Pos

OSABAR : Satukan Santriwati dari Berbagai Wilayah dalam Semangat Ukhuwah

www.nuruljadid.net– Orientasi Santri Baru (OSABAR) 2026 tidak hanya menjadi ajang pengenalan kehidupan pesantren, tetapi juga menjadi ruang untuk menumbuhkan ukhuwah di antara santriwati yang berasal dari berbagai wilayah satelit Pondok Pesantren Nurul Jadid. Selama pelaksanaan orientasi, santriwati dari Wilayah Fathimatuzzahro’ (FAZA), Al-Mawaddah, Zaid bin Tsabit Putri, dan Al-Lathifiyah dipusatkan di Wilayah Fathimatuz Zahro untuk menjalani pembinaan dan kebersamaan dalam satu lingkungan.

Kebersamaan tersebut menjadi pengalaman baru bagi para santri. Mereka yang sebelumnya belum saling mengenal kini belajar hidup berdampingan, mulai dari menjalankan ibadah berjamaah, mengikuti pembiasaan pesantren, beristirahat, hingga menyelesaikan berbagai agenda OSABAR secara bersama-sama.

Panitia OSABAR, Qurrotu Aini, menuturkan bahwa penyatuan santriwati dari berbagai wilayah bukan tanpa tujuan. Menurutnya, OSABAR menjadi wadah bagi santri baru untuk membangun hubungan yang erat sejak awal masa mondok.

“Kami melihat para santri mulai saling mengenal melalui kebersamaan. Saat makan bersama, beristirahat, berbincang, hingga mengikuti kegiatan, perlahan rasa canggung mulai hilang dan tumbuh rasa kekeluargaan,” ujarnya.

Selain mengenalkan budaya dan tata tertib pesantren, OSABAR juga menjadi sarana untuk menanamkan nilai-nilai ukhuwah Islamiyah. Perbedaan asal daerah, latar belakang, maupun wilayah asrama tidak menjadi penghalang untuk saling membantu dan belajar bersama dalam suasana yang penuh kekeluargaan.

Selama lima hari pelaksanaan, panitia dan kakak asuh terus mendampingi para santri agar mampu beradaptasi dengan lingkungan pesantren sekaligus membangun hubungan yang harmonis dengan teman-teman barunya. Melalui interaksi yang terjalin dalam setiap aktivitas, para santri diajak untuk saling menghargai, bekerja sama, dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.

Dengan semangat kebersamaan tersebut, OSABAR 2026 diharapkan menjadi langkah awal lahirnya ukhuwah yang kuat di antara para santriwati. Tidak hanya menjadi teman selama menjalani pendidikan di Pondok Pesantren Nurul Jadid, tetapi juga menjadi saudara seperjuangan dalam menuntut ilmu dan membangun akhlakul karimah.

 

Pewarta: Sufiyatun Namiroh Elok Mutiara

Editor : Maria Al Faradela

Kiai Zuhri Zaini Ungkap Pentingnya Memiliki Sanad Keilmuan yang Jelas

berita.nuruljadid.net – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, menekankan bahwa menuntut ilmu agama tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan intelektual tetapi harus disertai dengan bimbingan seorang guru yang memiliki sanad keilmuan yang jelas. Pernyataan tersebut beliau sampaikan dalam sambutan acara wisuda Amtsilati ke-XVI dan Imrithi ke-VIII, yang digelar oleh Wilayah Zaid bin Tsabit Putri di Aula I Pesantren, Senin (26/05/25).

“Belajar agama tidak sama seperti belajar ilmu pengetahuan umum. Sebab belajar agama tanpa guru bisa menyebabkan ketidakjelasan sanad. Sedangkan pelajaran umum bisa dilakukan secara otodidak dengan mengandalakan kecerdasan,” ujar Kiai Zuhri di hadapan para santri dan wali santri.

Kiai Zuhri juga menyinggung urgensi pembelajaran bahasa Arab sebagai prasyarat untuk memahami teks-teks keislaman klasik. Menurut beliau, bahasa Arab bukan hanya alat komunikasi, tapi juga kunci untuk memahami Al-Qur’an dan khazanah klasik Islam.

“Hukumnya fardhu kifayah. Jika tak ada yang paham bahasa Arab, siapa yang akan menjaga dan mengajarkan ilmu agama yang menggunakan bahasa Arab?” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, beliau turut merekomendasikan penggunaan metode pembelajaran bahasa Arab dan membaca kitab klasik yang efektif seperti Amtsilati, Al-Miftah, dan Nubdatul Bayan.

“Dengan metode-metode tersebut, pembelajaran baahasa Arab atau cara membaca kitab klasik bisa dipercepat,” terang beliau.

Acara wisuda yang dihadiri ratusan santri dan wali santri ini berlangsung khidmat. Kiai Zuhri menutup sambutannya dengan ajakan reflektif, agar santri tidak hanya tekun belajar, tetapi juga terus menjaga adab dan sanad dalam setiap laku keilmuan.

 

Pewarta: Karisma Najwa Magdalena
Editor: Ahmad Zainul Khofi