Seru dan Dialogis! Talk Show Gus Ama’ Warnai Pembukaan Oskar 2026

www.nuruljadid.net -Pondok Pesantren Nurul Jadid resmi membuka kegiatan Orientasi Kelas Akhir (Oskar) tahun 2026. Dalam seremoni pembukaan tersebut, Wakil Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid, Gus Mohammad Imdad Robbani, memberikan pengarahan (taujihat wal irsyadat) melalui konsep unik berformat talk show interaktif bersama para santri, Rabu (13/05/2026).

Desain acara yang komunikatif ini sengaja dipilih agar narasumber dapat menyerap aspirasi serta keluh kesah santri secara langsung. Gus Ama’—sapaan akrab beliau—memulai sesi dengan melontarkan pertanyaan reflektif mengenai pengalaman santri selama tiga tahun menimba ilmu di pesantren serta tantangan terberat yang mereka hadapi. Hal ini bertujuan agar kebijakan pesantren ke depan tetap relevan dan kontekstual dengan kebutuhan santri.

Dalam paparannya, Gus Ama’ menekankan tema “Santri Mandiri” sebagai upaya mengurangi ketergantungan kepada orang tua. Beliau menegaskan bahwa setiap individu membutuhkan panduan dalam menjalani kehidupan, yang dalam Islam dikenal dengan konsep tafaqquh fiddin.

“Panduan kita saat menghadapi sedih, senang, dan situasi lainnya itu ada dalam agama. Akidah digunakan untuk menata pikiran, Fikih untuk menata etika bernegara, berdagang, dan bernegosiasi, sedangkan Akhlak bertugas menata hati dan perasaan,” jelasnya.

Beliau juga menyoroti pentingnya keteguhan mental bagi seorang mukmin. Mengambil komparasi global, beliau menyebutkan bahwa tingginya angka bunuh diri di beberapa negara maju sering kali disebabkan oleh kurangnya ketahanan mental dan absennya pandangan hidup jangka panjang yang berorientasi pada akhirat.

Lebih lanjut, Gus Ama’ menjelaskan bahwa segala dinamika kehidupan di pondok adalah bagian dari latihan kemandirian dan pembentukan kebiasaan baik. Beliau menekankan nilai khidmah atau pengabdian, mulai dari hal terkecil seperti merapikan tempat tidur hingga pengabdian kepada masyarakat luas.

“Kenapa banyak terjadi korupsi? Karena pelakunya tidak pernah berpikir memberikan yang terbaik untuk orang lain. Latihan berkhidmat dimulai dari hal kecil hingga akhirnya kita mampu mengabdi sepenuhnya kepada Allah,” tegas beliau.

Sesi menjadi semakin hangat saat moderator membuka tanya jawab. Salah seorang santri melontarkan pertanyaan mengenai cara menghindari godaan media sosial di era modern. Gus Ama’ mengakui beratnya tantangan remaja saat ini, namun beliau menyebut bahwa “puasa” gawai (gadget) di pesantren adalah sebuah anugerah.

“Bahkan para pendiri perusahaan teknologi dunia melarang anak-anak mereka bermain gadget karena tahu bahayanya. Dengan besarnya godaan ini, jika kalian mampu menanggulanginya, maka pahalanya akan semakin besar. Fokus pada pendidikan agama adalah benteng utama,” tambahnya.

Beliau mengibaratkan keberhasilan santri menjauhi dunia maya yang penuh mudharat sebagai langkah menuju derajat kewalian. Menurutnya, mencapai kedekatan dengan Allah (wushul) sering kali terasa lebih berat saat harus meninggalkan larangan-Nya daripada saat mengerjakan perintah-Nya.

Kegiatan Oskar 2026 ini diharapkan menjadi bekal berharga bagi santri kelas akhir sebelum mereka terjun ke masyarakat atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, dengan membawa mentalitas yang kuat serta pemahaman agama yang mendalam.

Pewarta   : Ahmad Zainul Khofi

Editor      : Ponirin Mika

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *