Pengurus Wilayah dan Daerah Dilatih Manajemen Lingkungan Hidup Santri

www.nuruljadid.net – Sebagian orang memandang Pondok Pesantren identik dengan kesan padat, kumuh, dan kurang tertata. Hal tersebut perlahan mulai dikikis oleh Pondok Pesantren salah satunya adalah Pondok Pesantren Nurul Jadid dengan dibuktikan melalui langkahnya dengan melakukan evaluasi besar-besaran terhadap manajemen lingkungan hidup para santri. Kegiatan ini bukan menandai bahwa kesan masyarakat itu benar. Melainkan bahwa pesantren terus berupaya dalam mengelola lingkungannya agar memberikan dampak nyaman terhadap warga pesantren.

Salah satu upaya strategis yang di gelar adalah gelaran Workshop Sertifikasi Musyrif yang berfokus pada Room Management (Manajemen Ruangan), Jumat (05/06/2026). Bertempat di Aula II Pondok Pesantren Nurul Jadid, kegiatan ini menggandeng tim ahli dari Griya Parenting Indonesia (GPI) untuk menggembleng para pengurus dan santri.

Tujuan utama dari workshop ini bukan sekadar bersih-bersih massal, melainkan membangun sistem penataan ruang yang berkelanjutan agar santri merasa aman dan nyaman selama menuntut ilmu.

“Sebagian orang menganggap pesantren sebagai tempat yang kumuh dan tidak layak. Oleh karena itu, kita terus melakukan evaluasi dan menata kembali manajemen lingkungan kita agar santri tak hanya nyaman dan aman, namun juga mendapati lingkungan pesantren yang indah dan rapi,” ujar Ustadzah Madina, yang bertindak sebagai pelaksana sekaligus peserta observer.

Ia mengakui bahwa pelatihan serupa sebenarnya pernah dilaksanakan sebelumnya. Namun, dampaknya kurang maksimal karena hanya diikuti oleh segelintir orang, sehingga implementasi di lapangan menjadi pincang. Menyadari celah tersebut, tahun ini pesantren mewajibkan delegasi dari seluruh wilayah untuk hadir agar standardisasi kenyamanan ini bisa diterapkan merata.

Pada sesi materi, dua fasilitator dari Griya Parenting Indonesia, Farda Khoirul Roin, S.Psi. dan Anwari Nuril Huda, S.Sos., M.A., mengupas tuntas metode klasifikasi barang. Peserta diajak berpikir kritis melalui simulasi sederhana: membedah fungsi isi dompet dan mengategorikannya ke dalam tiga pilar kelayakan:

Kategori Kelayakan Barang Tindakan / Status
1. Penting dan Layak Pakai Dipertahankan dan ditata rapi.
2. Penting dan Tidak Layak Diperbaiki atau diganti.
3. Tidak Penting dan Tidak Layak Harus segera disingkirkan/dibuang.

Metode ini kemudian diaplikasikan pada skala yang lebih besar, seperti penataan lemari dan kamar santri. Farda dan Anwari menekankan pentingnya kesadaran kolektif dalam memilah barang.

Dalam kesempatan itu, Ustadzah itu Madinah memberikan contoh konkret yang kerap terjadi di lingkungan asrama. “Pemilahan itu penting. Terkadang kita tidak sadar bahwa kita sedang menyimpan sampah. Sampah bukan cuma plastik bekas. Barang yang tidak dipakai juga termasuk sampah. Contohnya, ada santri beli makanan lalu lupa. Temannya tidak ada yang berani membuang karena merasa itu bukan miliknya. Makanan itu baru dibuang setelah dua hari. Berarti, dia sudah menyimpan sampah di kamarnya selama dua hari,” paparnya.

Workshop ini tidak berhenti di dalam gedung aula yang sejuk. Tim GPI bersama peserta langsung terjun (blusukan) ke kamar-kamar santri. Di sana, tim memberikan asistensi langsung, menata ulang barang yang berantakan, dan memberikan visualisasi nyata bagaimana karakteristik kamar yang sehat, rapi, dan ideal.

Agar investasi waktu dan tenaga ini tidak berjalan sia-sia, tim Griya Parenting Indonesia berkomitmen tidak akan langsung angkat kaki. Mereka akan terus melakukan pemantauan berkala (monitoring) dan kontrol ketat terhadap perkembangan manajemen ruangan di seluruh area Pondok Pesantren Nurul Jadid secara berkala. Langkah ini diharapkan mampu melahirkan budaya baru: pesantren yang religius, sekaligus estetik dan higienis.

Pewarta        : Naylah Zakiyatur Rohmah

Editor           : Ponirin Mika

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *