Di Bawah Langit Nurul Jadid, Lelaki Pun Tak Kuat Menahan Tangis

Ribuan langkah kembali menginjakkan kaki di bumi Pondok Pesantren Nurul Jadid. Suasana syahdu seketika menyelimuti setiap sudut pesantren saat momentum perpisahan tiba. Sautan tangisan lirih mulai mengalir, membasahi garis-garis wajah para orang tua—para pejuang di jalan Tuhan yang dengan ikhlas mengantarkan anak-anak mereka menuntut ilmu.

Di bawah langit Nurul Jadid yang teduh, waktu seolah berjalan begitu lambat saat setiap pelukan hangat antara orang tua dan anak secara perlahan mulai terlepas. Ada jeda yang berat di sana. Sebuah momentum sakral di mana kerelaan melepas sang buah hati bertarung melawan rindu harus berkejaran dengan keteguhan hati demi masa depan.

Pemandanganmengharukan tampak jelas dari sudut-sudut tenda. Para ayah, lelaki tegap yang biasa menjadi pelindung keluarga, terlihat tak mampu menahan air mata yang sedari tadi tak membendung di pelupuk mata. Mereka bersikeras, tak mengizinkan setetes pun air mata kelemahan itu terlihat oleh sang buah hati, demi menanamkan kekuatan pada jiwa sang santri baru.

Lalu lalang ribuan santri dan wali santri menciptakan hiruk pikuk yang tak berarah di area pesantren. Riuh suara langkah kaki, gemuruh obrolan, dan tumpukan barang bawaan sempat menciptakan kebingungan di tengah padatnya arus manusia yang datang dari berbagai daerah. Namun, di tengah keriuhan yang nyaris tak terkendali itu, tampak satuan berjas merah dengan penuh perkasa nan berwibawa. Mereka bergerak taktis, menangani keramaian dengan kesantunan komparatif yang mencerminkan akhlak sejati seorang santri. Mereka adalah Satuan Tim Keamanan dan Ketertiban, atau yang akrab disebut KAMTIB.

“Di bawah tenda merah ini, tugas kami sebagai tim keamanan dan ketertiban berperan menjadi protokol sekaligus pengarah bagi para wali santri,” ujar salah satu anggota Kamtib putri yang ramah dan kerap disapa Mia, di tengah kesibukannya mengatur jalannya Penerimaan Santri Baru (PSB).

Mia menjelaskan bahwa beberapa titik penjagaan ketat sengaja dibentuk oleh tim Kamtib. Langkah ini menjadi salah satu upaya krusial dalam mengawasi dan memastikan seluruh rangkaian prosesi PSB berjalan dengan aman, tertib, dan lancar tanpa hambatan berarti. Tentu saja, pengawasan di lapangan tak luput dari kendala yang sesekali menghalangi jalannya penjagaan. Namun, bagi personel Kamtib yang terlatih, kendala tersebut tidak sampai menjadi permasalahan yang serius; tantangan terbesar biasanya hanyalah memberikan pengertian ekstra kepada segelintir wali santri yang terkadang tidak sengaja melanggar arahan akibat kepanikan atau rasa lelah.

Menariknya, pelaksanaan PSB tahun ini membawa atmosfer yang sedikit berbeda dan lebih hangat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Perbedaan yang paling mencolok dan dirasakan langsung oleh keluarga santri adalah kelonggaran terkait aturan berkunjung atau “sambang” di area lingkup PSB.

Jika pada tahun lalu aturan ketat hanya memperbolehkan santri aktif menemui keluarga yang mendaftarkan saudara kandungnya, tahun ini kebijakan baru membawa angin segar. Sesuai dengan arahan dan izin dari pengasuh tertinggi, santri aktif kini diperbolehkan menemui keluarga, saudara, bahkan tetangga dekat di area PSB—sebuah kelonggaran yang berhasil membasuh dahaga rindu di tengah air mata perpisahan.

Pewarta : Zahro Fakhr An-nisa’

Editor    : Maria Al Faradela

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *