Dari Santri ke Wali Santri: Refleksi Ansori di Harlah ke-77 Nurul Jadid
berita.nuruljadid.net- Dalam rangkaian kegiatan Sambang Santri Putri pada peringatan Haul dan Hari Lahir (Harlah) ke-77 Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ), salah satu wali santri sekaligus alumni, Bapak Ansori, S.Ag, membagikan refleksi dan kenangannya selama menempuh perjalanan panjang bersama pesantren.
Bapak Ansori, S.Ag merupakan alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid yang kini kembali hadir sebagai wali santri. Saat ini, ia mengemban amanah sebagai Kepala Seksi Diniyah dan Pendidikan Diniyah Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo.
Dalam wawancara tersebut, Bapak Ansori mengenang masa mondoknya di Nurul Jadid sejak sekitar tahun 1992–1993 hingga 2001. Selama berada di pesantren, ia pernah mengajar di Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) serta dipercaya menjadi Dewan Musyrif pertama di Asrama MAK. Kini, beliau berdomisili di Tunggak Cerme, Wonomerto, Probolinggo.
Ia juga mengungkapkan kenangan mendalam terhadap syair yang kerap dilantunkan oleh KH. Hasan Abdul Wafi, yang hingga kini masih membekas dalam ingatannya:
لاتسألن بني آدم حاجة
وأسأل الله أبوابه لا تحجب
ترى بني آدم حين تسأل يغضب
والله يغضب عند ترك سؤله
Menurut penuturan Bapak Ansori, syair tersebut mengandung pesan spiritual yang kuat, yakni anjuran agar santri lebih banyak meminta kepada Allah SWT, Tuhan yang pintu rahmat-Nya selalu terbuka dan tidak pernah tertutup bagi hamba-Nya. Berbeda dengan manusia yang cenderung berubah marah ketika terus-menerus dimintai pertolongan, Allah justru murka ketika hamba-Nya enggan memohon dan bergantung kepada-Nya.
“Syair itu menjadi pengingat bagi santri agar tidak bergantung kepada manusia, tetapi menggantungkan harapan sepenuhnya kepada Allah. Nilai ini sangat kuat dan terus relevan hingga sekarang,” tuturnya.
Terkait pelaksanaan Harlah, Bapak Ansori menyampaikan kesan positif terhadap konsistensi semangat santri dalam menjaga silaturahmi dari tahun ke tahun. Menurutnya, ikatan antara santri, pesantren, dan para guru tetap terjaga dengan baik, baik melalui pertemuan langsung maupun melalui media digital seperti live streaming.
Ia juga menilai bahwa Harlah ke-77 Pondok Pesantren Nurul Jadid tahun ini berlangsung menarik. Kondisi para kiai yang masih sehat serta semangat santri yang tetap terjaga menjadi hal yang patut disyukuri. Menurutnya, pesantren terbukti mampu melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan, tercermin dari banyaknya dewan pengasuh pesantren yang kini dipercaya mengemban amanah sebagai bupati dan wakil bupati.
Melalui kegiatan Sambang Santri Putri ini, momentum Harlah ke-77 diharapkan tidak hanya menjadi peringatan perjalanan panjang pesantren, tetapi juga ruang refleksi spiritual, penguatan silaturahmi, serta pengokohan nilai-nilai pesantren yang terus hidup dan relevan lintas generasi.
Pewarta : Naylah Zakiyatur Rohmah
Editor : Maria Al Faradela





































