Pos

Kunjungi Nurul Jadid, Dawuh Kiai Zuhri kepada PT Sidogiri Mitra Utama: Perkuat Sinergi Bisnis dan Dakwah

berita.nuruljadid.net — Sebanyak 150 pengurus PT Sidogiri Mitra Utama melakukan kunjungan silaturahmi ke Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Kamis (22/1/2026). Kunjungan tahunan ini menjadi bagian dari tradisi sowan wali, sebagai ikhtiar spiritual untuk memohon keberkahan dalam menjalankan usaha ekonomi berbasis pesantren.

Perwakilan rombongan, Anis Sulaiman, mengatakan tradisi sowan menjadi fondasi batin bagi para pengurus dalam mengelola unit usaha. “Kami berharap memperoleh barokah para masyayikh agar setiap langkah usaha berada dalam rida Allah,” ujarnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH Moh. Zuhri Zaini, dalam tausyiahnya menekankan pentingnya profesionalisme dalam pengelolaan bisnis pesantren. Beliau mengingatkan agar aktivitas sosial dan bisnis tidak dicampuradukkan.

“Kegagalan dalam bisnis seringkali disebabkan karena mencampuradukkan antara urusan bisnis dan sosial. Bisnis harus dikelola secara profesional, berbeda dengan sedekah yang bisa mendahulukan keluarga tidak mampu,” kata Kiai Zuhri.

Beliau memuji Pondok Pesantren Sidogiri yang dinilainya berhasil membangun kemandirian ekonomi tanpa meninggalkan nilai-nilai salaf. Menurutnya, unit usaha pesantren harus dikelola oleh sumber daya manusia yang kompeten, dengan manajemen yang fokus dan terukur, tanpa bergantung pada relasi kekeluargaan.

Lebih lanjut, Kiai Zuhri juga menyoroti tantangan dakwah di era modern. Menurut beliau, dakwah tidak cukup dilakukan melalui mimbar semata, tetapi juga melalui penguatan ekonomi umat. “Dakwah ekonomi menjadi benteng agar masyarakat tidak terjerumus pada praktik ekonomi yang merugikan. Jika bisnis dijalankan dengan niat menolong umat karena Allah, pertolongan-Nya akan datang,” ujarnya.

Di akhir tausyiah, Kiai Zuhri mengingatkan para pengurus tentang pentingnya integritas, kepatuhan pada sistem, serta keterbukaan untuk belajar manajemen dari siapa pun demi meningkatkan kualitas usaha pesantren.

Kunjungan ini menegaskan sinergi antara Pondok Pesantren Sidogiri dan Nurul Jadid sebagai pesantren salaf yang tidak hanya menjadi pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga pilar penguatan ekonomi umat berbasis nilai dakwah.

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika

Santri Adalah Kelas Kader Islam, Berikut Ulasan Kiai Zuhri Zaini

berita.nuruljadid.net – Pada kegiatan Capacity Building Pengurus dalam Ruhul Jihad yang digelar Pondok Pesantren Nurul Jadid pada Rabu (3/12/25), Pengasuh KH. Moh. Zuhri Zaini menekankan pentingnya tafaqquh fiddin sebagai misi inti pesantren. Beliau memberikan penekanan khusus pada urgensi prioritas kewajiban keagamaan tingkat dasar (al-Furudul ‘Ainiyah (FA)), penguatan kaderisasi santri, dan pengembangan kemampuan baca kitab sebagai bekal dakwah di tengah masyarakat.

Kiai Zuhri mengawali tausiyah dengan menegaskan bahwa pesantren memiliki mandat khusus sebagai pusat pendalaman ilmu agama. “Di antara umat Islam harus ada yang khusus tafaqquh fiddin, dan itu tempatnya di pesantren,” ujarnya. Para pengurus, lanjut beliau, merupakan pelayan dari tugas besar tersebut, dibantu perangkat penunjang seperti ilmu pengetahuan dan teknologi.

Meski berbagai keterampilan hidup dan kejuruan diajarkan di pesantren, Kiai Zuhri menegaskan bahwa tujuan utamanya harus tetap untuk kepentingan dakwah dan pengabdian. Namun demikian, beliau menekankan bahwa fondasi terpenting tetaplah ilmu agama. “Yang utama adalah bekal agama. Ini yang harus kita niatkan dalam berkhidmah.”

Salah satu pesan sentral tausiyah ini adalah pentingnya mengutamakan FA, ilmu dasar agama yang wajib dipahami dan diamalkan oleh setiap individu Muslim. Menurut Kiai Zuhri, inti dari belajar agama bukan semata mengetahui, tetapi mengamalkan.

“Yang terpenting dari belajar agama adalah pengamalan agama. Bagaimana santri bisa menjadikan agama sebagai pedoman hidup,” tegasnya. Jika FA belum tuntas, maka program lain yang bersifat tambahan sebaiknya dikurangi intensitasnya.

Beliau juga menyinggung efektivitas hari-hari FA yang diterapkan di pesantren. Kiai Zuhri mendorong agar seluruh pengurus memastikan FA benar-benar dipahami dan dipraktikkan oleh santri, baik melalui kitab maupun pendekatan yang lebih sederhana, sebagaimana yang digunakan pesantren salaf.

Mengutip ayat “falau lâ nafara ming kulli firqatim min-hum thâ’ifatul liyatafaqqahû fid-dîn”, Kiai Zuhri menyebut santri sebagai kelas kader, bukan kelas umum umat Islam. Karena itu, kemampuan mereka harus melampaui masyarakat biasa. “Memondokkan anak itu sejatinya mengkader. Maka FA saja tidak cukup bagi seorang kader,” ujarnya.

Untuk itu, beliau mendorong agar santri diperkenalkan dengan kitab berbahasa Arab serta mendapatkan bimbingan dasar bahasa Arab. Bila memungkinkan, diberikan pula pelatihan baca kitab dengan metode yang mudah dipahami. “Santri kader harus punya kelebihan. Minimal mampu membaca kitab agar tidak keliru saat membaca ayat atau khutbah di masyarakat.”

Dalam tausiyahnya, Kiai Zuhri memberikan perhatian khusus pada program tahfiz. Beliau mengingatkan bahwa hafalan Alquran memiliki tanggung jawab berat, berbeda dengan hafalan kitab lainnya. “Kalau hafal Alfiyah lalu lupa, hanya kehilangan ilmu. Tapi kalau hafal Alquran lalu lupa, itu dosa.”

Karena itu, beliau meminta agar program tahfiz dilakukan dengan seleksi ketat, memastikan santri siap istiqamah menjaga hafalannya. Beliau juga mengingatkan agar program tahfiz tidak sampai menggeser atau mengabaikan FA. “Hafal Alquran itu baik, tetapi bisa saja seseorang hafal tanpa memahami dan mengamalkan isinya. Maka FA tetap harus diprioritaskan, termasuk bagi santri tahfiz.”

Di akhir tausiyah, Kiai Zuhri menegaskan bahwa para pembina dan guru harus memiliki kemampuan di atas mereka yang dibimbing. Hal ini penting agar proses pendidikan berjalan efektif dan berkualitas. “Kita jangan hanya memberikan apa adanya. Kita harus terus meningkatkan kemampuan.”

Sebagai upaya lanjutan, Kiai Zuhri membuka kemungkinan penyelenggaraan sorogan kitab bagi pengurus atau santri yang berminat, dengan menyediakan waktu khusus.

Tausiyah ini mempertegas arah besar pendidikan Pondok Pesantren Nurul Jadid: mencetak kader umat yang kuat dalam ilmu agama, matang dalam praktik, dan mampu membaca literatur Islam secara langsung. Dengan memprioritaskan FA, memperkuat kapasitas bahasa Arab, serta memperketat program tahfiz, diharapkan seluruh santri memiliki landasan keilmuan yang kokoh sebagai kader yang siap berkhidmah di masyarakat.

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika

Capacity Building Pengurus, Kiai Zuhri Zaini Utamakan Keikhlasan dalam Pengabdian

berita.nuruljadid.net – Ada dua tema besar yang menjadi fondasi pengabdian di pesantren: peningkatan ruhul jihad (semangat berjuang atau mengabdi) dan peningkatan kapasitas diri. Dua hal ini sangat penting untuk suksesnya dan bermaknanya pengabdian.

Hal tersebut disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, dalam tausiyahnya pada acara Capacity Building dalam Ruhul Jihad pada Rabu, 3 Desember 2025 di Aula I Pesantren. Kegiatan yang ditujukan untuk meningkatkan kompetensi dan semangat pengabdian pengurus ini dihadiri oleh seluruh pengurus di tingkat satuan kerja hingga satuan pendidikan.

Dalam tausiyahnya, Kiai Zuhri juga menjelaskan bahwa pengabdian di pesantren bukan sekadar menjalankan tugas administratif, tetapi merupakan upaya meneruskan perjuangan panjang dakwah para masyayikh hingga Nabi Muhammad SAW. Pesantren, menurut beliau, adalah lembaga yang menjalankan misi dakwah dan pendidikan sebagaimana yang dicontohkan Nabi.

“Tujuan dakwah adalah mengadakan perubahan dari yang tidak baik menjadi baik, dan dari yang baik menjadi lebih baik,” dawuhnya. Pesantren, lanjut beliau, lahir untuk melanjutkan misi kenabian dalam dakwah dan pendidikan, untuk membentuk manusia muslim yang salih, muslih, dan bermanfaat.

Selain dakwah dan pendidikan, menurut Kiai Zuhri, tugas pengurus pesantren juga adalah pelayanan kepada santri dan masyarakat. Tetapi dengan tujuan utamanya yaitu membekali santri dengan agama, tafaqquh fiddin.

“Ini bukan berarti menafikkan ilmu-ilmu yang lain, sebab agama tidak bisa berjalan dengan baik tanpa dukungan dari sektor lain: ekonomi, politik, budaya, dan lain sebagainya. Jadi tidak bisa berdiri sendiri, tetap memerlukan ilmu yang lain (IPTEK),” terang beliau.

Beliau mencontohkan bagaimana banyaknya mualaf hari ini tidak lepas dari interaksi mereka dengan media modern.

“Tanpa bertemu langsung, mereka bisa membaca teks-teks Islam dari media. Itu juga bagian dari dakwah,” imbuh beliau. Semua sektor, termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki peran penting sebagai penopang dakwah dan pendidikan Islam.

Kiai Zuhri menegaskan bahwa visi pesantren bukan semata menghasilkan individu yang kuat dalam ritual keagamaan, tetapi juga yang mampu berperan di tengah masyarakat. Beliau menguraikan panca kesadaran santri sebagai fondasi kaderisasi pesantren: beragama, berilmu, bermasyarakat, berbangsa–bernegara, serta berorganisasi.

Menurut beliau, kesadaran beragama dan berilmu adalah fondasi utama yang berkaitan dengan Tuhan dan modal dalam beramal dan berkhidmah, sementara dua kesadaran berikutnya adalah ibadah sosial. “Tidak cukup tekun shalat dan dzikir, tetapi harus pula memberi manfaat bagi sesama,” terang beliau.

Kesadaran berorganisasi, lanjut beliau, merupakan bagian integral ajaran Islam. “La islama illa bi jamaah. Islam tidak sempurna bila dijalankan sendiri-sendiri. Kebersamaan adalah syarat keberhasilan perjuangan,” jelasnya.

Pengasuh menekankan bahwa pengabdian harus dijalankan dengan empat prinsip: kerja ikhlas, kerja keras, kerja baik (itqan), dan kerja sama. Keikhlasan menurut beliau bukan alasan untuk bermalas-malasan.

Beliau juga mengingatkan bahwa tugas utama pengurus dan guru di pesantren adalah mengurus manusia, bukan barang, sehingga tanggung jawab moral dan spiritualnya jauh lebih besar. “Tugas untuk mengurus manusia agar menjadi baik adalah tugas yang sungguh mulia tapi berat. Di sinilah perlu kesungguhan kita di dalam memberikan pelayanan atau berkhidmah. Jika kita berkhidmah dengan ikhlas, pasti ada barokahnya. Barokah bukan hanya materi, tetapi bisa berupa kesehatan, ketenangan, dan kelapangan hidup.”

Kiai Zuhri menguraikan bahwa keberkahan adalah bertambahnya kebaikan, bukan semata-mata bertambahnya materi. Beliau mencontohkan kisah Kiai Abdul Madjid dari Mlandingan yang mampu memberi makan seribu santri setiap hari meski tidak memiliki sawah atau toko. “Itulah barokah, jangan dihitung dengan kalkulator,” ujarnya.

Menurut beliau, selama bekerja dengan niat lillah, Allah akan memfasilitasi dan memudahkan jalan pengabdian. “Kita bekerja karena Allah, atas pertolongan Allah, untuk mencari rida Allah. Lillah billah wailallah, wafillah.”

Maka, dawuh beliau, khidmah kita di pesantren ini adalah untuk mencari bekal masa depan, yaitu ketika kita menghadap pada Allah SWT.

“Tanggungjawab kita bukan hanya pada lembaga, tetapi juga kepada Allah SWT. Kita mengajar, jadi pengurus, dan jadi apa saja (bidang kepengurusan apapun, red.), adalah ibadah kepada Allah dalam bentuk sosial. Melaksanakan perintah itulah yang menjadikan ibadah. Mengajar, termasuk mengabdi, dalam lembaga pendidikan itu adalah perintah Allah,” terangnya.

Kiai Zuhri melanjutkan tausiyahnya dengan mengisahkan keteguhan Nabi Muhammad SAW dalam dakwah, termasuk peristiwa hijrah yang menunjukkan bagaimana pertolongan Allah hadir dalam setiap perjuangan.

“Kita harus bekerja keras dan baik, tetapi jangan mengandalkan kemampuan diri. Andalkan Allah,” pesannya.

Kegiatan Capacity Building ini diharapkan mampu memperkuat integritas, militansi, dan profesionalitas seluruh pengurus Pondok Pesantren Nurul Jadid dalam menjalankan amanah dakwah, pendidikan, dan pelayanan kepada santri maupun masyarakat.

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika

Kiai Zuhri Zaini Ajak P4NJ Nusantara Hidupkan Istighosah dan Pentingnya Silaturami di Tengah Maraknya Musibah

berita.nuruljadid.net  – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, menyerahkan Panduan Istighosah kepada para pengurus P4NJ Pusat dan Daerah dalam acara yang digelar pada Sabtu, 22 November 2025, di Aula Mini Pesantren. Panduan tersebut disusun sebagai respons atas meningkatnya berbagai musibah dan kegelisahan sosial yang dirasakan umat Islam belakangan ini.

Dalam sambutannya, Ketua P4NJ Pusat, KH. Junaidi Mu’thi, menyampaikan bahwa penyusunan buku panduan itu merupakan amanah langsung dari pengasuh pesantren.

“Beberapa minggu lalu kami ditugasi untuk memperbanyak permohonan istighosah kepada Allah. Saat ini umat Islam banyak cobaan, banyak bencana. Jika kita diam saja, seolah tidak peduli pada lingkungan sosial,” ujarnya.

Menurut Kiai Junaidi, panduan tersebut memuat empat pokok utama: Hizb Nashr, Qasidah Tawassul, Istighosah, dan Do’a Istighosah. Susunan itu, katanya, selaras dengan ajaran yang pernah diwariskan KH. Zaini Mun’im. Beliau berharap panduan yang diserahkan itu dapat diteruskan oleh para ketua P4NJ Daerah kepada jamaah di wilayah masing-masing, agar praktik istighosah tetap sesuai tuntunan Pengasuh.

Sementara itu, KH. Moh. Zuhri Zaini dalam tausiyahnya menegaskan bahwa maraknya musibah—baik fisik maupun sosial—memerlukan respons yang bijak dan kembali menguatkan tradisi sosial-spiritual. Beliau menyinggung berbagai kejadian yang belakangan viral, termasuk insiden bangunan roboh yang menimpa santri serta serangan terhadap sejumlah kiai.

“Sekarang ini kita ditonton mata dunia lewat media sosial. Karena itu kehati-hatian sangat penting. Ada bencana fisik dan sosial yang sedang menimpa. Jika kita hanya sibuk dengan hal itu (masalah, red.), maka tugas pokok kita (mencari solusi, red.) tidak terlaksana,” kata Kiai Zuhri.

Menurutnya, di balik berbagai kegaduhan tersebut, terdapat kemungkinan “skenario”, baik dari dalam maupun luar negeri. Namun, apa pun penyebabnya, umat Islam harus menyikapinya dengan cara yang lurus. Beliau juga mengingatkan agar istighosah tidak dibelokkan menjadi kegiatan seremonial atau bernuansa politik.

“Istighosah itu bukan tawakkal kepada sesama makhluk, tetapi kepada Allah. Dulu para masyayikh kalau ada masalah nasional yang menyangkut umat, beliau-beliau istighosah dengan sungguh-sungguh,” dawuhnya.

Kiai Zuhri menjelaskan bahwa panduan yang disusun mencakup tawassul, Hizb Nasr, qasidah karya KH. Zaini Mun’im tahun 1970-an, serta doa-doa penutup istighosah. Menurut beliau, doa-doa tersebut bukan hanya berkaitan dengan urusan akhirat, tetapi juga mencakup persoalan dunia seperti bangunan, pendidikan santri, hingga kejayaan agama dan umat Islam.

Dalam kesempatan itu, beliau juga menekankan pentingnya memperkuat silaturahmi dan kebersamaan, dimulai dari hal kecil dalam skup keluarga, antaranggota P4NJ, hingga bermasyarakat. Konsolidasi sosial, dawuhnya, hanya akan terbangun bila disertai sikap saling menghargai dan saling memahami. “Kalau ingin kebersamaan berbuah keharmonisan, pertama kita harus saling menghargai. Yang kedua, saling pengertian,” tuturnya.

Menutup tausiyah, Pengasuh menekankan bahwa tujuan yang baik harus ditempuh dengan cara yang baik pula. “Kalau ingin memperbaiki keadaan tapi dengan cara yang tidak benar, malah tambah rusak. Maka kita harus menyikapi keadaan dengan bijak dan pertimbangan yang matang,” tutup beliau.

Acara berakhir dengan penyerahan resmi Panduan Istighosah kepada ketua-ketua P4NJ Daerah sebagai pedoman pelaksanaan ritual doa bersama di tingkat daerah.

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika

Di Tahun 2026, Kiai Zuhri Tekankan Pentingnya Manajemen Organisasi bagi Pengurus Pesantren

berita.nuruljadid.net – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, memberikan tausiyah kepada para pengurus dalam acara Laporan Pertanggungjawaban Tahunan yang digelar di Aula I Pesantren, Jumat (07/11/2025).

Dalam arahannya, Kiai Zuhri menekankan pentingnya kemampuan manajerial dalam mengelola pesantren agar sejalan dengan visi dan misi lembaga.

“Dalam mengelola pesantren harus memperhatikan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi agar tidak lepas dari visi dan misi pesantren,” dawuhnya.

Beliau menjelaskan bahwa pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan juga wadah perjuangan para ulama dalam tafaqquh fiddin—mendalami ajaran agama untuk membekali santri dan umat Islam secara menyeluruh.

“Yang diharapkan adalah terbentuknya masyarakat yang memiliki kesadaran beragama, kader-kader bangsa yang bisa menjadi generasi penerus kita,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Kiai Zuhri menegaskan dua fungsi utama pesantren, yakni pendidikan dan pengkaderan. Sebagai lembaga pendidikan, pesantren berperan membekali santri dengan ilmu agama serta wawasan yang menunjang terbentuknya pribadi sholeh dan mushleh—santri yang tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga peduli terhadap lingkungan dan masyarakatnya.

Sebagai lembaga dakwah, lanjutnya, pesantren merupakan penerus risalah Nabi Muhammad SAW yang diwariskan melalui para ulama.

“Santri harus bisa menjadi santri yang selamat dan menyelamatkan,” pesan beliau.

Menutup tausiyahnya, Kiai Zuhri berpesan kepada seluruh pengurus agar senantiasa berpegang pada tujuan, visi, dan misi Pondok Pesantren Nurul Jadid, serta tidak menyimpang dari arah perjuangan yang telah digariskan.

Pewarta   : Ahmad Zainul Khofi
Editor      : Ponirin Mika

 

Bangun Toleransi Antariman, Nurul Jadid Terima Kunjungan Gereja Ngawi Wetan

berita.nuruljadid.net – Gereja Ngawi Wetan melakukan kunjungan silaturahmi ke Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Kabupaten Probolinggo, Ahad, 13 April 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda tahunan Komisi Antar Umat (KAUM) gereja tersebut dalam rangka mempererat toleransi antarumat beragama.

Ketua Komisi Antar Umat, Dwi Kasongko, mengatakan kunjungan ini bertujuan membangun ruang dialog dan memperkuat jalinan persaudaraan lintas iman. “Pesantren ini menjadi salah satu tempat penting bagi kami karena konsisten merawat nilai-nilai keterbukaan dan toleransi,” kata Dwi saat memberikan sambutan.

Menurut dia, Pondok Pesantren Nurul Jadid telah menjadi mitra rutin dalam program tahunan KAUM. Setiap kunjungan, kata Dwi, selalu memberi pelajaran baru tentang pentingnya hidup berdampingan secara damai.

Rombongan gereja disambut oleh Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, beserta sejumlah pengajar dan santri senior. Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh penghargaan terhadap perbedaan.

KH. Zuhri mengapresiasi inisiatif kunjungan lintas iman ini. “Semoga pertemuan ini menjadi awal yang baik untuk mempererat hubungan antarumat beragama. Kita harus terus merawat perdamaian, karena itu adalah ajaran utama dalam agama mana pun,” ujarnya.

Beliau menambahkan bahwa pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu keislaman, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan seperti saling menghormati dan hidup berdampingan. Hal ini, menurut beliau, penting diajarkan kepada generasi muda sejak dini.

Selain berdiskusi, kedua belah pihak juga saling bertukar pandangan mengenai strategi membumikan nilai toleransi di masyarakat. Rombongan gereja diajak berkeliling lingkungan pesantren dan melihat langsung aktivitas para santri.

Kunjungan ditutup dengan doa bersama yang dipimpin bergantian oleh perwakilan gereja dan pesantren. Doa menjadi penanda komitmen bersama dalam menjaga perdamaian dan kerukunan di tengah keberagaman.

Langkah ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak sebagai upaya konkret memperkuat harmoni lintas agama. Gereja dan pesantren, melalui kerja sama ini, menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan bukanlah hambatan untuk membangun persaudaraan.

 

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika

Pengasuh Tetapkan Arah Kebijakan Umum Pondok Pesantren Nurul Jadid Tahun 2025

berita.nuruljadid.net – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid KH. Moh. Zuhri Zaini telah menetapkan Arah Kebijakan Umum Pesantren (AKUP) untuk tahun 2025. Nilai-nilai yang tercantum di dalam AKUP ini dipaparkan langsung oleh beliau di Aula I Pesantren pada Kamis (17/12/24).

AKUP yang disusun setiap awal tahun merupakan komitmen Pondok Pesantren Nurul Jadid untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan dan pelayanannya terhadap seluruh elemen pesantren dan masyarakat. Kebijakan ini disusun berdasarkan tujuan, visi, dan misi Pesantren, serta mempertimbangkan isu-isu strategis yang telah tertuang dalam Rencana Strategis (Renstra) Pesantren periode 2023-2027.

Dalam arahannya, Kiai Zuhri menekankan pentingnya pengembangan pesantren sebagai lembaga pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Beliau menyampaikan bahwa AKUP tahun 2025 ini terdiri dari program-program yang bersifat tetap dan pengembangan.

“Program-program ini salah satunya bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan santri, memperkuat karakter santri, serta meningkatkan peran pesantren dalam masyarakat,” ujar Kiai Zuhri.

Adapun AKUP tahun 2025 ini memfokuskan pada empat program prioritas, yaitu:

  1. Peningkaan peran pesantren sebgai lembaga pendidikan dan pengembangan, meliputi:
    1. Internalisasi nilai-nilai pesantren melalui pemahaman dan pengamalan Furudhul Ainiyah (FA)
    2. Pengembangan kurikulum pesantren secara berjenjang
    3. Optimalisasi pesantren melalui integrasi kurikulum pesantren
    4. Peningkatan kompetensi dan keterampilan SDM essensial
    5. Pembentukan karakter santri melalui kemandirian dan jiwa korsa
  2. Optimalisasi peran pesantren melalui kaderisasi dan dakwah sebagai pemberdayaan masyarakat, meliputi:
    1. Pemberdayaan kaderisasi santri dan pengurus secara berjenjang
    2. Pemberdayaan peran lembaga dakwah pesantren dan guru tugas
    3. Optimalisasi peran media online sebagai sarana informasi dan dakwah digital pesantren
  3. Peningkatan layanan pesantren dalam pemenuhan standar mutu manajemen terpadu melalui pemberdayaan sumber daya pesantren dan masyarakat, melputi:
    1. Pemenuhan fasilitas santri sebagai standar layanan dasar pesantren
    2. Optimalisasi peran digitalisasi layanan standar pesantren berbasis ISO
    3. Peningkatan layanan pesantren di bidang kesehatan masyarakat melalui penyediaan rumah sakit umum
  4. Pemberdayaan potensi ekonomi pesantren menuju pesantren mandiri, meliputi:
    1. Penegembangan unit usaha sebagai percepatan pertumbuhan usaha pesantren
    2. Peningkatan partisipasi usaha pesantren dalam pemenuhan pendapatan pesantren
    3. Peningkatan usaha pesantren melalui kerja sama dan kemitraan luar pesantren

Dengan penetapan AKUP ini, Kiai Zuhri berharap agar Pondok Pesantren Nurul Jadid dapat semakin berperan aktif dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan perkembangan pesantren itu sendiri.

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika

Kiai Zuhri Resmikan Kantor P4NJ Situbondo

berita.nuruljadid.net – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton KH. Moh. Zuhri Zaini meresmikan Kantor Pembantu Pengurus Pondok Pesantren Nurul Jadid (P4NJ) Kabupaten Situbondo pada Rabu (18/09/24).

Beliau menyampaikan bahwa gedung kantor ini adalah sarana perjuangan bagi P4NJ Situbondo untuk melahirkan kebaikan bagi sesama.

“Momentum ini sangat pas sekali dimulai dengan rangkaian kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. dan Haul Masyayikh,” imbuh beliau.

Dalam kesempatan yang sama, beliau juga menguraikan ibadah yang harus dilakukan oleh Muslim, yaitu ritual ibadah kepada Allah dan ibadah sosial.

“Di Islam itu, hubungan kepada Allah harus disertai dengan hubungan yang baik kepada sesama,” terangnya.

Di dalam berjuang untuk kebaikan bersama, lanjut beliau, kita memerlukan organisasi untuk mengatur dan mengorganisir kerja-kerja kebaikan tersebut.

“Alhamdulillah di sini sudah ada sarana berorganisasi, yaitu kantor. Jangan sampai perjuangan ini hanya tinggal alatnya saja. Semoga dengan adanya sarana ini akan meningkatkan kinerja kita, khususnya bagi P4NJ Situbondo,” ungkap beliau.

Di samping itu, beliau juga berharap dengan berdirinya gedung kantor P4NJ pertama ini bisa memotivasi pendirian gedung kantor P4NJ di kabupaten-kabupaten lainnya.

“Peresmian dan berdirinya kantor P4NJ Situbondo ini mudah-mudahan menjadi contoh bagi P4NJ di kabupaten lain,” harapnya.

 

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika

Kiai Zuhri Zaini: 4 Penyakit Hati yang Harus Diwaspadai Umat Muslim

berita.nuruljadid.net – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid KH. Moh. Zuhri Zaini menerangkan ada 4 penyakit hati yang perlu dihindari oleh umat Muslim. Hal tersebut beliau kutip dari keterangan Syaikh Abu Yazid Al-Bustami pada kitab Minhajul Abidin karya Imam Al-Ghazali yang dikaji pada Sabtu (22/06/24) di Musala Riyadlus Sholihin.

Pertama, Kiai Zuhri mengingatkan umat Muslim untuk tidak terlalu sering berangan-angan tentang masa depan.

“Masa Depan memang perlu disiapkan dan direncanakan. Akan tetapi, jangan terlalu dipikirkan sampai berlarut-larut. Karena terlalu banyak berangan-angan tentang masa depan cenderung menjadikan kita lupa untuk menyiapkannya,” terangnya.

Penyakit hati yang kedua, lanjut beliau, adalah sifat terburu-buru untuk meraih tujuan alias bermental terima jadi.

“Terkadang kita memaksa banyak hal untuk selesai di waktu yang singkat. Padahal, ada proses penting yang harus kita lalui agar lebih bisa menikmati apa yang akan kita dapatkan,” jelasnya.

Beliau memberikan contoh fenomena era globalisasi hari ini, tepatnya usaha di saat kita hendak makan. Menurut beliau, akan berbeda rasanya ketika kita masak sendiri selama berjam-jam, ketimbang membeli makanan melalui Go Food yang hanya dapat diakses dengan satu kali ketukan di HP.

Kemudian penyakit hati yang ketiga adalah sifat dengki. Di bagian ini, Kiai Zuhri berpesan agar kita senantiasa menjauhkan sifat ke-aku-an dalam diri.

“Sifat dengki adalah rasa tidak suka apabila kenikmatan dianugerahkan untuk orang lain karena ia merasa kenikmatan hanya boleh menjadi miliknya saja,” imbuhnya.

Meniti pada poin keempat penyakit hati, yakni takabbur atau sombong. Menurut beliau, sifat sombong adalah perilaku ketika seseorang merasa dirinya besar dan sangat berharga.

“Dosa inilah yang menyebabkan Iblis durhaka kepada Tuhan karena ia merasa lebih baik daripada Nabi Adam, begitupun sifat inlah yang menjadikan Qabil, putra Nabi Adam As, membunuh saudara kandungnya sendiri (Habil, red.),” paparnya.

Akhir penjelasan tentang 4 hal di atas, Kiai Zuhri berpesan kepada umat Muslim untuk senantiasa melakukan introspeksi diri dan menjernihkan hati agar amal-amal yang dilakukannya tidak berujung sia-sia.

 

Pewarta: Naura Fikroh Sadidah

Editor: Ahmad Zainul Khofi

Dihadapan Pengurus NU, Kiai Zuhri Ingatkan Pentingnya Merawat Kebersamaan

nuruljadid.net – Menjadi pengurus Nahdhatul Ulama (NU) jangan lupa untuk terus membangun kebersamaan dalam melaksanakan tugas. Kebersamaan itu akan memudahkan setiap tugas bisa dilaksanakan dengan baik.

“Berjamaah atau kebersamaan perintah agama. Ini bukan hanya dalam melaksanakan sholat tapi berjamaah dalam melaksanakan tugas keseharian,” kata Kiai Zuhri saat memberikan tausiyah dihadapan pengurus MWCNU Paiton Probolinggo di Aula Mini Pondok Pesantren Nurul Jadid, Sabtu (02/03/24).

Beliau menambahkan, mengemban amanah harus sebaik-baiknya. Menurut beliau, hal ini bisa didapati jika dikerjakan dengan berjamaah atau kebersamaan. Meskipun hal itu tidak mudah namun bila kita saling memahami dan menghormati sikap dan perbedaan, insya Allah akan bisa tercapai.

“Kalau ada pengurus yang keliru ya minta maaf dan harus dimaafkan,” tegasnya.

Beliau juga menegaskan bahwa, menjadi pengurus NU merupakan orang-orang terpilih dari Allah. Ia berharap agar dalam melaksanakan amanah dari NU semata-mata berharap ridha Allah SWT.

“Kalau kita bekerja untuk Allah maka segala hajat dan kebutuhan kita akan diperhatikan oleh Allah,” imbuhnya.

Selanjutnya, Kiai Zuhri menceritakan perjuangan para pendahulu. Kata beliau, para pendahulu kita mendapatkan pertolongan dari Allah. Hidup mereka tidak mengalami kesulitan karena beliau berjuang untuk Allah dan umatnya.

Tak hanya itu, beliau menjelaskan pentingnya silaturahim. Kata Kiai Zuhri, menyampaikan pentingnya silaturahim adalah untuk memperkokoh ukhuwah diniyah, wathaniyah, insaninyah dan nahdhiyah.

Potret foto bersama pengurus MWCNU Kecamatan Paiton bersama Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid KH. Moh. Zuhri Zaini di penghujung acara silaturrahim

Sementara itu, ketua Tanfidziah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Paiton H. Zainul Arifin mengatakan, anjangsana pengurus ke masyayikh pesantren sebagai salah satu upaya di dalam menghadirkan energi positif agar terus mengalir semangat pengabdiannya pada NU.

“NU betul-betul organisasi yang militan butuh semangat dari Masyayikh. Ini dimaksudkan agar semangat pengabdian pengurus MWCNU Paiton sehingga semangatnya terus berkibar,” tegasnya.

Kita datang, ungkap Ustaz Zein, untuk memohon tausyiah atau arahan untuk membangkitkan Ruhul jihad di NU.

 

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi

Editor: Ponirin Mika

Perdana, Unuja Hidupkan Kembali Kajian Kuliah Tasawuf Bersama Pengasuh

nuruljadid.net – Setelah lama vakum, akhirnya Lembaga Pembinaan Pondok Mahasiswa (LP Pomas) Universitas Nurul Jadid kembali hidupkan Kajian Kuliah Tasawuf bersama KH. Moh. Zuhri Zaini, selaku Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Kuliah Tasawuf bersama Pengasuh merupakan program kegiatan rutinan yang diadakan oleh LP Pomas tiap satu bulan sekali. Namun sejak adanya pandemi covid 19, program ini sempat terhenti dan baru bisa diaktifkan kembali pada Senin (12/06/23) Malam kemarin sebagai perdana.

Kegiatan ini dilaksanakan secara teleconverence diikuti oleh semua santri yang berstatus mahasiswa. Pada kali ini Kuliah Tasawuf bertempat di Mushalla Riyadlus Sholihin untuk santri putra, sedangkan untuk santri putri bertempat di Aula I Pesantren yang mengikuti secara virtual melalui zoom.

Ratusan mahasiswa Unuja berbondong-bondong menempati Musala dan Aula I pesantren untuk mengikuti kajian ini. LP Pomas juga memberikan akses untuk mahasiswa luaran dan masyarakat umum yang ingin mengikuti kajian tersebut melalui kanal youtube resmi milik Universitas Nurul Jadid yang disiarkan secara Live.

Pada pertemuan perdana ini, Pengasuh menerangkan sekilas pengenalan tentang dunia tasawuf. Ada beberapa hal yang menjadi pokok bahasan di pertemuan perdana itu. Mulai dari ilmu, pentingnya beragama, berguru, dan memaknai tasawuf itu sendiri.

(KH. Moh. Zuhri Zaini ketika mengisi kegiatan Kuliah Tasawuf yang diadakan di Musala Riyadlus Sholihin)

Dalam penjelasan yang disampaikan KH. Moh. Zuhri Zaini, beliau menyebut bahwa ilmu agama itu berbeda dengan ilmu IPTEK. Kalau ilmu agama itu harus memiliki guru, sedangkan ilmu IPTEK boleh kita kembangkan sendiri tanpa harus berguru dengan memakai keahlian ilmu yang dimiliki.

Tidak hanya sekedar memiliki guru alakadarnya, akan tetapi dalam mempelajari ilmu agama kita juga diharuskan memilih guru yang sanadnya bersambung hingga sampai ke Rasulullah SAW.

“Tidak bisa ilmu agama itu hanya bermodalkan kecerdasan dan ketekunan. Jadi harus berguru yang sanadnya sampai kepada Rosulullah,” papar beliau.

Setelah menjelaskan definisi tasawuf secara rinci, Pengasuh kemudian memberikan pemaknaan yang lebih sederhana kepada audien terkait makna Tasawuf agar lebih mudah dipahami.

“Gampangnya, Ilmu Tasawuf adalah ilmu untuk memperbaiki akhlak kita,” KH. Zuhri menyimpulkan.

 

(Humas Infokom)

 

Galeri Foto: Pengarahan Pengasuh Pra-Libur Santri Bulan Ramadan dan Idul Fitri 1444 H

Jelang Libur Ramadhan, Pengasuh Berikan Arahan Kepada Para Santri

nuruljadid.net – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Muhammad Zuhri Zaini BA, berikan arahan santri Pra Libur Ramadhan 1444 H pada Rabu (05/04/2023) malam yang bertempat di Masjid Jami’ Nurul Jadid.

Arahan pengasuh merupakan rutinitas yang biasa dilaksanakan pra libur santri, baik libur Maulid maupun libur Ramadhan. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh santri baik santri putra maupun santri putri.

Sebelum dimulai, kegiatan diawali dengan pengumuman terkait ketentuan pulangan yang disampaikan oleh Ustaz Alif. Ketentuan tersebut mulai dari ketuntasan blangko kegiatan santri selama ramadhan,  tanggal pulang dan kembali santri, sanksi jika terlambat kembali ke pondok dan kewajiban bagi santri untuk pulang bersama ikut rombongan yang di koordinir oleh pengurus pesantren dan P4NJ.

Dalam arahan tausiah, Pengasuh menyampaikan beberapa hal penting. Mulai dari memaknai hari libur santri, hingga pesan-pesan kepada santri ketika sudah berada dirumah.

“Tapi kita jangan salah memaknai libur. Jadi libur itu kita hanya mengganti aktivitas agar tidak jenuh dari yang semula padat di pondok. Sebab kalau terus-terusan akan jenuh dan akan kehilangan semangat belajar, semangat mondok,” dawuh Pengasuh.

(Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid KH. Moh. Zuhri Zaini BA disaat menyampaikan arahan kepada para santri Pra Libur Ramadhan 1444 H)

Berlibur ini jangan diartikan kita seenaknya beraktivitas. Aktivitas kita harus diatur, bagaimana aktifitas kita itu tidak berdampak buruk dan berdampak baik,” tambah beliau

Beliau juga meminta para santri untuk tidak meninggalkan wiritan.

“Ya memang ketika kita dirumah tidak harus wiritan panjang, antara maghrib dan isya’. Tapi harus wiritan juga, jangan ditinggalkan wiritan itu. Sebab ibarat mesin sepeda motor, tiap hari harus dihidupkan, jika ditaruh saja tidak pernah dihidupkan, pada akhirnya akan rusak,” dawuh KH. Zuhri.

Tak kalah pentingnya, Pengasuh berulang kali mengingatkan santri agar selalu mengedepankan akhlak yang baik.

“Orang kalau sudah pulang ke tengah masyarakat, yang dilihat pertama kali bukan alimnya, bukan pinternya, bukan terampilnya, tapi yang dilihat adalah prilaku, karakter dan akhlaknya. Kalau akhlaknya baik pasti disenangi, kalau akhlaknya buruk sekalipun alim itu pasti dibenci,” tutur beliau.

(Momen para santri menyimak dengan baik penyampaian Arahan Pengasuh menjelang libur Ramadhan santri 1444 H)

“Kalau kita pulang ada perubahan dengan tatakrama kita, ada perubahan akhlak kita semakin membaik, orang tua kita akan bergembira. Buktikan bahwa kita ini berhasil mondok itu. Kalau tidak ada perubahan ini susah, sedih,” papar pengasuh.

Kegiatan diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin oleh KH. Muhammad Zuhri Zaini.

 

 

(Humas Infokom)

Tak Tanggung, MANBO Luncurkan Belasan Armada Bus Kunjungi Nurul Jadid

nuruljadid.net – Rombongan study tour dari MA Negeri Bondowoso atau yang dikenal dengan julukan MANBO kunjungi Pondok Pesantren Nurul Jadid pada awal bulan maret (1/03/2023) rabu pagi kemarin. Kedatangan rombongan tersebut dalam rangka merealisasikan salah satu program sekolahnya yang bernama “Tabarrukan”.

Program “Tabarrukan” ini merupakan kegiatan rutinan menjelang akhir KBM siswa dan siswi kelas XII yang biasa dilaksanakan tiap tahunnya oleh sekolah MANBO. Tahun ini terdapat 367 siswa yang ikut dalam rombongan dan diikuti oleh 26 guru pendamping. Mereka berasal dari 3 jurusan, yakni IPA, IPS dan keagamaan. Total kendaraan yang digunakan rombongan ada sebanyak 11 armada bis.

Rombongan tiba di bumi Nurul Jadid pada pukul 04.00 WIB. Selanjutnya rombongan merapatkan diri ke Mushalla Riyadlus Sholihin untuk melaksanakan sholat shubuh berjamaah dengan pengasuh.

 

Dokumentasi ketika arahan pengasuh pondok Pesantren Nurul Jadid Probolinggo oleh KH. Zuhri Zaini

Rombongan tersebut disambut langsung oleh KH. Zuhri Zaini selaku Pengasuh Pesantren Nurul Jadid dan juga beberapa pengurus pesantren yang turut menemani tamu.  Selepas sholat subuh berjamaah, pimpinan rombongan memberikan sambutan dan memohon agar Pengasuh memberikan sedikit tausiyah terhadap rombongan siswa MANBO.

“Sebenarnya keinginan untuk sowan ke Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid ini telah ada sejak lama. Namun pada waktu itu terkendala pandemi covid yang cukup lama. Hingga tertunda dan pada akhirnya alhamdulillah bisa tercapai pada pagi hari ini,” terang ketua rombongan MANBO.

Sementara itu, KH. Zuhri dalam sambutannya berharap agar pertemuan ini mampu menguatkan tali ukhuwah.

“Mudah-mudahan perjumpaan ini akan menguatkan tali ukhuwah diantara kita sesama ummat rosulullah Muhammad Saw,” tutur pengasuh.

Karena peserta merupakan kelas akhir, pengasuh juga memberikan arahan agar nanti ketika kuliah mereka tidak masuk jurusan karena ikut-ikutan teman. Pengasuh menyarankan pilihan jurusan kuliah agar disesuaikan dengan potensi diri masing-masing. Oleh karena itu, siswa diharapkan bisa segera menemukan potensi yang dimiliki.

Banyak hal yang disampaikan oleh pengasuh. Siswa MANBO menyimak kata demi kata yang disampaikan KH. Zuhri Zaini dengan baik. Setelah tausiah selesai, pertemuan itu ditutup dengan doa yang dipimpin oleh pengasuh. Kemudian rombongan melanjutkan perjalanannya ke Malang.

 

(Humas Infokom)

Kiai Zuhri: Bentuk Mensyukuri Nikmat Tidak Cukup Hanya Dengan Mengucapkan, Namun Juga Meneladani

nuruljadid.net – Kiai Muhammad Zuhri Zaini pada acara puncak Haul dan Harlah Pondok Pesantren Nurul Jadid ke-74, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur menjelaskan kepada santri untuk mensyukuri nikmat dan bentuk pengamalannya.(22/02/2023)

Penjelasan tersebut diberikan ketika sambutan acara puncak pengajian umum haul dan harlah ke-74. Didepan ribuan audien yang hadir, mulai dari santri aktif, alumni dan simpatisan Kyai Zuhri mengawalinya dengan pemaparan kegiatan rutinan harlah, beliau tidak ingin kehilangan hikmah.

“Namun sekalipun ini acara rutin dan nampak seperti acara seremonial, tentu kita tidak ingin kehilangan hikmah dibalik acara ini. Sekalipun ini sudah kita ulang-ulang setiap tahun. Yang jelas dengan peringatan harlah ini, kita ingin mensyukuri pesantren yang telah berdiri dan terus berkembang serta memberikan pelayanan kepada masyarakat,” tutur beliau.

Momen disaat Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Zuhri Zaini memberikan Sambutan kepada santri, undangan, alumni dan simpatisan.

Selain bersyukur kepada Allah, Kiai Zuhri melanjutkan, kita juga berterimaksih kepada orang-orang yang berjasa kepada kita. Utamanya kepada pendiri, masyayikh dan semua yang ikut memberikan kontribusi didalam berdirinya dan terus berlangsungnya pondok pesantren ini, kepada semuanya kita sampaikan terimakasih.

“Dan juga khususnya kepada beliau yang telah mendahului kita almarhumin-almarhumin. Kita berdoa mudah-mudahan beliau-beliau yang telah bersusah payah untuk mendirikan dan membantu berdirinya pondok pesantren ini akan mendapat amal jariyah di alam barzah,” papar Kiai Zuhri serta diikuti dengan jawaban aamiin serentak oleh audien.

Selanjutnya pengasuh menambahkan, mensyukuri nikmat tidak cukup hanya dengan mengucapkan alhamdulillah, tidak cukup hanya mengenang dan mendoakan orang-orang yang berjasa kepada kita sekalipun itu adalah suatu hal yang wajib untuk kita laksanakan. Tapi lebih dari itu, tentunya kita berupaya untuk meneladani beliau-beliau.

“Kita meneladani baik akhlaknya, karakternya maupun perjuangannya ditengah-tengah masyarakat. baik perjuangannya untuk pesantren, maupun perjuangan untuk masyarakat, bangsa dan negara,” pengasuh memaparkan,” papar pengasuh.

 

 

 

(Humas Infokom)