Menjaga Kesucian dari Harta yang Bukan Haknya; Ini Ulasan Kiai Zuhri Zaini

www.nuruljadid.net.berita – KH. Moh. Zuhri Zaini menuturkan sebuah kisah teladan dari Sahabat Anas RA tentang sikap Nabi Muhammad SAW dalam menjaga kesucian diri dari harta yang bukan haknya. Kisah ini menjadi pengingat penting bagi umat Islam tentang kehati-hatian dalam perkara halal dan haram.

Dalam riwayat tersebut, Nabi Muhammad SAW menemukan sebiji kurma yang terjatuh di jalan. Sebuah peristiwa kecil, namun sarat makna besar bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Ketika melihat kurma tersebut, Nabi SAW bersabda, “Seandainya saya tidak takut terdapat pada kurma itu sedekah, niscaya saya akan memakannya.” Ucapan ini menunjukkan sikap Nabi yang sangat berhati-hati dalam memastikan kehalalan sesuatu yang akan dikonsumsi.

KH. Zuhri menjelaskan, Nabi Muhammad SAW tidak diperbolehkan menerima zakat, meskipun beliau boleh menerima hadiah dari umatnya. Hal ini menjadi pembeda yang sangat jelas dalam aturan syariat Islam.

Menurutnya, kurma yang ditemukan di jalan bisa jadi termasuk bagian dari sedekah atau zakat yang disalurkan kepada fakir miskin. Karena ada kemungkinan itu berasal dari hak orang lain, Nabi SAW memilih untuk tidak memakannya.

Sikap Nabi ini menegaskan betapa pentingnya menjaga diri dari sesuatu yang masih meragukan statusnya. Prinsip kehati-hatian ini menjadi teladan bagi umat Islam untuk tidak gegabah dalam mengambil sesuatu.

KH. Zuhri menambahkan, peristiwa sederhana ini mengajarkan umat agar tidak meremehkan perkara kecil dalam urusan halal dan haram. Sekalipun hanya sebiji kurma, Nabi SAW tetap waspada agar tidak melanggar ketentuan syariat.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa sikap Nabi SAW tersebut sejalan dengan sabdanya yang lain: “Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu.” Hadis ini mempertegas pentingnya mengutamakan kehati-hatian dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui penjelasan ini, KH. Zuhri mengajak umat Islam, khususnya para santri, untuk menjadikan kisah Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman hidup. Kejujuran, kesucian hati, dan kehati-hatian dalam rezeki menjadi fondasi utama dalam membentuk pribadi yang berintegritas.

Dengan demikian, kisah sederhana Nabi menemukan sebiji kurma di jalan menjadi pelajaran besar: seorang muslim sejati harus selalu memastikan bahwa apa yang ia konsumsi dan gunakan benar-benar berasal dari sumber yang halal dan suci.

Pewarta    : Ahmad Zainul Khofi

Editor       : Ponirin Mika

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *