Pengajian Ramadan Perdana; Kiai Zuhri Ulas Kriteria Ulama Akhirat

Pondok Pesantren Nurul Jadid menggelar pengajian perdana di bulan suci Ramadan dengan fokus pembahasan mengenai klasifikasi dan kriteria ulama. Dalam materi yang disampaikan, ditekankan pentingnya meluruskan niat dalam menuntut ilmu agar tidak terjebak pada kepentingan duniawi semata.

Materi pengajian membagi sosok pemuka agama menjadi dua kelompok besar, yakni Ulamaul Akhirat (ulama akhirat) dan Ulamaud Dunya (ulama dunia). Salah satu poin krusial yang disoroti adalah fenomena “Ulama Lisan”, yaitu sebutan bagi mereka yang pandai berceramah dan berbicara namun tidak mampu mengamalkan ilmunya sendiri.

Lebih lanjut, catatan pengajian tersebut merincikan bahwa tanda utama seorang ulama akhirat adalah sifat khusyuk. Khusyuk dalam konteks ini diartikan sebagai sikap serius dalam menggunakan waktu atau umur untuk hal-hal yang bermanfaat, bukan sekadar melakukan wirid secara terus-menerus. Selain itu, ulama akhirat ditandai dengan sifat tawadhu (rendah hati) serta memiliki rasa takut dan khawatir yang tinggi kepada Allah SWT.

“Orang yang belajar ilmu agama tidak boleh bertujuan hanya untuk kepentingan dunia, karena hidup di dunia hanya sebentar sedangkan di akhirat abadi,” demikian penggalan pesan dalam catatan tersebut. Jika kesenangan dunia dijadikan tujuan utama dan tidak tercapai, hal itu hanya akan mendatangkan kesedihan dan kekecewaan.

Selain aspek teologis, pengajian ini juga menyentuh dimensi sosial dan ekonomi. Jamaah diingatkan bahwa dalam setiap harta yang dimiliki, terdapat hak orang lain seperti istri, anak, dan kaum yang membutuhkan. Umat Islam pun diajak untuk selalu berbuat baik kepada sesama guna menciptakan keharmonisan dan tidak menunda-nunda perbuatan bermanfaat.

Kiai Zuhri menekan prinsip kemandirian spiritual agar manusia tidak pernah berharap kepada sesama, melainkan hanya menggantungkan harapan kepada Allah SWT. Pengajian ini diakhiri dengan pesan moral untuk menjadi pribadi yang berguna bagi sesama tanpa harus menonjolkan diri.

 

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi

Editor: Ponirin Mika

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *