Mantapkan skill Wali Asuh dengan Sharing STIFIn

Mantapkan skill Wali Asuh dengan Sharing STIFIn

nuruljadid.net – Dalam rangka memantapkan skill Wali Asuh akan materi STIFIn Wilayah Al-Mawaddah, Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Mengadakan Pelatihan Kewaliasuhan yang bertempat di Dalem Pemangku Al-Mawaddah lantai 2. Kamis, (27/02/2020).

Acara tersebut dihadiri oleh seluruh wali asuh wilayah Al-Mawaddah. Ustadzah Millatul Wildan dan Ustadzah Rif’atul Afifah Salsabila sebagai Penyaji begitu antusias menyampaikan materi STIFIn yang disimak dengan khusyuk oleh seluruh wali asuh.

Wilayah Al-Mawaddah merupakan satu-satunya dari beberapa wilayah santri putri di PP. Nurul Jadid yang mewajibkan seluruh santrinya untuk mengetahui kepribadian diri dengan tes STIFIn. Maka tak ayal, di Al-Mawaddah seluruh santri diperlakukan sesuai kepribadiannya. Karena semua santri memiliki kekurangan, kelebihan, dan serta penanganan yang berbeda.

Ustadzah Millatul Wildan (paling kanan) saat menyampaikan materi didepan para wali asuh

Ustadzah Millatul Wildan (paling kanan) saat menyampaikan materi didepan para wali asuh

“Pelatihan ini sangat bermanfaat bagi wali asuh agar dapat membaca pola anak asuhnya masing – masing sehingga dapat menanganinya lebih maksimal,” ungkap Ustadzah Rifa kepada para Wali Asuh disela – sela pematerian berlangsung.

Lanjut beliau, santri yang berasal dari Kabupaten Jember itu berharap setelah mengikuti pelatihan tersebut segenap wali asuh bisa langsung mempraktekkan ilmunya dalam keseharian.

Dilain tempat, Ustadzah Ega Qotrina selaku koordinator Bimbingan Konseling dan Wali Asuh menyampaikan bahwa kegiatan tersebut akan menjadi kegiatan rutin oleh Divisi BK WA.

“STIFIn itu sudah sangat rinci dalam menjelaskan kepribadian seseorang. Jika kita ingin anak asuh kita lebih baik maka wali asuh harus bisa memahami karakter dan kepribadiannya. Tentu itu akan sesuai dan tidak ada ganjalan maupun gesekan hati dari para wali asuh dan anak asuh. Agar saling mengerti akan kepribadian masing-masing dan tidak keliru bertindak serta memberi pendampingan,” tutur Ustadzah Ega Qotrina.

Penulis : Dewi

Kalian Orang Hebat, Bisa Mengabdi di Pesantren

nuruljadid.net- Suasana cukup meriah, saat Pembina Panji Pelopor Ustadz Dimas Eko Cahyono membacakan Surat Keputusan (SK) Pesantren terkait pengangkatan pengurus Panji Pelopor 2020-2021 pada acara pelantikan Panji Pelopor jilid IV bertempat di Aula Pesantren I Pondok Pesantren Nurul Jadid, Selasa siang (26/02), pukul 12. 30 WIB.

Bahkan tepuk tangan pun, tak dapat dikendalikan oleh para pengurus Panji Pelopor demisioner, termasuk diantaranya mantan ketua Panji Pelopor periode 2019-2020. Dia berkata “ Ya, dari begitu bangganya, mereka bertepuk tangan cukup keras sekali. Lihat saja wajah mereka begitu berbunga-bunga,” Ucap Mannan.

Wajah ceria juga tampak terlihat dari Kasubbag Protokoler Ustadz Bashori Alwi. Beliau sesekali melempar senyum manisnya, saat terikan Panji Pelopor Hebat terungkap dari peserta yang hadir pada acara pelantikan kemarin.

“Tidak ada yang bisa saya katakana hari ini, selain kata bangga melihat antusiasme Panji Pelopor di ruangan ini,” Kata Ustadz Bashori Alwi.

Saat KH. Hefny Rozak memberikan pengarahan sekaligus motivasi, suasana sangat hening. Para Panji Pelopor mendengarkan dengan khusyu’ tausyiah beliau. Kiai murah senyum ini sesekali melempar senyumnya saat melihat Panji Pelopor. Mungkin saja, karena beliau sangat bangga melihat calon pemimpin masa depan tersebut.

Dalam pengarahannya, Ketua Lembaga Motivasi Nurul Jadid ini menyampaikan, kesempatan mengabdi di Pesantren hanya diberikan kepada orang-orang hebat. Pondok Pesantren Nurul Jadid mempunyai ribuan santri, tapi hanya 200 orang yang terpilih. Ini menandakan bahwa kalian adalah orang hebat.

“Kalian ini termasuk orang yang sangat luar biasa, orang hebat, karena terpilih menjadi pengabdi (Panji Pelopor) tanpa menggunakan uang sepersenpun. Mau menjadi kepala desa saja, ratusan ribu uang harus dikeluarkan, apalagi mau menjadi presiden. Sedangkan anda, menjadi Panji Pelopor atau engabdi di Pesantren tempat mencetak orang yang beriman dan berilmu, tidak bayar,” Sambung Kiai Hefny.

Lagi-lagi tepuk tangan Panji Pelopor menggaung di acara ini, saat mendengar pengarahan dari Kiai Hefny.

Tidak hanya Panji Pelopor yang ikut dengan seksama mendengarkan pengarahan tersebut, tapi WKM Humasy sekolah mengikuti acara hingga selesai.

“Alhamdulillah, saya bisa ikut menyaksikan pelantikan Panji Pelopor. Dan juga mendengarkan tausyiah sekaligus motivasi dari Kiai Hefny,” Ujar Ustadz Rosyidi Abdurrasyid WKM Humas MTs Nurul Jadid.

 

Pewarta : PM

Panji Pelopor Sebagai Wahana Kaderisasi

nuruljadid.net- Selasa, 25 Pebruari 2020 Panji Pelopor Jilid IV akan dilantik oleh Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Jadid. Tempatnya di Aula Pesantren I pada pukul 13. 00 WIB.  Organisasi ini terbentuk di Pesantren empat tahun yang lalu atas inisiasi Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Abdul Hamid Wahid.

Dalam perjalanannya, Organisasi Panji Pelopor mengalami perkembangan dari tahun ke tahun. Menjadi organisasi kader di Pesantren, Panji Pelopor telah berkontribusi sangat baik terhadap Pesantren, terutama membantu untuk mensukseskan kegiatan-kegiatan di Pesantren,’Kata Ustadz Bashori Alwi Kasubbag Protokoler.

Organisasi Panji Pelopor merupakan gabungan siswa dari delegasi perlembaga yang ada d bawah naungan Nurul Jadid, “Sambungnya.

sementara, Pembina Panji Pelopor Ustadz Dimas Eko Cahyono mengatakan di pelantikan Panji Pelopor nanti akan diberikan tausyiah kepesantrenan semacam ruhul jihad agar mereka bekerja membantu pesantren bukan karena keterpaksaan tapi keterpanggilan hati karena ingin mengabdi.

Organisasi ini tidak hanya selesai dibentuk tapi harus ada pengawalan dan pembinaan secara berkesinambungan. Dengan itu, visi Kepala Pesantren berkait terbentuknya Panji Pelopor ini bisa terwujud,” Ungkap Ponirin Mika Kasubbag Humas dan mantan Pembina Panji Pelopor jilid II dan III.

Untuk Panji Pelopor periode 2020-2021 sebanyak 200 peserta terdiri dari putera 100 orang dan puteri 100 orang. Sejumlah ini bisa kita bagi dalam bertugas sesuai dengan kepentingan dan satuan tugas Panji Pelopor,” Tegas Ustadz Bashori Alwi.

Masih kata, Mahasiswa Program Doktoral di IAIN Semarang Jurusan Falak ini, Panji Pelopor harus menjadi organisasi penggerak ditingkat santri yang sebaya, agar mereka (santri) mempunyai semangat untuk menjadi abdi yang professional di Pesantren. Sebab, Pesantren Nurul Jadid juga mengajarkan bagaimana santrinya mempunyai kesadaran berorganisasi yang handal. Di Pesantren Nurul Jadid tidak hanya mengajarkan santrinya untuk mendalami ilmu agama semata, melainkan ada wadah menempa diri untuk menjadi seorang organisator yang cakap dan terampil,” Sambung Ponirin Mika

Pria berkaca mata ini melanjutkan pernyataannya, “Panji Pelopor merupakan wahana kaderisasi santri, organisasi tersebut mendapatkan pembekalan wawasan tentang kehumasan dan keprotokoler melalui pelatihan-pelatihan berbentuk in job training maupun of the job training. Kita telah bekerjasama dengan Humpro Pemda Kabupaten, Probolinggo dalam hal pengisi materi keprotokoleran. Dengan akan dilantiknya 200 Panji Pelopor saat ini, besar harapan kami, agar mereka melaksanakan tugasnya secara maksimal, panca pelatikan nanti.

Pewarta : PM

Makna Perjuangan dan Silaturrahim

nuruljadid.net- Sabtu, 15 Februari 2020, menjadi momentum yang penuh berkah bagi para alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid (Ponpes NJ), yang tinggal di sekitar Jabodetabek Banten. Hari itu, bertempat di rumah Ahmad Iman, Cakung, Jakarta Timur, rawuh salah satu keluarga besar Ponpes NJ, yaitu KH. Najiburrahman Wahid atau yang akrab disapa Kiai Najib. Beliau hadir di tengah-tengah alumni sebagai narasumber Pengajian Kitab Syu’abul Iman, buah karya KH. Zaini Abdul Mun’im, sekaligus untuk memberikan tausyiah dan bersilaturrahim.

 Makna Perjuangan

Pada kesempatan tersebut, Kiai Najib bercerita tentang makna di balik ajakan ayahandanya ke acara-acara pengajian.

“Waktu masih kecil saya sering dibawa oleh abah (KH. Abd. Wahid Zaini, red) ke acara-acara pengajian, di mana setelah saya dewasa sekarang, saya baru faham maksudnya. Ternyata saya diperkenalkan tentang bagaimana arti perjuangan dan memahami situasi dan kondisi masyarakat,” tutur Kiai Najib mengawali tausyiahnya.

Selain dari ayahandanya, seringkali Kiai Najib diminta mewakili pamanda KH. Moh Zuhri Zaini ke berapa acara. Semula Kiai Najib merasa kurang pantas. “Saya masih merasa muda, belum tepat dan pas saya mewakili beliau,” lanjutnya.

Namun karena yang meminta adalah Kiai Zuhri, dan telah ada pesan jelas bahwa yang tinggal di Ponpes NJharus siap dan aktif membantu pesantren, akhirnya Kiai Najib tidak dapat menolak.

 Setelah beberapa waktu mengikuti ajakan ayahanda dan menjalankan tugas dari pamanda, Kiai Najib memperoleh banyak pelajaran. “Sungguh ternyata banyak pelajaran atau hikmah,” ujarnya.

“Setelah saya melakukan itu, saya bisa tahu seperti apa sebenarnya kondisi alumni dan wali santri. Tak sedikit dari mereka yang datang atau mengikuti acara itu bukan dari kalangan yang mampu. Tapi karena berangkat dari keinginan yang besar, sehingga merea berusaha, seolah-olah memaksakan diri untuk berbuat hal yang baik, seperti menghadiri acara pengajian dan atau memondokan anaknya ke Nurul Jadid,” tambah Kiai Najib.

 Di sisi yang lain, lanjut Kiai Najib, ada hikmah yang mengajarkan padanya bahwa tidak boleh menjadi generasi penerus yang hanya menikmati fasilitas yang ada. Karena leluhurnya adalah para perintis dan pejuang. Karena itu, jangan sampai hanya menjadi generasi penikmat,yang kalau diteruskan, maka tidak menutup kemungkinan akan menjadigenerasi perusak, yang hanya menjual nama baik leluhur.

 Pernyataan Kiai Najib tersebut seolah menyadarkan para audien terhadap mutiara hikmah dari Kiai Zaini, yaitu orang yang hidup di Indonesia kemudian tidak melakukan perjuangan, dia telah berbuat maksiat. Orang yang hanya memikirkan masalah pendidikannya sendiri, maka orang itu telah berbuat maksiat. Kita semua harus memikirkan perjuangan rakyat banyak.

 “Makanya cita-cita Kiai Zaini itu tidak hanya ingin mencetak santri menjadi kiai, tapi santri yang aktif berjuang di tengah-tengah masyarakat,” tegasnya.

 Makna Silaturrahim

Pada kesempatan yang berbahagia itu, Kia Najib juga menyampaikan makna silaturahim. Menurut beliau, setiap majelis silaturahim minimal memiliki tiga nilai penting. Pertama, ada nilai yang mengingatkan akan pentingnya bersedekah.Karena bisa saja di antara yang datang itu berasal dari keluarga yang tidak mampu, sehingga (melalui sedekah, red) silatrahim itu dirasakan manfaatnya.

 Kedua, mengajak kepada hal yang ma’ruf, sehingga pertemuan itu seperti taman surga. “Karena Rasulullah pernah berpesan kepada para sahabat, jika kamu ketemu dengan taman surga maka singgahlah. Lalu sahabat bertanya, apa taman surga itu ya Rasulullah? Nabi menjawab, sebuah majelis di mana di situ ada dzikir kepada Allah, dan ingat kepada ajaran Allah,” jelasKiai Najib.

 Ketiga, mendamaikan perselisihan antarsesama manusia. Terkait hal ini, Kiai Najib punya cerita tentang dua orang yang saling bermusuhan dalam urusan politik.

 “Tapi ketika bertemu pada sebuah forum silturrahim keluarga, ternyata mereka menjadi ishlah, karena dipertemukan garis keturunannya melalui forum pertemuan tersebut. Inilah hikmah atau nilai ketiga daripada adanya silaturrahim. Bisa juga (silaturahim, red) bermakna mensinergikan potensi yang berbeda-beda,” pungkas Kiai Najib.*

 

 

Pewarta : Noer Yadi Izzul

Sambung Rasa di Pengajian Kitab Syu’abul Iman

nuruljadi.net-Sabtu, 15 Februari 2020, salah satu rumah di Cakung, Jakarta Timur, nampak ramai. Beberapa lelaki dan perempuan yang mengenakan busana muslim terlihat berdatangandan bersalaman. Di antara mereka ada yang membawa momongan, ada pula yang datang sendirian. Mereka saling bertegur sapa, tukar cerita,dan bercanda ria sambil menikmati secangkir kopi hitam dan aneka kudapan.Di antara mereka ada yang bertanya seputar aktivitas terkini, jumlah keturunan, saling mendoakan atas kebaikan, dan atau sekedar mengenang masa-masa belajar di Pondok Pesantren Nurul Jadid (Ponpes NJ), Paiton Probolinggo.

Pada Sabtu yang cerah itu, para alumni Ponpes NJ yang bermukin di sekitar Jabodetabek Banten sedang mengadakan pertemuan yang dibalut dengan Pengajian Syu’abul Iman, yaitu kegiatan mengaji kitab yang memuat bait-bait tentang cabang-cabang iman, buah karya Pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Zaini ‘Abdul Mun’im.

 Tepat pukul 11.30 WIB, salah satu alumni bernama Abdul Majid, memimpin tahlil yang dikhususkan untuk Pendiri dan Masyayikh Ponpes NJ. Para alumni lainnya khusyuk mengikuti irama tahlil yang cepat dan kompak.

 Usai pembacaan tahlil, sebagian alumni bersegera menunaikan ibadah sholat dan makan siang (Ishoma). Selanjutnya mereka segera berkumpul di dalam rumah, di mana pertemuan antaralumni bersama nara sumber Kitab Syu’abul Iman, yaitu KH Najiburrahman Wahid atau Kiai Najib, diselenggarakan.

 Dari dalam rumah itu, lamat-lamat terdengar Qosidah Tawasul Pendiri Ponpes NJ disenandungkan. Iramanya enak didengar, dan merasuk ke relung jiwa para alumni yang telah lama tak mendengarnya.

 “Pertemuan ini bagaikan oase bagi kita,” ujar Ahmad Im’an, tuan rumah yang didapuk untuk menyampaikan sambutan.“Karena itu, saya sangat bersyukur atas kehadiran teman-teman pada Pengajian Kitab Sy’abul Iman yang diampu oleh KH. Najiburrahman Wahid,” pungkasnya.

 Hal senada disampaikan Nasrul Umam Syafi’i, Ketua P4NJ Jabodetabek Banten. Menurut lelaki asal Tuban ini, kegiatan mengaji kitab sangat penting untuk menjaga silaturahim. Karena itu, ia bertekad akan menjadikan pengajian kitab ini sebagai kegiatan rutin 3 bulan sekali.

 Sementara Anas Nasihin, salah satu alumni yang kini bermukim di perbatasan antara Depok dan Tangerang Selatan, mengatakan bahwa Pengajian Kitab Syuabul Iman dapat diartikan sebagai tabarukan dan sambung rasa, baik antaralumni di sekitar Jabodetabek Banten, dan terutama dengan Pendiri dan Masyayikh Pondok Pesantren Nurul Jadid.

 Menanggapi hal tersebut, Kiai Najibyang didaulat sebagai nara sumber Pengajian Kitab Syu’abul Iman, menyatakan bahwa ada banyak nilai yang terkandung dalam pertemuan ini. Salah satunya adalah mendamaikan perselisihan antarsesama manusia.

 Terkait hal tersebut, Kiai Najib bercerita tentang sebuah kejadiandi mana dua orang yang saling bermusuhan dalam urusan politik, akhirnya islah setelah bertemu pada sebuah forum silturrahim keluarga. Mereka terkejut karena baru sadar bahwa sesungguhnya mereka masih bersaudara.

 “Akhirnya mereka ishlah. Inilah hikmah atau nilai positif darisilaturrahim ini, dan dapat pula bermakna mensinergikan potensi yang berbeda-beda,” pungkasnya.

Sementara itu, Saiful Anwar, salah satu alumni yang dulu pernah bersekolah di MAK Nurul Jadid angkatan III, mengatakan bahwa ia sangat bersyukur dapat menghadiri Pengajian Kitab Sy’abul Iman. Selain dapat mengingatkannya pada sosok guru yang yang amat ia kagumi, yaitu KH Abd. Wahid Zaini yang nota bene merupakan Ayahanda Kiai Najib, ia juga dapat bertemu dengan beberapa alumni lainnya yang selama ini susah dijumpai karena padatnya aktivitas di rimba raya Jakarta.

 “Bahkan dengan Im’an itu, baru kali ini saya bertemu selama berada di DKI Jakarta,” ujarnya.*

 

Pewarta : M. Adib Minanurokhim

Podium Juara Bahasa Arab Dikuasai Santri Nurul Jadid

Podium Juara Bahasa Arab Dikuasai Santri Nurul Jadid

nuruljadid.net – Podium Pemenang Juara Pidato Bahasa Arab pada Event MBI Big Fair 11 di PP. Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto. Santri Pondok Pesantren Nurul Jadid berhasil memborong Juara Satu, Dua, dan Tiga. Selasa (18/02/2020).

Juara 1 didapatkan oleh Mohammad Sonhaji, santri sekaligus siswa MTs Nurul Jadid kelas 8 Program  Badan Pembinaan Khusus (BPK). Juara II oleh Novisintia, siswi SMP Nurul Jadid kelas 8 Program Bahasa Arab. Dan Juara III oleh Ifa Auliya, siswi SMP Nurul Jadid kelas 8 Program Bahasa Arab.

Sebagai Juara I, Mohammad Sonhaji berpidato tentang Pemuda muslim yang Ideal, begitu pula dengan Novisianti. Tapi lain halnya dengan Ifa Auliyah ia berpidato tentang Pemuda dalam Agama Islam.

Mohammad Sonhaji, saat mengikuti lomba

Mohammad Sonhaji, saat mengikuti lomba

Menurut penuturan pendamping dari kontingen SMP Nurul Jadid, A. N Syaqiful Anam, walaupun ditentukan oleh para juri akan judul yang ingin disampaikan. Para santri tersebut tidak gentar sama sekali

“Alhamdulillah bangga, meskipun kesehatan anak – anak terganggu akibat cuaca yang ekstrem sampe 9°C. Mereka masih memberikan yang terbaik,” ungkapnya dengan bangga.

Selain itu, Muhammad Sonhaji merasa tidak menyangka bisa menjadi juara 1 lomba pidato tingkat Jawa Timur itu. “Ya… pastinya bangga sekali sudah bisa membawa mengharaumkan nama Pondok Pesantren Nurul Jadid, lebih lebih nama sekolah di ajang MBF ini. gak nyangka juga, bisa dapat juara 1 di event yang sangat bergengsi tersebut. ya alhamdulillah,” ungkap dengan haru.

Penulis : Ahmad

Editor : Ponirin

Buah dari Keinginan Besar, Siswa MTs Nurul Jadid Juara I Baca Kitab

Buah dari Keinginan Besar, Siswa MTs Nurul Jadid Juara I Baca Kitab

nuruljadid.net – Seperti tak mau kalah dengan SMP Nurul Jadid, Siswa MTs Nurul Jadid turut mengharumkan nama besar Pondok Pesantren Nurul Jadid di Kabupaten Mojokerto melalui prestasi Juara 1 Lomba Baca Kitab. Selasa (18/02/2020).

Prestasi gemilang tersebut diraih oleh Zeidan Izza Faris, siswa MTs Program Badan Pembinaan Khusus (BPK) kelas 8 pada Event MBI Big Fair 11 di PP. Amanatul Ummah, Pacet. Mojokerto. Dan diikuti oleh 57 peserta tingkat SMP/MTs yang tersebar diseluruh Jawa Timur.

Tatkala di uji oleh juri, Zeidan (panggilan akrab Zeidan Izza Faris) mendapat giliran membaca Kitab Fathul Qorib Bab Waktu yang Diharamkan Sholat. Walaupun sempat grogi namun ia tetap optimis hingga berhasil mendapat prestasi gemilang tersebut.

 “Ya… yang namanya diuji didepan umum pasti ada saja yang namanya grogi. Apalagi kita tidak tau apa yang akan dibaca akan tetapi dengan doa semuanya dan keinginan untuk membahagiakan orang tua, maka dengan syukur alhamdulillah saya bisa menghadapinya dengan baik,” ungkap santri yang berasal dari Kelurahan Grogol Selatan, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan itu.

Zeidan Izza Faris (baju hitam) saat mengikuti lomba Baca Kitab

Zeidan Izza Faris (baju hitam) saat mengikuti lomba Baca Kitab

Mengenai persiapan, putra dari Bapak Salman Al-farisi tersebut telah bersiap – siap selama 1 bulan untuk mengikuti lomba. Namun, dalam setiap hariannya ia selalu istiqomah untuk belajar.

“Kalau masalah persiapan sih… Alhamdulillah kami diberi kesempatan yang bisa dibilang lumayan yaitu kurang lebih satu bulan. Karena guru kami pernah mengatakan  bahwa kemenangan hanya bagi orang yang benar benar siap. Oleh karena itu, kami harus memanfaatkan waktu tersebut sebenar benarnya… Dan dengan rahmat Allah SWT kami bisa melaksanakannya dengan baik,” ungkapnya dengan rendah hati.

“Apa yang telah saya raih bukan hasil saya sendiri, tapi juga dari usaha dan bantuan para guru, dan asatidz yang telah membimbing saya dan juga doa orang tua dan teman teman. Jadi selain bangga karena bisa meraih juara di event ini saya juga senang bisa membahagiakan dan tidak mengecewakan orang orang yang berdiri dibelakangku,” pungkasnya

Penulis : Ahmad

Editor : Ponirin

Penganugerahan Guru Berprestasi Biro Pendidikan Nurul Jadid

Penganugerahan Guru Berprestasi Biro Pendidikan Nurul Jadid

nuruljadid.net – Setelah rangkaian Pekan Ilmiah Guru dihelat mulai bulan November 2019 akhirnya tiba pada puncaknya yaitu Penganugerahan Guru Berprestasi Nasional (PILGUPRES) yang diselenggarakan oleh Biro Pendidikan Pondok Pesantren Nurul Jadid (18/02/2020). Kegiatan yang sempat terkendala disebabkan benturan dengan kegiatan pesantren akhirnya terlaksana selasa pagi di Aula II Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

Penganugerahan Guru Berprestasi ini dihadiri langsung oleh Kepela Biro Pendidikan Nurul Jadid, Dr. H. Moh. Mahfudz Faqih, M.Si. yang dalam sambutannya menyatakan rasa syukur atas karya dan kreativitas dari Guru atau tenaga pendidik Nurul Jadid. Ra Mahfudz panggilan akrabnya berharap bahwa kegiatan seperti ini dapat menginspirasi guru lain untuk tidak berhenti berkarya dan berinovasi dalam setiap pembelajaran di Kelas sehingga peserta didik lebih banyak mendapatkan manfaat dari kegiatan inovasi pembelajaran tersebut.

“Saya bersyukur dan bahagia atas terselenggaranya kegiatan Pemilihan Guru Berprestasi (Pilgupres) ini, meskipun animo guru masih sangat perlu ditingkatkan, paling tidak ini langkah positif yang perlu terus ditingkatkan dalam rangka member wadah guru berkreasi dan berinovasi. Semoga ini dapat menginspirasi guru lain agar turut aktif berkarya dan melakukan inovasi dalam pembelajaran di kelas,” jelas kepala Biro Pendidikan.

Momen ketika Kepala Biro Pendidikan, KH. Faqih Mahfuds saat memberikan piala dan piagam kepada para guru berprestasi

Momen ketika Kepala Biro Pendidikan, KH. Faqih Mahfuds saat memberikan piala dan piagam kepada para guru berprestasi

Jenis karya yang dilombakan adalah Karya Tulis Ilmiah untuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK), Inovasi Pembelajaran dan Best Practice. Guru peserta bisa memilih salah satu dari kategori karya tulis di atas yang kemudian dipresentasikan dan dipertanggungjawabkan di hadapan dewan juri yang terdiri dari Professional, Praktisi dan dari Biro Pendidikan itu sendiri. Pilgupres ini dibagi menjadi 2 kategori yaitu Pra Sekolah dan Pendidikan Menengah. Setiap peserta harus memenuhi setiap persyaratan yang menjadi ketentuan seperti seleksi administrasi porto folio, Esai dan mengisi surat kesediaan mengikuti serangkaian seleksi yang ada. Selanjutnya adalah Presentasi dan Demonstrasi Karya yang dibuat.

Pemilihan Guru Berprestasi ini menobatkan tiga terbaik dari masing-masing kategori. Untuk Pra Sekolah juara 1 diraih oleh Ibu Mistria Harmonis, M.Pd. dari TP Anak Shalih dengan judul karya tulis “Media Pembelajaran Buku Flanel dalam Pengembangan Pemahaman Huruf Hijaiyah Anak Usia 1-2 Tahun di TPA Ar-Rahmah Paiton Probolinggo”; juara 2 diraih oleh Ibu Umi Kulsum, S.Pd. dari TK Bina Anaprasa dengan judul karya tulis “Peningkatan Konsentrasi Anak pada Kegiatan Inti melalui Pemanfaatan Media Audio IMK di TK Bina Anaprasa”; sedangkan juara 3 adalah Ibu Anis Sulalah Trianingsih, SE. perwakilan TP Anak Shalih dengan judul karya tulis “Media Pembelajaran dengan Pemanfaatan Limbah Dapur dalam Pengembangan Kreatifitas Anak di TP Anak Shalih”.

Pemenang Guru Berpestasi tingkat SLTP/SLTA adalah juara 1 disabet Ibu Dwi Oktaviana Jamil, S.Pd. guru SMA Nurul Jadid dengan judul karya tulis “Implementasi Penilaian Berorientasi HOTS (Materi Perbandingan Trigonometri) pada Peserta Didik kelas X MIA 3 SMA Nurul Jadid Tahun Pelajaran 2019/2020”; juara 2 diraih Dra. Hj. Siti Muhassonah Ihsan dari MTS Nurul Jadid membawakan karya tulis berjudul “Implementasi Metode An-Nur dalam program Tahfidz Al-Qur’an di MTs Nurul Jadid Paiton”; dan juara 3 diperoleh oleh satu-satunya guru peserta laki-laki yaitu bapak Sugianto, S.Pd dari MA Nurul Jadid dengan judul karya tulis “Penggunaan Media Pembelajaran Kartu Pintar untuk meningkatkan pemahaman mata pelajaran Bahasa Indonesia di MA Nurul Jadid Paiton Probolinggo”.

Penulis : Mujiburrohman

Musda I Fospro Mencetak Pemimpin Lokal Berwawasan Global

Musda I Fospro Mencetak Pemimpin Lokal Berwawasan Global

nuruljadid.net – Pekan lalu Forum Komunikasi OSIS (FKO) Nurul Jadid menginisiasi Musyawarah Daerah (MUSDA) I Pembentukan Forum OSIS Kota/Kabupaten Probolinggo yang disingkat FOSPRO (18/02/2020). Kegiatan ini dilaksanakan dengan kemasan Talkshow Nasional Pemuda Inspiratif bertemakan “Collaborating The Local Future Leaders to Bridge ASEAN Community for SDGs” dalam rangka Pelantikan Pengurus MPO dan FKO Nurul Jadid Periode 2020/2021 di Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Musyawarah Daerah ini dihadiri oleh kurang lebih 200 lebih pengurus OSIS/OSIM dari sekitar 30 sekolah dan madrasah di wilayah kota dan kabupaten Probolinggo. Dalam kegiatan yang dipandu oleh Bapak Mujiburrohman membahas tentang tujuan dibentuknya Forum OSIS Kota/Kabupaten Probolinggo yang tidak lain adalah untuk mempererat tali silaturrahmi antar pelajar pemimpin, memperkuat jiwa kepemimpian siswa, memperluar jaringan serta berusaha menjadi solusi di tengah problematika bangsa terutama yang terjadi di Kota/Kabupaten Probolinggo yang terus mendorong pada beberapa sektor yaitu Quality Education (Pendidikan yang berkualitas), Sociopreneurship (Kewirausahaan berbasis Sosial), Socio-Cultural Issues (Isu Sosial Budaya) dan Environmental Sustainability (Lingkungan yang Berkelanjutan). Empat pilar ini diinisiasi atas dasar interpretasi dari 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDG’s) yang dicetuskan oleh resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tanggal 21 Oktober 2015 sebagai ambisi pembangunan bersama hingga tahun 2030.

Momen ketika seluruh anggota FKO dan FOSPRO putri saat foto bersama dengan para penyaji Talkshow Nasional Pemuda Inspiratif

Momen ketika seluruh anggota FKO dan FOSPRO putri saat foto bersama dengan para penyaji Talkshow Nasional Pemuda Inspiratif

FOSPRO ini harapannya menjadi sebuah semangat kebangkitan Pelajar pemimpin di wilayah Kota dan Kabupaten Probolinggo untuk secara sistematis dan terarah berkontribusi tidak hanya pada kepentingan daerah melainkan kepentingan Bangsa dan Negara hingga Dunia. Di era Digital dewasa ini, perlu bersama mengampanyekan tujuan-tujuan tersebut sebagai gerakan massif dan mengglobal karena tindakan kecil yang dilakukan bersama-sama akan berdampak besar untuk dunia. Oleh karenanya, penting untuk turut medukung sebuah inisiatif baik ini demi kaderisasi dan inkubasi calon pemimpin masa depan mulai dari lokal daerah masing-masing. Sebagaimana tujuan FOSPRO mencetak pemimpin lokal benkontribusi nasional yang mengglobal.

Pembentukan Forum OSIS Kota/Kabupaten Probolinggo (FOSPRO) ini selain sebagai salah satu program kerja FKO Nurul Jadid sejak tahun 2018 yang akhirnya dapat diwariskan dan terlaksana pada tahun 2020, juga telah berkoordinasi dan membangun komunikasi intensif dengan Forum OSIS Nusantara (FON) yang merupakan Forum OSIS Pusat dan Forusm OSIS Jatim (FOSISJATIM) di tingkat provinsi. Harapannya FOSPRO tidak sekedar menjadi sebuah forum silaturrahmi yang sekedar berdiri namun terkoneksi dan memiliki ijin resmi serta diakui oleh baik itu pemerintah maupun organisasi pelajar yang lain.

Penulis : Mujiburrohman

Fko Nurul Jadid Gelar Talkshow Nasional Pemuda Inspiratif

Fko Nurul Jadid Gelar Talkshow Nasional Pemuda Inspiratif

nuruljadid.net – Dalam rangka Pelantikan Majelis Pertimbangan Organisasi (MPO) dan Forum Komunikasi OSIS (FKO) Nurul Jadid Periode 2020/2021 selasa lalu (18/02/2020) di Aula II Pondok Pesantren Nurul Jadid, Panitia Pelaksana Kegiatan juga menggelar Talkshow Nasional yang mengusung tema “Collaborating The Local Future Leaders to Bridge ASEAN Community for Sustainable Development Goals (SDG’s)” yang diikuti oleh kurang lebih 500 peserta dari perwakilan OSIS se Kota/Kabupaten Probolinggo dan Santri Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Biro Pendidikan, Dr. H. Moh. Mahfudz Faqih, M.Si., Kabid Kelembagaan dan Peserta Didik, Mujiburrohman, S.Kom dan Kepala Bidang ORSAT-ORDA, Nur Thoriq, LC serta pimpinan lembaga pendidikan yang berada di bawah Yayasan Nurul Jadid. Kepala Biro menyampaikan bahwa penting bagi santri untuk menambah wawasan tentang isu-isu nasional dan global tidak hanya berkutat pada persoalan lokal. “Saya berharap santri juga dapat mengikuti perkembangan zaman dan update terhadap isu-isu nasional juga global sehingga bisa beradaptasi dan menyesuaikan kompetensi diri dengan kebutuhan zaman.” Ungkap Kepala Biro Pendidikan.

Penyerahan piagam penghargaan dari ketua FKO (kiri) kepada Penyaji, Mohammad Iqbal Darmawan (kanan)

Penyerahan piagam penghargaan dari ketua FKO (kiri) kepada Penyaji, Mohammad Iqbal Darmawan (kanan)

Dalam Talkshow ini mendatangkan dua narasumber yang luar biasa, narasumber pertama adalah Duta Muda ASEAN Indonesia 2019, Mohammad Iqbal Darmawan yang juga pernah menjadi ASEAN Youth Community Prime Minister, Chulalongkorn University Bangkok, Thailand 2015; sedangkan narasumber kedua yaitu Lailatul Fitriah, Inisiator ND Feminist Theologies in Global Context, Amerika Serikat; First Prize Winner for Women Author 2016 dan beliau juga Ph.D Student of Notre Dame University, Amerika Serikat. Lailatul Fitriah juga merupakan alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Peserta terekspos pada ASEAN values (Nilai-nilai ASEAN) yang sangat penting untuk diketahui dan dipahami dengan baik oleh setiap individu pemuda kita, karena Indonesia merupakan salah satu negara founding father (pendiri) yang ikut mencetuskan perhimpunan negara-negara ASEAN ini bersama empat negara lainnya yaitu Filipina, Thailand, Singapura dan Malaysia. Selain itu Mas Iqbal panggilan akrab Mohammad Iqbal Darmawan sebagai Duta Muda ASEAN juga memaparkan terkait manfaat dan tantangan yang dihadapi oleh Indonesia dan negera-negara ASEAN di kancah Internasional. Mas Iqbal juga tidak menyangka antusias peserta sangat baik dan aktif bertanya dengan pertanyaan yang tidak terprediksi akan ditanyakan oleh pelajar SLTA. Ini bukti bahwa santri dan pelajar memiliki kapasitas untuk berpikir kritis, kreatif, inovatif dan solutif dalam menyikapi persoalan yang tengah dihadapi oleh bangsa kita Indonesia.

Penyerahan piagam penghargaan dari ketua FKO (kanan) kepada Penyaji, Lailatul Fitriah (kiri)

Penyerahan piagam penghargaan dari ketua FKO (kanan) kepada Penyaji, Lailatul Fitriah (kiri)

Selepas pematerian pertama usai dilanjutkan oleh narasumber yang kedua yaitu Mbak Laily panggilan akrab Lailatul Fitriah tentang Globalisasi dan Peran Pemuda dalam menghadapi tantangannya. Sesi ini diawali screening dengan pertanyaan ringan “apa itu Globalisasi”. Banyak peserta yang mengacungkan tangan untuk diberi kesempatan menjawab pertanyaan itu. Nampak peserta putra dan putri saling berkompetisi menunjukkan jati diri dan kualitas masing-masing dalam forum tersebut. Mbak Laily juga memberikan wawasan tentang Bijak bersosial media di tengah maraknya arus berita bohong (hoax), propaganda dan hate speech (ujaran kebencian) sehingga sebagai santri dan pemuda perlu proaktif memerangi hal-hal negatif yang santer beredar di dunia maya kita, bukan malah menjadi bagian dari masalah dengan mudahnya membagikan pemberitaan yang belum tentu kebenarannya. Dari Talkshow ini banyak peserta tercerahkan tentang ASEAN dan isu Globalisasi serta bagaimana peran strategis pemuda mengambil peran memberikan kontribusi nyata untuk kemajuan dan kesejahteraan bersama.

Penulis : Mujiburrohman

Penyerahan kepemimpinan dari ketua FKO demisioner (paling kiri) kepada ketua FKO terpilih (paling kanan) dan disaksikan langsung oleh Pembina FKO, Bapak Mujiburrohman Bakri (tengah)

Estafet Pengabdian Diwariskan kepada Pengurus FKO Nurul Jadid Terlantik

nuruljadid.net – Biro Pendidikan Pondok Pesantren Nurul Jadid melantik pengurus Majelis Pertimbangan Organisasi (MPO) dan Forum Komunikasi OSIS (FKO) Nurul Jadid periode 2020/2021 minggu lalu (18/02/2020). Pembacaan SK oleh Pembina FKO dan MPO baru yang awal dijabat Bapak Mujiburrohman saat ini digantikan oleh Saudara Hidayatur Rahman selaku alumni pengurus FKO dan salah satu pengurus di Biro Pendidikan.

Pelantikan berlangsung di Aula II Pondok Pesantren Nurul Jadid yang dihadiri oleh Kepala Biro Pendidikan, Dr. H. Moh. Mahfudz Faqih, M.Si. ; Kepala Bagian Organisasi Santri (Orsat) dan Organisasi Daerah (Orda) BPPM, Saudara Mohammad Nurthoriq, LC; Duta Muda ASEAN Indonesia 2019, Mohammad Iqbal Darmawan; pimpinan Lembaga Pendidikan dan perwakilan OSIS se Kota/Kabupaten Probolinggo. Terdapat kurang lebih 50 pengurus MPO Putra-Putri dan 80 pengurus FKO Putra-Putri yang dilantik berdasarkan SK Kepala Biro Pendidikan nomor : NJ-H/SK/0022/A.VIII/02.2020.

Dalam sambutannya Kepala Biro Pendidikan menyampaikan bahwa FKO dan MPO harus senantiasa meningkatkan keterampilannya dalam berorganisasi dengan melakukan inovasi. “Saya berharap FKO dan MPO agar terus meningkatkan kompetensi diri dalam berorganisasi sehingga mampu melakukan terobosan atau inovasi yang dapat memberikan dampak dan manfaat besar kepada santri dan pesantren.” Ungkap kepala Biro Pendidikan, Dr. H. Moh. Mahfudz Faqih, M.Si.

Penyerahan kepemimpinan dari ketua FKO demisioner (paling kanan) kepada ketua FKO terpilih (paling kiri) dan disaksikan langsung oleh Pembina FKO, Bapak Mujiburrohman Bakri (tengah)

Penyerahan kepemimpinan dari ketua FKO demisioner (paling kanan) kepada ketua FKO terpilih (paling kiri) dan disaksikan langsung oleh Pembina FKO, Bapak Mujiburrohman Bakri (tengah)

FKO Nurul Jadid merupakan organisasi pelajar Nurul Jadid yang konsisten menyuarakan “Semangat Pengabdian” sebagai ikhtiar untuk mengembalikan semangat berbuat tanpa berharap penghargaan di kalangan santri yang kita luntur. Adapun Ketua organisasi siswa yang dilantik adalah Ahmad Zainul Khofi sebagai Ketua FKO Putra dari SMK Nurul Jadid, Citra Nova Ramadana sebagai Ketua FKO Putri dari SMA Nurul Jadid, sedangkan MPO Putra dipimpin oleh Alfiansyah dari SMA Nurul Jadid dan MPO Putri dipimpin oleh Ketua MPK Putri MA Nurul Jadid berdasarkan hasil pemilihan sebelumnya.

Harapannya ke depan pengurus MPO dan FKO terlantik dapat mengemban amanah dengan baik demi keberlangsungan estafet kepemimpinan organisasi. “Sebagai Pembina baru, saya berharap pelantikan ini menjadi awal baru untuk pengurus terlantik dalam mengemban amanah organisasi, semoga ke depan bisa lebih baik dan lebih bisa mengayomi OSIS/OSIM yang berada di bawah FKO,” ujar Hidayatur Rahman selaku Pembina.

Penulis : Mujiburrohman

Reorientasi Asrama I’dadiyah

nuruljadid.net- Asrama I’dadiyah merupakan tempat orentasi santri baru untuk mengenal lingkungan baru, kebiasaan-kebiasaan positif dan implentasi peraturan sehingga menjadi santri sesuai profile santri yang diharapkan Pondok Pesantren Nurul Jadid. Disini butuh doktrin dan internalisasi yang sistemik dan terstruktur,” Ungkap H. Faizin Syamwil Sekretaris Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo pada pertemuan Biro Kepesantrenan, Selasa (18/02) pukul 13. 00 WIB di Kantor Sekretariat.

Sebagai pengurus kita harus memberikan pelayanan maksimal untuk bisa mengantarkan kepada tujuan tersebut. Tentu, harus memberikan kegiatan-kegiatan yang mendukung terhadap visi dan misi tersebut, mulai dari kegiatan akademik dan pembiasaan-pembiasaan yang baik. Ini semua membutuhkan kerja ekstra dan kreatifitas dari pengurus terutama pengurus Biro Kepesantrenan khususnya pengurus I’dadiyah” Sambungnya.

Senada dengan H. Faizin Syamwil, Ustadz Ainul Yakin Mengatakan, “Tentu asrama I’dadiyah pintu awal internalisasi nilai-nilai kepesantrenan, pembudayaan dan penguasaan keagamaan. Karena, santri itu harus mampu mengetahui dasar-dasar agama, harus mampu hidup mandiri, hidup sederhana, bertanggung jawab dan membiasakan diri dalam melakukan perbuatan baik,” Ujar Mantan BK Biro Kepesantrenan masa khidmat 2007-2010.

 

Pewarta : PM

 

KH. Moh. Zuhri Zaini, Mengabdi di Pesantren Harus Ikhlas

nuruljadid.net – “Mengabdi pada dasarnya belajar, begitupun mengajar. Pada dasarnya sedang belajar, tentu dalam mencapai hasil yang baik yang pertama, ikhlas karena Allah SWT. Sebab keikhlasan disamping mendatangkan pahala, juga ada pertolongan dari Allah SWT”.

Hal itu didawuhkan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini pada kegiatan Tausiyah Pengasuh yang diadakan oleh Biro Kepesantrenan bidang Penataan Wilayah. Senin (17/02/2020).

Kemudian, KH. Moh. Zuhri Zaini menjelaskan jika ibadah dilakukan dengan bersungguh – sungguh akan ada barokah dan pahalanya, “Jadi kalau pahala itu di akhirat dan barokah itu dunia dan akhirat,” ungkap beliau

beliau turut menerangkan bahwa wali asuh merupakan ujung tombak pesantren. melalui wali asuh pesantren mendidik santri, menanamkan ruhul jihad dan pengabdian. Sebab, menurut beliau sebanyak apapun ilmu yang dimiliki dan lengkapnya fasilitas jika tidak memiliki semangat juang dan pengabdian maka hal itu tidak akan berguna.

“Sebab dulu ada kiai mondoknya di PP. Zainul Hasan Genggong, yang satu sekarang ada di Probolinggo dan satunya lagi di Bondowoso. Waktu mondok di Genggong, karena cara dulu mengabdinya itu sangat perhatian terhadap kiainya yaitu KH. Hasan Genggong. Jadi setiap kiainya itu pergi ke masjid itu sandalnya langsung dibetulkan dan dibalik menghadap keluar. Dan suatu ketika cincinnya Kiai Hasan Genggong itu jatuh ke waduknya toilet. Dan 2 santri itu secara sukarela mengaduk – aduk isi WC itu. Untuk mencari cincin tersebut.,” cerita beliau.

Menghayati: Tampak para wali asuh sedang takdzim menghayati tausiyah dari pengasuh PP. Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini

Menghayati: Tampak para wali asuh sedang takdzim menghayati tausiyah dari pengasuh PP. Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini

“Tapi bagaimana ketika 2 santri itu pulang ke masyarakat?, ilmunya tidak seberapa. Tapi ketika pulang mereka itu bisa mendirikan pesantren dan mungkin tidak mengajar sendiri tapi mencari guru dan ustadz,” lanjut beliau.

Lebih lanjut, beliau turut menuturkan manfaat dari pengabdian selain bisa mendapatkan ilmu dan keterampilang secara langsung. “Lalu dari mengabdi inikan termasuk bekerja, ilmu kita akan bertambah. Dan ilmu kita itu bisa dikatakan ilmu ladunni. Jadi tanpa belajar secara khusus tapi ilmu kita bertambah,” ungkap beliau.

Selain itu, beliau menyarankan kepada segenap pengurus dan wali asuh yang hadir untuk mengabdi dengan ikhlas, karena dengan ikhlas. Selain bernilai ibadah dan mendapatkan pahala tapi juga akan mendapatkan pertolongan.

“Dan kalau kita berjuang berkhidmat mengabdi dengan ikhlas berarti kita bekerja untuk Allah SWT, seolah-olah seperti itu, sekalipun Allah SWT itu tidak butuh pertolongan kita, tidak butuh jasa kita, sebab apa yang kita lakukan itu kembalinya kepada kita,” tutur beliau.

“Kalau kita bekerja untuk Allah SWT, maka Allah SWT akan memfasilitasi kita. Tentu akan lebih sempurna, tapi tidak hanya dalam bentuk materi tapi bisa saja dalam bentuk non materi berupa kelapangan hidup, kesehatan, dan ketenangan. Itu suatu rezeki yang besar. Apa artinya materi yang melimpah kalau kita sakit – sakitan atau punya banyak masalah hidup,” lanjut beliau.

Bertempat di Aula Pesantren I, beliau menerangkan bahwa dalam mengabdi tidak cukup ikhlas. Namun butuh strategi, rencana, dan pembagian tugas. Kemudian pentingnya tukar pengalaman antar sesama wali asuh dan pengurus.

“Insya Allah dengan demikian, jika kita bekerja dengan proffesional mengembalikan semuannya kepada Allah SWT, bukan kepada kemampuan kita. Maka pengabdian kita itu akan membuahkan hasil, sekalipun tetap semuanya itu kembali kepada Allah SWT,” tutur beliau dengan lemah lembut.

Diakhir tausiyah, beliau merekomendasikan kepada seluruh wali asuh jika telah melaksanakan semua tugas pokoknya untuk ikhtiar. “Sebagai simbol dan ungkapan kita itu, tawakkal dengan do’a. sebab kita yakin bahwa yang menentukan hasil itu Allah SWT apalagi ini yang terkait manusia yang paling inti itu Hati. Jadi doakan. Kalau perlu pas malem kita sholat tahajjud dan sholat hajat, kalau ada anak asuh yang nakal, jadi didoakan,” ungkap beliau.

“Jadi pendekatan kita kepada para santri ini, pendekatan persuasif. Sebaiknya jangan lalu dengan cara menakutkan apalagi kekerasan, walaupun terkadang perilaku santri itu menjengkelkan. Tapi disitulah letak jihadnya jihad nafsu melawan emosi. Semoga dengan kita bertemu seperti ini, semangat kita akan terus menyala. kita semuanya, saya dan kepala wilayah, dan pengurus pesantren juga,” pungkas beliau.

Penulis : Ahmad

Editor : Ponirin

Perkuat Ruhul Khidmah Pengurus dengan Tausiyah Pengasuh

Perkuat Ruhul Khidmah Pengurus dengan Tausiyah Pengasuh

nuruljadid.net – Pada hari ini Senin (17/02/2020), Biro Kepesantrenan bidang Penataan Wilayah Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo mengadakan kegiatan Tausiyah Pengasuh PP. Nurul Jadid, KH. Zuhri Zaini. Kegiatan tersebut dikhususkan kepada para Pengurus dan Wali Asuh.

Kegiatan yang bertempat di Aula Pesantren I itu mengangkat tema “Menumbuhkan Ruhul Khidmah untuk Menjadi Pengabdi Proffesional”.

Menurut Ust. Saili Aswi Sekretaris Biro Kepesantrenan mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan untuk menambah khazanah keilmuan dan Ruhul Khidmah para pengurus dan wali asuh PP. Nurul Jadid.

“Selain itu, kegiatan ini sebagai wadah motivasi bagi kita, sehingga kita bisa lebih bersemangat dalam mengabdi di PP. Nurul Jadid,” ungkap Ust Saili Aswi saat memberikan sambutan sebelum tausiyah dimulai.

Menyimak: Tampak para pengurus serta wali asuh sedang khidmat menyimak tausiyah pengasuh

Menyimak: Tampak para pengurus serta wali asuh sedang khidmat menyimak tausiyah pengasuh

“Kemudian hal ini juga sebagai ajang silaturahim antara seluruh pengurus dan wali asuh kepada Pengasuh, karena nantinya setelah tausiyah akan ada sesi sowan kepada beliau (Pengasuh PP. Nurul Jadid) secara langsung,” imbuhnya.

Masih dalam sambutan Ust, Saili (panggilan keseharian Ust. Saili Aswi). Tausiyah yang dilaksanakan setelah sholat jamaah maghrib itu akan dilaksanakan setiap 2 minggu sekali.

“Untuk kegiatan Tausiyah perdana ini, langsung dipimping oleh Pengasuh PP. Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini. Dan untuk kedepannya akan dipimpin oleh para dewan pengasuh lainnya,” pungkasnya.

Penulis : Ahmad

Editor : Ponirin

Lagi, Santri Nurul Jadid Juara Lomba Cerita Berbahasa Inggris se-Jawa Timur

Lagi, Santri Nurul Jadid Juara Lomba Cerita Berbahasa Inggris se-Jawa Timur

nuruljadid.net – Setelah menyabet Juara 1 & 2 Lomba Bercerita Berbahasa Arab tingkat Nasional pada ajang Festival Nasional Madinah yang digelar oleh Institut KH.Abdul Chalim, Mojokerto. Pada Sabtu (07/02/2020).

Kemarin, Sabtu (15/02/2020) Siswi SMP Nurul Jadid sekaligus Santri Pondok Pesantren Nurul Jadid kembali meraih Juara 1 & 3 lomba Bercerita Berbahasa Inggris tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) se-Jawa Timur pada Event MBI Big Fair 11 di PP. Amanatul Ummah, Pacet. Mojokerto.

Adapun santri yang mendapat prestasi tersebut ialah Ismatul Maula, siswi SMP Nurul Jadid Program Bahasa Inggris kelas 8, Peraih Juara I. dan Filza Sabina Hasan, siswi SMP Nurul Jadid Program Bahasa Inggris kelas 9, Peraih Juara III.

Diikuti oleh 50 Peserta yang tersebar di seluruh SMP atau MTs se-Jawa Timur, Ismatul maula bercerita tentang Mahapatih Gajah Mada. Lain halnya dengan Filza Sabina Hasan, ia bercerita tentang Patih Kebo Iwa.

Peraih Juara I: Ismatul Maula, siswi SMP Nurul Jadid Program Bahasa Inggris kelas 8. saat tampil di depan para juri

Peraih Juara I: Ismatul Maula, siswi SMP Nurul Jadid Program Bahasa Inggris kelas 8. saat tampil di depan para juri

Ust. M. Ridwan adi Wijaya, salah satu pembina yang turut mendampingi ke tempat lomba, ia menuturkan harapannya agar prestasi membanggakan yang diraih oleh siswa SMP Nurul Jadid itu bisa memacu semangat para peserta didik yang lain untuk lebih giat lagi dalam belajar.

“Alhamdulillah bisa mengharumkan nama baik SMPNJ lebih-lebih PP. Nurul Jadid, mudah-mudah dengan apa yang diraih saat ini bisa membuat adik-adik SMPNJ lebih giat lagi belajar,” ungkapnya kepada nuruljadid.net.

“Terharu sekaligus bangga. Setelah menjalani latihan latihan yang cukup disiplin pada setiap harinya adik – adik siswi SMP Nurul Jadid ini mampu memberikan yang terbaik,” imbuhnya.

Penulis : Ahmad

Editor : Ponirin