Pos

Pesan Gus Abdurrahman Wafie di Kegiatan OSKAR; Jaga Identitas Santri Hingga Baca Syair

www.nuruljadid.net- Salah satu rangkaian kegiatan OSKAR (Orientasi Kelas Akhir) tingkat SLTP Santri Putri menggelar refleksi bertema “Refleksi Jati Diri Santri” bertempat di Aula I Pondok Pesantren Nurul Jadid pada Rabu, (20/05/2026). Kegiatan ini dikuti oleh peserta dan sangat membuat suasana menarik karena penyampaian materi yang komunikatif dan diselingi candaan ringan dari pemateri.

Kegiatan tersebut menghadirkan pemateri, Gus Abdurrahman Wafie untuk memberikan motivasi kepada para santri. Dalam penyampaiannya, beliau berharap agar santri kelas akhir ini nantinya apabila pulang ke masyarakat tetap menjaga identitas dan nilai-nilai kepesantrenan.

Selain itu beliau menegaskan bahwa ilmu tidak akan didapatkan dengan begitu saja. Tapi ada syarat-syarat yang perlu diperhatiakan. Dengan hal itu beliau mengutip sebuah nadzam populer tentang syarat mencari ilmu:

اَلاَ لاَتَنَالُ الْعِلْمَ اِلاَّ بِســــِتَّةٍ
سَأُنْبِيْكَ عَنْ مَجْمُوْعِهَا بِبَيَانٍ
ذُكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاصْطِبَارٍ وَبُلْغَةٍ
وَاِرْشَادُ اُسْتَاذٍ وَطُوْلِ زَمَانٍ

Yang berarti: “Ingatlah, kalian tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengan enam perkara. Akan aku jelaskan semuanya secara rinci, yaitu kecerdasan, semangat, kesabaran, biaya, petunjuk guru, dan waktu yang panjang.”

Melalui nadzam tersebut, Gus Abdur sapaan akrab beliau menjelaskan bahwa keberhasilan dalam menuntut ilmu tidak dapat diraih secara instan, melainkan membutuhkan proses, kesungguhan, serta bimbingan guru.

Selain itu, beliau juga mengutip perkataan dari Umar bin Khattab: “Maa nadamtu ‘alaa sukutii marratan, lakininnii nadamtu ‘alaa al-kalaami miraaran.(Aku tidak pernah menyesali diamku sekali pun, tetapi aku berkali-kali menyesali perkataanku).

Pesan tersebut disampaikan sebagai pengingat bagi para santri agar senantiasa menjaga lisan, terutama di era media sosial yang serba cepat dan terbuka.

Beliau juga menekankan pentingnya menjadikan ilmu yang diperoleh di pesantren sebagai filter utama dalam menjalani kehidupan di tengah masyarakat. Menurutnya, seorang santri harus mampu menjaga nilai, adab, dan prinsip yang telah ditanamkan selama mondok.

Tidak hanya itu, beliau juga mengingatkan para santri untuk mulai bijak dalam mengatur waktu, khususnya dalam penggunaan media sosial.“Jangan lupa atur screen time, belajarlah menghargai waktu, terlebih dalam berselancar di media sosial,” pesannya.

Menjelang akhir kegiatan, Gus Abdur Wafie membacakan doa yang beliau peroleh langsung dari ayahandanya, KH. Hasan Abdul Wafie:

بدَأْتُ بِبِسْمِ الله رُوْحِي بِه اهْتَدتْ
اِلَى كَشْفِ اَسْرَارِ بِبَاطِنِهِ انْطَوَتْ

Beliau kemudian melanjutkannya dengan petuah berbahasa Madura:

Becah sabben mareh sholat sabelles kale,
ben bhileh muthola’ah, bhecah telloo kale.”

Petuah tersebut kemudian dicontohkan langsung dengan lantunan bernada syair sehingga menambah kekhidmatan suasana dan membuat para santri semakin antusias mengikuti kegiatan hingga akhir.

Kegiatan OSKAR ditutup dengan pembacaan qosidah tawassul karya KH. Zaini Mun’im yang berlangsung penuh kekhusyukan dan kebersamaan. Melalui kegiatan ini, diharapkan para santri akhir mampu memahami kembali jati diri mereka sebagai santri serta siap mengamalkan nilai-nilai pesantren di kehidupan bermasyarakat.

Pewarta : Maria Al Faradela
Editor     : Ponirin Mika

Melalui Gamifikasi Pohon Harapan dan Solusi, Santri Nurul Jadid Diajak Berpikir Solutif

www.nuruljadid.net- Dalam rangkaian kegiatan Orientasi Kelas Akhir, Pondok Pesantren Nurul Jadid menyelenggarakan seminar motivasi santri tentang jati diri santri Nurul Jadid yang bertempat di Aula I PP. Nurul Jadid, Ahad (17/05/2026). Kegiatan ini berlangsung dengan penuh antusiasme dari para santri yang menyimak pemaparan materi dari Ny. Hj. Nur Diana Kholidah.

Dalam penyampaiannya, Ning Din panggilan akrabnya menjelaskan pentingnya menjaga jiwa dan karakter seorang santri yang berpegang teguh pada prinsip perjuangan pendiri PP. Nurul Jadid. Beliau menyampaikan dawuh Kiai Zaini Mun’im bahwa seorang santri akan dianggap bermaksiat apabila tidak mampu melebur dan hadir di tengah masyarakat.

“Sebagai santri, kita harus mengedepankan kepentingan orang banyak dan senantiasa meletakkan perjuangan di atas kepentingan pribadi. Hal tersebut dapat diwujudkan melalui mengajar dan mengabdi,” tutur beliau.

Tak hanya itu, beliau juga mengajak para santri untuk memahami diri sendiri melalui metode “pohon masalah” dan “pohon harapan”. Pohon masalah digunakan untuk mengidentifikasi akar persoalan yang terjadi, sedangkan pohon harapan menjadi gambaran solusi dari masalah tersebut beserta dampak positif yang akan muncul di masa mendatang.

Suasana seminar semakin hidup ketika para santri diminta mempraktikkan langsung konsep tersebut melalui tugas membuat pohon dengan metode gamifikasi. Setiap kelompok ditantang untuk menyusun pohon masalah dan pohon harapan secara kreatif dan interaktif agar lebih mudah dipahami serta menarik untuk dipresentasikan. Metode ini membuat para santri lebih aktif berdiskusi, bekerja sama, dan menuangkan ide-ide mereka secara inovatif.

Para peserta kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok untuk menggambar pohon, menuliskan akar masalah yang terjadi di lingkungan sekitar, serta menawarkan solusi melalui pohon harapan. Dengan penuh semangat, mereka menuangkan ide dan kreativitas melalui media kertas dan alat tulis yang telah disediakan panitia.

Beragam isu diangkat dalam presentasi masing-masing kelompok, mulai dari upaya pencegahan perundungan, fenomena LGBT, hingga solusi dalam mencegah banjir. Kegiatan presentasi tersebut berlangsung interaktif dan mendapat apresiasi dari para peserta lainnya.

Sebagai penutup, Ny. Hj. Nur Diana Kholidah meminta setiap kelompok memaparkan hasil diskusi mereka agar dapat saling belajar dan memahami sudut pandang satu sama lain. Seminar ini diharapkan mampu membentuk santri yang tidak hanya memahami jati dirinya, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, kemampuan berpikir solutif, dan semangat pengabdian kepada masyarakat.

Pewarta : Naylah Zakiyatur Rohmah
Editor     : Maria Al Faradela

Ning Din Ingatkan Pentingnya Panca Kesadaran bagi Santri di Era Modern

www.nuruljadid.net- Kegiatan Orientasi Kelas Akhir (OSKAR) tingkat SLTP Santri Putri Pondok Pesantren Nurul Jadid berlangsung khidmat dan penuh inspirasi melalui sesi motivasi diri yang digelar di Aula I Pondok Pesantren Nurul Jadid pada Ahad (17/05/26). Kegiatan ini menghadirkan Wakil Kepala Pesantren III Pondok Pesantren Nurul Jadid, Ny. Hj. Nur Diana Kholidah,S.Q, M.Pd. sebagai pemateri utama dan dimoderatori oleh Maria Al Faradela.

Mengusung tema “Nilai Diri Santri Nurul Jadid: Membentuk Kader Ulama dan Nasionalis,” kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan karakter bagi para santri kelas akhir dalam menghadapi tantangan zaman modern.
Dalam sesi pemaparannya, Ning Din sapaan akrab beliau menegaskan bahwa pembentukan karakter santri harus berlandaskan pada Panca Kesadaran Santri. Menurut beliau, nilai tersebut menjadi fondasi utama dalam mencetak generasi santri yang unggul dan berintegritas.

“Pembentukan karakter santri dilakukan melalui Panca Kesadaran Santri, yaitu kesadaran beragama, berilmu, berorganisasi, bermasyarakat, serta berbangsa dan bernegara,” ungkap beliau di hadapan para peserta OSKAR.
Selain itu, beliau juga menjelaskan bahwa Trilogi Santri tidak hanya menjadi pedoman hidup, tetapi juga mampu membentuk identitas Islam yang kuat, integritas moral, serta kontribusi sosial di tengah masyarakat.

Dalam suasana yang penuh semangat, beliau turut memaparkan tiga karakter utama yang harus dimiliki seorang pembaharu. Pertama, memiliki kepekaan dan rasa empati terhadap lingkungan sekitar. Kedua, mampu membangun jejaring dan kolaborasi. Ketiga, memiliki kemampuan management leadership sebagai bekal menghadapi dinamika zaman.

“Di zaman yang serba modern ini, Panca Kesadaran Santri bukan hanya sekadar slogan, tetapi juga harus menjadi tradisi religius sekaligus tradisi modernitas,” tutur beliau.

Menutup sesi motivasi diri tersebut, Ning Din berpesan kepada seluruh santri agar senantiasa memegang teguh pedoman pesantren:“Al-Muhafadzah ‘Ala Al-Qadim Al-Shalih wa Al-Akhdzu bi Al-Jadid Al-Ashlah,”yang berarti menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik.

Melalui kegiatan ini, OSKAR SLTP Santri Putri Pondok Pesantren Nurul Jadid diharapkan mampu menjadi wadah pembentukan karakter, penguatan nilai kepesantrenan, serta motivasi bagi para santri untuk terus berkembang menjadi kader ulama dan nasionalis yang siap berkontribusi bagi agama, bangsa, dan masyarakat.

Pewarta : Ainun Nabilah
Editor     : Maria Al Faradela