Orang Berilmu Tidak Ditentukan oleh Kopiah dan Surban yang Digunakan; Berikut Dawuh Kiai Zuhri Zaini

www.nuruljadid.net-berita – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, memberikan penjelasan mengenai hakikat keilmuan dalam pengajian kitab Nashoihud Diniyah. Rabu (18/02/26).

Dalam penyampaiannya, beliau menegaskan bahwa status “Alim” atau orang berilmu tidak ditentukan oleh atribut lahiriah, melainkan pada kedalaman pengetahuan dan pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Orang alim adalah mereka yang memiliki ilmu. Status ini tidak bisa diukur hanya dari kopiah atau sorban yang dikenakan, melainkan dari sejauh mana pengetahuan itu menetap dalam diri,” ujar KH. Moh. Zuhri Zaini di hadapan para santri. Beliau menambahkan bahwa seorang kuli maupun petani tetap menyandang derajat alim selama mereka memiliki ilmu dan kesadaran spiritual.

Dalam bedah kitab karya Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad tersebut, Kiai Zuhri juga menyoroti pentingnya motivasi yang berlandaskan iman. Menurut nya, semangat ibadah dan ketaqwaan mustahil terwujud tanpa keyakinan yang kuat. Motivasi inilah yang menjadi motor penggerak bagi seorang hamba untuk setia menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan konsep Ulil Albab, yakni orang-orang yang akalnya senantiasa terhubung kepada Allah, bukan terjebak pada kemewahan duniawi. Kiai Zuhri mengingatkan bahwa sifat tawadhu’ (rendah hati) maupun sombong berakar di dalam hati, namun dampaknya akan sangat nyata terlihat pada amal-amal lahiriah seseorang.

Terkait peran sosial umat Islam, Kiai Zuhri menekankan bahwa kewajiban mengingatkan pada kebaikan (Amar Ma’ruf) dan mencegah keburukan (Nahi Munkar) adalah tanggung jawab bersama. Beliau berpesan agar umat Islam tidak egois dalam mengejar surga.

“Jangan menunggu menjadi kiai untuk melarang keburukan. Surga harus dibagi; jangan membiarkan orang lain terjerumus ke neraka,” tegas beliau.

Kiai Zuhri memberikan tuntunan etika dalam berdakwah dengan berpesan agar para penyampai ilmu senantiasa menggunakan bahasa yang populer dan mudah dimengerti saat berbicara dengan masyarakat awam. Penggunaan istilah-istilah yang terlalu teknis atau tinggi tanpa mempertimbangkan pemahaman pendengar justru akan menjauhkan pesan agama dari tujuannya.

Selain itu, Kiai Zuhri mengingatkan bahwa substansi puasa bukan sekadar memindahkan jam makan, melainkan sebuah latihan disiplin untuk mengendalikan hawa nafsu agar hidup lebih tertata sesuai rida Illahi.

 

Pewarta    : Kadapi
Editor       : Ponirin Mika

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *