Santri Diminta Bijak Gunakan Medsos

www.nuruljadid.net – Wakil Kepala Pesantren I Pondok Pesantren Nurul Jadid, Gus Moh. Imdad Rabbani, M.Th.I, mengingatkan para santri agar tidak larut dalam tren media sosial yang tidak membawa manfaat, terutama selama masa liburan Ramadan 1447 Hijriah.

Pesan tersebut disampaikan Gus Imdad, sapaan akrabnya, dalam pengarahan kepada para santri menjelang kepulangan mereka ke rumah masing-masing. Arahan itu disampaikan mewakili Pengasuh Pesantren, KH Moh. Zuhri Zaini, dan disiarkan melalui kanal YouTube resmi pesantren pada Rabu (4/3/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Gus Imdad menekankan bahwa Ramadan merupakan momentum berharga yang seharusnya dimanfaatkan untuk memperbanyak amal ibadah dan kegiatan positif.

“Kalau diibaratkan seperti game, Ramadan itu babak bonus. Jadi setiap yang kita lakukan di bulan Ramadan ini nilainya berbeda dengan di luar Ramadan,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa waktu santri saat berada di rumah cenderung lebih longgar dibandingkan ketika di pesantren. Karena itu, para santri diminta tidak menghabiskan waktu hanya untuk tidur.

“Memang benar tidurnya orang berpuasa itu ibadah. Tapi jangan tidur terus ketika pulang ke rumah. Manfaatkan sisa Ramadan ini dengan maksimal,” katanya.

Selain itu, Gus Imdad juga mengingatkan pentingnya menjaga adab dan nilai-nilai yang telah dipelajari di pesantren, termasuk dalam pergaulan sehari-hari.

“Hal-hal yang tidak boleh dilakukan di pesantren, seperti bertemu dengan yang bukan mahram, tetap harus dijaga ketika di rumah,” tegasnya.

Ia juga menyoroti penggunaan telepon genggam oleh santri selama berada di rumah. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi kesempatan untuk melatih kontrol diri, mengingat di pesantren penggunaan gawai dibatasi oleh aturan ketat.

“Ketika di rumah dan sudah diberi fasilitas HP oleh orang tua, di situlah waktu terbaik untuk melatih diri agar memiliki kontrol diri yang lebih baik,” ujarnya.

Meski demikian, ia tidak melarang penggunaan media sosial selama dimanfaatkan untuk hal-hal yang bermanfaat, seperti mengakses konten edukatif maupun kajian keagamaan.

Gus Imdad menegaskan bahwa di luar lingkungan pesantren, pengawasan utama berasal dari kesadaran pribadi masing-masing santri.

“Di pesantren ada aturan dan pengawasan. Tapi ketika di rumah, yang menjaga adalah kesadaran diri kita sendiri,” katanya.

Beliau mengajak para santri lebih selektif dalam mengonsumsi konten digital dan tidak sekadar mengikuti tren yang sedang viral tanpa manfaat.

Pewarta  : Ponirin Mika

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *