Pos

Sistem PSB Online Nurul Jadid Beri Kepastian Kuota Santri Lintas Negara

www.nuruljadid.netJarak ratusan kilometer hingga bentangan lautan kini bukan lagi sekat yang menyulitkan langkah untuk menuntut ilmu di Pondok Pesantren Nurul Jadid. Bertepatan dengan dibukanya Penerimaan Santri Baru (PSB) tahun ajaran 2026 pada Kamis (02/07) siang, sebuah lompatan digital kembali dihadirkan. Lewat sistem pendaftaran berbasis online, pesantren tidak hanya sekadar membuka gerbang fisik, melainkan telah memindahkan loket pendaftaran langsung ke dalam genggaman tangan para wali santri di mana pun mereka berada.

Strategi ini diambil sebagai langkah taktis untuk meruntuhkan kendala geografis dan efisiensi waktu yang selama ini kerap menjadi tantangan klasik setiap musim PSB. Melalui platform digital yang telah terintegrasi, seluruh rangkaian administrasi hulu dapat dirampungkan secara mandiri dari rumah. Mulai dari pengisian biodata diri, pengunggahan dokumen wajib seperti Kartu Keluarga (KK) dan akta kelahiran, pemilihan wilayah pemukiman santri, penentuan lembaga pendidikan formal, hingga transaksi pembayaran uang pangkal.

Inovasi ini mengubah paradigma lama pendaftaran pesantren yang identik dengan antrean panjang dan berkas yang menumpuk. Dengan mendesentralisasikan proses pengisian data ke ranah digital, Nurul Jadid berhasil memangkas birokrasi dan waktu tunggu secara signifikan. Skema ini sengaja dirancang untuk memberikan kepastian dan kenyamanan bagi wali santri, khususnya mereka yang berasal dari pelosok daerah, luar provinsi, bahkan yang berdomisili di luar negeri.

Bagi para wali santri yang tinggal jauh dari wilayah Paiton, Probolinggo, sistem daring ini memberikan ketenangan psikologis tersendiri. Mereka tidak perlu lagi berspekulasi melakukan perjalanan jauh tanpa kepastian kuota penampungan.

“Sistem pendaftaran online ini sangat membantu wali santri yang berasal dari jauh seperti saya ini. Jadi sebelum saya kesini, saya sudah dapat kuota terlebih dahulu,” ujar salah seorang wali santri dengan nada lega saat ditemui di area pesantren.

Kepastian kuota dan validasi data yang telah dikantongi sejak dari rumah ini secara otomatis mengubah pola kedatangan sirkulasi massa di lingkungan pesantren. Ketika menginjakkan kaki di bumi Nurul Jadid, beban administrasi wali santri sudah berkurang lebih dari separuh. Mereka tidak lagi disibukkan dengan urusan isi-mengisi formulir secara manual atau fotokopi berkas yang tertinggal, melainkan langsung masuk ke tahap penyelesaian akhir (finishing). Di area domestik pesantren, calon santri baru hanya tinggal melewati fase registrasi akhir, penyerahan fisik dokumen pendukung untuk arsip, serta mengikuti prosesi pembacaan ikrar santri.

Efisiensi di lini hulu ini berdampak pada longgarnya waktu yang dimiliki panitia dan calon santri, sehingga mereka dapat menjalani sisa rangkaian prosedur dengan kondisi fisik dan mental yang jauh lebih prima serta tenang. Setelah seluruh proses verifikasi fisik rampung, barulah calon santri baru diarahkan untuk mengikuti rangkaian tes seleksi. Standardisasi ujian seleksi ini disesuaikan secara spesifik berdasarkan jenjang pendidikan formal yang dipilih oleh santri, mulai dari tingkat dasar hingga menengah atas.

Alur yang tertata rapi ini membuat proses pemetaan potensi akademik dan keagamaan santri dapat berjalan jauh lebih objektif dan terukur. Kebijakan mengadopsi sistem pendaftaran berbasis internet ini menegaskan posisi Pondok Pesantren Nurul Jadid sebagai lembaga pendidikan Islam yang adaptif dan visioner. Langkah ini merupakan bentuk komitmen konkret jajaran pengasuh dan pengurus dalam menghadirkan pelayanan publik yang humanis, cepat, dan akuntabel.

Transformasi ini menjadi bukti bahwa keterbukaan terhadap kemajuan teknologi dapat berjalan beriringan dengan keteraturan manajemen organisasi. Menariknya, modernisasi sistem administrasi ini sama sekali tidak menggerus identitas lokal dan nilai-nilai luhur kepesantrenan yang menjadi fondasi utama Nurul Jadid. Teknologi tidak diposisikan sebagai pengganti kultural, melainkan sebagai instrumen pendukung (enabler) untuk mempermudah khidmah pelayanan kepada umat.

Nilai kesopanan, ketertiban,dan silaturahmi tetap terjaga erat saat wali santri berinteraksi di faseluring.Melalui keberhasilan operasionalisasi PSB online dihari pertama ini, Nurul Jadid kembali mengirimkan pesan kuat kepada dunia pendidikan: bahwa tradisi dan modernitas bisa dikawinkan dengan elok. Digitalisasi ini diharapkan mampu menjaring talenta-talenta santri terbaik dari berbagai penjuru dunia tanpa terkendala jarak, sekaligus memantapkan langkah Nurul Jadid menuju ekosistem Smart Pesantren yang berkemajuan.

Pewarta: Neil Lathoifa Rahmania
Editor   : Ponirin Mika

Hari Pertama yang Tak Terlupakan: Jejak Awal Santri Baru di Nurul Jadid

www.nuruljadid.net-Suasana di lingkungan Pondok Pesantren Nurul Jadid terasa berbeda dari hari-hari biasanya. Sejak matahari belum sepenuhnya meninggi,kendaraan dari berbagai daerah sudah mulai memadati area pesantren. Wajah-wajah baru sebagian masih menyimpan rasa gugup, sebagian lagi memancarkan semangat. turun satu per satu, membawa tas, koper, dan harapan yang sama : memulai babak baru kehidupan sebagai santri. Rabu pagi,(1/7/2026),

Hari itu bukan sekadar hari pertama Penerimaan Santri Baru(PSB) 2026. Hari itu adalah hari ketika ratusan cerita baru mulai ditulis.Di Aula II dan lingkungan Madrasah Aliyah Nurul Jadid, antrean panjang calon santri dan wali tak menyurutkan semangat. Setiap map berisi dokumen yang digenggam erat oleh wali santri menyimpan makna lebih dari sekadar berkas administratif. ia adalah simbol kepercayaan yang dititipkankepada pesantren untuk mendidik buah hati mereka.

Di balik meja-meja verifikasi, para petugas bekerja dengan cermat namun penuh keramahan, memastikan setiap data tercatat dengan benar. Bukan hanya soal ketelitian sistem, tapi juga tentang bagaimana setiap santri baru merasa disambut sejak langkah pertama mereka menginjakkan kaki di lingkungan pesantren. Momen paling menyentuh datang ketika satu per satu santri membacakan Ikrar Santri, lalu membubuhkan tanda tangan berdampingan dengan wali mereka.

Sebuah janji sederhana, namun sarat makna, awal dari komitmen panjang untuk menuntut ilmu dan membentuk karakter. Dan ketika kamera membidik wajah setiap santri baru untuk diabadikan dalam data digital, ada senyum kecil yang muncul di sana. Senyum yang mungkin belum menyadari betapa besar perjalanan yang akan mereka lalui setelah hari itu.

Setelah proses administrasi rampung, langkah selanjutnya membawa mereka menuju gedung asrama tempat baru yang akan menjadi rumah kedua.Di sana, para wali asuh dan pengurus telah menanti, siap mengangkut barang bawaan, mengarahkan kamar, dan menjelaskan seluk-beluk kehidupan asrama dengan sabar. Bagi banyak wali santri, momen melepas anak-anak mereka ke pelukan lingkungan pesantren adalah momen yang mengharukan campuran antara kekhawatiran dan kepercayaan penuh.

Hari pertama PSB 2026 di Nurul Jadid bukan hanya menjadi hari administratif. Ia menjadi penanda dimulainya perjalanan panjang menuntut ilmu, membentuk akhlak, dan menemukan jati diri. perjalanan yang dimulai dari satu langkah sederhana: melangkah masuk ke gerbang pesantren, dengan hati yang siap untuk tumbuh.

Pewarta : Maria Al Faradela
Editor     : Ponirin Mika

Ke Nurul Jadid, Hayu Pergi dengan Cita dan Doa

berita.nuruljadid.net – Suasana hari terakhir Penerimaan Santri Baru (PSB) Satu Atap di Pondok Pesantren Nurul Jadid dipenuhi kesibukan para wali santri. Di tengah keramaian aula, Khoiriyah, seorang ibu asal Situbondo, tampak tenang mendampingi putrinya, Hayu Jacinta Sutanto, yang resmi menjadi santri program MIPA SMP Nurul Jadid. Rabu (09/07/25).

Yang istimewa, keinginan untuk mondok datang murni dari Hayu sendiri. “Itu keinginannya sejak kelas lima SD,” ujar Khoiriyah. “Saya hanya berdoa agar anak-anak saya menjadi pribadi yang berbakti. Sisanya, saya serahkan pada Allah.”

Khoiriyah mengaku bukan berasal dari lingkungan pesantren. Namun, ia sangat berharap anak-anaknya bisa merasakan pendidikan pesantren, tidak hanya untuk memperkuat ilmu agama, tetapi juga untuk membentuk karakter yang kuat dan peka secara batin.

Dalam mendidik anak, Khoiriyah mengedepankan pendekatan yang lembut dan penuh kasih. “Saya tidak pernah memukul anak. Salat malam dan doa itu penting, tapi anak-anak juga perlu didengar. Bukan ditakuti,” tuturnya.

Hayu sendiri tampak mantap dengan pilihannya. Ia ingin memperdalam ilmu dan meraih prestasi untuk membanggakan orang tua. “Saya yakin di sini saya bisa belajar banyak,” katanya, sembari membetulkan letak kacamatanya.

Bagi Khoiriyah, kepergian Hayu ke pesantren adalah buah dari ikhtiar panjangnya sebagai seorang ibu. Ia yakin Nurul Jadid menjadi tempat yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai dasar kehidupan. “Saya ingin Hayu jadi contoh bagi saudara-saudaranya, dan mungkin bagi yang lain juga,” pungkasnya.

 

Pewarta: Haura Dzil Izza El Bayu
Editor: Ahmad Zainul Khofi

Kartu e-Bekal, Solusi Uang Saku dan Identitas Santri

berita.nuruljadid.net – Pagi, sekitar pukul 08.09 WIB, saat matahari masih bersinar merah di Paiton, suasana Penerimaan Santri Baru (PSB) Satu Atap Pondok Pesantren Nurul Jadid tampak ramai, Selasa (08/07/25). Para calon wali santri berdiri mengantre sambil membawa map berisi dokumen pendaftaran. Di meja-meja posko, petugas sibuk memverifikasi data, mengambil foto, lalu mengetik cepat di layar laptop. Di tempat inilah mereka mengantre untuk membuat e-Bekal, kartu elektronik multifungsi bagi santri.

Sejak 2019, e-Bekal hadir sebagai solusi di tengah krisis pandemi. Saat itu, kunjungan wali santri dibatasi, dan pengiriman uang saku menjadi persoalan. “Waktu itu Gus Faiz mengusulkan aplikasi Simpanan Bekal Santri (SBS) dari Bandung,” tutur Haeroni, Teller 1, menjelaskan awal mula lahirnya e-Bekal.

Kini, empat tahun berselang, namanya berubah menjadi e-Bekal Santri, dengan fungsi yang semakin luas. Selain sebagai alat transfer uang, kartu ini juga berfungsi sebagai kartu identitas resmi santri, alat transaksi di koperasi, dan syarat perizinan kegiatan luar pesantren.

“Kalau anak kami pergi kuliah di kampus, tinggal tunjukkan e-Bekal. Sudah aman,” kata Ibu Aminah, wali santri asal Sidoarjo, sambil menunjukkan bukti top-up Rp200.000 dari gawainya.

E-Bekal tak hanya memudahkan orang tua, tapi juga mengubah gaya hidup santri. Kini, santri tidak bisa belanja sebebasnya. Wali santri dapat mengatur limit harian, memantau riwayat transaksi, serta meminimalkan risiko kehilangan uang.

“Ibaratnya, kalau kehilangan uang Rp100.000, dengan e-Bekal uang kita tetap aman. Hanya kartunya yang hilang, dan itu bisa diblokir serta diganti baru,” jelas Cinta Fahmi Nabila, siswi kelas 7 SMP Nurul Jadid.

Meski sempat menimbulkan kebingungan di awal peralihan, para santri kini mulai terbiasa menggunakan e-Bekal, terutama sebagai alat transaksi dan syarat perizinan keluar pesantren.

“Awalnya ribet, apalagi kami nggak pegang uang tunai,” ungkap Bintang Rachmatullah, santri putra. “Tapi sekarang enak, belanja di koperasi juga tinggal tap. Lebih aman.”

Petugas e-Bekal menghadapi tantangan logistik, khususnya saat PSB. Jumlah pemohon bisa mencapai ratusan per hari. Distribusi kartu, terutama bagi santri putri, memerlukan waktu lebih lama. “Kami atur penginputan pagi, cetak sore, malamnya sudah aktif,” ujar Haeroni. “Tapi distribusinya kami bagi dua hari, agar tertib.”

Pewarta: Nabilatul Hikmah
Editor: Ahmad Zainul Khofi

Inovasi Pembayaran PSB Berbasis Digital, Wali Santri Antusias

berita.nuruljadid.net – Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, kembali menunjukkan terobosan dalam tata kelola administrasi modern. Pada proses Penerimaan Santri Baru (PSB) tahun ajaran 2025/2026, pesantren ini menerapkan sistem pembayaran berbasis digital melalui layanan perbankan dan virtual account. Rabu (09/07/25).

Seluruh proses pembayaran dipusatkan di ruang administrasi terpadu dengan dukungan langsung dari petugas bank dan panitia pesantren. Sistem ini memungkinkan wali santri melakukan transaksi secara cepat, aman, dan fleksibel tanpa harus mengantre panjang atau datang dari jauh.

“Hal itu dilakukan untuk memudahkan wali santri dalam melakukan pembayaran,” kata Tahiruddin, Sekretaris Pesantren Nurul Jadid. Ia menyebut, sistem ini telah terbukti efektif sejak diterapkannya sistem PSB satu atap.

Muslehuddin Jauhari, selaku Kepala Sub Bagian Umum dan PSB, menambahkan bahwa layanan ini dirancang untuk menciptakan kenyamanan dan efisiensi dalam setiap tahap pembayaran. “Kita ingin memberikan pelayanan yang prima, tidak hanya tertib, tapi juga transparan,” ujarnya.

Selain mempercepat alur administrasi, penggunaan virtual account juga meminimalisir potensi kesalahan pencatatan dan mempermudah pelacakan transaksi. Sistem ini dinilai sebagai wujud nyata komitmen Nurul Jadid dalam menghadirkan layanan berbasis teknologi yang terintegrasi dengan nilai-nilai kepesantrenan.

Sementara itu, Fatmawati Ningsih, selaku bagian adminstrasi putri menjelaskan bahwa pembayaran bisa melalui transfer bank atau secara tunai. Pihak pesantren menyediakan berbagai pilihan transfer bank seperti Bank Mandiri, Bank Jatim, BRI, BCA, BNI, dan lain-lain. Pilihan bank tersebut bertujuan untuk mempermudah wali santri.

“Sejauh ini mayoritas wali santri memilih metode pembayaran secara tunai. Namun, dengan pilihan transfer dari beberapa bank itu juga mampu mempermudah wali santri. Tak hanya itu, pesantren juga mengizinkan pembayaran dengan berbentuk cicilan. Jadi, wali santri bisa membayar setengah atau Down Payment (DP) dari total pembayaran,” terang beliau.

Fasilitas pembayaran berbasis digital ini dapat mempercepat proses pengurusan berkas administrasi pendaftaran. