Santri Baru Mengenal Cikal Bakal Berdirinya Pesantren Nurul Jadid di OSABAR 2024

berita.nuruljadid.net – Sabtu (14/07/24), hari pertama Orientasi Santri Baru (OSABAR), panitia menggelar kegiatan pematerian Selayang Pandang di Aula Pesantren. Rangkaian kegiatan Orientasi Santri Baru (OSABAR) 2024 ini dilaksanakan di dua lokasi, yakni dalam ruangan (indoor) dan luar ruangan (outdoor). Dua lokasi tersebut digelar secara paralel dalam satu waktu, seluruh peserta secara bergantian mengikuti kegiatan di dua lokasi tersebut.

Di dalam ruangan (indoor), panitia menghadirkan Saili Aswi sebagai narasumber dalam sesi pematerian bertema “Selayang Pandang”. Dalam kesempatan itu, beliau memulai sesi dengan menerangkan definisi dan makna Selayang Pandang.

“Selayang Pandang itu diambil dari kata layang berarti melayang-layang, dan pandang yang berarti hanya sekali dilihat lalu lupa,” terang Saili disambut oleh gelak tawa peserta OSABAR.

Definisi ini bukan yang sesungguhnya, namun itu hanya candaan pria berasal dari Kepulauan Raas, Sumenep itu untuk menyapa peserta osabar.

Saili juga memaparkan alasan mengapa Selayang Pandang termasuk menjadi salah satu materi penting untuk kegiatan OSABAR. Menurutnya, materi ini akan mengenalkan santri baru tentang asal muasal berdirinya pesantren serta biografi keluarga pengasuh Nurul Jadid.

“Tak kenal maka tak sayang. Sebelum lebih jauh menekuni ilmu di Nurul Jadid, baiknya para santri mengenal lebih dulu lingkungan tempat mereka belajar, hal ini juga membantu santri agar lebih adaptif,” ungkap beliau.

Selanjutnya, Kepala Madrasah Diniyah Nurul Jadid itu mulai menceritakan cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Nurul Jadid, di mulai sejak kedatangan pendiri K.H. Zaini Mun’im di tanah Karanganyar hingga masa perkembangan periode kedua yang kini tengah diasuh oleh K.H. Moh. Zuhri Zaini.

Di penghujung acara, Saili menegaskan beberapa prinsip pesantren yang harus diketahui oleh santri.

“Pertama, Nurul Jadid hanya mencetak santri menjadi serba bisa (multidisiplin, red.). Kedua, Nurul Jadid itu memiliki sistem salaf dan modern. Terakhir, seluruh santri itu masuk ke Nurul Jadid niatnya harus satu yakni hanya untuk mengaji dan membina akhlakul karimah,” tutup beliau.

 

Pewarta : Shelma Nasywa Ramadhani Munir

Editor: Ahmad Zainul Khofi

OSABAR 2024 Angkat Tema ‘Tradisi, Inovasi, Prestasi’

berita.nuruljadid.net – Pembukaan Akbar (Grand Opening) Orientasi Santri Baru (OSABAR) tahun 2024 Pondok Pesantren Nurul Jadid sukses digelar pada Jumat malam (12/07/24) di Aula Pesantren. Tahun ini, OSABAR mengusung tema ‘Tradisi, Inovasi, Prestasi’.

Tema yang diusung tersebut bukanlah pajangan semata, akan tetapi ada makna yang diusung dalam pekan orientasi tahun ini. Sebagaimana yang disampaikan oleh Ketua Panitia OSABAR Putri, Lu Aili Zahrotunnisa bahwa tema tersebut mengandung tradisi kepesantrenan yang mendorong para santri baru untuk melahirkan inovasi, dari inovasi itu kemudian menjadi prestasi bagi santri.

“Makna tema tersebut juga termasuk harapan kami pada seluruh santri baru yang mengikuti OSABAR tahun ini,” ungkap Pembina Panji Pelapor tersebut.

Selain itu, ungkap Lu Aili, terdapat makna mendalam pada logo OSABAR tahun ini. Dalam logo tersebut ada simbol pena dan kertas kosong yang memiliki makna perjuangan santri dalam menempuh pendidikan di pesantren.

“Pena kami ibaratkan sebagai santri baru, sedangkan kertas adalah wadah yang nantinya akan mereka isi dengan ragam pengalaman selama berada di pesantren” jelas pengurus Wilayah Az-Zainiyah itu.

Tak henti di situ, Lu Aili juga menyebut tema OSBAR kali ini terinspirasi dari Dubai Expo yang kemudian disadurnya menjadi Enje Expo.

“Seperti biasa, acara kita terinspirasi dengan event lagi tren di luar sana, berhubung sekarang ada Dubai Expo, kita modifikasi dan kreasikan menjadi Enje Expo,” tuturnya.

 

Pewarta: Shelma Nasywa Ramadhani Munir
Editor: Ahmad Zainul Khofi

Kenalkan Budaya Pesantren, Nurul Jadid Orientasi Ribuan Santri Baru

berita.nuruljadid.net Sebanyak 1600-an Santri Baru Pondok Pesantren Nurul Jadid, yang baru saja resmi bergabung melalui Penerimaan Santri Baru (PSB) tahun 2024, memulai rangkaian Orientasi Santri Baru (OSABAR), Jumat malam (12/07/24) di Aula Pesantren.

Menurut Muslehuddin Jauhari, koordinator pelaksana Penerimaan Santri Baru (PSB), setelah sesi penerimaan satu atap, seluruh santri baru wajib mengikuti OSABAR yang berlangsung selama 3 hari.

“Tujuan OSABAR adalah memberikan pemahaman mendalam mengenai kehidupan pesantren serta membantu santri baru beradaptasi dengan lingkungan baru mereka,” ungkapnya.

Sementara itu, Koordinator OSABAR, Ahmad Jazim, menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk memperkenalkan kegiatan kepesantrenan, tetapi juga untuk membangun kedisiplinan dan kebersamaan di antara santri baru.

“Kami berharap OSABAR ini dapat membantu santri baru untuk mengenal nilai-nilai kepesantrenan dan berintegrasi dengan baik di pesantren ini,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Biro Kepesantrenan, Gus Ahmad Madarik, menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada masyarakat yang telah mempercayakan pendidikan agama putra-putrinya di Pondok Pesantren Nurul Jadid.

“Kami sangat berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat. Hal ini menunjukkan tingginya kepercayaan terhadap pendidikan dan pembinaan di pesantren kami,” ungkap Gus Madarik.

Beliau juga menekankan pentingnya santri baru menjaga akhlak baik yang telah menjadi kebiasaan di rumahnya masing-masing.

“Kalau ada santri yang sebelum mondok akhlaknya belum baik, saatnya sekarang untuk diperbaiki. Niat mondok untuk mengaji dan membina akhlakul karimah” tegasnya.

Dengan mengutip hadits yang tertera dalam Kitab Arba’in Nawawi, Gus Madarik menyampaikan bahwa perbuatan seseorang itu tergantung dari niatnya.

Putra sulung almarhum Kiai Wahid Zaini juga menambahkan pesannya agar santri baru menghormati orang tua, kiai, guru dan pengurus pesantren.

“Kalau disuruh ngaji atau belajar oleh pengurus harus diikuti. Jangan cari alasan-alasan yang tidak baik,” imbuhnya.

 

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi

Editor: Ponirin Mika

Peduli Lingkungan, Siswa MI Nurul Mun’im Sulap Botol Bekas Jadi Meja

berita.nuruljadid.net – MI Nurul Mun’im (MINM) terus berupaya mendorong siswa/i nya untuk memiliki kreatifitas dan kesadaran peduli terhadap lingkungan. Kali ini, sebagai rangkaian dari class meeting, MINM mengadakan hari kreativitas siswa yakni upcycling atau mengolah ulang botol bekas menjadi meja pada Selasa (09/07).

Seturut penjelasan Fairuz, Penanggungjawab Perpustakaan MINM, meja-meja yang telah dihasilkan dari proses daur ulang ini nantinya akan dipakai untuk meja perpustakaan.

“Beberapa alat dan bahan yang diperlukan untuk membuat meja ini adalah botol bekas ukuran 1,5 liter lengkap dengan tutupnya, lem tembak, solasi, tali rafia, gunting dan kardus bekas,” terangnya.

Dalam proses pembuatannya, lanjut Fairuz, seluruh siswa didampingi oleh wali kelas masing-masing. Dimulai dari menyusun botol bekas untuk bagian kaki meja, kemudian mengikat botol-botol tersebut supaya dapat berdiri kokoh, dan direkatkan dengan isolasi.

“Kami tidak membatasi bentuk mejanya seperti apa, semuanya sesuai kreativitas kelas, boleh berbentuk persegi panjang, lingkaran, atau apapun,” jelas Fairuz.

Dalam kesempatan yang sama, Waka. Humas MINM Ulfatul Halimah mengapresiasi terlaksananya kegiatan ini, pihaknya mendukung penuh kategori pembelajaran rekreatif dan praktis semacam ini.

“Setiap siswa di tiap kelas terlihat antusias dan terlibat aktif dalam kegiatan ini. Kedekatan antar siswa dan wali kelas juga semakin terlihat. Jelas praktik langsung seperti ini merupakan pembelajaran yang menyenangkan,” ujarnya.

 

Pewarta: Syarkawi
Editor: Ahmad Zainul Khofi

Meski PSB Satu Atap Usai, Pendaftar yang Terlambat Tidak Boleh Ditolak. Ini Pesan Pengasuh!

berita.nuruljadid.net – Meski Penerimaan Santri Baru (PSB) satu atap hari ini, Senin (08/07) memasuki hari terakhir, namun penerimaan santri baru bagi Pondok Pesantren Nurul tidak ada istilah ‘usai’. Hal ini didasarkan kepada dawuh pengasuh yang menganalogikan orang ingin mondok itu seperti orang yang hendak masuk Islam (Muallaf, red,), artinya tidak boleh ditolak. Hal tersebut disampaikan oleh Anggota Tim Ex-Officio Roudhatul Jannah saat diwawancarai oleh Tim Nurul Jadid Media, Senin (08/07).

“Kami berpegang pada dawuh Kyai Zuhri, beliau pernah berpesan untuk jangan pernah menolak santri yang hendak mendaftar, karena mereka adalah orang-orang yang ingin belajar ilmu agama,” papar Roudhatul Jannah.

Menurutnya, PSB satu atap hanya sebuah istilah untuk mempermudah wali santri yang hendak mendaftarkan atau memondokkan putra-putrinya di Nurul Jadid.

“PSB satu atap sebenarnya disediakan untuk mempermudah wali santri mendaftarkan putra-putrinya, karena semua keperluan-keperluan disentralkan semua di sini. Mulai dari logistik, E-bekal, hingga pengasramaan,” imbuhnya.

Dengan demikian, tetap ada kesempatan bagi para wali santri yang hendak mendaftarkan putra-putrinya di luar waktu layanan PSB satu atap, yaitu dengan mengurus pendaftaran di kantor sekretariat pesantren. Dengan catatan, wali santri perlu mengurus keperluan lain seperti E-bekal, pembayaran dan semacamnya di lokasi kantor yang terpisah.

Tercatat hingga hari terakhir PSB, total seluruh santri yang telah terverifikasi berjumlah sekira 1.517 santri. Pencapaian ini sesuai dengan prediksi pihak pesantren terhadap jumlah santri yang akan mendaftar pada PSB tahun 2024 ini. Jumlah tersebut tidak jauh dari tahun-tahun sebelumnya, yakni kisaran 1.500 hingga 2.000 santri.

“Walau uang pangkal naik sebab kebutuhan fasilitas pesantren untuk para santri, namun Alhamdulillah total santri pendaftar mencapai target yang telah kami perkirakan sebelumnya,” pungkas ustazah yang juga bertugas di bagian sekretariat putri itu.

 

Pewarta: Wahdana Nafisatuz Zahra
Editor: Ahmad Zainul Khofi

Spiritual Coaching MANJPK Putri: Selamatkan Semangat Belajar Santri secara Holistik

berita.nuruljadid.net – Teknologi revolusi industri semakin merajalela. Dampak dari penggunaan ini sudah menjangkiti banyak kaum sarungan (baca: santri), tak terlepas Santri Pondok Pesantren Nurul Jadid. Salah satu dampak yang dirasakan yakni lunturnya eksistensi dan jati diri santri atas pentingnya adab. Sebagaimana pepatah Arab mengatakan “Al Adab Fauqa Al ‘ilmi” atau adab lebih utama daripada ilmu

Menatap fenomena tersebut, Madrasah Aliyah Nurul Jadid Program Peminatan Keagamaan Putri tak tinggal diam, mereka turun tangan dengan menggelar kegiatan spiritual coaching bertemakan “Yang Tertinggal dari Kita, Akhlak”, Senin (01/07/24) di Aula Mini Pesantren.

Dalam salah satu ikhtiarnya melakukan revitalisasi pentingnya adab bagi santri itu, MANJPK menghadirkan Wakil Sekretaris Pesantren Ny. Hj. Muthmainnah Waqid sebagai narasumber, dengan pemandu acara Alfi Nurindiana.

Departemen Kepesantrenan MANJPK Nayyirotut Tazkiroh mengatakan bahwa objek peserta dari kegiatan ini bukan santri berstatus siswi semata, melainkan juga seluruh pengurus asrama MANJPK putri.

“Di era hari ini, santri didominasi oleh para generasi milenial yang harus menjadi contoh dan tauladan bagi generasi mendatang. Kebanyakan pengurus yang menemani santri dalam giat keseharian adalah generasi milenial,” imbuh Nayyiroh.

Disamping itu, lanjut Nayyiroh, kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan jiwa spiritual dan mendorong semangat serta ketekunan santri untuk menggeluti, mengkaji, dan memahami kitab turats.

“Selain itu, kegiatan ini juga menjadi wadah evaluasi untuk menumbuhkan semangat belajar santri kedepannya,” terangnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ny. Hj. Muthmainnah Waqid menyampaikan tentang kematangan spiritual sebagai proses perkembangan kesadaran seseorang tentang nilai-nilai spiritual, hubungannya dengan Tuhan, dan makna hidup.

“Sembilan tanda kematangan spiritual haruslah dimiliki, salah satunya ialah mampu menerima diri sendiri dan orang lain, sebagaimana adanya self-improvement dengan self-acceptance agar kita dapat mengetahui dan menerima kenyataan bahwa dunia bukanlah tempat tujuan melainkan tempat ujian,” dawuhnya.

Kegiatan berlanjut dengan sesi tanya jawab, secara bergiliran peserta mengajukan pertanyaan dan dijawab oleh narasumber. Tak sedikit peserta yang mengungkapkan keresahannya selama menempuh ilmu.

 

Pewarta: Maria Al Faradela
Editor: Ahmad Zainul Khofi

Bedah Buku Filsafat untuk Pemalas, Gus Dhofir Ajak Santri Nurul Jadid Berpikir dengan Bahagia

berita.nuruljadid.net – Matahari semakin tinggi menyapa, suasana ramai dan hangat merayapi lingkungan Pondok Pesantren Nurul Jadid. Sejumlah mahasiswa santri dari berbagai jurusan berkumpul di Aula I Pesantren untuk membedah Buku Filsafat untuk Pemalas karya Ach. Dhofir Zuhry, Ahad (07/07/24).

BEM Fakultas Agama Islam Universitas Nurul Jadid dengan Forum Gerakan Literasi dan beberapa forum lainnya mengadakan diskusi tentang buku tersebut. Achmad Dhofir Zuhry dan K. Imdad Rabbani turut hadir sebagai narasumber, dengan Ahmad Sahidah sebagai moderator.

K. Imdad Rabbani yang kerap disapa Gus Imdad mengungkapkan apresiasinya terhadap buku tersebut, ia menyebutnya sebagai pemantik kesadaran dalam diri manusia tentang betapa pentingnya berpikir.
Menurutnya, buku tersebut menghadirkan topik-topik yang menarik dan ringan, bahkan layak untuk dijadikan sebagai tontonan dan tuntunan oleh pelajar filsafat pemula.

“Buku ini sangat berharga untuk kemudian bagi taman-teman yang masih agak belum betul-betul sadar, untuk memantik kesadaran dalam diri kita masing-masing betapa pentingnya berpikir itu,” tuturnya.

Potret Gus Imdad tengah menyampaikan pandangannya terhadap Buku Filsafat untuk Pemalas di depan peserta.

Gus Imdad menambahkan bahwa buku tersebut menarik karena menggunakan bahasa sederhana yang dekat dengan Generasi Z. Beliau mengharapkan Gus Dhofir berkenan menulis tentang bagaimana filsafat (tradisi ilmu kalam) hadir ke ruang publik dalam bahasa yang ringan seperti buku yang dikarangannya tersebut.

Gus Dhofir merespon paparan narasumber dengan menyatakan bahwa filsafat memang perlu relevan dengan kehidupan sehari-hari, menghadirkan kebahagiaan dalam berpikir.

“Salah satu isi buku ini menyoroti tentang ‘aku berpikir maka aku happy‘,” imbuhnya.

Diskusi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, di mana peserta mengajukan pertanyaan tentang pentingnya berpikir dan maksud dari filsafat itu sendiri serta bagaimana cara mengatasi persoalan diri.

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika

Uang Pangkal PSB 2024, Komitmen Pesantren Fokus pada Peningkatan dan Pengembangan Kualitas Santri

berita.nuruljadid.net – Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ) melakukan pembenahan dan upgrading dalam berbagai aspek kepesantrenan. Pada tahun-tahun sebelumnya Nurul Jadid berhasil dalam melaksanakan pembenahan sistem dan peningkatkan kuantitas, kini pesantren yang didirikan KH. Zaini Mun’im tersebut akan fokus pada optimalisasi peningkatan kualitas.

Tidak semata fokus pada kualitas para tenaga pengajar, pihak pesantren sekarang semakin gencar melakukan upaya-upaya dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas santri maupun pengurus dari berbagai disiplin. Hal tersebut dibuktikan dengan diadakannya berbagai pendidikan dan pelatihan, seminar, upgrading skill berupa in house training dan in the job training bagi santri, wali asuh, maupun tenaga pengajar lain. Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Sekretaris Pesantren Ny. Hj. Muthmainnah Waqid saat diwawancarai oleh Tim Nurul Jadid Media, Sabtu (06/07/24).

“Semua yang sedang kita upayakan di sini merupakan bentuk pengabdian kepada pesantren sekaligus mengharap barokah dari masyayikh-masyayikh terdahulu,” terang menantu alm. KH. Abdul Wahid Zaini ini.

Untuk mewujudkan cita-cita tersebut tentu tidak mudah, salah satu itikad yang baik itu berekses pada diadakannya pemabyaran uang pangkal sebagai bagian dari biaya pendaftaran santri baru berjumlah lima juta rupiah dengan total jumlah keseluruhan biaya PSB yang tahun ini, Sabtu, (06/07) sekitar Rp. 10.410.000.

Angka tersebut, tentu bukanlah nominal yang kecil. Meski demikian, pihak pesantren memberi keringanan, wali santri diperkenankan mencicil pembayaran uang pangkal hingga waktu tenggang satu tahun. Pengajuan surat keringanan tagihan uang pangkal ini tidak melalui persetujuan staf melainkan harus melalui salah seorang dari delapan petugas layanan khusus yang ditetapkan oleh pesantren.

“Ada 8 orang yang diberi Surat Keterangan (SK) oleh Kepala Pesantren untuk melayani wali santri yang ingin mengajukan keringanan tagihan uang pangkal supaya bisa dicicil selama satu tahun,” jelas Nyai Hj. Mutmainnah Waqid yang juga termasuk dalam keanggotaan petugas layanan khusus.

Nyai Hj. Mutmainnah Waqid atau yang lebih dikenal dengan Ning Iin berharap penuh agar PSB tahun ini berjalan dengan lancar.

“Saya berharap PSB tahun ini bisa berjalan lancar, seluruh petugasnya diberi kesehatan selalu serta bisa melaksanakan tugasnya masing-masing dengan prima dan maksimal hingga akhir,” tandas beliau.

 

Pewarta: Wahdana Nafisatuz Zahra
Editor: Ahmad Zainul Khofi

Wali Santri Wajib Simak, Yuk Intip Persediaan Logistik PSB!

berita.nuruljadid.net – Tahun ini, dengan memegang teguh prinsip ‘fokus pada kualitas daripada kuantitas’ terdapat banyak hal yang berbeda pada Penerimaan Santri Baru (PSB) Pondok Pesantren Nurul Jadid tahun 2024 yang diadakan di Aula 2 Pesantren, sejak Rabu (03/07/2024), salah satunya adalah penyediaan barang logistik yang harus di terima santri baru.

Terdapat 15 barang yang akan didapatkan oleh santri baru putri, yakni Gamis Abaya, 3 setel seragam sekolah, Jasket, Hasduk dan Kolom, Sepatu Nurul Jadid, Kaos kaki sebanyak 2 pcs, Album Rapot, A’malul Yaum, Buku Selayang Pandang, Buku Panduan Wali Santri, Panduan Santri dan 5 buah buku tulis khas Nurul Jadid. Begitupula yang didapat oleh Santri Putra, bedanya hanya pada seragam sekolah dan pesantren.

Diketahui dari Wasilatus Sholihah, salah satu penanggung jawab bagian logistik mengatakan, terdapat banyak perubahan daripada tahun-tahun sebelumnya, yakni perbedaan seragam, dan keselarasan sepatu untuk seluruh santri yang mendaftar.

“Banyak yang berbeda dari tahun sebelumnya, yang paling mencolok ialah santri baru dapat sepatu khas NJ juga terdapat penggantian seragam pesantren yang biasanya warna putih diganti dengan gamis abaya warna hijau, yang nanti akan digunakan kalau ada kegiatan pesantren dan pulangan,” ungkap guru SMANJ tersebut.

Untuk santri lama yang belum mendapatkan Gamis Abaya, maka menggunakan seragam putih-putih seperti biasa.

“Sementara ini kalau ada kegiatan pesantren pakai seragam putih-putih dulu, mungkin kedepannya disuruh akan di fasilitasi oleh pesantren, saya kurang tau tapi pasti, namun pada akhirnya pasti akan berseragam sama dengan serentak,” tutup beliau.

 

Pewarta : Shelma Nasywa Ramadhani Munir
Editor: Ahmad Zainul Khofi

Pesan Haru Wali Santri saat Memondokkan Buah Hati di Nurul Jadid

berita.nuruljadid.net – Memasuki tahun ajaran baru 2024/2025 Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ) kembali menggelar Penerimaan Santri Baru (PSB) yang dilaksanakan selama delapan hari (3-8 Juli 2024) berlokasi di Aula II Pesantren. Hari ke-lima PSB, para keluarga berhiliran memadati lokasi pendaftaran, Ahad (7/7/2024).

Memasukkan buah hati ke pondok pesantren tentunya membutuhkan pertimbangan yang matang dan tekat yang kuat untuk melepas kepergian anak yang masih usia dini. Sebagaimana yang disampaikan oleh salah satu Wali Santri, Ahmad Yuri.

“Yang paling dominan tentu rasa bahagia dan haru. Keinginan untuk menyekolahkan anak di pondok pesantren akhirnya terkabul dan yang paling penting, anaknya juga mau,” ujar salah satu keluarga asal Bondowoso.

Pesantren tidak lagi menjadi alternatif terakhir, imbuh Yuri, tetapi menjadi proritas utama bagi banyak orang tua.

“Semuanya demi kebaikan anak, namanya juga lagi nyari ilmu, harus Ikhlas. Yang paling penting fokus cari ilmu dan barokah kiyai, rezeki apa kata nanti,” ucap beliau.

Beliau juga menambahkan tidak banyak orang tua yang mau memasukkan anaknya ke pondok pesantren, karena melepas kepergian anak yang masih kecil dan tentu membutuhkan tekat yang kuat.

“Semua ini demi masa depan yang lebih baik, kami rela dan ikhlas berpisah dengan anak kami,” pungkas beliau.

Banyak dari para keluarga yang harus merelakan para buah hatinya yang akan mencari ilmu di pondok pesantren, diantaranya juga seperti Muhammad Khoirul, salah satu keluarga yang berasal dari patrang, Jember.

“Harus Ikhlas, dalam mencari ilmu, namanya juga demi kebaikan anak, sebab bila dimasukkan ke pondok itu lebih aman dan terjaga,” ujar beliau.

 

Pewarta:  Bunga Adelia Gadisian

Editor: Ahmad Zainul Khofi

Pendidikan Pra Sekolah Nurul Jadid Gelar Munajat di Malam 1 Muharram

berita.nuruljadid.net – Dalam rangka menyambut tahun baru Islam 1446 Hijriah, satuan pendidikan tingkat pra dan dasar Pondok Pesantren Nurul Jadid menggelar kegiatan pengamalan doa-doa dan amalan 1 Muharram kepada peserta didik usia dini, Sabtu (06/07/24) di halaman MI Nurul Mun’im (MINM).

Kegiatan ini diadakan secara perdana dengan menyatukan berbagai lembaga satuan pendidikan tingkat pra dan dasar di bawah naungan Pondok Pesantren Nurul Jadid. Berdasarkan hasil observasi Tim Nurul Jadid Media, lembaga yang terlibat diantaranya: MI Nurul Mun’im, TK Bina Anaprasa, TPA Ar-Rahmah, dan TP Anak Saleh.

Inisiator kegiatan Umar Falas menyatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk membangun pondasi kesadaran beragama sejak usia dini melalui pengamalan 1 Muharram.

“Pengamalan 1 Muharram sejak usia dini penting untuk membentuk pondasi keagamaan yang kokoh pada anak-anak. Mereka belajar menghargai momen-momen penting dalam Islam dan membangun komitmen untuk menjalankan amalan-amalan dalam Islam,” ungkapnya.

Potret salat maghrib berjamaah dalam rangkaian peringatan 1 Muharram 1446 H di halaman MI Nurul Mun’im

Kegiatan ini, lanjut beliau, disambut baik dan didukung dengan penuh oleh para lembaga yang berturut serta. Buktinya, menurut Waka. Kesiswaan MINM itu, peserta dengan antusias mengikuti rentetan acara dari awal hingga akhir.

“Kegiatan ini dimulai dari pembacaan doa akhir tahun, doa awal tahun, shalat berjamaah, pembacaan shalawat qiyam, dan pembagian susu,” paparnya.

Di samping itu, Umar berharap kegiatan ini juga mampu mempererat tali solidaritas antar lembaga satuan pendidikan tingkat pra dan dasar yang berada di bawah naungan Pondok Pesantren Nurul Jadid.

“Ini adalah kegiatan kolaborasi perdana, semoga mampu menjadi pemantik untuk kegiatan-kegiatan yang lebih bermanfaat ke depannya,” pungkasnya.

 

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika

Komitmen Wujudkan Pelayanan Prima, Biro Kepesantrenan Laksanakan Pelatihan Bimbingan Konseling Wali Asuh

berita.nuruljadid.net – Senin (30/06/24), bertempat di Aula Mini Pondok Pesantren Nurul Jadid, Biro Kepesantrenan melaksanakan peningkatan layanan konseling santri melalui Kegiatan Pelatihan Bimbingan Konseling dan Wali Asuh. Kegiatan ini diselenggarakan selama dua hari dari Ahad (29/06/24) sampai Senin (30/06/24).

Kasi. BK-WA dan Motivasi Santri Biro Kepesantrenan Taufik Hidayat menyampaikan kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka memberi wadah kepada para pengurus daerah untuk meningkatkan kualitas pelayanan konseling kepada santri di daerah (asrama santri).

“Semoga kesempatan ini dapat dimaksimalkan betul oleh pada pengurus daerah untuk menyerap ilmu konseling dari para pemateri,” imbuhnya.

Para peserta, lanjut Dayat, didorong untuk tidak hanya menyerap ilmu dari kegiatan ini, akan tetapi juga mengamalkan ilmunya untuk melayani santri, khususnya di bidang konseling.

“Konseling ini menjadi salah satu hal yang sangat penting untuk perkembangan santri, sebab masing-masing orang pasti memiliki masalah individu yang dapat menghambat proses pembelajarannya. Di situlah kita hadir untuk memberikan solusi,” pungkasnya.

Kegiatan ini menghadirkan dua pemateri ahli di bidang konseling, yakni Dr. KH. Moh. Mahfudz Faqih, M. Si. dan Holil Hasyim Asy’ari, M.Pd.I. Diikuti oleh Koordinator Bimbingan Konseling Daerah dan Wali Asuh Daerah. Seluruh peserta dengan antusias memerhatikan dan mencatat hasil perasan ilmu dari pemateri selama acara berlangsung.

 

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika

Sambut Kedatangan Santri Baru, Biro Kepesantrenan Upgrade Skill Komunikasi Pengurus

berita.nuruljadid.net – Dalam rangka menyambut kedatangan Santri Baru di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Biro Kepesantrenan Putri mengundang seluruh pengurus I’dadiyah (Asrama Khusus Santri Baru) untuk mengasah kompetensi kepengurusan dalam Desiminasi Skill Komunikasi Efektif Wali Asuh terhadap Wali Santri pada Jumat, (28/06/2024) di Aula Mini Pesantren.

Wakabid. Penataan Wilayah dan Kesejahteraan Santri, Siti Maknunah selaku penanggung jawab kegiatan menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk membangun hubungan yang positif antara Pengurus dan Wali Santri.

“Salah satu tujuan kegiatan ini adalah Wali Asuh Santri Baru dapat menjadi sosok yang komunikatif dalam menyampaikan perkembangan anak, baik perkembangan positif maupun perkembangan negatif. Karena komunikasi yang tidak dilakukan dengan sangat baik akan menyebabkan banyak kesalahpahaman atau perbedaan persepsi antara Wali Asuh dan Wali Santri,” ungkapnya.

Berdasarkan dari laporan hasil observasi Tim Nurul Jadid Media, kegiatan desiminasi ini membahas tentang 4 materi pokok, diantaranya:

Kita berharap, lanjut Siti Maknunah, kegiatan ini akan menjadi langkah awal yang baik untuk membangun hubungan yang hangat antara Wali Santri dengan pesantren.

“Lagi-lagi kegiatan ini dilaksanakan untuk meningkatkan trust Wali Santri terhadap Pesantren,” pungkasnya.

Menyoal acara, desiminasi ini dibungkus dengan kegiatan in house training selama satu hari dengan dua sesi, yakni pagi dan siang-sore.

Adapun pembahasan dalam kegiatan desimenasi tersebut sebagaimana yang dirangkum dari hasil observasi oleh Tim Nurul Jadid Media berikut:

Pertama, prinsip komunikasi efektif. Adapun prinsip-prinsip tersebut diantaranya adalah memanggil Wali Santri dengan penghormatan nama atau panggilan lain seperti “bapak/ibu”, tersenyum, memberikan attention penuh dan berbicara sesuai yang disukai oleh lawan bicara. Hal ini dikarenakan bukan seberapa lama waktu yang dihabiskan. Akan tetapi, seberapa hangat perbincangan tersebut. Dengan demikian, Wali Santri akan merasa nyaman ketika berbicara dengan Wali Asuh.

Kedua, Wali Asuh menjadi pendengar yang baik. Sosok yang komunikatif tidak dapat hanya dinilai dengan kompetensinya dalam menyampaikan sesuatu, tetapi keterampilannya menjadi pendengar yang baik juga sangat dibutuhkan sebab komunikasi adalah hubungan dua arah.

Ketiga, bijak dalam menyampaikan kekurangan anak asuh. Hal ini bertujuan agar Wali Asuh dapat menyampaikan kekurangan anak dengan kata-kata yang positif dan tidak menghakimi serta fokus kepada solusi dan saran dari orang tua mengenai penanganan terhadap kekurangan anak asuh.

Keempat, handling complaint atau mengelola komplain Wali Santri. Setiap Wali Asuh harus memiliki keahlian mengelola dan memutar komplain Wali Santri dengan baik. Misalnya tidak gampang tersulut emosi ketika mendengar komplain yang menohok, tetapi bersikap bijak mendengarkan dan meluruskan apa yang sebenarnya terjadi.

 

Pewarta: Naura Fikroh Sadidah
Editor: Ahmad Zainul Khofi

Kiai Abdul Matin Djawahir dan Keluarga Silaturahmi ke Ponpes Nurul Jadid

berita.nuruljadid.net – Kedatangan saya dan keluarga di Pondok Pesantren Nurul Jadid ini untuk mengenalkan dan men-sowan-kan anak dan cucu saya kepada Pondok Pesantren Nurul Jadid sebagai induk dari Pondok Sunan Bejagung, Tuban, Jawa Timur. Ungkapan itu disampaikan KH. Abdul Matin Djawahir saat bersilaturrahim di Ponpes Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Kamis (27/06/24) di ruang tamu pesantren.

“Kami ingin belajar pada Ponpes Nurul Jadid bagaimana cara mengelola yayasan yang di pimpin oleh kiai. Meski yayasan itu organisasi tertinggi di pesantren namun keberadaan kiai di pesantren sangat vital yang bisa menentukan arah pesantren,” katanya.

Kiai Matin menceritakan terkait berdirinya pesantren Sunan Bejagung yang dipimpinnya.

“Pondok kami berdiri pada tahun 1998 dan Alhamdulillah mengalami peningkatan jumlah santri. Tahun ini yang lulus 300 orang tapi yang masuk mendaftar sebagari santri baru untuk tahun ini berjumlah 500 orang,” tambahnya.

Sebagai alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid, kiai Matin bersyukur tengah mendapatkan anugerah karena bisa men-sowan-kan anak dan cucunya kepada keluarga besar Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Sebelum acara dialog, KH. Moh. Zuhri Zaini menjelaskan bahwa Pesantren Nurul Jadid dikelola secara organisatoris.

“Sejak awal, pendiri (KH. Zaini Mun’im) mengurus pesantren ini secara organisasi. Pada saat rapat-rapat yang di gelar pesantren, kiai Zaini ikut hadir menjadi peserta rapat hingga pukul 2 malam,” dawuhnya.

Bahkan, Kiai Zaini membiarkan pengurus yang sedang berdiskusi, berdebat dalam membicarakan pesantren. Beliau baru meluruskan saat perdebatan pengurus itu semakin sengit. Jadi sejak awal pesantren ini dikelola secara demokratis,” imbuhnya.

Selanjutnya, Kiai Zuhri mengungkapkan prinsip dasar yang menjadi acuan dalam mengelola pesantren, yaitu: kesadaran beragama, kesadaran berilmu, kesadaran bermasyarakat, kesadaran berbangsa dan bernegara, dan kesadaran berorganisasi,” tegasnya.

Sedangkan Kepala Pesantren KH. Abdul Hamid Wahid mengungkapkan tujuan kunjungan dari keluarga besar Pesantren Sunan Bejagung.

“Titik fokus kunjungan ini berkait struktur kepemimpinan PPNJ, Qanun asasi, tata kelola dan peraturan,” pungkasnya.

Senada dengan Kiai Zuhri, Rektor Universitas Nurul Jadid ini menerangkan bahwa pelaksanaan organisatoris di Pondok Pesantren Nurul Jadid sifatnya non formal (kultural-struktural).

“Ramuan atau racikan dari kultural dan struktural di pesantren dibentuk dalam struktur organisasi yang berlaku di pesantren ini,” paparnya.

 

Pewarta     : Ahmad Zainul Khofi
Editor        : Ponirin Mika

 

Hafal Juz Amma, 54 Peserta Didik TK Bina Anaprasa Diwisuda

berita.nuruljadid.net – Taman Kanak-kanak (TK) Bina Anaprasa Pondok Pesantren Nurul Jadid menggelar acara akhirussanah atau wisuda pada Selasa (25/06/24) di Aula I Pesantren. Acara tahun ini menyongsong tema “Mengantar Generasi Berakhlaqul Karimah”.

Lembaga yang berdiri sejak tahun 1987 itu mewisuda peserta didiknya sebanyak 54 orang yang terdiri dari 21 orang laki-laki dan 23 orang perempuan. Turut hadir dalam acara tersebut jajaran pengurus pesantren, Pengawas TK Kecamatan Paiton, jajaran Guru TK Bina Anaprasa dan seluruh wali murid kelas A dan B.

Dimulai tepat pukul 08.00 WIB, beragam kesenian dan hiburan karya siswa-siswi TK Bina Anaprasa mewarnai atmosfir di penghujung awal acara, penampilan-penampilan tersebut diantaranya Tari Sajojo, Tari Isfa’lana, Manuk Dadali, Dance Ayo Mondok, Pembacaan Aqidatul Khomsin, Pembacaan Surat An-Naba’, Tarian Semaphore, Tari Al-Aini, sampai pembacaan Asmaul Husna dan terjemahannya.

Sebelum memasuki sesi inti acara wisuda, kegiatan dilanjut dengan sambutan dari perwakilan wali kelas, kepala sekolah, Neng Mabruroh dan Pengawas TK Kecamatan Paiton.

Momen haru peserta wisuda bertemu dengan orang tuanya usai pagelaran wisuda.

Kepala Sekolah TK Bina Anaprasa Fitriyah berharap kegiatan ini menjadi sebuah renungan flashback terhadap masa-masa selama di TK dan menjadi kenangan untuk masa yang akan datang.

“Semoga bermanfaat dan berlanjut untuk masa depan, semoga anak-anak hebat ini menjadi hafiz yang dapat memberi mahkota orang tuanya di surga nanti,” ungkapnya.

Menariknya, TK Bina Anaprasa memasang standar lulusan, yakni dengan mewajibkan peserta didiknya mengahafal minimal setengah dari juz 30 dan Asmaul Husna beserta terjemahannya.

“Kita memasang target agar anak-anak itu bisa wisuda dengan menghafal Asmaul Husna dan hafal minimal setengah juz 30, kalau bisa keseluruhan juz 30 itu lebih baik,” ujar beliau.

 

Pewarta : Shelma Nasywa Ramadhani Munir
Editor: Ahmad Zainul Khofi