Pos

Di Seminar Internasional, Wabup Probolinggo Dorong Pesantren Peka Terhadap Isu Geopolitik

berita.nuruljadid.netDi tengah gempuran perubahan sosial dan tantangan global, pesantren kembali ditegaskan sebagai pilar penting yang bukan hanya menjaga tradisi keilmuan Islam, tetapi juga dituntut menjadi motor transformasi bangsa. Hal ini mengemuka dalam Seminar Internasional bertema “Universal Islamic Values for a Peaceful and Inclusive Pesantren toward Global Civilization” yang digelar Aula I Pondok Pesantren Nurul Jadid pada Senin (01/12/25).

Dalam forum itu, Wakil Bupati Probolinggo, KH. Fahmi AHZ, memberi sorotan tajam mengenai peran strategis pesantren yang kini memasuki era baru di mana pesantren bukan hanya mengajarkan kitab kuning, tetapi juga membentuk santri yang mampu menjadi teladan.

Lora Fahmi, sapaan kerabnya, membuka pandangannya dengan menyebut pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang rekam jejaknya tercatat sebagai salah satu penopang kemerdekaan Indonesia.

“Pondok pesantren telah memberikan kontribusi besar. Sejak saat masa perjuangan, setelah kemerdekaan, hingga kini negara mengakui kiprah itu dengan menetapkan Hari Santri setiap 22 Oktober,” ujarnya.

Namun, beliau tak memungkiri bahwa beberapa tahun terakhir, di era digital, pesantren sering mendapat sorotan publik. Berbagai isu, yang dianggap sebagian orang tidak relevan, membuat pesantren mendapatkan atensi yang intens dari masyarakat.

“Karena itu kita tidak boleh tinggal diam. Pesantren harus merespons, harus bergerak,” tegasnya.

Lora Fahmi menekankan, pesantren harus memperkuat kapasitas kader bangsa yang dilahirkannya. Ilmu agama tetap menjadi fondasi, tetapi zaman menuntut santri untuk lebih dari itu.

“Santri ke depan bukan hanya harus mampu membaca literasi kitab kuning. Mereka juga harus beradaptasi dengan arus informasi yang luar biasa deras hari ini. Santri harus mengenal, tahu, bahkan menguasai literasi digital,” tandasnya.

Dengan demikian, menurutnya, dakwah pesantren tidak akan tertinggal. Justru sebaliknya, menjadi kekuatan baru dalam menyampaikan nilai-nilai Islam kepada masyarakat luas.

Dalam sambutannya, Lora Fahmi menceritakan pertemuannya dengan sejumlah pimpinan nasional saat kunjungannya ke Jakarta. Salah satu isu yang muncul adalah persoalan geopolitik global, khususnya ketahanan pangan.

“Berbagai negara menghadapi masalah ketahanan pangan akibat global warming. Petani kita semakin sulit memprediksi musim tanam dan panen. Risiko gagal panen meningkat,” katanya.

Indonesia, ujarnya, beruntung memiliki prioritas swasembada pangan yang didorong oleh Presiden. Namun, visi besar ini tidak akan terwujud tanpa gerakan ekonomi dari akar rumput.

“Presiden ingin meningkatkan perekonomian dari tingkat bawah. Dukungan negara diarahkan ke sana. Meski tentu ini tidak sejumlah menyenangkan pihak-pihak yang bermain di level atas,” ucapnya.

Ia memaparkan data produksi gabah dan jumlah penggilingan kecil yang jumlahnya lebih dari sekian unit di Indonesia. Namun demikian, total produksi nasional masih menunjukkan defisit.

Dari persoalan itu, Lora Fahmi menekankan bahwa pesantren memiliki peluang untuk memainkan peran ekonomi yang lebih signifikan. Ia menyebut pesantren sebagai “simpul masyarakat” yang memiliki jaringan luas, SDM besar, dan legitimasi sosial yang kuat.

“Pesantren bisa ikut dalam agenda ketahanan pangan, UMKM, pemberdayaan pertanian, sampai penguatan ekonomi mikro. Pesantren punya modal sosial yang tidak dimiliki lembaga lain,” ucapnya.

Menurutnya, jika pesantren terlibat aktif dalam transformasi ekonomi, maka dampaknya akan langsung menyentuh masyarakat kecil yang selama ini menjadi basis utama pesantren.

Melalui forum internasional ini, Wabup Probolinggo itu mengajak seluruh pengurus dan pemangku kepentingan pesantren untuk juga peka pada isu geopolotik. Pesantren harus berani bertransformasi tanpa kehilangan ruh tradisinya.

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika

Nurul Jadid Gelar Seminar Internasional, Rumuskan Nilai Islam Universal untuk Pesantren Ramah dan Inklusif

berita.nuruljadid.net – Biro Pendidikan Pondok Pesantren Nurul Jadid menggelar Seminar Internasional bertema “Universal Islamic Values for a Peaceful and Inclusive Pesantren toward Global Civilization” pada Senin (01/12/25). Acara yang digelar di Aula I Pesantren ini mendatangkan tokoh nasional hingga akademisi internasional untuk merumuskan nilai Islam universal sebagai respon atas masalah perundungan yang mendesak dunia pendidikan.

Dalam sambutan pembuka, Kiai Ahmad Madarik, Kepala Biro Kepesantrenan, menegaskan bahwa tema seminar ini menarik untuk merespons maraknya kasus perundungan yang akhir-akhir ini mencuat di lembaga pendidikan, termasuk pesantren.

“Dunia pendidikan sedang menghadapi peristiwa yang kurang mengenakkan. Kita sering mendengar laporan bullying, entah di sekolah, di pesantren, bahkan kepada pengajar,” ujarnya.

Ia menekankan perlunya kerja sama antara pemerintah dan penyelenggara pendidikan agar lingkungan pesantren benar-benar bebas dari praktik perundungan. Menurutnya, meski perundungan dahulu dianggap lazim, baik secara verbal maupun fisik, arus informasi yang semakin deras membuat dampaknya semakin kompleks bagi warga pesantren.

“Pesantren Anti Perundungan adalah harapan kami. Pesantren harus lebih ramah anak dan ramah santri,” tambahnya.

Nurul Jadid, kata Kiai Madarik, telah menyusun aturan khusus anti-perundungan sebagai upaya menghadirkan jaminan rasa aman bagi santri. Namun ia mengakui, kasus serupa masih terjadi, dipicu minimnya pengetahuan dan kesadaran santri.

Sementara itu, dari akademisi internasional, salah satunya hadir Rowan Gould, Co-Founder dan Co-Director Mosaic Connections Australia. Dalam sambutannya, ia menggarisbawahi pentingnya nilai-nilai Islam, terutama konsep ukhuwah, bagi masyarakat global yang kini saling terhubung dalam dunia digital.

“Nilai-nilai Islam memberi kontribusi besar bagi peradaban, khususnya yang terbentuk di Asia Tenggara dan Indonesia. Ini sangat diperlukan bagi kemaslahatan global,” ucapnya.

Rowan menilai, kolaborasi Australia–Indonesia melalui program Australia-Indonesia Muslim Exchange Program (AIMEP) selama ini menjadi jembatan yang efektif dalam merawat harmoni. Ia menyambut baik terselenggaranya seminar internasional ini sebagai ruang memperkuat dialog dua negara.

Dalam kesemaptan yang sama, Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur, Akhmad Sruji Bahtiar, menyoroti aspek historis pesantren sebagai lembaga yang berakar kuat dalam perjuangan bangsa.

“Kalau tidak ada pesantren, maka tidak ada negara. Dulu, para kiai dan tokoh tarekat telah melakukan banyak perlawanan dan kesiapan pasukan untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia,” kata Bahtiar mengutip sejarawan Agus Sunyoto.

Potret Kepala Kanwil Kemenag Jatim, Akhmad Sruji Bahtiar, tengah memberikan sambutan pembuka (opening remarks) di awal acara Seminar Internasional.

Namun, Bahtiar menilai peran pesantren dalam pembangunan nasional saat ini masih belum ditopang struktur birokrasi yang memadai. Ia menyinggung kebutuhan mendesak hadirnya Direktorat Jenderal Pesantren agar dikelola oleh orang-orang yang benar-benar memahami kultur pesantren.

“Selama ini fungsi pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan pesantren tidak tertangani secara struktural. Yang berjalan hanya fungsi pendidikan, itu pun sebatas bantuan pesantren yang masih sangat terbatas,” terangnya.

Pada beberapa halaqah yang digelar Kemenag, pihaknya telah mengumpulkan aspirasi tentang apa saja yang perlu masuk dalam agenda kerja Dirjen Pesantren. Bagi Bahtiar, masukan dari kalangan pesantren sangat penting agar regulasi yang lahir benar-benar mencerminkan kebutuhan riil lembaga.

Bahtiar juga menyinggung masalah perundungan yang semakin banyak dilaporkan setiap hari. Menurutnya, pendekatan menyelesaikan persoalan ini harus dimulai dari individu yang sadar.

“Pendekatan untuk melahirkan kesadaran individu itu, efektifnya harus ditopang oleh program, seperti SOP, sistem, pengawasan, dan semacamnya,” imbuhnya.

Ia menegaskan, pendidikan karakter dan empati harus diperkuat, dibarengi kampanye internal, sistem pengawasan yang anti-kekerasan, serta pendekatan restoratif.

“Bahkan mikro-ekspresi kita saja bisa dimaknai kekerasan. Karena itu konstruksi besar untuk meniadakan kekerasan di pesantren sangat diperlukan,” tegasnya.

Seminar internasional ini tidak hanya menjadi ajang pertukaran gagasan global, tetapi juga momentum untuk meneguhkan kembali pesantren sebagai ruang aman, inklusif, dan berperan aktif dalam menciptakan peradaban dunia yang damai.

 

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika