Peran Kakak Asuh Jadi Kunci Pembentukan Karakter Santri Baru di OSABAR 2026

www.nuruljadid.net – Memasuki hari keempat pelaksanaan Orientasi Santri Baru (OSABAR) 2026, semangat para peserta maupun panitia tetap terjaga meski mulai dihadapkan dengan padatnya rangkaian kegiatan. Salah satu momen yang berkesan terjadi saat materi Pesantren Bebas Bullying yang berlangsung di Aula II Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ) pada Ahad (12/7/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Ning Muthaminnah Waqid atau yang kerap di sapa dengan Ning Iin selaku pemateri menyampaikan apresiasi kepada seluruh kakak asuh yang telah mencurahkan tenaga, waktu, dan perhatian dalam mendampingi ribuan santri baru selama pelaksanaan OSABAR.

“Bayangkan saja, ketika seseorang yang belum pernah menikah, apalagi memiliki anak, kemudian diamanahi menjadi kakak asuh untuk merawat, menuntun, dan menjadi panutan bagi anak orang lain. Ditambah lagi, jumlah adik santri yang harus didampingi mencapai ribuan,” dawuh Ning Iin.

Beliau juga mengingatkan pentingnya membangun budaya saling menghormati di lingkungan pesantren. Menurutnya, keharmonisan antara kakak asuh dan santri baru hanya dapat terwujud apabila masing-masing memiliki rasa saling memahami dan menghargai.

“Sikap saling memahami harus dipupuk oleh setiap orang. Yang muda harus menghormati yang lebih tua, sedangkan kakak asuh yang lebih tua juga harus menghargai adik-adiknya,” tambah beliau.

Apresiasi tersebut mendapat respons positif dari para kakak asuh. Nafis Aulia, salah seorang kakak asuh, mengaku terharu atas perhatian yang diberikan kepada mereka. Menurutnya, menjadi kakak asuh bukanlah tugas yang ringan karena harus mampu menjadi teladan bagi santri baru dalam bersikap dan berperilaku.

“Memang sangat berat. Kami harus mampu memberikan contoh yang baik agar santri baru memiliki figur dalam membangun karakter sopan santun, disiplin, dan tanggung jawab,” ungkap Nafis.

Meski demikian, ia merasa bangga melihat perkembangan para santri baru selama mengikuti OSABAR. Dari hari ke hari, mereka menunjukkan perubahan yang semakin positif, mulai dari kedisiplinan hingga kesiapan mengikuti setiap rangkaian kegiatan.

“Pada hari-hari awal mungkin belum terlihat perubahan yang signifikan. Namun, kini mayoritas peserta sudah mulai berkumpul sebelum waktu pengontrolan. Sikap mereka perlahan menunjukkan karakter seorang santri yang berakhlak baik,” tuturnya.

Di sela penyampaian materi, Ning Iin juga mengajak peserta yang mulai mengantuk untuk berdiri sejenak agar kembali fokus mengikuti pembelajaran. Sejumlah santri dengan sukarela mengikuti arahan tersebut sebagai bentuk kedisiplinan dan semangat dalam mengikuti kegiatan.

Menjelang berakhirnya sesi, seorang peserta yang mengalami kondisi kurang sehat segera mendapatkan pendampingan dari kakak asuh. Salsabela Ana Fahriya menjelaskan bahwa santri tersebut mengeluhkan pusing setelah meminta izin menuju kamar mandi. Melihat kondisinya, kakak asuh segera memberikan kesempatan untuk beristirahat hingga kondisinya membaik.

Menutup wawancara, Salsabela berharap semangat dan sikap positif yang telah dibangun selama OSABAR dapat terus dipertahankan oleh seluruh santri baru ketika menjalani kehidupan di Pondok Pesantren Nurul Jadid.

“Semoga setelah OSABAR, santri baru tetap mempertahankan akhlak dan perilaku baiknya kepada siapa pun. Meski kegiatan cukup padat dan melelahkan, kami melihat antusiasme mereka untuk belajar dan berproses sebagai santri sangat luar biasa,” pungkasnya.

Pewarta: Sufiyatun Namiroh Elok Mutiara
Editor : Maria Al Faradela

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *