Kakak Asuh Jadi Garda Terdepan Bimbing Santri Baru di OSABAR PPNJ
www.nuruljadid.net – Usai menuntaskan agenda tahunan Penerimaan Santri Baru (PSB) yang berlangsung pada tanggal 01 hingga 05 Juli lalu, Pondok Pesantren Nurul Jadid (PPNJ) bergerak cepat mempersiapkan tahapan berikutnya. Pesantren kini bersiap menggelar masa Orientasi Santri Baru (OSABAR) yang dijadwalkan berlangsung selama lima hari, mulai tanggal 09 hingga 13 Juli 2026 mendatang. Sebagai langkah awal kesiapan, pihak pesantren menaruh perhatian besar pada kesiapan para figur pendamping atau wali asuh yang akan membersamai santri baru. Langkah nyata tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan agenda Training of Trainers (TOT) khusus bagi kakak asuh terpilih.
Kegiatan pembekalan intensif ini dilaksanakan di Aula I PondokPesantren Nurul Jadid pada Selasa (07/07) pagi. Keberadaan Kakak asuh dinilai menjadi elemen paling krusial dalam masa transisi santri baru di lingkungan pesantren. Melalui TOT ini, pesantren berupaya mencetak kader pendamping yang tangguh dan memiliki kapabilitas mumpuni. Peran wali asuh di lapangan dituntut tidak hanya sekadar menjadi penunjuk jalan, melainkan menjadi sosok yang mampu memberikan bimbingan emosional secara mendalam.
Ketua Panitia OSABAR, Ustazah Inas Fahmiyah, menegaskan bahwa tugas yang diemban oleh para kakak asuh ini sangatlah kompleks. Sepanjang rentetan orientasi, mereka berkewajiban melekat untuk memantau perkembangan fisik maupun mental adik asuhnya. Kehadiran wali asuh diharapkan mampu meminimalisasi gegar budaya (culture shock) yang kerap dialami anak-anak yang baru pertama kali jauh dari orang tua. Secara teknis, setiap Kakak asuh bertanggung jawab penuh memastikan kehadiran dan partisipasi aktif adik asuh mereka di setiap sesi OSABAR melalui sistem absensi yang ketat.
Namun jauh di luar tugas administratif tersebut, fungsi utama mereka adalah mengayomi. Wali asuh harus selalu siap sedia menjadi tempat bersandar bagi para santri baru yang membutuhkan arahan atau sekadar teman bercerita di lingkungan barunya.”Tugas masing-masing kakak asuh ialah mendampingi adik asuh di setiap rentetan kegiatan OSABAR, memastikan adik asuh mengikuti semua kegiatan dengan mengabsen, serta mengayomi adik asuh di saat mereka membutuhkan,” ujar Ustazah Inas Fahmiyah menekankan esensi peran Kakak asuh.
Guna mematangkan kesiapan emosional para pendamping, panitia mengemas TOT dengan metode yang interaktif. Sebelum menerima materi berat, para kakak asuh diajak melakukan ice breaking untuk mencairkan suasana dan membangun kedekatan antar-sesama pendamping. Setelahnya, materi mendalam mengenai psikologi remaja dan pola pengasuhan santri disampaikan secara berurutan oleh Ustazah Faridatun Nuraini dan Ustazah Maria Al-Faradela.
Selama sesi pematerian berlangsung, para Kakak asuh dituntut fokus penuh dengan mencatat setiap poin penting pengasuhan di buku catatan masing-masing. Langkah ini diambil agar mereka memiliki panduan taktis yang bisa dibuka kembali saat menghadapi situasi riil di lapangan. Pemahaman teoretis ini dinilai penting agar pendekatan yang dilakukan kepada santri baru berbasis pada kasih sayang dan pemahaman psikologis.
Bobot pelatihan semakin diperkuat ketika para peserta TOT diminta melakukan simulasi kasus melalui metode bermain peran (roleplay). Secara berkelompok, para wali asuh mementaskan drama pendek di depan peserta lain mengenai contoh-contoh permasalahan konkret yang biasa dihadapi santri baru, mulai dari rasa rindu rumah (homesick) hingga kesulitan beradaptasi dengan kedisiplinan pesantren. Melalui drama ini, mereka langsung mempraktikkan cara penyelesaian masalah secara solutif dan persuasif.
Melalui persiapan matang ini, sosok wali asuh diproyeksikan dapat menjadi cerminan ideal atau role model bagi santri baru. Perilaku, kedisiplinan, dan ketepatan waktu yang ditunjukkan oleh kakak asuh akan menjadi contoh pertama yang direkam oleh para santri. Dengan demikian, proses penanaman nilai-nilai kepesantrenan dapat berjalan secara organik dan tanpa paksaan. Pada akhir sesi, Ustazah Inas Fahmiyah kembali menekankan harapan besarnya terhadap dedikasi para wali asuh. Kehadiran figur kakak asuh yang hangat diharapkan mampu mengikis habis sugesti ketakutan atau stigma negatif tentang kehidupan pesantren yang sempat membayangi pikiran santri baru.Dengan bimbingan yang terarah sejak hari pertama, para santri baru diharapkan bisa segera merasa nyaman dan betah menuntut ilmu di PPNJ.
Pewarta : Karisma Najwa Magdalena
Editor : Maria Al Faradela

