Ikhtiar Merawat Sanad di Masjid Pesantren

“Biro Kepesantrenan Pondok Pesantren Nurul Jadid menerapkan standardisasi baru dalam pembinaan Al-Qur’an. Mencoba memediasi tradisi kelisanan dengan manajemen berbasis data”

www.nuruljadid.net – Di bawah temaram lampu masjid Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, riuh rendah suara santri mengeja ayat-ayat suci mendadak melunak. Di sudut-sudut ruangan, para muallim (pengajar) menyimak dengan saksama, menginterupsi sesekali ketika ada pelafalan tajwid yang meleset. Rutinitas saban bakda Magrib ini bukan sekadar tadarus biasa, melainkan bagian dari cetak biru besar penataan kurikulum mengaji di pesantren tersebut.

Biro Kepesantrenan Nurul Jadid, khususnya Wilayah Syekh Jumadil Kubro, tengah menguji coba sebuah sistem baru dalam Program Pembinaan Al-Qur’an. Berakar dari dokumen Arah Kebijakan Umum Pesantren (AKUP) , program ini dirancang demi mengejar satu target krusial: memastikan seluruh santri aktif tuntas membaca Al-Qur’an secara tepat, presisi, dan terukur.

Bagi pesantren sebesar Nurul Jadid, mengajarkan Al-Qur’an adalah urusan nadi. Namun, mengelola ribuan kepala dengan latar belakang kemampuan yang timpang jelas membutuhkan formula yang lebih dari sekadar “ngaji seremonial”.

“Formulasi kegiatan pembinaan Al-Qur’an ini ditujukan untuk menghadirkan program yang tidak simbolik maupun seremonial semata, melainkan dengan konsep yang matang, terukur, dan berkelanjutan,” tulis dokumen Term of Reference (TOR) kegiatan tersebut.

Ikhtiar ini mewujud dalam pembagian empat klaster pembelajaran : Kelompok A, B, C, dan D. Pembagian ini didasarkan pada hasil Tes Kualifikasi Al-Qur’an yang diikuti oleh seluruh santri aktif di Wilayah Syekh Jumadil Kubro. Melalui pemetaan ini, beban kognitif santri disesuaikan dengan kapasitas awal mereka.

Di Kelompok A, misalnya, santri didorong untuk menguasai Hukum Mad, Qasr, serta Hukum Waqof Wal Ibtida’. Bergeser ke Kelompok B, materinya merambah pada Hukum Idgham, Hukum Ro’, dan Hukum Ikhfa’ Bi Ma’nal Jadid (IBJ). Sementara Kelompok C menjadi ruang bagi mereka yang mendalami Hukum Nun Sukun, Tanwin, Mim Mati, hingga Qalqalah. Di klaster paling dasar, Kelompok D, fokusnya adalah membenahi organ wicara santri lewat praktik Makhorijul Huruf dan Sifatul Huruf.

Metode pengajaran mengombinasikan talqin (peniruan langsung) dan pendalaman materi menggunakan kitab Ikhtisar Tajwid Praktis. Uniknya, ritme belajar diatur dengan porsi praktik yang lebih dominan ketimbang teori. Kelompok A, B, dan C menghabiskan dua hari untuk materi dan tiga hari untuk praktik. Sedangkan Kelompok D memperbanyak porsi asah lidah dengan skema satu hari teori dan empat hari praktik langsung.

Semua proses ini berdenyut setiap hari—kecuali hari Senin dan Kamis yang diliburkan—selama 30 menit, tepat dari pukul 18.15 hingga 18.45 WIB.

Langkah Nurul Jadid mengotomatisasi tradisi ini bukannya tanpa batu sandungan. Analisis internal pesantren sempat memetakan sejumlah kerawanan klasik : koordinasi yang longgar antara pengurus daerah dengan biro, tingkat kehadiran pengajar yang belum optimal, hingga tidak meratanya kompetensi mengajar para muallim.

Untuk memitigasi risiko tersebut, manajemen berbasis data kini disuntikkan. Setiap bulan, rekapitulasi kehadiran pengajar dan santri dikompilasi secara ketat oleh Koordinator Pembinaan Daerah. Hasil evaluasi ini bukan cuma menjadi rapor bagi santri untuk naik kelas , melainkan juga potret bagi Kasi Pembinaan Al-Qur’an Biro Kepesantrenan untuk mengambil keputusan strategis.

Kerja kolaboratif ini membagi beban secara vertikal. Di lini depan, para muallim bertugas mengabsen dan memperbaiki kualitas bacaan santri. Di atasnya, Koordinator Daerah dan Divisi Pembinaan Wilayah mengawal logistik data. Sementara Biro Kepesantrenan bertindak sebagai pengarah kompas program agar tetap selaras dengan Perencanaan Induk Pesantren (PIP).

Di tengah arus modernisasi pendidikan yang kerap menuntut hasil instan, eksperimen di Wilayah Syekh Jumadil Kubro ini menunjukkan bahwa pesantren memilih jalan setapak yang sunyi namun pasti : merawat tradisi kelisanan Islam yang sakral, sembari meminjam ketepatan sains manajemen modern.

Pewarta   : Ahmad Zainul Khofi

Editor      : Ponirin Mika

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *