM PTNU agar mampu membawa harum nama organisasi ini, baik di tingkat nasional maupun internasional,” tegasnya.

Sementara itu, KH. Gudfan Arif Ghofur menekankan bahwa BEM PTNU harus menjadi garda terdepan dalam meneguhkan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin, serta turut andil dalam pembangunan bangsa melalui pendekatan akademik dan advokasi kebijakan publik. Ia juga menyoroti pentingnya regenerasi kader NU di level mahasiswa agar tetap relevan dan adaptif dalam menghadapi dinamika zaman.

“Penunjukan kembali Baha sebagai Presiden Nasional merupakan hasil pertimbangan matang berdasarkan rekam jejak kinerjanya, serta hasil kesepakatan mufakat dari seluruh perwakilan Wilayah BEM PTNU se-Nusantara,” imbuh Gus Gudfan.

Kongres ini tidak hanya menjadi ajang konsolidasi, tetapi juga menjadi titik tolak gerakan BEM PTNU dalam memperkuat kontribusi strategis mahasiswa Nahdliyyin terhadap masa depan Indonesia yang berkeadaban.

 

Pewarta: Ahmad Rifa’i
Editor: Ponirin Mika

Muhibbus Sholawat Juara 1 Festival Banjari Se-Nusantara

berita.nuruljadid.net – Muhibbus Sholawat (MS) kembali menorehkan prestasi gemilang. Kelompok banjari Pondok Pesantren Nurul Jadid ini berhasil meraih juara pertama dalam ajang Festival Banjari Se-Nusantara yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Mamba’ul Hikam 2, Srengat, Kabupaten Blitar, pada Ahad-Senin (4-5/05/25). Kegiatan ini merupakan rangkaian acara Pra-Harlah ke-6 Majlis Sabilut Taubah.

Festival yang diikuti oleh 64 grup banjari dari berbagai daerah ini menjadi salah satu kompetisi banjari paling bergengsi di tingkat nasional. Muhibbus Sholawat tampil pada urutan ke-59 dengan jadwal manggung pukul 00.30 dini hari. Meskipun tampil larut malam, grup ini mampu menunjukkan performa terbaiknya dan berhasil memikat dewan juri. Mereka memperoleh nilai tertinggi dengan skor 97,25.

Menukil dokumen resmi hasil penilaian juri, skor Muhibbus Sholawat diikuti oleh Jadid Muazzam di posisi kedua dengan skor 96,75 dan JDFI Nasimus Shobah di peringkat ketiga dengan skor 96,5. Keberhasilan MS ini turut didampingi langsung oleh Kepala Bidang Koordinasi Olahraga dan Seni Santri (BKOSS) Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Muhammad Makki Maimun Wafi.

Dalam keterangan salah satu personil MS, M. Ridwan Adi Wijaya, menyatakan keberhasilan ini berkat latihan yang keras dan semangat tim untuk terus berkarya di bidang banjari.

“Kami berlatih keras untuk momen ini. Alhamdulillah, usaha kami tidak sia-sia. Kami selalu termotivasi untuk terus berkarya dan meningkatkan kualitas dalam bidang banjari,” katanya.

Dengan demikian, lanjut Ridwan, panitia mengundang perwakilan Muhibbus Sholawat untuk hadir dalam acara puncak Harlah Majlis Sabilut Taubah pada 19 Mei 2025 mendatang.

“Undangan tersebut, nantinya insyaAllah kami akan hadir untuk menerima penghargaan. Tidak hanya kami yang diundang, juga para juarawan yang lain,” pungkasnya.

 

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika

Pengelolaan Bahasa Asing Pesantren Nurul Jadid Jadi Percontohan

berita.nuruljadid.net– Sebanyak 7 orang dari lembaga MTs Nurussalam Kabuapaten Bondowoso melakukan kunjungan belajar ke Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo. Senin (05/05/25).

Kunjungan tersebut bertujuan untuk meniru sistem pembelajaran bahasa asing di Pondok Pesantren Nurul Jadid. Pesantren yang di asuh KH. Moh Zuhri Zaini ini dipandang mampu mengembangkan bahasa asing sehingga membuat lembaga MTs Nurussalam tertarik untuk belajar. Hal itu diungkapkan Uswadi Kepala Sekolah MTs Nurussalam saat memberikan sambutan di acara pertemuan bersama pengurus pesantren dan pengelola lembaga MTs Nurul Jadid dan SMP Nurul Jadid.

“Kami ingin belajar di pondok ini (Nurul Jadid) karena alumninya banyak yang unggul dalam berbahasa inggris. Selain itu, pengelolaan pembelajaran bahasa inggris di pesantren Nurul Jadid sangat baik,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Uswadi mengungkap keinginaannya agar dapat ilmu dari kunjungan tersebut sehingga memiliki pandangan berkait cara mengelola pembelajaran bahasa asing dilembaganya dan bisa mencontoh kepada apa yang sudah terlaksana di Nurul Jadid.

Sekretaris Pesantren H. Thohiruddin menyampaiakan bahwa pesantren Nurul Jadid sangat gembira kedatangan tamu apalagi dengan niat saling bertukar pikiran.

“Kami juga ingin mendapatkan masukan berkait dengan pengelolaan bahasa asing di pesantren kami. Ini sebagai upaya untuk terus melakukan perbaikan-perbaikan demi pengelolaan yang ideal,” ungkapnya.

Bahasa asing di Pesantren Nurul Jadid, kata Thohir salah satu bagian yang sangat penting agar santri dapat bersaing di kancah nasional.

“Banyak alumni pesantren Nurul Jadid yang melanjutkan studi di timur tengah dan eropa. Yang kerja juga banyak dan bahasa asing itu salah satu modal mereka, “ tegasnya.

 

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika

MI Nurul Mun’im Tanamkan Kesadaran Berorganisasi Lewat Pemilu Ketua OMIM

berita.nuruljadid.net — Pondok Pesantren Nurul Jadid terus berkomitmen menanamkan nilai-nilai demokrasi dan kesadaran berorganisasi sejak dini. Salah satu wujud nyata dari upaya ini adalah penyelenggaraan Pemilihan Ketua Organisasi Murid Intra Madrasah (OMIM) untuk tahun ajaran 2025–2026 oleh MI Nurul Mun’im pada Selasa, 29 April 2025.

Kegiatan yang berlangsung di aula madrasah ini melibatkan siswa kelas 4 hingga 6. Tak hanya sebagai pemilih, para siswa juga berperan aktif sebagai panitia dan petugas pemungutan suara.

“Setiap suara sangat berharga. Mari kita laksanakan pemilihan ini dengan tertib agar hasilnya membawa kebaikan bagi seluruh warga madrasah,” ujar Muhammad Syarqowi, Ketua Komisi Pemilihan Umum Madrasah.

Empat kandidat yang maju dalam kontestasi ini adalah Hamid (4A), Nauroh (4B), Adhief (5A), dan Izzah (5B). Sebelumnya, mereka telah menyampaikan visi, misi, serta program kerja dalam sesi kampanye yang berlangsung meriah.

Pemungutan suara dilaksanakan secara berurutan dan tertib. Para siswa mencoblos di bilik suara yang disediakan, kemudian memasukkan surat suara ke dalam kotak suara yang dijaga tujuh petugas KPPS yang terdiri dari siswa dan guru.

Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan, Umar Falas, menekankan pentingnya kegiatan ini sebagai bagian dari pendidikan karakter.

“Kami ingin anak-anak memahami bahwa menjadi pemimpin adalah amanah. Ini bukan sekadar soal menang, tetapi tentang membawa perubahan positif,” tuturnya.

Hasil penghitungan suara menunjukkan Hamid dari kelas 4A meraih suara terbanyak dengan 102 suara, mengungguli Adhief (32 suara), Nauroh (18 suara), dan Izzah (9 suara). Kemenangan Hamid disambut dengan sorak-sorai para pendukungnya, namun suasana tetap kondusif dan penuh sportivitas.

Wali Kelas 4A, Lailatul Qodariyah, menilai bahwa proses ini memberikan pengalaman berharga bagi para siswa.

“Melalui pemilu ini, mereka belajar menghargai proses, bertanggung jawab atas pilihan, serta memahami arti penting kepemimpinan. Ini adalah pondasi awal yang kuat dalam berorganisasi,” jelasnya.

Pemilihan Ketua OMIM di MI Nurul Mun’im bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi wahana pembelajaran politik yang sehat dan inklusif sejak usia dini. Sebuah investasi karakter yang tak ternilai bagi generasi penerus.

 

Pewarta: Rinayah Risky Rora
Editor: Ahmad Zainul Khofi

Madin Nurul Jadid Gelar Ujian Akhir Perdana Berbasis CBT

berita.nuruljadid.net- Madrasah Diniyah (Madin) Nurul Jadid tingkat SLTP untuk pertama kalinya menyelenggarakan Ujian Akhir Madrasah (UAM) berbasis Computer Based Test (CBT). Ujian ini dimulai pada Sabtu (26/04) dan diikuti oleh seluruh lembaga tingkat SLTP di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Nurul Jadid, yakni SMP Nurul Jadid, MTs Nurul Jadid, dan MTsN Probolinggo.

Pelaksanaan UAM berjalan lancar berkat persiapan matang yang dilakukan oleh Waka Kurikulum Madin bersama para koordinator laboratorium komputer dari masing-masing lembaga. Mereka memastikan kesiapan perangkat dan sistem, termasuk meminjam aplikasi CBT milik SMP Nurul Jadid.

Kepala Madrasah, Ahmad Saili, mengapresiasi penggunaan CBT karena dinilai efisien dan ramah anggaran. “Dengan CBT, kita tidak perlu lagi mencetak soal dan lembar jawaban sebanyak ribuan siswa. Ini sangat menghemat biaya,” ujarnya.

Sementara itu, Ahmad Hudri selaku Waka Kurikulum menambahkan bahwa UAM diniyah ini dilaksanakan lebih awal dari USBN sesuai kalender pendidikan Biro Pendidikan Pondok Pesantren Nurul Jadid. “Nilai dari ujian ini akan menjadi acuan dalam ijazah Madin mereka,” terangnya. Ia juga menilai bahwa CBT memungkinkan penghematan pengawas dan ruang, serta mempercepat rekap nilai.

Namun, beberapa kendala teknis tetap muncul. Koordinator Proktor, Mathlub Mu’tashim Khairi, mengungkapkan ketidakseimbangan jumlah peserta di tiap laboratorium dan keterbatasan ruangan berdasarkan jenis kelamin. Selain itu, Admin Madin SMPNJ, M. Ali Fikri Haikal, menyebutkan adanya siswa yang belum mengambil kartu ujian atau kehilangannya, sehingga perlu mengurus ulang ke kantor pusat Madin.

 

Pewarta : Ahmad Khotibul Umam Khairi

Editor : Maria Al Faradela

 

Angkat Santri Jadi Duta Lingkungan, Nurul Jadid Konsisten Jaga Kelestarian Alam

berita.nuruljadid.net – Komitmen Pondok Pesantren Nurul Jadid dalam menjaga kelestarian lingkungan kembali ditunjukkan melalui kegiatan Pemilihan Duta Lingkungan yang digelar Biro Pembangunan Umum dan Lingkungan Hidup (PULH) pada Ahad (27/4/2025), di Aula I Pesantren.

Ketua panitia, Rifdi Muhammad, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan menanamkan wawasan dan kepedulian lingkungan bagi kalangan santri. Menurut Rifdi, melalui ajang ini, pesantren tidak hanya membekali santri dengan kesadaran ekologis, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk menjadi agen perubahan lingkungan di tengah masyarakat.

“Santri yang terpilih sebagai Duta Lingkungan diharapkan mampu menjadi pelopor, menggerakkan teman-temannya untuk lebih peduli terhadap alam sekitar,” ungkap Rifdi.

Kegiatan tersebut, lanjut Rifdi, tidak semata-mata berbentuk seleksi, melainkan juga dirangkai dengan berbagai pelatihan intensif.

“Melalui pelatihan itu, para santri diajak memahami peran strategis individu dalam menjaga kelestarian bumi, sekaligus mengasah keterampilan kepemimpinan sosial yang tetap berakar pada nilai-nilai keislaman,” jelasnya.

Dalam salah satu sesi pelatihan, Nyai Hj. Nur Diana Khalidah menekankan pentingnya jiwa pelopor dalam gerakan lingkungan. Menurutnya, inisiatif, komunitas, dan kolaborasi merupakan tiga pilar utama yang harus dimiliki seorang penggerak perubahan.

“Seorang pelopor adalah pembaharu. Maka, tidak ada alasan untuk berhenti berbuat kebaikan dan memperluas jangkauan manfaatnya,” tegas Nyai Din kepada peserta santri putri.

Mujiburrohman, Alumni YSEALI, tengah mengisi acara pelatihan dalam rangkaian kegiatan Pemilihan Duta Lingkungan

Sementara itu, di sesi terpisah untuk peserta santri putra, Mujiburrohman, alumni program Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) bidang lingkungan, mendorong peserta untuk membangun citra diri positif sebagai pemimpin perubahan lingkungan.

“Seorang duta lingkungan adalah pusat perhatian. Maka ia harus menjadi teladan, tidak hanya dalam tindakan nyata menjaga lingkungan, tetapi juga dalam membangun karakter yang kuat dan positif,” ujar Mujib.

Pemilihan Duta Lingkungan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan Nurul Jadid untuk menanamkan nilai tanggung jawab ekologis sebagai bagian integral dari pendidikan pesantren. Dengan menyiapkan generasi muda yang sadar lingkungan, pesantren berharap dapat ikut mengambil peran dalam merawat bumi sebagai amanah nilai-nilai keagamaan sekaligus tanggung jawab kemanusiaan.

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika

75 Murid TPQ Mas Yusuf Malang Antusias Belajar Sistem Pendidikan Pesantren Nurul Jadid

berita.nuruljadid.net – Sebanyak 75 murid Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Mas Yusuf, Malang, melakukan kunjungan edukatif ke Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, pada Ahad (27/04/2025). Kunjungan ini menjadi momentum penting untuk mengenal lebih dekat sistem pendidikan pesantren yang telah terbukti mencetak generasi berkualitas.

Irwan Hidayat, salah satu pendamping rombongan, mengungkapkan bahwa tujuan utama dari kunjungan ini adalah untuk mempelajari secara langsung pola pendidikan dan pembinaan karakter yang diterapkan di Nurul Jadid. Ia menilai, di tengah arus modernisasi, pesantren tetap menjadi benteng moral bangsa.

“Dalam kondisi sekarang, pesantren adalah lembaga pendidikan yang paling ideal untuk menyelamatkan anak bangsa,” tegas Irwan dengan penuh semangat.

Ia juga menyoroti fenomena banyaknya generasi muda yang enggan menempuh pendidikan pesantren. Menurutnya, hal itu menjadi tantangan tersendiri, sebab lembaga di luar pesantren belum sepenuhnya mampu menjamin keselamatan akhlak dan masa depan anak-anak.

“Pesantren sudah teruji dalam mencetak manusia yang baik, berkarakter, dan tahan menghadapi tantangan zaman,” imbuhnya.

Sekretaris Pesantren Nurul Jadid, H. Thohiruddin, turut menyambut hangat kehadiran para tamu. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi niat baik TPQ Mas Yusuf yang ingin menimba ilmu dari sistem pendidikan pesantren.

“Bagi kami, ini merupakan kehormatan besar. Pesantren selalu siap berbagi pengalaman dan sistem pendidikan yang telah lama dirawat dan dikembangkan,” ucap H. Thohiruddin di hadapan peserta kunjungan di Aula 2 Pesantren.

Ia menambahkan bahwa Pesantren Nurul Jadid merupakan lembaga pendidikan yang terus berinovasi menyesuaikan kebutuhan zaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman yang menjadi landasannya.

“Nurul Jadid selalu berusaha update dengan kebutuhan masyarakat, agar santri yang kami bina tidak hanya menguasai agama, tapi juga mampu berkontribusi di berbagai bidang kehidupan,” ujarnya.

Lebih lanjut, H. Thohiruddin mengungkapkan bahwa sejak awal, pendiri Nurul Jadid tidak hanya bertujuan mencetak kiai, melainkan membentuk manusia-manusia baik yang bisa bermanfaat di mana pun mereka berada.

Alumni pesantren ini, lanjutnya, tersebar di berbagai sektor; ada yang menjadi ulama, pendidik, profesional, hingga pegiat sosial. Hal ini menjadi bukti nyata dari visi besar pesantren dalam membentuk kader-kader bangsa.

Suasana kunjungan berlangsung penuh semangat dan kekeluargaan. Para murid TPQ dengan antusias menyimak paparan tentang pola pembelajaran, kurikulum, dan kehidupan santri di Pesantren Nurul Jadid.

Selain itu, mereka juga berkesempatan berkeliling area pesantren, melihat langsung fasilitas pendidikan, asrama santri, serta pusat kegiatan keagamaan yang menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter santri.

Kegiatan diakhiri dengan sesi tanya jawab interaktif, di mana para peserta kunjungan dapat menggali lebih dalam tentang kiat-kiat sukses pendidikan berbasis pesantren.

Kunjungan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi TPQ Mas Yusuf untuk memperkuat sistem pendidikan mereka dan membuka cakrawala para murid tentang pentingnya pendidikan berbasis nilai.

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika

Nurul Jadid Gelar Pembinaan Pengabdi, Dorong Loyalitas dan Disiplin Kerja

berita.nuruljadid.net – Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, menggelar pembinaan terhadap sejumlah pengabdi yang absen dalam beberapa agenda resmi pesantren. Kegiatan yang digelar di Aula Pesantren, Ahad, 20 April 2025, ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kedisiplinan dan loyalitas kerja di lingkungan pesantren dan satuan pendidikan.

Inisiatif ini diinisiasi oleh Subbagian Kepegawaian dan Organisasi Tata Laksana (Ortala) pesantren. Sasaran utama kegiatan adalah para pengabdi yang tercatat tidak hadir dalam agenda penting seperti halal bihalal, buka bersama, dan apel pagi pasca-libur Ramadan.

“Pembinaan ini bentuk perhatian sekaligus penguatan kedisiplinan. Selain itu, menjadi ajang silaturahmi antar pengurus atau pengabdi,” kata Sekretaris Pesantren, H. Tahiruddin, dalam arahannya.

Menurutnya, pengabdian di pesantren tak hanya dimaknai sebagai pekerjaan rutin, tetapi juga bentuk ibadah dan komitmen moral dalam mendidik generasi santri. Karena itu, kehadiran dan partisipasi aktif dalam agenda pesantren tersebut dinilai sebagai indikator penting dalam menjaga semangat kolektif.

“Kita bukan sedang memberi hukuman, tapi mengingatkan kembali makna pengabdian. Disiplin adalah bagian dari keikhlasan bekerja,” ujar perwakilan Subbag Ortala dalam sesi pengarahan.

Pembinaan diikuti sekitar 200 pengabdi dari berbagai satuan kerja maupun pendidikan. Mereka mendapatkan pengarahan langsung dari sekretaris pesantren, serta mengikuti sesi diskusi yang membahas tanggung jawab moral dan pentingnya menjaga etos kerja.

Pesantren menilai, tanpa kedisiplinan dan loyalitas, roda organisasi tidak akan berjalan optimal. Karena itu, pembinaan semacam ini disebut akan terus dilakukan secara berkala untuk menjaga kualitas sumber daya manusia yang menopang layanan pesantren kepada santri, wali santri, maupun masyarakat luas.

“Ini momentum reflektif bagi kita semua. Semangat, tanggung jawab, dan kehadiran dalam setiap agenda adalah bagian dari kontribusi nyata membangun pesantren,” ujar Tahiruddin.

Para peserta tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan. Selain mendapatkan materi penguatan kedisiplinan, mereka juga terlibat dalam forum diskusi internal sebagai upaya memperkuat komunikasi antar satuan kerja dan pendidikan.

Pesantren Nurul Jadid menargetkan pembinaan ini bisa menjadi fondasi bagi terbangunnya kultur kerja yang profesional namun tetap berlandaskan nilai-nilai kepesantrenan. Penguatan SDM pengabdi atau pengurus menjadi bagian dari visi besar menjadikan pesantren yang mandiri, modern, dan berwawasan global.

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika

Bangun Toleransi Antariman, Nurul Jadid Terima Kunjungan Gereja Ngawi Wetan

berita.nuruljadid.net – Gereja Ngawi Wetan melakukan kunjungan silaturahmi ke Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Kabupaten Probolinggo, Ahad, 13 April 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda tahunan Komisi Antar Umat (KAUM) gereja tersebut dalam rangka mempererat toleransi antarumat beragama.

Ketua Komisi Antar Umat, Dwi Kasongko, mengatakan kunjungan ini bertujuan membangun ruang dialog dan memperkuat jalinan persaudaraan lintas iman. “Pesantren ini menjadi salah satu tempat penting bagi kami karena konsisten merawat nilai-nilai keterbukaan dan toleransi,” kata Dwi saat memberikan sambutan.

Menurut dia, Pondok Pesantren Nurul Jadid telah menjadi mitra rutin dalam program tahunan KAUM. Setiap kunjungan, kata Dwi, selalu memberi pelajaran baru tentang pentingnya hidup berdampingan secara damai.

Rombongan gereja disambut oleh Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, beserta sejumlah pengajar dan santri senior. Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh penghargaan terhadap perbedaan.

KH. Zuhri mengapresiasi inisiatif kunjungan lintas iman ini. “Semoga pertemuan ini menjadi awal yang baik untuk mempererat hubungan antarumat beragama. Kita harus terus merawat perdamaian, karena itu adalah ajaran utama dalam agama mana pun,” ujarnya.

Beliau menambahkan bahwa pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu keislaman, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan seperti saling menghormati dan hidup berdampingan. Hal ini, menurut beliau, penting diajarkan kepada generasi muda sejak dini.

Selain berdiskusi, kedua belah pihak juga saling bertukar pandangan mengenai strategi membumikan nilai toleransi di masyarakat. Rombongan gereja diajak berkeliling lingkungan pesantren dan melihat langsung aktivitas para santri.

Kunjungan ditutup dengan doa bersama yang dipimpin bergantian oleh perwakilan gereja dan pesantren. Doa menjadi penanda komitmen bersama dalam menjaga perdamaian dan kerukunan di tengah keberagaman.

Langkah ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak sebagai upaya konkret memperkuat harmoni lintas agama. Gereja dan pesantren, melalui kerja sama ini, menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan bukanlah hambatan untuk membangun persaudaraan.

 

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika

Kiai Zuhri Zaini: Hikmah Nuzulul Qur’an dan Pentingnya Istiqamah dalam Ibadah

berita.nuruljadid.net- Peringatan Nuzulul Qur’an di Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ) berlangsung dengan penuh kekhidmatan. Pada Sabtu (15/03), majelis dzikir watta’lim Ahbabul Musthofa hadir sebagai tamu istimewa untuk menggelar Khotmil Qur’an di Masjid Jami’ Nurul Jadid. Kedatangan mereka disambut langsung oleh Pengasuh PPNJ, KH. Moh. Zuhri Zaini, yang memberikan pesan mendalam tentang hikmah turunnya Al-Qur’an dan pentingnya istiqamah dalam menjalankan ibadah.

Sebagai bagian dari agenda tahunan, Ahbabul Musthofa rutin mengadakan rangkaian kegiatan mulai tanggal 10 hingga malam 28 Ramadhan di berbagai wilayah Kraksaan dan sekitarnya. Kehadiran mereka di PPNJ menjadi momen spesial yang bertepatan dengan penutupan Semarak Ramadhan, yang senantiasa dinanti oleh para santri dan masyarakat.

Dalam sambutannya, Kiai Zuhri Zaini mengungkapkan bahwa Khotmil Qur’an bukan sekadar tradisi, tetapi juga sarana untuk memperkuat hubungan dengan Al-Qur’an. “Acara ini adalah bentuk rasa syukur kita atas nikmat besar yang Allah berikan, yaitu turunnya Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup bagi seluruh umat manusia,” tuturnya.

Beliau menjelaskan bahwa Al-Qur’an memiliki peran utama dalam membimbing umat menuju kebahagiaan dan keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat. “Siapa yang berpegang teguh pada Al-Qur’an, niscaya hidupnya akan penuh keberkahan dan jauh dari kesesatan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Kiai Zuhri menekankan bahwa salah satu bentuk syukur atas turunnya Al-Qur’an adalah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sarana untuk melatih diri dalam mengendalikan hawa nafsu serta memperbaiki akhlak.

