Gus Imdad: Kekayaan dan Kemiskinan Bukan Ukuran Kebaikan
www.nuruljadid.net.berita – Gus Mohammad Imdad Robbani dalam sebuah ceramah agama menyampaikan pelajaran penting dari dua sosok nabi yang memiliki kondisi lahiriah yang sangat berbeda: Nabi Sulaiman dan Nabi Ayyub. Ia menegaskan bahwa kekayaan maupun kemiskinan bukanlah tolok ukur kebaikan seseorang di hadapan Allah SWT.
“Nabi Sulaiman dikenal sebagai nabi yang sangat kaya raya, sementara Nabi Ayyub hidup dalam kondisi miskin dan penuh ujian. Namun, keduanya tetap menjadi hamba Allah yang taat dan dicintai,” ungkap Gus Imdad dalam kajian yang disampaikannya baru-baru ini.
Ia menjelaskan bahwa yang menjadi ukuran kebaikan sejati adalah sejauh mana seseorang tetap kembali kepada Allah, dalam keadaan lapang maupun sempit. “Yang penting bukan kaya atau miskinnya, tapi apakah saat kaya dan miskin itu kita kembali kepada Allah atau tidak,” ujarnya.
Penegasan ini sesuai dengan apa yang difirmankan Allah dalam Al-Qur’an. Tentang Nabi Sulaiman, Allah berfirman:
“Dan Kami anugerahkan kepada Daud, Sulaiman. Dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Allah).”
(QS. Sad: 30)
Sedangkan tentang Nabi Ayyub, Allah juga memujinya dalam kondisi penuh penderitaan:
“Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia sangat taat (kepada Allah).”
(QS. Sad: 44)
Gus Imdad juga mengingatkan bahwa orang kaya yang bersyukur adalah mereka yang memperoleh harta dari sumber yang halal dan menggunakannya untuk kebaikan, seperti menolong sesama dan menunaikan perintah agama. Sebaliknya, kemiskinan pun bisa menjadi jalan mulia jika dijalani dengan sabar dan tetap bertawakal kepada Allah.
Ia mengutip sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa pada hari kiamat, setiap manusia akan ditanya tentang lima hal: umur, ilmu, masa muda, harta – dan untuk harta akan ditanya dua hal, yakni dari mana diperoleh dan untuk apa digunakan.
“Jadi bukan hanya jumlah hartanya, tapi proses mendapatkan dan penggunaannya yang akan dipertanggungjawabkan,” tegas Gus Imdad.
Pesan ini menjadi pengingat bagi umat Islam untuk tidak menilai derajat seseorang hanya dari tampilan duniawi seperti kekayaan atau kemiskinan. Yang paling utama adalah ketakwaan dan hubungan seseorang dengan Allah SWT di setiap kondisi hidupnya.
Pewarta : Ahmad Zainul Khofi
Editor : Ponirin Mika




Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!