Pentingnya Sikap Tawadhu, KH Moh Zuhri Zaini: Jangan Menghargai Hartanya, tapi Hargai Imannya
www.nuruljadid.net.berita – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH Moh Zuhri Zaini, menyerukan pentingnya umat Islam untuk mempraktikkan sikap tawadhu atau kerendahan hati dalam kehidupan sehari-hari. Ia menegaskan bahwa tawadhu harus didasari oleh iman dan ilmu, bukan kekayaan atau harta duniawi.
Pernyataan tersebut disampaikan Kiai Zuhri dalam pengajian kitab kuning yang dihadiri ribuan santri di Masjid Jami’ Pondok Pesantren Nurul Jadid, pada Minggu (29/9).
Menurutnya, tawadhu adalah inti dari akhlak mulia, yang diwujudkan dengan merendahkan diri di hadapan Allah SWT dan sesama manusia.
“Kita berjalan di depan orang harus dengan tawadhu,” ujarnya, menekankan bahwa sikap ini harus terlihat dalam setiap gerak dan tingkah laku.
Kiai Zuhri lantas menjelaskan bahwa motivasi di balik sikap tawadhu sangat menentukan kualitasnya. Ia menegaskan bahwa kerendahan hati yang sejati harus didorong oleh iman yang kokoh, bukan didasari oleh pertimbangan materi seperti harta benda.
“Kalau tawadhu didasari oleh harta, itu bukan tawadhu,” tegasnya. Ia menyayangkan apabila seseorang hanya bersikap rendah hati karena ingin mendapatkan keuntungan dari orang yang lebih kaya, dan mengabaikan orang yang kurang mampu.
Lebih lanjut, Kiai Zuhri menekankan bahwa dasar utama tawadhu seharusnya adalah ilmu. Seseorang yang memiliki ilmu akan secara alami memiliki sikap rendah hati karena menyadari keterbatasan dirinya.
“Kalau tawadhu didasari oleh ilmu, maka semua orang akan dihargainya, lebih-lebih menghargai kepada orang yang beriman,” jelasnya. Ilmu akan mengajarkan seseorang untuk melihat dan menghargai nilai-nilai kebaikan pada setiap individu.
Ia memberikan contoh nyata dari sikap yang salah. “Jangan menghargai hartanya. Misalnya, kita menghargai pada orang kaya sedangkan pada orang miskin kita tidak menggubris.” Sikap seperti ini, menurut Kiai Zuhri, adalah bentuk kerendahan hati yang palsu dan materialistis.
“Kalau seperti itu, dia tidak menghargai orang, tapi menghargai harta,” lanjutnya. Hal ini menjadi teguran bagi umat agar tidak terjebak dalam jebakan status sosial yang dibangun di atas dasar kekayaan semata.
Pewarta : Ponirin Mika




Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!