“Tanda keberhasilan puasa bukan hanya saat Ramadhan, tetapi terlihat dari perubahan perilaku kita di bulan-bulan berikutnya. Amal ibadah yang diterima adalah yang membawa kita pada kebaikan yang semakin meningkat, hingga akhirnya kita menghadap Allah dalam keadaan husnul khotimah,” pungkas beliau.

Pewarta : Moh. Wildan Dhulfahmi
Editor     : Ponirin Mika

Perjalanan Mencari Pemahaman: Antara Hati, Pikiran, dan Iman

Curahan Hati Seorang Santri

penasantri.nuruljadid.net- Saya memulai perjalanan saya di pesantren tanpa pemahaman yang jelas tentang arti hati dan pikiran. Baru pada saat kelas 3 SLTA, saya mulai menyadari bahwa hati yang baik akan selalu menghasilkan kebaikan, sementara hati yang buruk akan menuntun pada kesalahan. Kesimpulannya, antara hati dan pikiran, hati adalah tempat yang menerima baik dan buruknya pikiran. Sementara itu, pikiran sering memperdebatkan apa yang diterima oleh hati.

Mengapa demikian? Karena jika hati dan pikiran bertentangan, maka permasalahan yang ada akan sulit untuk menemukan solusi. Sebelum memulai kehidupan di pesantren, saya merasa bingung mengenai jurusan yang ingin saya pilih. Saya berkeinginan untuk masuk jurusan RPL SMK yang kemudian dilanjutkan dengan mempelajari Al-Qur’an. Itu adalah niat tulus dari hati saya. Namun, takdir berkata lain, saya justru diterima di program UI MANJ.

Saat memasuki kelas 1, saya sering mendengar sebuah kata motivasi yang berbunyi: “Usaha tanpa doa adalah sombong, sedangkan doa tanpa usaha adalah bohong.” Pada awalnya, saya merasa bingung dan tidak sepenuhnya memahami maksud dari kalimat tersebut, karena tidak dijelaskan secara rinci. Namun, saat memasuki kelas 3, saya mulai bisa menangkap makna yang terkandung dalam kata-kata tersebut.

Pemahaman saya terhadap kalimat tersebut datang dengan menghubungkan konsep agama dan ilmu pengetahuan. Ketika dilihat dari perspektif agama, kalimat itu terasa lebih mudah dipahami dibandingkan jika dianalisis hanya dengan pendekatan ilmu alam. Sebagai contoh, ketika guru saya menjelaskan kalimat ini, beliau menekankan pentingnya usaha dan doa yang harus dilakukan oleh seorang hamba. Salah satu bukti nyata dari usaha dan doa adalah ketika kita berusaha untuk rutin melaksanakan shalat tahajjud. Pada saat itu, kita akan diuji dengan kesulitan untuk menjaga keistiqomahan, karena iman kita kepada Tuhan mungkin masih belum cukup kuat.

Saya ingin menekankan pada kalimat “Usaha tanpa doa adalah sombong, sedangkan doa tanpa usaha adalah bohong” yang mengandung makna bahwa jika usaha kita tidak disertai dengan doa, maka kita seakan tidak percaya kepada Tuhan. Sebaliknya, doa tanpa usaha adalah sia-sia, karena doa yang dilakukan tanpa keyakinan pada kekuasaan Tuhan juga tidak akan membuahkan hasil. Ini adalah pandangan saya dalam perspektif agama.

Selanjutnya, saya mencoba melihat kalimat tersebut dari sudut pandang ilmiah. Sebagai seorang murid, akan sulit bagi kita untuk memahami kalimat tersebut tanpa adanya kepercayaan yang kuat. Misalnya, dalam konteks pembelajaran, seorang guru harus terlebih dahulu memastikan bahwa muridnya memiliki pemahaman yang baik mengenai keyakinan agama. Jika tidak, maka penjelasan tentang usaha dan doa hanya akan terasa kosong. Dengan kata lain, guru harus memberikan pemahaman agama yang kuat sebelum membahas konsep-konsep lain yang berhubungan dengan kehidupan, termasuk usaha dan doa.

Jika seorang murid tidak yakin dengan keesaan Tuhan, maka ia akan kesulitan dalam mengamalkan doa dan usaha dengan konsisten. Dalam hal ini, peran guru sangat penting untuk memastikan bahwa pemahaman agama yang benar diterima dengan baik oleh setiap santri. Tanpa itu, murid akan merasa kebingungan dalam mengamalkan apa yang telah diajarkan.

Sekarang, izinkan saya berbagi pengalaman pribadi terkait kalimat “Usaha tanpa doa adalah sombong, sedangkan doa tanpa usaha adalah bohong.” Saat saya memasuki kelas 1 UI MANJ, saya merasa tertekan untuk mengikuti berbagai kegiatan. Namun, saya tetap menjalankan rutinitas tersebut. Saya sempat heran mengapa beberapa teman seangkatan saya tampak tidur saat pelajaran berlangsung. Meski demikian, saya berusaha untuk tidak mengikuti mereka dan terus berusaha untuk tetap fokus. Alhamdulillah, saya berhasil bertahan selama satu tahun.

Saat memasuki kelas 2, saya merasa tidak konsisten dalam melaksanakan shalat tahajjud, meskipun saya telah berniat untuk menjaga istiqomah. Banyak cobaan yang datang, membuat saya merasa kesulitan untuk tetap istiqomah. Hingga pada akhirnya, di kelas 3, saya merasa mulai menyerah untuk melaksanakan tahajjud secara rutin dan ingin merasa bebas. Oleh karena itu, saya berhenti melaksanakan tahajjud. Saya merasa bahwa kebebasan yang saya rasakan justru semakin menguatkan rasa keinginan untuk lepas dari kewajiban tersebut.

Namun, saya segera menyadari bahwa kebebasan yang saya nikmati di akhir masa pondok adalah suatu kesalahan besar. Pada akhirnya, saya memutuskan untuk kembali kepada niat awal saya, yaitu berusaha menjaga istiqomah dalam menjalankan ibadah. Dalam sebulan terakhir, saya memohon agar diberikan petunjuk oleh Allah, dan Alhamdulillah, Allah mengabulkan doa saya. Dengan petunjuk-Nya, saya kembali berada di jalan yang benar.

Setelah berkonsultasi dengan salah satu guru MANJ, beliau menyampaikan pesan yang sangat berarti. Beliau mengatakan bahwa pada akhir tahun, banyak santri yang bertaubat dengan sungguh-sungguh (taubat nasuhah), tetapi tidak semua orang bisa menyadari kesalahan mereka. Kelas 3 merupakan waktu yang tepat untuk bertaubat dengan sepenuh hati. Taubat ini akan membawa efek positif, yakni mengingatkan kembali niat yang telah diikrarkan saat masih berada di kelas 1.

Kini, saya menyadari kesalahan saya di masa lalu, yaitu tidak sepenuhnya percaya kepada Tuhan. Namun, dengan bimbingan dan petunjuk Allah, saya kembali ke jalan yang benar. Saya berharap agar pengalaman ini dapat menjadi pembelajaran bagi saya dan orang lain, serta menjadi motivasi untuk terus memperbaiki diri.

Sebagai solusi, saya ingin memberikan saran kepada para guru dan pengurus pesantren untuk lebih menekankan pentingnya kepercayaan terhadap keesaan Allah dan pemahaman yang benar tentang taubat nasuhah. Seperti yang pernah disampaikan oleh Kyai Imdad Rabbani, “Jika kita mengutamakan kehidupan duniawi, maka kita akan kesulitan dalam mencapainya. Namun, jika kita mengutamakan kehidupan akhirat, dunia akan mengikuti dengan sendirinya.”

Semoga pesan ini dapat memberikan motivasi kepada semua santri dan guru untuk lebih giat dalam berusaha dan berdoa, serta menjadikan taubat nasuhah sebagai bagian dari perjalanan spiritual yang lebih baik di masa depan.

Penulis  : Dimas Fajrul Falaq
Editor    : Ponirin Mika

*) Siswa Unggulan IPA (UI) Madrasah Aliyah Nurul Jadid sekaligus santri asrama daerah Sunan Giri (M) wilayah Syeikh Jumadil Kubro (01) pusat 

Kiai Zuhri: Liburan Bukan Pembebasan Kewajiban

berita.nuruljadid.net- Setelah melaksanakan sholat taraweh, para santri di Pesantren Nurul Jadid tidak langsung meninggalkan masjid. Mereka menunggu pengarahan terkait liburan santri sekaligus tausiyah dari Pengasuh Pesantren, Kiai Zuhri, yang berlangsung di Masjid Jami’ Nurul Jadid pada Jumat malam (14/03).

Dalam sambutannya, Kiai Zuhri menegaskan agar para santri tidak mengartikan liburan sebagai waktu pembebasan dari kewajiban. Sebaliknya, beliau mengingatkan agar liburan dipandang sebagai waktu istirahat untuk melepaskan penat setelah menjalani rutinitas padat di pesantren.

“Liburan bukanlah pembebasan kewajiban, tetapi waktu untuk beristirahat dan merenungkan sejauh mana pesantren telah mengubah diri kita,” ujar Kiai Zuhri.

Lebih lanjut, beliau berpesan agar santri memanfaatkan waktu liburan di rumah untuk mengevaluasi diri. Menurutnya, liburan adalah kesempatan untuk membuktikan pada orang tua dengan berbakti dan menunjukkan akhlak yang baik.

“Keberhasilan yang sejati bukan hanya dari ilmu yang diamalkan, tetapi juga dari akhlak yang baik,” pesan Kiai Zuhri.

Selain itu, Kiai Zuhri juga mengingatkan agar para santri tidak hanya fokus pada kehidupan saat ini, tetapi juga mempersiapkan diri untuk masa depan, baik di masyarakat maupun di hadapan Allah. Beliau juga mengingatkan agar santri tidak terjerumus pada nafsu yang dapat menghalangi perkembangan diri.

Kiai Zuhri juga memberikan pesan kepada santri yang akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi untuk tetap menjaga nama baik pesantren dan tidak lupa akan status mereka sebagai santri.

“Selain mencari pengalaman, kita harus bijak dalam memilih lingkungan dan teman. Jangan sampai terpengaruh pada hal-hal yang tidak baik,” tegas beliau.

Kiai Zuhri juga memberikan petuah kepada pengurus pesantren untuk senantiasa mendahulukan tugas daripada kepentingan pribadi. “Jika kita sudah dilatih untuk mengabdi di pesantren, kita akan terbiasa memberikan manfaat kepada masyarakat,” imbuhnya.

Mengakhiri tausiyahnya, Kiai Zuhri mengingatkan bahwa segala usaha yang dilakukan tanpa pertolongan Allah akan menemui kegagalan. Oleh karena itu, setelah berusaha, hendaknya selalu bertawakal kepada-Nya.

Setelah tausiyah selesai, Sekretaris Biro Kepesantrenan, Alief Hidayatullah, memberikan pengarahan terkait jadwal liburan Ramadhan santri. Liburan untuk santri puteri dimulai pada 16 Maret/16 Ramadhan hingga 13 April/11 Syawal. Sementara liburan santri putera dimulai pada 17 Maret/17 Ramadhan hingga 14 April/12 Syawal.

Pewarta : Moh. Wildan Dhulfahmi
Editor     : Ahmad Zainul Khofi

Halaqah Alumni Nasional: Merajut Kebersamaan dan Menguatkan Sanad Perjuangan

berita.nuruljadid.net– Dalam upaya mempererat tali silaturahmi dan memperkuat sanad perjuangan, Pengurus Pembantu Pondok Pesantren Nurul Jadid (P4NJ) menggelar Halaqah Alumni Nasional di Aula 1 PPNJ pada Jumat (14/03). Acara yang dihadiri lebih dari 150 alumni ini tidak hanya menjadi ajang temu kangen, tetapi juga menjadi forum strategis untuk membahas berbagai persoalan yang tengah dihadapi para alumni, terutama yang bergerak di bidang politik.

Ketua P4NJ Pusat, Kiai Junaidi Mu’ti, dalam sambutannya menyoroti fenomena perpecahan di kalangan alumni akibat perbedaan pandangan, khususnya di dunia politik. Ia menilai bahwa konflik yang kerap terjadi harus segera diselesaikan agar tetap terjalin ukhuwah Islamiyah di antara sesama alumni.

“Kami ingin membentuk komunitas alumni, terutama bagi mereka yang bergerak di dunia politik, agar tidak lagi terjadi perpecahan akibat perbedaan pandangan. Setiap tahun, kita menyaksikan konflik yang berulang di kalangan alumni, dan ini harus kita akhiri dengan kebersamaan,” ujarnya.

Menurutnya, musibah terbesar bagi umat Islam bukanlah kebencian dari kaum non-Muslim, melainkan permusuhan di antara sesama Muslim. Oleh karena itu, ia mendorong terbentuknya komunitas alumni berbasis profesi yang saat ini telah memiliki delapan asosiasi. Komunitas tersebut diharapkan dapat menjadi kekuatan besar dalam memajukan pesantren dan memberikan kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat.

Kiai Zuhri Zaini: Dakwah Harus Ditegakkan dengan Akhlakul Karimah

Dalam kesempatan yang sama, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, Kiai Zuhri Zaini, menyampaikan arahan kepada para alumni yang hadir. Ia menegaskan pentingnya silaturahmi sebagai jalan untuk mendapatkan keberkahan dalam hidup.

“Silaturahmi adalah kunci keberkahan. Jika ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaknya terus menjalin silaturahmi,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Kiai Zuhri menyoroti citra Islam yang kerap mendapat stigma negatif di mata dunia. Menurutnya, Islam adalah agama yang mulia, namun pandangan buruk yang berkembang di Barat muncul akibat perilaku sebagian umat Islam yang tidak mencerminkan nilai-nilai luhur ajaran Islam itu sendiri.

“Tugas kita adalah mengamalkan Islam dengan benar, khususnya dalam menjunjung tinggi akhlakul karimah. Keindahan Islam harus tercermin dalam perilaku kita, bukan hanya dalam ucapan,” tegasnya.

Kiai Zuhri juga mengingatkan alumni bahwa tugas dakwah tidak hanya menjadi kewajiban para kiai atau muballigh, tetapi juga dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja.

“Dakwah bukan hanya dengan lisan, tetapi juga melalui tindakan dan keteladanan. Seorang santri harus mampu melanjutkan perjuangan para masyayikh dengan menyebarkan ilmu dan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.

Halaqah Alumni Nasional ini diharapkan menjadi momentum bagi para alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid untuk merajut kembali kebersamaan, memperkuat peran di masyarakat, serta melanjutkan perjuangan para ulama dengan semangat persatuan dan persaudaraan.

Pewarta : Moh. Wildan Dhulfahmi
Editor     : Ponirin Mika