Kiai Zuhri Ungkap Menjaga Rahasia adalah Amanah dan Adab Tertinggi

tausyiah.nuruljadid.net – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, menegaskan kewajiban setiap individu untuk menjaga rahasia pribadi dan keluarga dari konsumsi publik. Dalam penyampaiannya, beliau menyoroti fenomena sosial di mana urusan domestik, termasuk hubungan intim suami-istri, kerap kali bocor kepada teman akrab atau khalayak luas.

Kiai Zuhri menjelaskan bahwa meskipun kejujuran dan sikap terbuka adalah hal yang baik, keduanya harus tetap memiliki batasan. Menurutnya, ada hal-hal yang diibaratkan sebagai “aurat” yang wajib ditutupi meski hal tersebut adalah milik sendiri.

“Rahasia keluarga itu tidak boleh diceritakan kepada teman dekat sekalipun. Urusan pribadi itu ada batasannya. Menyebarkan rahasia sama saja dengan melanggar janji dan termasuk bentuk pengkhianatan,” tegas Kiai Zuhri.

Beliau juga mengingatkan tentang kedudukan buruk manusia di hari kiamat kelak. Mengutip dalil agama, beliau menyebutkan bahwa salah satu golongan manusia dengan kedudukan paling buruk adalah mereka yang melakukan hubungan suami-istri, kemudian menceritakan detail rahasia ranjang tersebut kepada orang lain.

Pentingnya Adab di Atas Segalanya Selain menjaga lisan, Kiai Zuhri menekankan pentingnya adab dalam beribadah dan bersikap. Beliau memberi perumpamaan tentang seseorang yang shalat hanya menggunakan celana pendek yang sekadar menutupi aurat. Meski secara hukum syariat dianggap sah, namun dari sudut pandang adab, hal tersebut dinilai tidak sopan.

“Berhadapan dengan manusia saja kita merasa malu jika hanya memakai celana kolor, apalagi menghadap Tuhan. Di situlah pentingnya menjaga adab,” imbuhnya.

Sebagai teladan terbaik, Kiai Zuhri mengisahkan bagaimana Nabi Muhammad SAW sangat menjaga kehormatan keluarganya. Beliau mengutip perkataan Sayyidah Siti Aisyah RA yang menyebutkan bahwa Rasulullah tidak pernah melihat aurat istrinya secara berlebihan, begitu pula sebaliknya. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun suami-istri memiliki kebebasan secara hukum, Nabi SAW tetap mengedepankan adab dan rasa malu yang tinggi.

Pewarta    : Ponirin Mika

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *