Dari Transmisi Ilahi hingga Refleksi Psikologis

artikel-www.nuruljadid.net-Bagi sebagian besar manusia modern, tidur kerap dianggap sekadar aktivitas biologis untuk melepas lelah, dan mimpi hanyalah bunga tidur yang acak. Namun, jika kita menyelami pemikiran ulama tabiin terkemuka asal Basrah, Muhammad bin Sirin al-Anshari (Ibnu Sirin), tidur dan mimpi memuat dimensi yang jauh lebih dalam. Tidur adalah salah satu tanda kebesaran Allah Swt. (QS. Ar-Rum: 23). Ketika memejamkan mata, kesadaran kita lenyap bagai mayat, berada sepenuhnya dalam genggaman Sang Pencipta (QS. Az-Zumar: 42), sebelum akhirnya dikembalikan saat fajar menyingsing.

Dalam ruang hampa kesadaran itulah, mimpi sering kali menjadi media spiritual yang luar biasa. Rasulullah Saw. sendiri menegaskan bahwa meski kenabian telah berakhir, masih ada yang tersisa, yaitu al-mubasyirat—mimpi-mimpi baik yang membawa kabar gembira atau peringatan dari Allah. Ibnu Sirin memetakan bahwa mimpi bisa bersumber dari tiga hal: dari Allah (berupa kebenaran), dari Setan (berupa ketakutan), dan dari pergolakan diri sendiri.

Bagi para kekasih Allah, mimpi bukan sekadar refleksi bawah sadar, melainkan sebuah instruksi nyata yang menuntut pembuktian di alam realitas. Tengoklah bagaimana Nabi Muhammad Saw. ketika didera rindu yang mendalam terhadap tanah kelahirannya, Mekah, setelah delapan tahun berhijrah. Allah mentransmisikan pesan lewat mimpi simbolis berupa aktivitas mencukur rambut (QS. Al-Fath: 27). Mimpi ini mewujud menjadi kenyataan sejarah yang agung (Fathu Mekah), di mana beliau secara riil melakukan tahallul setelah menuntaskan ibadah.

Namun, ujian mimpi paling dramatis sepanjang sejarah tentu saja dialami oleh Nabi Ibrahim As. Perintah pengurbanan sang putra hadir bukan tanpa alasan. Ada sebuah pesan teologis yang tajam di sana: ketika cinta Nabi Ibrahim sedikit bergeser—dari yang semula murni kepada Allah, menjadi terlalu condong kepada putra kesayangannya—Allah menguji batas loyalitas tersebut melalui mimpi simbolis menyembelih putranya.

Di sinilah letak keindahan narasi Al-Qur’an (QS. As-Saffat: 102). Terjadi dialog yang sangat transparan dan penuh cinta antara ayah dan anak. Nabi Ibrahim tidak egois; ia meminta pendapat Ismail. Dan dengan keteguhan iman, Ismail menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu.” Kepatuhan ini membuktikan bahwa bagi para Nabi, mimpi adalah instruksi ilahi yang melahirkan realitas implementatif yang nyata.

Menarik jika kita menyandingkan peristiwa ini dengan catatan dalam Kitab Kejadian pasal 22 ayat 7 pada tradisi Yudeo-Kristen. Ada perbedaan mendasar yang memicu ruang diskusi menarik. Dalam Kitab Kejadian, perintah itu diterima Abraham langsung (bukan lewat mimpi), dan sang anak (Ishak) digambarkan tidak tahu bahwa dirinya yang akan dikorbankan, terbukti dari pertanyaannya: “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?”

Terlepas dari perbedaan teologis antar-kitab suci tersebut, substansi moral yang bisa kita petik tetaplah sama: perintah pengurbanan adalah ujian cinta ekstrem. Ia menjadi pengingat abadi bagi umat manusia tentang bahaya menduakan cinta Tuhan dengan makhluk-Nya (QS. At-Taubah: 24).

Bagaimana dengan mimpi yang berasal dari “diri sendiri”? Di sinilah titik temu menarik antara hadis yang dikutip Ibnu Sirin dengan sains barat. Aristoteles menganggap mimpi sebagai kelanjutan proses berpikir manusia saat tidur. Namun, teori ini digugat oleh bapak psikoanalisis, Sigmund Freud.

Dalam mahakaryanya, The Interpretation of Dreams, Freud berargumen bahwa jika mimpi hanya kelanjutan pikiran, mestinya mimpi berisi hal-hal yang kita harapkan. Kenyataannya, banyak mimpi yang justru manifes sebagai ketakutan terbesar kita. Freud menceritakan kasus tragis seorang pasiennya: seorang ayah yang bermimpi anaknya yang baru wafat berteriak, “Ayah! lihatlah aku terbakar.” Saat terbangun, sang ayah mendapati lilin penjaga jenazah jatuh dan benar-benar membakar kain serta jari anaknya. Mimpi dalam kategori ini adalah proyeksi dari kecemasan, rasa bersalah, dan pergolakan psikologis yang mendalam.

Secara tidak langsung, sains modern melalui Freud dan Aristoteles sebenarnya sedang mengamini kategori ketiga dari klasifikasi Ibnu Sirin: bahwa jiwa manusia memiliki mekanismenya sendiri dalam melahirkan mimpi.

Pada akhirnya, mimpi memiliki jalurnya masing-masing. Ada mimpi yang bersifat psikologis, ada yang berupa gangguan, dan bagi orang-orang saleh, ada mimpi yang menjadi petunjuk.

Secara alegoris, esensi pengurbanan Nabi Ibrahim harus kita bawa ke dalam kehidupan sehari-hari. Pengurbanan ego, pengurbanan harta, dan pengurbanan kenyamanan demi mendekatkan diri kepada Sang Pencipta adalah esensi sejati dari kehidupan yang bertauhid. Semoga kita senantiasa dianugerahi kekuatan oleh Allah Swt. untuk merealisasikan “mimpi-mimpi indah” kita: sebuah mimpi untuk menjadi pribadi yang gemar berbagi, memangkas ego, dan menyembelih sifat kebinatangan dalam diri kita demi kemaslahatan sesama. Amin.

 

Oleh : H. Hasyim Syamhudi

Dosen Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *