Kiai Zuhri Zaini: Ilmu Tanpa Akhlak Tidak Akan Disukai Orang
www.nuruljadid.net.berita– Kebaikan seseorang tidak hanya diukur dari ilmu yang dimilikinya, melainkan juga dari akhlak dan budi pekertinya. Hal itu disampaikan oleh Kiai Zuhri dalam pengajian kitab yang di gelar saban sore di Masjid Jami’ Pondok Pesantrten Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Rabu (17/09/25).
Menurutnya, meskipun seseorang berilmu tinggi, tetapi tidak memiliki akhlak yang baik, maka orang tersebut tidak akan disenangi masyarakat. “Ilmu itu harus dibarengi dengan akhlak. Kalau tidak, akan hilang nilainya,” tegasnya.
Kiai Zuhri juga menegaskan bahwa iman yang tidak diikuti dengan akhlak mulia adalah iman yang belum sempurna. “Iman dan akhlak itu ibarat dua sisi mata uang, tidak bisa dipisahkan,” katanya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan tentang makna dosa. Menurutnya, dosa adalah segala perbuatan buruk yang dilarang oleh Allah. “Dosa itu bukan hanya sekadar pelanggaran, tetapi juga sesuatu yang menimbulkan keraguan dalam hati,” ujarnya.
Ia menambahkan, dosa juga membuat hati seseorang tidak tenang. Orang yang berbuat dosa akan merasa gelisah, sekalipun perbuatannya tidak diketahui orang lain.
“Coba saja lihat orang yang melakukan perbuatan buruk, hatinya pasti tidak pernah senang,” kata Kiai Zuhri di hadapan jamaah.
Ia mencontohkan perilaku koruptif yang dilakukan sebagian orang. Menurutnya, meskipun koruptor memiliki banyak harta, tetapi hatinya tidak akan pernah merasa damai.
“Korupsi itu tidak hanya merugikan negara, tapi juga merusak ketenangan batin pelakunya,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Kiai Zuhri juga mengisahkan sebuah dialog sahabat dengan Nabi Muhammad SAW tentang makna kebaikan. Sahabat itu bertanya bagaimana cara membedakan antara sesuatu yang baik dan buruk.
Nabi Muhammad menjawab, “Mintalah fatwa kepada hatimu.” Jawaban tersebut, menurut Kiai Zuhri, menegaskan pentingnya peran hati dalam menentukan pilihan moral.
Ia menjelaskan, jika hati merasa tenang ketika melakukan suatu perbuatan, maka perbuatan itu adalah kebaikan. Sebaliknya, jika hati gelisah dan tidak nyaman, maka perbuatan tersebut termasuk keburukan.
“Ukuran hati ini berlaku terutama pada perkara yang belum jelas hukumnya dalam agama,” tambahnya.
Kiai Zuhri menekankan, hati nurani adalah cermin yang paling jujur untuk menilai perbuatan manusia. Karenanya, setiap orang perlu menjaga kebeningan hatinya agar tidak tertutup oleh dosa.
Ia mengingatkan jamaah untuk selalu berhati-hati dalam menjalani kehidupan. Sebab, setiap perbuatan, baik atau buruk, akan membawa dampak langsung kepada jiwa pelakunya.
“Kalau kita ingin hidup bahagia, maka perbanyaklah kebaikan, jaga akhlak, dan jauhi dosa. Itu kunci ketenangan,” pungkas Kiai Zuhri.
Pewarta : Ahmad Zainul Khofi
Editor : Ponirin Mika




Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!