Pos

Studi Kitab Fathul Qarib Perkuat Tradisi Keilmuan Pesantren

Studi Kitab Fathul Qarib Perkuat Tradisi Keilmuan Pesantren

Selasa, 29 Juli 2025, Aula 1 Pondok Pesantren Nurul Jadid kembali menjadi pusat perhatian dalam rangkaian kegiatan Iftitah Al Dirasah MANJPK dengan digelarnya Studi Kitab Fathul Qarib. Acara ini menghadirkan langsung KH. M. Syakur Dewa, yang akrab disapa Gus Dewa, pengasuh Pondok Pesantren Darut Tauhid Probolinggo.

Dipandu oleh moderator Ustaz Ainul Yaqin Mannan, Gus Dewa memberikan pemaparan mendalam tentang Kitab Fathul Qarib, termasuk penjelasan konteks dan relevansinya di era modern. Momen penting acara ini adalah pemberian ijazah sanad Kitab Fathul Qarib, menegaskan kesinambungan tradisi keilmuan klasik pesantren.

Acara semakin hidup dengan kehadiran KH. Imdad Rabbani sebagai keynote speaker. Suasana penuh kehangatan dan canda tawa mewarnai saat Gus Dewa dan Gus Imdad mengenang pengalaman mereka mondok di Pesantren Lirboyo, mengingatkan bahwa pesantren tidak hanya disiplin, tapi juga penuh kebersamaan dan humor khas santri.

Studi kitab ini ditutup dengan sesi tanya jawab yang memberi kesempatan bagi para santri berdialog langsung dengan narasumber. Kegiatan diakhiri dengan pemberian cinderamata sebagai bentuk apresiasi.

Seluruh siswa dan siswi MANJPK, dewan musyrifin–musyrifah, tenaga pengajar, serta perwakilan lembaga kitab di Nurul Jadid hadir menyaksikan momen berharga ini. Lebih dari sekadar kegiatan akademik, studi kitab ini memperkuat tradisi keilmuan pesantren dalam membentuk generasi berakhlak, berilmu, dan siap menghadapi tantangan zaman.

Ustaz Moh Abdillah, Koordinator MANJPK, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya madrasah untuk terus menghidupkan tradisi pengajaran kitab kuning yang menjadi ciri khas pesantren. “Kami ingin menanamkan tidak hanya pengetahuan, tetapi juga kecintaan dan penghormatan terhadap warisan keilmuan klasik yang telah teruji,” ujarnya.

Sementara itu, Gus Dewa menekankan pentingnya pemahaman konteks kitab kuning agar tidak hanya dibaca secara tekstual, tetapi juga relevan dengan perkembangan zaman. “Kitab Fathul Qarib adalah kunci untuk memahami tata bahasa Arab dan fiqh yang mendasar. Dengan memahami kitab ini, santri mampu mengaplikasikan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Acara ini juga menjadi momen penguatan jaringan antar pesantren. Beberapa perwakilan lembaga kitab yang hadir menyampaikan harapan agar kegiatan seperti ini terus diadakan secara berkala untuk menjaga kesinambungan ilmu dan tradisi keilmuan di lingkungan pesantren, sekaligus mempersiapkan kader ulama masa depan yang berkualitas.

Pewarta : Maria Al Faradela

Editor : Ponirin Mika

Iftitah Al Dirasah MANJPK: Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan Pendidikan Pesantren

Senin malam (28/7/2025), aula 1 Pondok Pesantren Nurul Jadid diselimuti suasana khidmat dan penuh semangat. Madrasah Aliyah Nurul Jadid Peminatan Keagamaan (MANJPK) menggelar Iftitah Al Dirasah, sebuah agenda yang bukan sekadar seremoni pembukaan tahun ajaran baru, tetapi juga momentum refleksi arah pendidikan keagamaan pesantren.

Acara dimulai pukul 20.00 WIB dengan Master of Ceremony dwibahasa (Indonesia–Arab) yang mengalirkan nuansa akademik sekaligus spiritual. Ustaz Reval Mhaulana Aminullah membuka dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an, mengundang hening dan kekhusyukan seluruh hadirin. Suasana kemudian berubah penuh semangat saat hadirin menyanyikan Mars Nurul Jadid dan Mars MANJPK, lagu yang menjadi simbol kebanggaan dan identitas madrasah.

Wildan Dzulfikar, selaku ketua panitia, mengawali sambutan dengan ungkapan terima kasih kepada seluruh pihak yang mendukung terlaksananya acara ini. Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ustaz Moh Abdillah, koordinator MANJPK, yang mengungkapkan langkah kurikulum baru:
“Selama tiga tahun kita menekuni dan mengkaji Kifayah Al-Akhyar. Namun mulai tahun ajaran baru ini, kita akan kembali ke kitab Fathul Al-Qarib sebagai bentuk penyegaran metode belajar,” ujarnya disambut tepuk tangan hadirin.

Kepala madrasah, Ustaz Misbahul Munir, memberikan apresiasi atas komitmen seluruh pihak dalam menjaga mutu pendidikan. Hadir pula salah satu pendiri MANJPK, Ustaz Ahmad Barzan, yang membawa nostalgia sejarah pendirian madrasah. Beliau menegaskan empat pilar utama yang menjadi fokus MANJPK: tafaqquh fi al-din, pemahaman mendalam terhadap kitab kuning, serta penguasaan bahasa Arab dan bahasa Inggris.

Puncak malam itu adalah tausiyah KH. Maltuf Siraj yang menekankan pentingnya quality control dalam pendidikan:
“Ubah yang kurang bagus menjadi lebih efektif. Kita harus tirakat dalam mencari ilmu. Ingat, jendela ilmu adalah membaca. Imam Walik pernah berkata: Al-‘ilmu yuzaru wala yazuru, yu’ta wala yu’ti—ilmu itu didatangi, bukan mendatangi,” dawuh beliau yang disambut takzim para hadirin.

Acara kemudian ditutup dengan penuh kekeluargaan oleh Ustaz Mohammad Nashiruddin, guru senior yang dikenal bijak dan inspiratif. Seluruh siswa, siswi, dewan musyrifin–musyrifah, tenaga pengajar, biro pendidikan, serta koordinator madrasah hadir menyaksikan momen yang sarat makna ini.

Lebih dari sekadar acara pembukaan, Iftitah Al Dirasah malam itu menjadi pengingat bahwa pendidikan pesantren bukan hanya soal akademik, tetapi juga membentuk karakter, melatih disiplin, dan menanamkan nilai-nilai spiritual. Dari kitab kuning hingga quality control, dari bahasa Arab hingga bahasa Inggris, MANJPK terus berupaya menjaga tradisi sekaligus menjawab tantangan zaman.

Pewarta: Maria Al Faradela

Editor : Ponirin Mika

BIP Asrama Putri MANJ-PK Gelar Ngaji Literasi Perdana Bersama K.M Faizi

www.nuruljadid.net — Badan Informasi dan Penerbitan (BIP) Asrama Putri Madrasah Aliyah Nurul Jadid Peminatan Keagamaan sukses menggelar kegiatan perdana bertajuk Ngaji Literasi dengan tema “Kitabku, Ceritaku: Menulis dengan Rasa, Literasi ala Tafaqqquh fi Din”, pada Jumat (04/07), bertempat di Aula Mini Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Kegiatan ini menghadirkan K.M. Faizi, pengasuh pesantren yang juga dikenal sebagai penyair, penulis, sastrawan, dan musisi dari pulau Madura sebagai narasumber utama. Acara dimoderatori oleh Ustaz Reval Mhaulana Aminullah, dan diikuti oleh seluruh siswi Asrama Putri MANJ-PK, perwakilan pers pesantren, serta alumni BIP.

Dalam sambutannya, Farhah Robbaniyah Izzah Dzikri, selaku Pemimpin Redaksi BIP, mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan langkah awal dalam mewujudkan ruang kreatif literasi berbasis nilai-nilai kepesantrenan.

“Ini kegiatan perdana BIP. Kami ingin mengajak santri menulis dengan rasa, membaca kehidupan dengan hati, dan tetap berpijak pada semangat tafaqquh fi din,”ujarnya.

Sementara itu, K.M. Faizi dalam pemaparannya menyampaikan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan baca-tulis, melainkan juga mencintai, memahami, dan mengamalkan bacaan.

“Di dunia ini tidak semua ilmu harus dikaji. Lebih penting untuk tekun dan rajin, bukan sekadar banyak membaca,” ungkap beliau.
“Allah menyuruh kita untuk belajar, bukan sekadar berprestasi,” sambungnya, disambut anggukan para peserta.

Suasana berlangsung hangat dan penuh inspirasi. Peserta antusias mengikuti jalannya diskusi yang membahas pentingnya rasa dalam setiap tulisan. Beberapa santri juga berkesempatan bertanya langsung mengenai cara menulis yang jujur, menyentuh, dan berakar dari pengalaman hidup.

Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama serta penandatanganan buku-buku karya K.M. Faizi, yang menjadi momen paling dinanti para peserta. Tak sedikit santri yang mengantre meminta pesan langsung dari beliau di halaman bukunya.

Melalui kegiatan ini, BIP Asrama Putri berharap semangat literasi santri dapat terus tumbuh bukan hanya sebagai keterampilan teknis, tetapi juga sebagai sarana tafakkur dan dakwah kultural.

Pewarta : Farhah Robbaniyah Izzah Dzikri

Editor : Maria Al Faradela

Spiritual Coaching MANJPK Putri: Selamatkan Semangat Belajar Santri secara Holistik

berita.nuruljadid.net – Teknologi revolusi industri semakin merajalela. Dampak dari penggunaan ini sudah menjangkiti banyak kaum sarungan (baca: santri), tak terlepas Santri Pondok Pesantren Nurul Jadid. Salah satu dampak yang dirasakan yakni lunturnya eksistensi dan jati diri santri atas pentingnya adab. Sebagaimana pepatah Arab mengatakan “Al Adab Fauqa Al ‘ilmi” atau adab lebih utama daripada ilmu

Menatap fenomena tersebut, Madrasah Aliyah Nurul Jadid Program Peminatan Keagamaan Putri tak tinggal diam, mereka turun tangan dengan menggelar kegiatan spiritual coaching bertemakan “Yang Tertinggal dari Kita, Akhlak”, Senin (01/07/24) di Aula Mini Pesantren.

Dalam salah satu ikhtiarnya melakukan revitalisasi pentingnya adab bagi santri itu, MANJPK menghadirkan Wakil Sekretaris Pesantren Ny. Hj. Muthmainnah Waqid sebagai narasumber, dengan pemandu acara Alfi Nurindiana.

Departemen Kepesantrenan MANJPK Nayyirotut Tazkiroh mengatakan bahwa objek peserta dari kegiatan ini bukan santri berstatus siswi semata, melainkan juga seluruh pengurus asrama MANJPK putri.

“Di era hari ini, santri didominasi oleh para generasi milenial yang harus menjadi contoh dan tauladan bagi generasi mendatang. Kebanyakan pengurus yang menemani santri dalam giat keseharian adalah generasi milenial,” imbuh Nayyiroh.

Disamping itu, lanjut Nayyiroh, kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan jiwa spiritual dan mendorong semangat serta ketekunan santri untuk menggeluti, mengkaji, dan memahami kitab turats.

“Selain itu, kegiatan ini juga menjadi wadah evaluasi untuk menumbuhkan semangat belajar santri kedepannya,” terangnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ny. Hj. Muthmainnah Waqid menyampaikan tentang kematangan spiritual sebagai proses perkembangan kesadaran seseorang tentang nilai-nilai spiritual, hubungannya dengan Tuhan, dan makna hidup.

“Sembilan tanda kematangan spiritual haruslah dimiliki, salah satunya ialah mampu menerima diri sendiri dan orang lain, sebagaimana adanya self-improvement dengan self-acceptance agar kita dapat mengetahui dan menerima kenyataan bahwa dunia bukanlah tempat tujuan melainkan tempat ujian,” dawuhnya.

Kegiatan berlanjut dengan sesi tanya jawab, secara bergiliran peserta mengajukan pertanyaan dan dijawab oleh narasumber. Tak sedikit peserta yang mengungkapkan keresahannya selama menempuh ilmu.

 

Pewarta: Maria Al Faradela
Editor: Ahmad Zainul Khofi