Tepis Isu Bullying, Kiai Mahfudz Faqih Minta Pendidik Pesantren Teladani Sifat Kasih Sayang Rasulullah
www.nuruljadid.net – Ketua Konseling Pesantren Nurul Jadid, KH. Mahfudz Faqih, menegaskan bahwa pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan yang paling ideal untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Pernyataan tersebut disampaikan di hadapan para tenaga pendidik di lingkungan lembaga dan sekolah di bawah naungan Pesantren Nurul Jadid.
Dalam pengarahan yang berlangsung pada Ahad (23/05/2026) tersebut, Kiai Mahfudz menyoroti pentingnya peran pesantren dalam membentuk karakter generasi muda. Menurutnya, sistem komprehensif yang diterapkan di pesantren mampu menyelaraskan antara ilmu akademik dan nilai-nilai moral secara berkesinambungan.
Kegiatan pengarahan ini sekaligus menjadi momen penting bagi pihak pesantren untuk merespons dinamika sosial yang sedang berkembang. Kiai Mahfudz secara khusus memberikan tanggapan terkait isu-isu negatif yang beredar di masyarakat mengenai dunia kepesantrenan belakangan ini.
Secara blak-blakan, beliau menanggapi adanya isu yang menyebutkan bahwa pesantren rentan menjadi tempat terjadinya tindakan perundungan atau bullying. Pihak pesantren memandang isu ini sebagai bahan evaluasi sekaligus momentum untuk mempertegas komitmen pola pengasuhan yang aman.
Untuk menangkal hal tersebut, Kiai Mahfudz menegaskan bahwa cara mendidik yang diterapkan oleh para pendidik harus berbasis pada ajaran agama. Beliau mengimbau agar seluruh guru dan pengasuh meneladani perilaku Rasulullah SAW dalam berinteraksi dengan para santri.
“Rasulullah dalam mendidik sahabatnya tidak dengan cara kekerasan. Tapi dengan kasih sayang,” tegas Kiai Mahfudz di hadapan para tenaga pendidik.
Beliau menambahkan bahwa pendekatan emosional yang persuasif dan penuh kasih sayang jauh lebih efektif dalam membentuk disiplin santri. Kekerasan fisik maupun verbal sama sekali tidak memiliki tempat dalam metode pendidikan Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Di sisi yang lain, Kiai Mahfudz juga menyoroti fenomena senioritas yang kerap memicu tindakan bullying di dalam dunia pendidikan. Menurutnya, potensi penyalahgunaan hubungan antara senior dan junior ini sebenarnya sudah diwanti-wanti oleh Rasulullah SAW sejak zaman dahulu melalui hadisnya.
Beliau kemudian mengutip sebuah hadis populer yang menjadi fondasi hubungan antargenerasi dalam Islam. “Hormati yang lebih tua dan sayangi yang lebih muda,” ungkapnya, mengingatkan kembali esensi saling menghargai yang harus tertanam di jiwa setiap santri.
Sebagai penutup, Kiai Mahfudz mengingatkan bahwa budaya senioritas tidak hanya terpaku pada tingkatan akademik atau usia semata. Fenomena tersebut juga sangat rentan terjadi pada orang-orang yang memiliki kuasa atau jabatan, sehingga pengawasan dan penanaman akhlak mulia harus terus diperketat di semua lini pesantren.
Pewarta : Daniel
Editor : Ponirin Mika




Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!