berita.nuruljadid.net – Ada dua tema besar yang menjadi fondasi pengabdian di pesantren: peningkatan ruhul jihad (semangat berjuang atau mengabdi) dan peningkatan kapasitas diri. Dua hal ini sangat penting untuk suksesnya dan bermaknanya pengabdian.
Hal tersebut disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, dalam tausiyahnya pada acara Capacity Building dalam Ruhul Jihad pada Rabu, 3 Desember 2025 di Aula I Pesantren. Kegiatan yang ditujukan untuk meningkatkan kompetensi dan semangat pengabdian pengurus ini dihadiri oleh seluruh pengurus di tingkat satuan kerja hingga satuan pendidikan.
Dalam tausiyahnya, Kiai Zuhri juga menjelaskan bahwa pengabdian di pesantren bukan sekadar menjalankan tugas administratif, tetapi merupakan upaya meneruskan perjuangan panjang dakwah para masyayikh hingga Nabi Muhammad SAW. Pesantren, menurut beliau, adalah lembaga yang menjalankan misi dakwah dan pendidikan sebagaimana yang dicontohkan Nabi.
“Tujuan dakwah adalah mengadakan perubahan dari yang tidak baik menjadi baik, dan dari yang baik menjadi lebih baik,” dawuhnya. Pesantren, lanjut beliau, lahir untuk melanjutkan misi kenabian dalam dakwah dan pendidikan, untuk membentuk manusia muslim yang salih, muslih, dan bermanfaat.
Selain dakwah dan pendidikan, menurut Kiai Zuhri, tugas pengurus pesantren juga adalah pelayanan kepada santri dan masyarakat. Tetapi dengan tujuan utamanya yaitu membekali santri dengan agama, tafaqquh fiddin.
“Ini bukan berarti menafikkan ilmu-ilmu yang lain, sebab agama tidak bisa berjalan dengan baik tanpa dukungan dari sektor lain: ekonomi, politik, budaya, dan lain sebagainya. Jadi tidak bisa berdiri sendiri, tetap memerlukan ilmu yang lain (IPTEK),” terang beliau.
Beliau mencontohkan bagaimana banyaknya mualaf hari ini tidak lepas dari interaksi mereka dengan media modern.
“Tanpa bertemu langsung, mereka bisa membaca teks-teks Islam dari media. Itu juga bagian dari dakwah,” imbuh beliau. Semua sektor, termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki peran penting sebagai penopang dakwah dan pendidikan Islam.
Kiai Zuhri menegaskan bahwa visi pesantren bukan semata menghasilkan individu yang kuat dalam ritual keagamaan, tetapi juga yang mampu berperan di tengah masyarakat. Beliau menguraikan panca kesadaran santri sebagai fondasi kaderisasi pesantren: beragama, berilmu, bermasyarakat, berbangsa–bernegara, serta berorganisasi.
Menurut beliau, kesadaran beragama dan berilmu adalah fondasi utama yang berkaitan dengan Tuhan dan modal dalam beramal dan berkhidmah, sementara dua kesadaran berikutnya adalah ibadah sosial. “Tidak cukup tekun shalat dan dzikir, tetapi harus pula memberi manfaat bagi sesama,” terang beliau.
Kesadaran berorganisasi, lanjut beliau, merupakan bagian integral ajaran Islam. “La islama illa bi jamaah. Islam tidak sempurna bila dijalankan sendiri-sendiri. Kebersamaan adalah syarat keberhasilan perjuangan,” jelasnya.
Pengasuh menekankan bahwa pengabdian harus dijalankan dengan empat prinsip: kerja ikhlas, kerja keras, kerja baik (itqan), dan kerja sama. Keikhlasan menurut beliau bukan alasan untuk bermalas-malasan.
Beliau juga mengingatkan bahwa tugas utama pengurus dan guru di pesantren adalah mengurus manusia, bukan barang, sehingga tanggung jawab moral dan spiritualnya jauh lebih besar. “Tugas untuk mengurus manusia agar menjadi baik adalah tugas yang sungguh mulia tapi berat. Di sinilah perlu kesungguhan kita di dalam memberikan pelayanan atau berkhidmah. Jika kita berkhidmah dengan ikhlas, pasti ada barokahnya. Barokah bukan hanya materi, tetapi bisa berupa kesehatan, ketenangan, dan kelapangan hidup.”
Kiai Zuhri menguraikan bahwa keberkahan adalah bertambahnya kebaikan, bukan semata-mata bertambahnya materi. Beliau mencontohkan kisah Kiai Abdul Madjid dari Mlandingan yang mampu memberi makan seribu santri setiap hari meski tidak memiliki sawah atau toko. “Itulah barokah, jangan dihitung dengan kalkulator,” ujarnya.
Menurut beliau, selama bekerja dengan niat lillah, Allah akan memfasilitasi dan memudahkan jalan pengabdian. “Kita bekerja karena Allah, atas pertolongan Allah, untuk mencari rida Allah. Lillah billah wailallah, wafillah.”
Maka, dawuh beliau, khidmah kita di pesantren ini adalah untuk mencari bekal masa depan, yaitu ketika kita menghadap pada Allah SWT.
“Tanggungjawab kita bukan hanya pada lembaga, tetapi juga kepada Allah SWT. Kita mengajar, jadi pengurus, dan jadi apa saja (bidang kepengurusan apapun, red.), adalah ibadah kepada Allah dalam bentuk sosial. Melaksanakan perintah itulah yang menjadikan ibadah. Mengajar, termasuk mengabdi, dalam lembaga pendidikan itu adalah perintah Allah,” terangnya.
Kiai Zuhri melanjutkan tausiyahnya dengan mengisahkan keteguhan Nabi Muhammad SAW dalam dakwah, termasuk peristiwa hijrah yang menunjukkan bagaimana pertolongan Allah hadir dalam setiap perjuangan.
“Kita harus bekerja keras dan baik, tetapi jangan mengandalkan kemampuan diri. Andalkan Allah,” pesannya.
Kegiatan Capacity Building ini diharapkan mampu memperkuat integritas, militansi, dan profesionalitas seluruh pengurus Pondok Pesantren Nurul Jadid dalam menjalankan amanah dakwah, pendidikan, dan pelayanan kepada santri maupun masyarakat.
Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika