Iftitah Al Dirasah MANJPK: Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan Pendidikan Pesantren

Senin malam (28/7/2025), aula 1 Pondok Pesantren Nurul Jadid diselimuti suasana khidmat dan penuh semangat. Madrasah Aliyah Nurul Jadid Peminatan Keagamaan (MANJPK) menggelar Iftitah Al Dirasah, sebuah agenda yang bukan sekadar seremoni pembukaan tahun ajaran baru, tetapi juga momentum refleksi arah pendidikan keagamaan pesantren.

Acara dimulai pukul 20.00 WIB dengan Master of Ceremony dwibahasa (Indonesia–Arab) yang mengalirkan nuansa akademik sekaligus spiritual. Ustaz Reval Mhaulana Aminullah membuka dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an, mengundang hening dan kekhusyukan seluruh hadirin. Suasana kemudian berubah penuh semangat saat hadirin menyanyikan Mars Nurul Jadid dan Mars MANJPK, lagu yang menjadi simbol kebanggaan dan identitas madrasah.

Wildan Dzulfikar, selaku ketua panitia, mengawali sambutan dengan ungkapan terima kasih kepada seluruh pihak yang mendukung terlaksananya acara ini. Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ustaz Moh Abdillah, koordinator MANJPK, yang mengungkapkan langkah kurikulum baru:
“Selama tiga tahun kita menekuni dan mengkaji Kifayah Al-Akhyar. Namun mulai tahun ajaran baru ini, kita akan kembali ke kitab Fathul Al-Qarib sebagai bentuk penyegaran metode belajar,” ujarnya disambut tepuk tangan hadirin.

Kepala madrasah, Ustaz Misbahul Munir, memberikan apresiasi atas komitmen seluruh pihak dalam menjaga mutu pendidikan. Hadir pula salah satu pendiri MANJPK, Ustaz Ahmad Barzan, yang membawa nostalgia sejarah pendirian madrasah. Beliau menegaskan empat pilar utama yang menjadi fokus MANJPK: tafaqquh fi al-din, pemahaman mendalam terhadap kitab kuning, serta penguasaan bahasa Arab dan bahasa Inggris.

Puncak malam itu adalah tausiyah KH. Maltuf Siraj yang menekankan pentingnya quality control dalam pendidikan:
“Ubah yang kurang bagus menjadi lebih efektif. Kita harus tirakat dalam mencari ilmu. Ingat, jendela ilmu adalah membaca. Imam Walik pernah berkata: Al-‘ilmu yuzaru wala yazuru, yu’ta wala yu’ti—ilmu itu didatangi, bukan mendatangi,” dawuh beliau yang disambut takzim para hadirin.

Acara kemudian ditutup dengan penuh kekeluargaan oleh Ustaz Mohammad Nashiruddin, guru senior yang dikenal bijak dan inspiratif. Seluruh siswa, siswi, dewan musyrifin–musyrifah, tenaga pengajar, biro pendidikan, serta koordinator madrasah hadir menyaksikan momen yang sarat makna ini.

Lebih dari sekadar acara pembukaan, Iftitah Al Dirasah malam itu menjadi pengingat bahwa pendidikan pesantren bukan hanya soal akademik, tetapi juga membentuk karakter, melatih disiplin, dan menanamkan nilai-nilai spiritual. Dari kitab kuning hingga quality control, dari bahasa Arab hingga bahasa Inggris, MANJPK terus berupaya menjaga tradisi sekaligus menjawab tantangan zaman.

Pewarta: Maria Al Faradela

Editor : Ponirin Mika

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *