KH. Afifuddin Muhajir Uraikan Dua Metode Penulisan Syarah dalam Bedah Kitab Anaqidul Juman
www.nuruljadid.net– Bedah dan Launching Kitab Anaqidul Juman Syarah Syuabul Iman di Aula I Pondok Pesantren Nurul Jadid, Ahad (12/7/2026), tidak hanya menjadi ajang peluncuran karya ilmiah, tetapi juga ruang diskusi mengenai tradisi penulisan kitab di lingkungan pesantren. Dalam kesempatan tersebut, Dr. (HC) KH. Afifuddin Muhajir, M.Ag. mengupas hakikat dan metode penyusunan sebuah syarah sebagai pembanding kitab karya KH. Zainul Mu’in Husni, M.Ag.
Mengawali penyampaiannya, KH. Afifuddin mengaku terlebih dahulu merenungkan tanggung jawab yang diemban ketika menerima undangan sebagai pembahas kitab. Menurutnya, seorang pembahas perlu memahami terlebih dahulu tujuan utama dan fungsi seorang syarih sebelum memberikan penilaian terhadap sebuah karya.
“Ketika saya mendapat undangan untuk ikut membahas kitab ini, saya merenung, kira-kira hudzifahnya bahits itu apa, atau tugas daripada seorang syarih itu apa,” dawuh KH. Afifuddin Muhajir.
Beliau kemudian menjelaskan bahwa dalam tradisi keilmuan Islam, metode penulisan syarah secara umum terbagi menjadi dua bentuk, yaitu muttashil dan munfashil. Keduanya memiliki karakteristik yang berbeda dalam menyajikan penjelasan terhadap sebuah matan.
Menurut beliau, syarah muttashil merupakan bentuk penjelasan yang menyatu dengan teks asli, sehingga matan dan penjelasannya ditulis secara berdampingan dalam satu kesatuan. Model ini dapat ditemukan pada beberapa kitab fikih yang telah lama dipelajari di pesantren.
“Kita tahu syarah ada dua, muttashil dan munfashil. Muttashil seperti Fathul Qarib atau syarah Fathul Mu’in, antara matan dan syarah bercampur menjadi satu,” jelas beliau.
Sementara itu, syarah munfashil disusun secara terpisah dari teks asal sehingga memberikan ruang yang lebih luas bagi penulis untuk menguraikan, menjelaskan, serta mengembangkan pembahasan terhadap matan.
“Ada juga yang munfashil seperti syarah Ibnu Aqil dan seperti syarah Syuabul Iman,” lanjutnya.
Melalui penjelasan tersebut, KH. Afifuddin mengajak para hadirin untuk memahami bahwa sebuah syarah tidak sekadar menjelaskan isi kitab, tetapi juga menjadi media untuk memperjelas makna, memperkaya pemahaman, dan menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam yang telah diwariskan para ulama.
Kegiatan bedah kitab ini pun menjadi ruang akademik yang mempertemukan tradisi literasi pesantren dengan budaya dialog ilmiah. Selain memperkenalkan karya terbaru, forum tersebut juga memperlihatkan bagaimana para ulama saling berdiskusi, memberikan masukan, dan memperkaya khazanah keilmuan melalui adab serta argumentasi yang ilmiah.
Pewarta: Maria Al Faradela
Editor : Ponirin Mika







Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!