Pos

Dari Paiton ke Pinggiran Jogja: Ketika Santri Berhadapan dengan Pemikiran Barat

penasantri.nuruljadid.net – Tahun pertama hidup di Jogja. Setahun sebelumnya di Paiton, saya masih ingat betul momen itu. Di siang terik di pesantren, dalam perjalanan menuju tempat “momen” itu meng-ada, kami sering berlari-lari kecil dengan tangan menggendong tas kamera dan buku catatan kecil melintasi lorong-lorong pesantren—konon, kedua alat itu adalah alat tempur kami untuk memburu “momen”. Tepat di hadapan event besar pesantren, kami yang masih duduk di kursi Aliyah kala itu, menatap euforia acara dengan rasa takjub, sekaligus ngeri. Bagaimana tidak? Kami harus merekam semua momen itu untuk diunggah ke laman nuruljadid.net. Saat itu, pikiran kami hanya bercakap-pasrah: “Yang penting fotonya bagus, kutipan narasumber pas, dan beritanya cepat naik”. Masa itu lepas. Ya, meski cukup berat berpisah, saya masih senang berkesempatan mengabdi bersama teman-teman ke pesantren. Seru!

Masa-masa sebagai Mahasiswa. Tahun pertama hidup di Jogja, ingatan-ingatan soal “berburu momen” itu sering berseliweran. Apa boleh buat, saya selalu menganggapnya sebagai “obat kangen” sekaligus kompas kehidupan yang paling nyata. Di Kota Pelajar ini, saya bertemu dengan dunia yang jauh berbeda. Ruang kelas yang awalnya penuh suara-suara setoran hafalan dan sorogan kitab santri, tetapi saat ini berubah, ruang itu telah dipenuhi oleh diskus-diskusi berbobot mahasiswa soal sosiologi, filsafat, sampai teori-teori kritis yang terkadang bikin kepala saya berdenyut sampai petang. Di momen itulah, saya merasa seperti sedang melakukan pulang kampung epistemologis. Ternyata, pilar karakter (core values) yang dulu saya dan santri-santri lainnya pelajari di pesantren—Trilogi Santri dan Panca Kesadaran Santri—bukan sekadar motto atau jargon, tapi lebih dari itu, nilai-nilai tersebut adalah alat paling sakti untuk bertahan hidup di tengah hiruk-pikuk dunia kampus yang serba cepat dan skeptis seperti sekarang ini.

“Reuni” Konsep di Meja Kuliah

Di kampus, dosen sering bicara soal integrasi-interkoneksi. Sebuah konsep yang mengajak kita untuk tidak menjadi manusia berkacamata kuda—istilah yang dipakai bagi seseorang berpandangan sempit: sekularis, misalnya. Awalnya saya mikir, “Wah, istilahnya keren dan akademis sekali ya?” Tapi setelah saya renungkan pelan-pelan, sambil menatap buku Islamic Studies di Perguruan Tinggi yang saya baca di pojok perpustakaan, saya malah tersenyum sendiri, ternyata konsep itu adalah “teman lama” yang saya temui kembali dalam seragam berbeda.

Di pesantren, kami memiliki pedoman hidup santri: Trilogi dan Panca Kesadaran Santri, salah satu silanya adalah Memperhatikan Kewajiban Fardlu ‘Ain. Dulu, saya sekadar memaknainya secara sederhana, sebatas kewajiban salat dan puasa. Tapi sejak di bangku kuliah, pemahaman saya atas makna itu semakin meluas. Saya mulai menyadari bahwa belajar sungguh-sungguh untuk memahami fenomena sosial, membedah ketidakadilan melalui teori, atau menjaga lingkungan juga merupakan cara kita menjalankan perintah-Nya—fardlu ‘ain—dengan “mengaji” Ayat-Ayat-Nya yang bertebaran di alam semesta. Allah itu Maha Luas, dan ilmu-Nya tidak hanya tersimpan di dalam baris-baris kitab kuning, tapi juga di laboratorium, di tumpukan jurnal, hingga di sela-sela fenomena kemasyarakatan.

Saya jadi teringat salah satu dawuh KH. Moh. Zuhri Zaini, Pengasuh Pesantren di tempat saya belajar dulu: “Ilmu yang tidak bermanfaat adalah ilmu yang hanya dikaji tanpa diamalkan”. Dawuh Kiai Zuhri ini adalah “jangkar”, saat teori baraat yang tampak canggih dan modern itu mulai menyilaukan pandangan saya. Di saat itu, kutipan inilah yang seolah menarik saya kembali ke rel hidup. Melalui kutipan itu, beliau mengingatkan saya bahwa kepintaran tidak ada harganya apabila hanya berakhir jadi tumpukan ijazah, alias tanpa pernah menyentuh kebutuhan masyarakat. Di sinilah interkoneksi itu terjadi secara alami: ilmu kampus membuat logika semakin tajam, tapi spirit pesantren membuat hati tetap tenang dan punya tujuan.

Panca Kesadaran: Etika di Tengah Arus Kritis

Jogja adalah kota yang sangat cair bagi pemikiran. Di sini, semua hal bisa dibedah, dikritik, bahkan didebatkan sekantuk-kantuknya. Tetapi, di Tengah kondisi itu, ada sedikit rasa khawatir yang berseliweran: Apakah saya akan kehilangan identitas santri di tengah arus pemikiran yang begitu deras ini?  Tidak. Bagi saya, Panca Kesadaran Santri bekerja seperti filter otomatis yang menangkal pemikiran-pemikiran sekuler yang mencoba menyelinap masuk ke alam pikir saya.

Dunia kampus acapkali menggoda kita untuk menjadi kritis hanya demi terlihat cerdas atau progresif, sampai-sampai terkadang kita lupa terhadap adab. Tetapi, sampai saat ini, ada satu ajaran yang saya terima ketika mondok dan tetap saya pegang teguh hingga saat ini, bahwa menjadi kritis itu harus bertanggung jawab. Artinya, kita boleh berargumen dengan dosen sehebat apa pun, atau berdebat dengan kawan setajam apa pun, namun takzim dan kesantunan adalah identitas yang tidak boleh tanggal, apa pun almamaternya.

Apa yang saya peroleh di pesantren soal tingkatan ilmu dan adab sangatlah berbekal manfaat ketika saya di sini. Selama saya melakukan liputan di pesantren, saya belajar bagaimana mendekati narasumber dengan sopan, mendengarkan mereka dengan penuh perhatian sebelum menulis catatan laporannya. Kesabaran, kesadaran, dan kehati-hatian itu adalah adab. Hingga saat ini, ketika saya harus menulis esai atau berdiskusi di forum mahasiswa, saya belajar untuk tidak merasa paling benar. Saya menyadari bahwa nilai-nilai pesantren bukan barang antik yang cukup diendapkan dalam lemari pikiran, tetapi mereka adalah perangkat hidup yang sangat adaptif dan harus kita terapkan dalam keseharian.

Menjadi Santri yang Terus Bertumbuh

Setahun berjalan bergelut dengan dinamika pendidikan di Jogja. Perjalanan itu membawa saya pada satu titik kesimpulan, bahwa seyogyanya pohon pengetahuan pesantren itu dapat dirawat dengan tanpa menutup diri dari dunia luar, seperti pemikiran-pemikiran barat. Apa yang harus dilakukan santri ketika di luar adalah berani berdialog dengan segala macam bentuk perubahan zaman pun yang menyimpang tanpa harus kehilangan jati dirinya.

Bagi saya, integrasi-interkoneksi bukan lagi tulisan keren di brosur kampus atau spanduk seminar. Konsep itu adalah manifestasi seorang santri modern. Barangkali, dulu saya adalah siswi Aliyah yang sibuk memegang kamera demi konten berita pesantren. Sekarang, saya adalah mahasiswi yang membawa “lensa” pesantren itu untuk memotret dan memahami realitas dunia yang lebih luas.

Menulis opini ini rasanya seperti pulang ke Nurul Jadid, sejenak. Menghirup kembali udara pesantren melalui tulisan, meskipun kaki tetap tidak beranjak dari tanah Jogja. Pada akhirnya, di mana pun raga kita berpijak, baik di bawah terik matahari Paiton, pun di sudut perpustakaan Jogja, tujuan kita tetaplah satu: teguh pada prinsip bahwa ilmu yang kita cari hari ini adalah ilmu yang menuntun kita kembali kepada-Nya, lewat pengabdian kepada sesama.

Penulis: Wahdana Nafisatuz Zahra
Editor: Ahmad Zainul Khofi

 

 

“Andaikan, Andaikan, dan Andaikan”

Oleh: Muhammad Alfath

nuruljadid.net – Di sela-sela padatnya kegiatan pondok, tak jarang saya duduk berbincang-bincang bersama para santri lain. Tentu saja mereka—yang berjumlah ribuan dan berasal dari daerah yang berbeda-beda—memiliki latar belakang yang tidak sama. Pandangan hidup merekalah yang kemudian memperkaya pandangan saya akan hidup ini. Atau bahasa kerennya.. yaa, welsthanschaung mereka.

Tak jarang pula saya mendengar pengandaian-pengandaian mereka. Pengandaian yang berasal dari hati dan disalurkan lewat mulut mereka:

Andaikan aku gak mondok, pasti sekarang lagi chatan sama ayang,” ujar salah seorang santri untuk memulai pengandaian.

Yang lain ikutan nimbrung, “uhh, kalau saya pasti lagi mabar Mobile Legends sekarang”

“kalau saya, pasti lagi nonton film “eng ing eng” di pesbuk,” timbrung seorang teman mereka dengan muka mesum.

“Andaikan kita bukan santri, pasti sudah hidup ‘bebas’,” ujar salah seorang santri untuk “menyimpulkan” pengandaian-pengandaian mereka.

Semua ini adalah salah tiga contoh daripada bermacam-macam kesalahan penggunaan media sosial oleh umat manusia. Medsos yang memiliki jutaan manfaat justru disalahgunakan oleh pihak yang tidak profesional dalam menggunakannya.

Penggunaan medsos oleh santri malahan menimbulkan masalah identitas: mereka yang harusnya bangga melihat bagaimana kaumnya sudah go-International, malah menilai hal-hal yang tidak bisa dilakukannya sebagai kekurangan. Mungkin pihak yang berwenang perlu mengadakan “Kursus Bermedsos” untuk menanggulangi masalah ini. Kalau tidak yaa dampaknya akan seperti ini: timbul kalimat “andaikan, andaikan, dan andaikan” dari orang-orang—tanpa terkecuali kaum santri—yang menggunakannya.

Menjawab “Andaikan, Andaikan, dan Andaikan”

Yaa, timbullah perkataan “andaikan, andaikan, dan andaikan”, beserta ribuan pengandaian lainnya. Seolah-olah para santri pengandai itu tidak pernah berpikir bahwasanya terdapat  ratusan bahkan puluhan ribu orang yang mengandaikan dirinya menjadi seorang santri. Terlalu luas dunia ini bagi persepsi mereka yang sempit akannya. Terlalu sibuk melihat apa yang ada pada diri orang lain sampai lupa pada apa yang ada pada diri mereka sendiri. Amerika sudah mengandaikan bagaimana mendaratkan manusia di planet Mars, sedangkan kita masih mengandaikan bagaimana mendaratkan kepala kita pada bahu si dia. Adaahh…

Padahal, Habib Husein Ja’far Al-Hadar, seorang da’i generasi millenial, pernah berkata: “Tidak ada identitas yang lebih mulia, lebih agung, dan lebih baik di dunia ini daripada seorang santri”

Mungkin bagi sebagian orang, perkataan beliau terkesan mengada-ngada. Bagaimana mungkin seorang yang sekedar memakan tahu tempe dengan “wadah” plastik tanpa mencuci tangan dapat dikatakan mulia?

Namun, itulah kenyataannya. Para santri diajarkan merendah serendah tanah untuk meroket menembus bintang-bintang. Memberikan jasa yang tak terhingga bagi bangsa, agama, dan negara. Bagaimana tidak?, bangsa ini dapat terbebas dari belenggu penjajahan asing tidak lain dan tidak bukan adalah karena jasa para santri; visi islam sebagai agama yang rahmatan lil’alamain — bukan hanya rahmatan lilmuslimin apalagi sekedar rahmatan lil’arabiyyin— dapat terwujudkan di negeri yang kaya ini yaa sebab jasa para santri; Gusdur yang disegani dunia sampai-sampai dijuluki sebagai Guru Bangsa, yaa tidak lain dan tidak bukan adalah bagian dari kaum sarungan.

Lalu alasan apalagi bagi para pembaca yang merasa tersindir dengan tulisan 539 kata ini untuk merasa insecure menjadi seorang santri? Sampai-sampai “meng-qodho’ kemaksiatan” yang belum dilakukan di pondok  ketika pulang ke rumah?

Pertanyaan besarnya bukanlah “untuk apa menjadi santri?. Melainkan, pertanyaan besarnya adalah: “Mengapa aku harus menjadi santri?, Mengapa santri adalah identitas yang harus melekat pada diriku?, dan bagaimana aku dapat mulia karena menjadi seorang santri?”.

 

*) Penulis merupakan santri aktif Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo dan siswa aktif MTs Nurul Jadid

 

Editor: Ponirin Mika