Kiai Hamid Wahid Ungkap Makna di Balik Tema Harlah Ke-77 “dari Tradisi ke Transformasi”

berita.nuruljadid.net – Angka 77, selain menjadi usia pesantren, juga menjadi momentum rekam jejak bersama. Hal tersebut disampaikan oleh KH. Abd. Hamid Wahid, Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid dalam pidato sambutannya pada pengajian umum dalam rangka memperingati Haul Masyayikh dan Hari Lahir ke-77 Pondok Pesantren Nurul Jadid, Ahad (18/01/2026).

Kiai Hamid menegaskan bahwa angka 77 menyimpan memori dan cita-cita transformatif bagi kemajuan Pondok Pesantren Nurul Jadid.

“Angka ini juga menjadi langkah menuju perbaikan yang sistematis dan terukur sesuai dengan cita-cita para masyayikh,” ungkapnya di hadapan ribuan para alumni dan wali santri.

Lebih lanjut, Kiai Hamid juga menyampaikan makna tema Haul dan Harlah “dari Tradisi ke Transformasi”. Menurut beliau, tema ini mengusung spirit pesantren mewujudkan komitmen dan ke-istikamah-an menjaga nilai-nilai luhur sesuai yang telah diajarkan oleh nabi.

“Dalam transformasi, kita memegang teguh “المُحَافَظَةُ عَلَى الْقَدِيمِ الصَّالِحِ وَالأَخْذُ بِالْجَدِيدِ الأَصْلَحِ” yakni menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang bermanfaat, artinya tidak hanya menjaga warisan intelektual masa lalu, tapi juga melakukan perubahan diri,” ulas kiai yang juga merupakan Bupati Bondowoso tersebut.

Tak hanya itu, Kiai Hamid juga menerangkan fokus pesantren ke depan yang meliputi penguatan manajemen 4 pilar utama: manajemen pendidikan yang berkualitas, manajemen sumber daya manusia yang kompeten, manajemen pendanaan dan kemandirian yang kuat, dan manajemen sarana prasarana yang representatif.

Dalam mengawal tranformasi diri, lanjut beliau, pesantren tak hanya mengandalkan semangat semata melainkan juga memperkuat pondasi organisasi dengan menerapkan Standard Operating Procedure (SOP) dari ISO 9001:2015. Dengan mengacu pada ISO 9001:2015, pesantren akan memastikan layanan pendidikan dan dakwah secara integratif, evaluatif, dan melalui perbaikan yang berkelanjutan.

“Kita ingin menunjukan keunggulan pesantren sebagai keunggulan yang holistik. Seimbang antara kekuatan moralitas dan intelektualitas,” terangnya.

Dalam penutup pidatonya, Kiai Hamid juga mengukuhkan bahwa pesantren akan senantiasa berupaya dalam menginternalisasikan Trilogi dan Panca Kesadaran Santri, tak lupa juga diselingi dengan sikap disiplin dan istikamah dalam menjalankan pengabdian sesuai SOP, terbuka pada inovasi dan evaluasi, serta menjadikan sertifikasi ISO 9001:2015 sebagai sarana kaderisasi.

“Kita tak hanya ingin mencetak yang ahli agama, tapi juga generasi pengelola peradaban yang mampu berkonstribusi pada umat, dunia, hingga akhirat,” pungkasnya.

Pewarta: Mohammad Wildan Dhulfahmi
Editor: Ahmad Zainul Khofi

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *