Respons Tantangan Zaman, Pesantren Nurul Jadid Inisiasi Gerakan Disiplin Positif

www.nuruljadid.net — Merespons dinamika pengasuhan modern, Pondok Pesantren Nurul Jadid menggelar agenda strategis “Qudwah Leadership Camp & Training of Trainers (TOT) Capacity Building Pengurus Ramah Santri” di Aula 1 pesantren pada Kamis (28/05). Langkah ini diambil sebagai komitmen nyata institusi dalam mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman, sehat, dan ramah anak.

Agenda ini diikuti oleh seluruh lini pengasuhan dan pengawasan, mulai dari pengurus Lembaga Konseling Pesantren (LKP), Koordinator Bimbingan Konseling (BK), pengurus wilayah, hingga jajaran Keamanan dan Ketertiban (Kamtib). Pelatihan dirancang sebagai langkah preventif untuk melahirkan pengurus yang profesional dalam melakukan pendampingan psikologis santri.

Praktisi Psikolog, Dr. Asriana Kibtiyah, S.Psi., M.Si., selaku narasumber, mengingatkan bahwa dunia pesantren hari ini wajib adaptif terhadap karakteristik Generasi Z dan Generasi Alpha. Pola pengasuhan konvensional yang cenderung kaku dinilai sudah kehilangan relevansinya.

“Jangan terjebak pada pola pengasuhan lama, karena sudah tidak relevan di zaman sekarang,” tegas Asriana.

Ia menambahkan, pesantren wajib menjamin empat hak dasar anak, yakni hak hidup, tumbuh kembang, perlindungan, serta hak partisipasi.

Senada dengan hal tersebut, Women Peace and Security Specialist, Siti Hanifah Haris, menawarkan formula Disiplin Positif sebagai alternatif sistem hukuman konvensional. Pendekatan ini menitikberatkan pada tujuh pilar utama:

  1. Fokus pada Motif: Mencari tahu alasan di balik pelanggaran perilaku.

  2. Kesadaran Internal: Menumbuhkan kesadaran dari dalam diri anak, bukan karena takut.

  3. Konsekuensi Logis: Memberikan sanksi yang selaras dan mendidik.

  4. Koneksi Sebelum Koreksi: Membangun kedekatan emosional terlebih dahulu.

  5. Pahami, Bukan Menghakimi: Menyelami sudut pandang anak atas kekeliruannya.

  6. Pengendalian Diri: Menekankan kontrol emosi dari pihak pengasuh sendiri.

  7. Lembut Sekaligus Tegas: Kokoh pada aturan namun tetap penuh kasih sayang.

Sementara itu, Kepala LKP Pesantren Nurul Jadid menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan jawaban atas maraknya isu negatif seputar pesantren di media sosial berskala nasional. Menurutnya, pelayanan pengurus sebagai ujung tombak harus diperbaiki melalui pendekatan regulasi emosi dan pemahaman empatik (emphatic understanding).

Para peserta TOT ini nantinya diproyeksikan menjadi trainer yang akan mendiseminasikan ilmu disiplin positif kepada pengurus lain. Melalui penguatan kompetensi ini, Pondok Pesantren Nurul Jadid optimis mampu bertransformasi menjadi role model pesantren ramah anak.

Pewarta   : Husni Khalilurrahman

Editor      : Ponirin Mika

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *