Pos

KH. Moh. Zuhri Zaini: Halaqah Fikih Peradaban Bukan Hanya Silaturahim Biasa

nuruljadid.net – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid KH. Moh. Zuhri Zaini mengungkapkan bahwa hadirnya Halaqah Fikih Peradaban ini bukan hanya silaturahim biasa atau ketemu muwajahah, tapi juga ada silatul afkar yaitu sambung pikiran dan pemahaman.

Memaknai hal tersebut, Kiai Zuhri berharap kita bisa saling menghargai jika terdapat perbedaan pendapat. Karena menurutnya, hidup ini tidak akan pernah selalu sama, jadi dengan adanya perbedaan pendapat asalkan disikapi dengan benar yaitu saling menerima dan saling mengisi, insyallah akan menjadi hikmah.

Hal ini disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid KH. Moh. Zuhri Zaini melalui sambutannya pada acara Halaqah Fikih Peradaban dalam rangka memperingati Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) di Aula I Pondok Pesantren Nurul Jadid, Ahad (2/10/2022).

(Potret suasana Halaqoh Fikih Peradaban di Aula I Pondok Pesantren Nurul Jadid)

Kiai yang akrab disapa dengan Kiai Zuhri ini melanjutkan, hadirnya Halaqah Fikih Peradaban di Pondok Pesantren Nurul Jadid merupakan obat rindu kami terhadap kegiatan-kegiatan NU yang sering diadakan beberapa tahun lalu.

“Adanya Halaqah Fikih Peradaban ini menghidupkan kembali sunnah-sunnah NU yang sudah kurang begitu diperhatikan, sebab masa yang lalu kita sering ketemu melalui kegiatan-kegiatan seperti ini. Saya mewakili pesantren sebagai shohibul bait, merasa mendapat kehormatan ditempati kegiatan ini, sebab sudah lama saya merindukan adanya kegiatan-kegiatan seperti ini,” ungkap Kiai Zuhri.

Kiai Zuhri berharap halaqah ini bisa membuahkan sesuatu yang konkrit, ada tindak lanjut, dan menjadi ruang bagi kita agar bisa saling mengenal satu sama lain, bukan hanya pribadinya tetapi juga pemikiran dan pemahamannya.

“Harapan kita adalah silaturahim ini sekalipun mungkin belum membuahkan sesuatu yang konkrit tapi mudah-mudahan ada tindak lanjut, tapi andaikan tidak, sudah bersyukur bisa ketemu seperti ini, sebab ketemu-ketemu sekarang ini sangat mahal, bukan mahal ongkosnya, tapi karena kesibukan kita masing-masing, ya mungkin ini adalah tanda sudah mendekatnya kiamat, katanya semakin dekat kiamat, kesibukan semakin banyak sehingga silaturrahim sulit untuk dilaksanakan,” dawuh Pengasuh.

Beliau juga mengucapkan terima kasih atas rawuhnya para masyayikh dan telah menjadikan Pondok Pesantren Nurul Jadid sebagai salah satu titik tempat digelarnya Halaqah Fikih Peradaban.

“Dan mohon untuk tidak kapok lagi untuk rawuh kesini dan mengadakan kegiatan disini, kami sangat terbuka, sangat welcome dengan kehadiran dan hadirnya kegiatan halaqoh disini,” dawuh pengasuh menutup sesi sambutannya.

 

(Humas Infokom)

Majelis Masyayikh : Nurul Jadid Pelopori Rencana Induk Pesantren se-Indonesia

nuruljadid.net – Majelis Masyayikh mengundang Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid KH. Moh. Zuhri Zaini dan banyak pengasuh pondok pesantren se-Indonesia dalam Halaqah dan Silaturahmi “Majelis Masyayikh Mendengar Pengasuh Pesantren” pada Selasa pagi (13/09/2022) secara daring.

Pengasuh Kiai Zuhri didampingi pengurus pesantren mengikuti kegiatan tersebut dari Aula Mini Pesantren. Pada halaqoh tersebut KH. Abdul Ghaffar Rozin memaparkan tentang kedudukan dewan masyayikh dalam Undang-Undang Pesantren nomor 18 tahun 2019.

Menurut pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda Pati KH. Abdul Ghaffar Rozin tersebut, majelis masyayikh bertugas untuk merumuskan dan menetapkan sistem penjaminan mutu pesantren.

Perumusan sistem penjaminan mutu pesantren yang digagas ini bertujuan untuk melakukan standarisasi dan peningkatan kualitas sumber daya, pengelolaan dan penguatan sarana prasana dengan tetap memperhatikan kekhasan pesantren terkait.

Selain itu, sistem penjamin mutu pesantren juga diproyeksikan dapat mewujudkan pendidikan yang bermutu melalui penyelenggaran pendidikan pondok yang adaptif dengan kebutuhan zaman tanpa tercerabut dari prinsip dan nilai luhur pesantren itu sendiri.

(Potret peserta majelis fokus mengikuti kegiatan Halaqah dan Silaturahmi “Majelis Masyayikh Mendengar Pengasuh Pesantren”)

Dalam kesempatan ini, Kiai Zuhri mengusulkan untuk pengembangan kelembangan, pondok pesantren harus menimbang aspek nilai keagamaan, kemandirian, keterbukaan dan kesediaan penerapan manajemen modern dan profesional.

Sebagai wujud dari poin yang terakhir, Kiai Zuhri, pengasuh pondok pesantren yang terletak di desa Karanganyar itu telah menetapkan PIP (Perencanaan Induk Pesantren) untuk rentang waktu 40 tahun.

Dalam forum daring tersebut, Bu Nyai Hj. Badriyah Fayumi, salah satu anggota majelis masyayikh,  menyambut baik atas usulan Nurul Jadid dalam menetapkan PIP. Tak hanya itu, Nyai Badriyah juga mengusulkan pada Majelis Masyasyikh agar menjadikan PIP ini sebagai praktik baik (best practice) untuk seluruh pondok pesantren di Indonesia.

Sementara, Haji Thohiruddin, kepala Inkubasi Bisnis Nurul Jadid, yang juga turut hadir dalam acara tersebut menyatakan siap untuk memfasilitasi seluruh dokumen terkait PIP apabila nanti Nurul Jadid dipercaya untuk menjadi rujukan dalam pembuatan naskah Rencana Induk Pesantren.

Turut hadir secara luring dari Pondok Pesantren Nurul Jadid Sekretris Pesantren H. Faizin Syamwil, Kepala Staf Pimpinan Ahmad Sahidah, Ph.D, Kepala Biro Pendidikan Kiai Moh. Imdad Rabbani, Kepala Banwas KH. Moh. Mahfudz Faqih, Kepala Inbis H. Thohiruddin, dan beberapa pengurus pesantren.

Kegiatan halaqoh dan silaturmi Majelis Masyayikh ini ditutup dengan pembacaaan doa yang dipimpin oleh Kiai Zuhri.

(Humas Infokom)

Kiai Zuhri Zaini : Manusia Bisa Lebih Mulia dari Malaikat Berkat Ilmu

nuruljadid.net – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton Probolinggo, Kiai Zuhri Zaini, memberikan tausiah pada penutupan Orientasi Santri Baru (Osabar) 2022, Senin (04/07/2022) malam. Beliau menuturkan akan pentingnya sebuah ilmu dan akhlakul karimah.

Kiai Zuhri menerangkan bahwa ayat yang pertama kali turun yakni perintah membaca atau iqra’. Kata beliau ini menunjukkan betapa pentingnya ilmu dan ilmu juga menaikkan derajat manusia.

“Bukan hanya manusia yang terangkat derajatnya saat ada ilmunya. Bahkan microphone pun akan terangkat derajatnya ketika dibuat oleh orang yang berilmu,” jelas beliau.

Akan tetapi, Kiai Zuhri mengingatkan ilmu yang bisa mengangkat derajat manusia yakni ilmu yang berguna. Sebab, kata beliau, terdapat orang yang memiliki ilmu tapi tidak berguna, yaitu, ilmu santet.

“Ilmu santet itu juga sebuah ilmu. Tapi membahayakan orang lain,” dawuhnya. Itu sebabnya, ilmu semacam itu bukan malah mengangkat derajat manusia, beliau menegaskan, tetapi justru menurunkannya.

Ilmu yang paling penting dan bisa mengantarkan kesuksesan bagi manusia, Kiai Zuhri melanjutkan, ialah ilmu agama. Sebab, ilmu agama berasal dari Allah yang menciptakan alam semesta ini dan juga manusia.

(Pengasuh Kiai Zuhri Zaini saat tengah memberikan tausyiah kepada santri bari pada acara Grand Closing OSABAR 2022 di Aula 1 Pondok Pesantren Nurul Jadid)

Begitu pula orang pinter atau alim. Jika ia memiliki karakter buruk dan akhlaknya jelek, maka ilmunya hanya akan dibuat main-main saja. “Mungkin kita sudah sering mendengar para koruptor yang mengambil harta masyarakat dan negara untuk kepentingan pribadi atau kelompok.”

“Koruptor itu bukan orang bodoh. Mereka berpendidikan tinggi. Bahkan mereka tau bahwa korupsi itu salah dan buruk,” imbuh beliau. Akan tetapi kenapa mereka korupsi. “Ilmu saja tidak cukup. Harus diiringi dengan membina karakter dan akhlak,” tegas Kiai Zuhri.

Meskipun ilmu itu penting, kata beliau, namun jika berada pada orang yang tidak berakhlak, maka akan menjadi buruk dan celaka. “Binalah karakter kita, binalah akhlak kita. Karena itu yang akan membuat kita mulia.”

Menurut beliau. 0ara santri baru juga diarahkan agar dipondok jangan numpuk ilmu saja. Tetapi, harus membina akhlakul karimah.

Pengasuh juga menyemangati para santri agar selalu bekerja keras dalam menuntut ilmu dan membina akhlakul karimah. Sebab, kata Kiai Zuhri, tidak mungkin cita-cita tinggi dicapai kalau bermalas-malasan.

Semangat belajar tersebut mesti diiringi dengan berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah. Sebab, sekeras apapun berusaha, beliau melanjutkan, tanpa pertolongan Allah, itu akan sulit. Lantaran yang menentukan keberhasilan itu adalah Allah. “Akan tetapi jangan hanya minta tolong dan memohon. Kewajiban kita kepada Allah juga dikerjakan,” jelas Kiai Zuhri.

Di penghujung tausiah, Kiai Zuhri menyampaikan, agar tetap harus bersemangat. “Bukan hanya saat Osabar saja. Tetapi, di kegiatan-kegiatan pesantren nantinya.” Beliau memohon agar para santri mendapatkan pertolongan dan bimbingan Allah. “Semoga diberikan kesuksesan oleh Allah,” harap beliau.

 

sumber: jatim.beritabaru.co

Pengasuh: “Tafaqquh Fiddin”, Pesantren Harus Bekali Santri Tidak Hanya Agama, Tapi Juga Karakter dan Etika

nuruljadid.net – (18/12) Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid KH. Moh. Zuhri Zaini dalam sambutannya, memberikan apresiasi dan mengungkapkan rasa terimakasihnya kepada pengurus pesantren yang telah menjalankan amanah program tahun 2021.

“Saya mengucapkan terima kasih atas kinerja pengurus selama ini. Dan saya mohon maaf karena tidak bisa ikut mendampingi terhadap kinerja pengurus terutama di akhir tahun untuk menyusun laporan dan program,” tutur KH. Moh. Zuhri Zaini.

Pada sambutan yang juga sekaligus tausyiah tersebut, Kiai Zuhri menyampaikan tujuan pesantren bahwa pesantren memiliki banyak fungsi.

“Pesantren mempunyai beberapa fungsi sebagai Lembaga Dakwah, Pendidikan, Pengkaderan dan Pemberdayaan. Tentu pesantren harus terus melakukan upaya perbaikan-perbaikan demi mewujudkan visi dan misi yang diemban pesantren,” imbuhnya.

(Pengasuh KH. Moh. Zuhri Zaini tengah menyampaikan tausyiah pada kegiatan Penetapan Program/Anggaran Tahun 2022 di Aula 1 PPNJ)

Pesantren sebagai lembaga pendidikan harus terus berinovasi dalam mendesain pendidikan yang dapat membekali santri dengan ilmu agama tanpa menafikan pentingnya ilmu umum serta penguasaan teknologi di era disruptif dewasa ini.

Pesantren sebagai lembaga dakwah yaitu agen perubahan. Dakwah dalam arti mengubah dari hal yang tidak baik menjadi hal yang baik dan meningkatkan yang sudah baik dalam segala aspek kehidupan. Hal ini berkesinambungan dengan misi pendahulu kita (misi risalah Rasul) yang diteruskan oleh para ulama.

Kaderisasi santri merupakan salah satu fungsi pesantren, bagaimana pesantren mampu mengkader santri dengan kompetensi dan keterampilan yang dibutuhkan pesantren dan masyarakat kelak. Hal ini diimplementasikan dengan penjaringan santri yang memiliki potensi dengan berbagai program penguatan keahlian.

Pesantren juga berfungsi sebagai pemberdayaan melalui pelayanan kepada masyarakat atau ummat, baik kepada santri maupun masyarakat secara umum. Karena keberadaaan pesantren sejak awal merupakan bagian struktur sosial masyarakat yang tak terpisahkan.

Sebuah keniscayaan bahwa kerja besar itu butuh manajemen organisasi yang baik mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pendampingan dan pengawasan hingga evaluasi.

“Evaluasi dan perbaikan harus terus dilakukan. Lebih-lebih dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin berkembang,” ungkapnya.

Kiai Zuhri menyampaikan perlu adanya penguatan di setiap lini. Sesudah berhasil membuat perencanaan program setahun kedepan mengacu pada hasil evaluasi akhir tahun. Oleh karenanya, pengelolaan kelembagaan dan organisasi yang profesional mutlak menjadi sebuah kebutuhan bersama.

(Pengasuh KH. Moh. Zuhri Zaini tengah menyampaikan tausyiah pada kegiatan Penetapan Program/Anggaran Tahun 2022 di Aula 1 PPNJ)

Tidak kalah penting, Kiai Zuhri menguatkan pesan dalam tausyiahnya bahwa misi pesantren sebagai tafaqquh fiddin harus membekali santri tidak hanya agama, tapi juga karakter dan etika karena dewasa ini bangsa dan dunia tengah menghadapi krisis ketauladanan dan moral.

Poin selanjutnya yang Kiai Zuhri sampaikan adalah penguatan ekonomi mandiri Pesantren. Pesantren jangan sampai hanya bergantung pada dana yang dipungut dari santri dan Wali Santri. Sehingga pesantren perlu untuk terus berupaya melakukan pembangunan dan penguatan ekonomi. Belajar dari orang kita (NU) sendiri yang sudah berhasil, karena kerja bisnis tidak perlu terlalu teoritis, terpenting mau bekerja keras dan tekun.

Di Pondok Pesantren Nurul Jadid program penugasan tenaga pendidik belum menjadi tradisi. Kedepan perlu ditekankan dalam menggembleng santri yang disiapkan menjadi pendidik. Penguatan tidak sekedar akademik atau keilmuannya saja, namun juga kepribadian, tradisi pesantren dan nilai-nilai pesantren yang harus dikenalkan kepada masyarakat melalui penjalinan kerjasama dengan pihak luar.

 

(Humas Infokom)

KH. Moh. Zuhri Zaini Pimpin Probolinggo Bersholawat di tengah Pandemi COVID-19

nuruljadid.net – kegiatan Kabupaten Probolinggo Bersholawat berlangsung khidmat dan meriah (10/7/2021). Ribuan orang mengikuti secara vitual baik melalui aplikasi Zoom Meeting maupun kanal Youtube Pondok Pesantren Nurul Jadid. Kegiatan yang diisi istighosah dan doa bersama ini dilaksanakan selama PPKM sebagai ikhtiar bathin untuk keselamatan bangsa. Program ini merupakan inisiatif Pemerintah Daerah Kabupaten Probolinggo yang turut mengundang Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini sekaligus Mustasyar NU Jawa Timur, untuk memimpin istighosah dan memberikan tausyiah khasanah dalam menghadapi pandemi covid-19.

Turut hadir secara virtual Bupati Probolinggo Ibu Hj. P. Tantriana Sari, SE.; Wakil Bupati Bapak Drs. H. A. Timbul Prihanjoko; Sekda; Ketua DPRD; Kabag Kesra; Para Alim-Ulama; Habaib dan hadir pula Bapak Drs. H. Hasan Aminuddin, M.Si. selaku pimpinan Komisi IV DPR-RI serta keluarga besar ASN dan masyarakat Probolinggo yang mengikuti kegiatan Probolinggo Bersholawat secara live streaming di YouTube dan Zoom.

Kegiatan ini merupakan upaya dalam bermunajat bersama mengharapkan perlindungan dari Allah SWT dan untuk menambah kecintaan kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW khususnya di masa pandemi yang sulit dewasa ini.

Bupati Probolinggo dalam sambutannya memberikan support penuh terhadap tenaga kesehatan dan non kesehatan yang berjibaku di lapangan menangani kasus COVID-19 dengan multivitamin ekstra dan Fooding. “sejak awal concern saya adalah bagaimana menjaga imunitas, keselamatan dan perhatian bagi tenaga kesehatan dan non-kesehatan yang berjibaku di lapangan dan saya mensyukuri support lintas sektoral yang luar biasa sehingga mempermudah kinerja SATGAS kabupaten Probolinggo. Salah satu perhatian utama adalah multivitamin ekstra bagi tenaga kesehatan dan extra fooding” tegas Tantri. Hal ini mendapatkan apresiasi dari pimpinan komisi IV DPR-RI, Drs. H. Hasan Aminuddin, M.Si.

Dalam tausyiahnya, KH. Moh. Zuhri Zaini berharap semoga pandemi Covid-19 ini segera diangkat oleh Allah SWT. Beliau juga menyampaikan keprihatinnya terhadap banyak saudara dan teman kita yang sakit bahkan meninggal, termasuk nakes. Beliau berpesan agar kita tidak boleh larut dalam kesedihan, semoga kita dapat mengambil hikmah dari peristiwa ini. Karena ujian ini adalah fase agar kita bisa naik kelas jika bersabar dan tawakkal.

Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid sekaligus mustasyar NU Jawa Timur, KH. Moh. Zuhri Zaini juga menyampaikan kepada seluruh jamaah daring bahwa pandemi mengajarkan betapa kecil dan tidak berdayanya kita di hadapan Allah SWT. “Ini bukti bahwa ketika pandemi melanda dunia, menunjukkan betapa kita sangat lemah dan kecil di hadapan Allah SWT. Sehingga kita perlu taqorrub ilallah,” ungkapnya “Istiqomah istighosah tidak cukup kita lakukan selama PPKM saja, namun harus kita lanjutkan dengan keluarga maupun individu masing-masing”, tambahnya.

Dengan Probolinggo Bersholawat semoga menjadikan kabupaten Probolinggo lebih baik dan segera terbebas dari Covid-19 dengan keadaan yang baik dan Sentosa dan semoga kegiatan ini dijadikan kesempatan untuk berbuat kebaikan oleh seluruh elemen kepada masyarakat lebih luas yang Allah berikan kepada kita sebagai amal jariyah dan pahala yang insyaallah akan terus mengalir. Ikhtiar Bathin berjalan sejak awal pemberlakuan PPKM hinggal tanggal 20 Juli 2021 secara daring.

 

(Humas NJ)

 

 

Maulid Nabi, KH Moh Zuhri Zaini Ungkap Nabi Muhammad Sosok Paripurna

nuruljadid.net- Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid KH Moh Zuhri Zaini menjelaskan hikmah dilaksanakannya peringatan maulid Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, peringatan maulid ini tidak hanya kegiatan seremonial atau kegiatan hura-hura melainkan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan, keimanan dan mahabbah kita kepada beliau Nabi Muhammad SAW.

“Peringatan maulid Nabi ini untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah, meningkatkan keimanan dan mahabbah kita kepada beliau yang kita peringati lahirnya yaitu junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW. Sehingga dengan demikian kita akan mampu untuk meneladani beliau. Sebab beliau orang yang dipilih oleh Allah yang sejak lahir sampai wafat selalu dalam keadaan yang baik. Makanya yang diperingati adalah maulidnya bukan wafatnya berbeda dengan yang lain yang diperingati adalah haulnya atau wafatnya,” Dawuh Kiai Zuhri saat memberikan sambutan pada acara Peringatan Maulid Nabi di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Kamis (29/10) malam.

Kiai Zuhri menjabarkan, Memang ada mungkin orang yang salah paham, saya pernah pergi ke Surabaya waktu bulan Ramadhan sampai di Probolinggo di randu pangger ada spanduk bunyinya memperingati haul Nabi Muhammad SAW, saya tidak ngerti apa maksudnya. Ia boleh-boleh saja tapi itu tidak biasa. Sebab yang diperingati pada beliau pasti maulidnya, karena beliau adalah sosok yang agung bahkan al-insan al-kamil, manusia paripurna dan merupakan teladan bagi kita dan kalau kita meneladani beliau terutama akhlaknya pasti kita akan menjadi orang yang baik. Inilah sebetulnya yang menyebabkan krisis yang terjadi dikalangan kita umat islam karena kita mengaku sebagai orang islam, mengaku sebagai umat Nabi Muhammad tapi sayangnya kita tidak mengamalkan ajaran-ajaran beliau, tidak meneladani sunnah-sunnah beliau, lebih-lebih akhlak beliau.

Beliau menyampaikan,agama Islam yang dipraktikkan oleh Nabi adalah agama rahmah. Islam itu kan rahmatan lil-alamin yang digembar-gemborkan tapi sayangnya rahmatan lil-alamin ada di lidah kita tapi tidak dalam prilaku kita. Kita menjadi malu mengaku umat islam, mengaku umat Nabi Muhammad tapi kita selalu bermusuhan pada orang dan memaki-maki orang ini bukan akhlak Nabi. Ini yang barangkali bisa kita ambil dari hikmah maulid ini bukan sekedar memperingati, bukan sekedar seremonial apalagi sekedar hura-hura tapi betul-betul kita mengambil hikmah utamanya bisa meniru beliau.

Kiai Zuhri menambahkan, Beliau Nabi Muhammad adalah teladan yang baik bahkan terbaik yang apabila kita meneladani beliau pasti akan menjadi orang yang baik. Baik dihadapan manusia maupun baik dihadapan Allah. Kita kadang-kadang menjadi malu Ketika justru yang mengamalkan akhlak beliau itu bukan kita sebagai umat islam justru kadang-kadang orang lain. Kita perlu instropeksi, kita bersyukur pada Allah, kita dijadikan orang beriman, kita dijadikan orang islam dan dijadikan sebagai umat Nabi Muhammad SAW. Tapi kita perlu instropeksi apakah kita pantas untuk menjadi umat beliau padahal kita tidak meneladani akhlaknya.

Mari dengan memperingati maulid ini kita mengadakan perubahan dari hari-hari sebelumnya kita menjadi orang yang beruntung bukan justru menjadi orang yang rugi apalagi menjadi orang yang binasa,” Imbuhnya.

Pewarta : Ibnu Abdillah

Editor : Ponirin Mika

Santri Harus Merawat Perbedaan

nuruljadid.net-Perbedaan merupakan rahmat yang harus disyukuri dan bukan menjadi alasan untuk berpecah belah. Untuk itulah, para santri memiliki tanggung jawab untuk terus merawat perbedaan tersebut di tengah keberagaman Indonesia.

Pesan yang disampaikan oleh Pengasuh Ponpes Nurul Jadid KH Zuhri Zaini dalam kegiatan pertemuan alumni PP Nurul Jadid di Desa/Kecamatan Tanggul kemarin (11/3). Kegiatan rutin tiga bulan sekali  itu dihadiri ratusan para alumni yang tersebar se Jember.

“Alumni harus melanjutkan perjuangan kiai, terutama Alm  KH Zaini Abdul Mun’im,” katanya. Perjuangan itu mulai dari berbagai bidang sesuai dengan pekerjaan yang sedang ditekuni. Namun, tetapi dibawah naungan organisasi Nahdlatul Ulama (NU).

Para kiai, kata dia, selalu  istiqomah memperjuangkan NU karena paling sesuai dengan Islam Nusantara. Yakni Islam  tawassuth  atau moderat dan menghargai segala jenis perbedaan. Seperti yang sudah dilakukan oleh  Nabi Muhammad SAW yang tertuang dalam piagam madinah.

Sekarang, lanjut dia, mulai tumbuh bibit kelompok  yang ingin merongrong NU dan keutuhan NKRI. Untuk itulah, alumni santri harus menghindari dan  menentang kelompok-kelompok tersebut. Sebab ingin melakukan pecah belah. “Indonesia masih aman dari perang saudara seperti yang terjadi di Afghanistan,” tuturnya.

Kerukunan yang selama ini sudah berlangsung, harus dijaga dan dilestarikan bersama. Apalagi sekarang masuk tahun  politik. “Alumni bebas menyalurkan aspirasi politik lewat mana saja, yang terpenting satu tujuan dan menggunakan kendaraan yang mengarah pada tujuan yang sama,” jelasnya.

Sebab,  hampir semua partai politik  lebih berorientasi program  dan figur, bukan lagi pada ideologi. Kendati demikian, berpolitik juga bukan alasan untuk tidak menghargai perbedaan yang ada. Namun, tetap saling menghormati. “Alumni harus kompak  dan bersatu, meskipun berada ditempat atau bidang kehidupan yang berbeda-beda,” paparnya.

Perbedaan pendapat merupakan  hal yang wajar,  terpenting harus saling menghargai perbedaan  menjauhi  perpecahan. Dalam berjuang, para alumni santri menyesuaikan dengan keahlian bidang masing-masing. “Misal dalam ekonomi birokrasi,” ujarnya.

Sementara itu,  Endra Hardianto, ketua panitia kegiatan menambahkan pertemuan alumni itu untuk memperkuat ikatan silaturahmi para alumni Ponpes Nurul Jadid. Untuk pengembangan ekonomi, para alumni sepakat membentuk koperasi Baitul Mal Wattanwil (BMT). “Kemudian juga makan nasi tabhek bersama,” pungkasnya.

Sumber Berita : p4njjember.com

KH. Moh. Zuhri Zaini; Keragaman itu Bukan Masalah, Tapi adalah suatu Kekayaan

KH. Moh. Zuhri Zaini; Keragaman itu Bukan Masalah, Tapi adalah suatu Kekayaan

nuruljadid.net – “Jadi dengan merantau seperti ini kita bisa mengetahui keragaman. Dan keragaman itu bukan masalah, tapi justru adalah suatu kekayaan. Kalau kita menyikapinya sebagai suatu kekayaan, kaya akan budaya kita. Insya allah hal itu akan menjadi aset dan modal bagi kita. Sebab, maaf. Sekarang ini banyak orang yang alergi dengan perbedaan jadi dengan perbedaan – perbedaan ini dianggap penyakit”

Hal itu didawuhkan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini. Tatkala menghadiri acara Lepas Kenangan Studi Lapangan Siswi MA Darussalam Sungai Mancur, Bungo, Jambi. Kamis (30/01/2020).

Acara yang bertempat di Aula Mini Universitas Nurul Jadid itu. Beliau turut menerangkan, usia seperti para siswa dari MA Darussalam tersebut merupakan usia – usia emas. “Kalau dirawat dengan baik nantinya akan mahal dimasa depan, sebab saya yakin dari adik – adik ini akan lahir penerus estafet perjuangan para pendahulu yang sudah sepuh – sepuh ini. yang kemudian akan menjadi harapan umat dan harapan agama. Oleh karena itu, adik – adik ini selama 3 bulan ini hanya masih awal bukan pertengahan maupun akhir jadi diteruskan,” tutur beliau dengan ramah lembut.

Tampak Pengasuh (tengah dua dari kiri) saat foto bersama dengan para siswi MA serta pimpinan Darussalam

Tampak Pengasuh (tengah dua dari kiri) saat foto bersama dengan para siswi MA serta pimpinan Darussalam

Selain itu,  beliau turut menjelaskan dengan kehadiran para siswi MA Darussalam di PP. Nurul Jadid, hal itu pasti menambah pengalaman dan faedah bagi pengurus PP. Nurul Jadid.

“Kami bangga dengan kehadiran adik – adik sekalian ini, mudah – mudahan silaturahim ini terus bisa bersambung tidak hanya putus sampai disini tapi katanya ada harapan akan ada lagi(studi lapangan, red) insya allah kami siap dengan tangan terbuka akan menerima dan mudah – mudahan kami yang disini nanti bisa silaturahim juga. Insya allah,” pungkas beliau.

Penulis : Ahmad

Editor : Ponirin

KH. Moh. Zuhri Zaini; Belajar Mengaji Kitab itu Bukan Ilmunya yang Penting tapi Barokahnya

KH. Moh. Zuhri Zaini; Belajar Mengaji Kitab itu Bukan Ilmunya yang Penting tapi Barokahnya

nuruljadid.net – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. MOH. Zuhri Zaini menghadiri dan membuka kegiatan Kajian Kitab Matan Taqrib yang diselenggarakan oleh Forum Kajian Pondok Pesantren se-Probolinggo (FKPP) dan Launching Kajian Fathul Qorib PP. Nurul Jadid. Senin (07/10/2019).

Diawal sambutan, beliau mengucapkan rasa terima kasih kepada pengurus FKPP karena telah menyelenggarakan kegiatan tersebut di PP. Nurul Jadid.

“Saya sangat bersyukur sekali dengan adanya kegiatan ini mudah – mudahan hal ini bisa lebih menyemangati kita untuk belajar agama atau tafaqquh fiddin. Sebab, kajian – kajian yang berkaitan agama itu kurang menarik karena hasilnya tidak akan dirasakan sekarang atau mungkin tidak bisa dirasakan. sebetulnya agama ini dibutuhkan bukan hanya untuk akhirat nanti, bukan hanya untuk masuk surga. Tapi di dunia juga dibutuhkan tapi kebanyakan orang tidak merasakan akan hal itu. kalaupun yakin akan akhirat itupun katanya masih nanti, bukan sekarang. Apalagi masih banyak juga yang masih ragu. naudzubillah min dzalik,” tutur beliau di Masjid Jami’ PP. Nurul Jadid.

KH. Moh. Zuhri Zaini; saat menyampaikan sambutan

KH. Moh. Zuhri Zaini; saat menyampaikan sambutan

Lanjut beliau, untuk memperkuat semangat tafaqquh fiddin maka kajian – kajian seperti kegiatan ini harus tetap dilestarikan walaupun terdapat metode – metode pembelajaran baru. “Dan yang kita harapkan dari forum ini bukan dari menguasai ilmunya tapi barokahnya, karena dalam belajar mengaji kitab itu bukan hanya belajar menguasai ilmu tapi barokahnya yang terpenting,” jelas beliau.

“Dan juga dalam forum ini sebetulnya bukan bathsul masailnya yang penting, tapi silaturahimnya diantara kita sesama santri,”imbuh Kiai Zuhri (Sapaan akrab pengasuh ke IV PP. Nurul Jadid).

Kemudian beliau berharap agar kegiatan ini bisa terus berlanjut dan berkesinambungan. “Oleh karena itu, saya sangat bersyukur sekali dan berterima kasih bahwa pondok ini mendapat kehormatan untuk menjadi tempat kajian ini dan saya berharap kajian ini bisa memotivasi pada para santri yang ada disini (santri PP. Nurul Jadid, red) untuk lebih semangat lagi dalam belajar agama lebih – lebih bisa mempelajari kitab – kitab yang diwariskan oleh para pendahulu kita,” pungkas beliau.

Penulis : Agos

Editor : Ponirin

Galeri Foto: Halaqoh Tashfiyah dan Dialog “Memperkokoh Ukhuwah dengan Pendekatan Qolbu dalam Bingkai NKRI”

KH. Zuhri Zaini; Bapak Habibie itu Pekerja Keras dalam Belajar dan Mengabdi

KH. Zuhri Zaini; Bapak Habibie itu Pekerja Keras dalam Belajar dan Mengabdi

nuruljadid.net – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Zuhri Zaini turut menyampaikan duka mendalam atas wafatnya Presiden ketiga Republik Indonesia, Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, FREng, Kamis (12/09/2019).

“Beliau sebagai tokoh bangsa tentu wafatnya beliau itu suatu kehilangan, dan tentu ikut berbelasungkawa dengan harapan amalan ibadah dan pengabdian beliau kepada bangsa dan negara ini bisa diterima serta dosa – dosa beliau semoga bisa diampuni oleh Allah SWT” dawuh beliau saat diwawancari nuruljadid.net, di kediaman beliau.

KH. Zuhri mempunyai kenangan tersendiri soal Bapak Habibie, pernah suatu ketika sekitar tahun 90-an. Bapak Habibie pernah berkunjung silaturahmi ke PP. Nurul Jadid. Dan turut membantu berkontribusi didalam kesuksesan.

“Beliau turut membantu berkontribusi dalam suksesnya program BPT (program pengayaan ilmu IPTEK) di SMU Nurul Jadid” imbuh Kiai Zuhri (sapaan akrab pengasuh ke IV PP. Nurul Jadid)

Pengasuh ke 3, Almarhum KH. Abdul Wahid Zaini bersama Bapak Presiden BJ Habibie saat berkunjung ke PP. Nurul Jadid

Pengasuh ke 3, Almarhum KH. Abdul Wahid Zaini bersama Bapak Presiden BJ Habibie saat berkunjung ke PP. Nurul Jadid

 

Lebih lanjut, KH. Zuhri juga turut mengapresiasi jasa beliau kepada bangsa baik melalu jabatan formal sebagai presiden maupun Menteri tetapi juga melalui kemampuannya dibidang IPTEK.

“Beliau selalu berfikir tentang kemajuan negeri ini sekalipun beliau tidak lagi muda. Kemudian, Beliau itu kerja keras baik didalam belajar dan mengabdi. Tetapi beliau melakukannya bukan hanya pribadi tetapi untuk masyarakat, bangsa dan negara” imbuh beliau.

“Saya kira kita sebagai santri mendoakan beliau apalagi beliau seorang muslim dan insya allah besok setelah berjum’at akan dilaksanakan shalat ghaib” pungkas beliau.

Penulis  : Ahmad

Editor    : Ponirin

KH. Moh. Zuhri Zaini, Tidak Menerima Keputusan Allah Sebuah Kekafiran

nuruljadid.net- Dalam menghadapi Tuhan jangan sampai disamakan seperti menghadapi mahluk seperti hewan (kambing). Menghadapi Tuhan harus dilanfadi adab yang baik. Menjadi mahluk Allah kita harus mampu melihat siapa dirinya dan kemampuan yang dimiliki. Pesan ini disampaikan oleh KH. Moh. Zuhri Zaini Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, pada pengajian kitab Minhajul Abidin, Rabu pagi pukul 06. 00 WIB di Musala Riyadhus Sholihin.

Pesan Kiai Zuhri, Seorang tidak akan celaka kalau dia tahu terhadap takaran dirinya (Arafa qodra nafsi). Ketika menjadi rakyat meskipun lebih pintar dari pemimpinnya ya tetap harus taat.

“Ketika kita menjadi rakyat harus taat kepada pemimpinnya meskipun kita lebih pintar. Apalagi kita kepada Allah,” Tegas beliau.

Kita sebagai mahluk Allah harus tunduk terhadap aturanNya dan harus pasrah kepada keputusanNya. Namun tunduk dan patuh itu harus di dasari oleh akal yang baik.

Jika kita tidak menerima terhadap keputusan Allah, maka itu sebuah kekafiran.

Pewarta : PM

KH. Moh. Zuhri Zaini: Semoga Pesantren Semakin Kokoh

nuruljadid.net – Pondok Pesantren Nurul Jadid memperingati Haul Pendiri dan Harlah ke-70, dengan mengusung tema; Mengaji dan Mengabdi Untuk Kedamaian Negeri. Bertempat di halaman Kantor P.P Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Sabtu (30/03/19).

Kegiatan ini dihadiri juga, KH. Imam Ma`ruf (Malang) dan KH. Abdul Matin Djawahir (Tuban) sebagai pemberi tausiah peringatan Haul dan Harlah.

Pengasuh P.P Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, dalam sambutannya menyampaikan bahwa, kegiatan tersebut sebagai bentuk rasa syukur atas berdirinya P.P Nurul Jadid pada 1950 sampai 2019. “Mudah-mudahan di usia ke-70 ini, tidak menjadikan pesantren semakin rapuh. Melainkan semakin kokoh kedepanya,” tuturnya.

Beliau melanjutkan, peringatan haul pendiri dan harlah untuk mengenang jasa-jasa para pendahulu P.P Nurul Jadid. Karena berkat perjuangan para pendahululah PP. Nurul Jadid bisa ada.

“Oleh karena itu, kami sebagai generasi tentunya ingin mengungkapkan terima kasih dengan mengenangnya hari ini. Karena mensyukuri suatu nikmat, tidak cukup hanya bersyukur kepada Allah. Memang Allahlah yang memberi nikmat, tapi Allah memberi nikmat kepada hambanya melalui sebab,” pungkasnya.

Ach. Fuadi, selaku panitia, mengatakan bahwa, penyelenggaraan kegiatan itu sebagai ajang silaturahmi antar pengelola pesantren, santri, alumni dan juga masyarakat. “Sebagai media pengukuhan komitmen untuk reaktualisasi nilai-nilai kepesantrenan, evaluasi dan ajang silaturahmi,” ujarnya.

Penulis : Abdul Hannan (SJ)
Editor : Rizky H.T.

kiai zuhri

KH. Moh. Zuhri Zaini: Kami Sebagai Pewaris Tentu Harus Menjaga Keutuhan Negeri dan Bangsa Ini

nuruljadid.net – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini turut hadir dalam Ngaji Kebangsaan Selasa (02/04/2019) di Aula Universitas Nurul Jadid (UNUJA). Beliau nampak antusias menyambut dua tokoh negara, Panglima TNI Republik Indonesia, Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.IP. dan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, Jendral Prof. H. Muhammad Tito Karnavian, Ph.D.

Alhamdulillah, kami keluarga besar PP Nurul Jadid dan hadirin yang hadir pada saat ini merasa sangat berbahagia atas kunjungan silaturrahim dua tokoh kita, dua bapak kita yaitu panglima TNI dan Kapolri.” Dawuh Pengasuh dalam sambutannya.

Dalam sambutannya, beliau juga menyinggung tema yang diangkat pada Ngaji Kebangsaan ini. Beliau berdawuh bahwa tanpa adanya ukhuwah, tanpa adanya kebersamaan dan persatuan kesatuan mungkin negara ini tidak pernah terwujud.

Lanjut, Kiai Zuhri (sapaan akrab Pengasuh) menceritakan secara singkat dan jelas tentang sejarah berdirinya Pondok Pesantren Nurul Jadid serta perjuangan Pendiri dan Pengasuh Pertama PP. Nurul Jadid, KH. Zaini Abd. Mun’im dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia.

KH. Moh. Zuhri Zaini, Pengasuh PP. Nurul Jadid saat memberikan sambutan

KH. Moh. Zuhri Zaini, Pengasuh PP. Nurul Jadid saat memberikan sambutan

“Jadi bapak ibu sekalian jelas bahwa Pendiri berjuang untuk kemerdekaan RI. Sehingga kami sebagai penerus tentu harus menjaga negara ini, NKRI. Sebab beliau-beliaulah para pendahulu kita yang ikut membangun kemerdekaan ini.” Dawuh beliau.

“Maka, Kami sebagai pewarisnya termasuk para santri tentu harus berkewajiban untuk menjaga keutuhan negeri dan bangsa ini.” lanjut Pengasuh.

Masih dalam sambutan, beliau menyatakan bahwa tujuan dari silaturrahim ini yaitu untuk memperkuat bersama militer dan kepolisian dalam hal mempertahankan kemerdekaan sekalipun dalam tempat dan tugas yang berbeda.

KH. Moh. Zuhri Zaini, Pengasuh PP. Nurul Jadid saat memberikan sambutan

KH. Moh. Zuhri Zaini, Pengasuh PP. Nurul Jadid saat memberikan sambutan

“Barangkali ini satu tujuan dari silaturrahim yaitu untuk memperkokoh, untuk memperkuat bersama militer sekalipun mungkin kita berbeda tempat, berbeda tugas. Kalau bapak-bapak kepolisian betugas di keamanan dan ketertiban. Bapak TNI bertugas di pertahanan negara. Baragkali para tokoh-tokoh masyarakat, para guru dan kiai juga memiliki tugas yang sama yaitu mempertahaknkan tapi dari sektor yang lain” jelas beliau.

Diakhir sambutan, beliau mengatakan bahwa dengan bahu membahu kita mampu untuk mempertahankan kemerdekaan saati ini.

“Oleh karena itu, insya Allah dengan kita bahu membahu didalam mempertahankan kemerdekaan yang sekrang, kedepannya banyak ancaman-ancaman baik dari dalam maupun dari luar, ini yang harus kita waspadai. Maka tugas kita sekarang adalah membangun, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan” pungkas Kiai Zuhri.

Penulis: Ghufron

Editor: Ponirin

Pesan Pengasuh Terhadap Anak Kelas Tiga, Saat Menutup Semaan Al-Qur'an

Pesan Pengasuh Terhadap Anak Kelas Tiga, Saat Menutup Semaan Al-Qur’an

nuruljadid – Kegiatan semaan Al-Qur’an dilaksanakan di masjid Jami’ Nurul Jadid yang berlangsung selama 2 hari telah usai. Acara itu ditutup, dengan diisi tausiyah dan pembacaan do’a semaan Al-Qur’an, oleh Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, KH. Moh. Zuhri Zaini. Kamis malam, (28/03/2019).

Dalam tausiyahnya, beliau menuturkan harapannya kepada santri, supaya dengan adanya kegiatan semaan tersebut bisa memotivasi santri untuk lebih giat belajar tentang Al-Qur’an dan menyambut Harlah dengan senang. “Semoga semakin semangat untuk mempelajari dan memahami Al-Qur’an. Mari kita sambut Haul & Harlah dengan kegembiraan tapi jangan sampai berlebihan,” tutur beliau.

Kemudian beliau juga berharap kepada santri agar menjadi tuan rumah yang baik dan menghormatinya. “Ketika malam sabtu mendatang insyaallah sudah banyak tamu yang datang, maka kita perlu untuk menjadi tuan rumah yang baik. Karena ciri-ciri orang yang beriman ialah orang yang menghormati tamunya,” harap beliau.

“Upayakan untuk menjaga kebersihan, walaupun dalam menjaga kebersihan itu tidak harus pada Harlah namun harus lebih dalam menjaga kebersihan ketika Harlah,” tambahnya.

Selain itu, beliau juga berpesan kepada santri agar waspada sebab diantara yang datang ke pondok nantinya, tidak hanya tamu – tamu yang diundang. Tapi tidak harus su’udzon, mungkin nantinya akan ada yang mengambil kesempatan untuk mengambil barang – barang. “Oleh karena itu barang milik kita supaya disimpan baik – baik walaupun hal seperti itu tidak hanya pada Harlah,” pesan beliau.

Di akhir tausiyahnya, beliau berpesan kepada santri yang pendidikannya sudah mencapai kelas akhir yang mau ujian untuk mengatur kegiatannya ketika Harlah agar tidak sakit. “Bagi yang mau ujian, untuk mengatur kegiatannya ketika Harlah jangan sampai ketika ujian nanti jatuh sakit,” pungkas beliau.

Penulis : Badrus

Editor : Ponirin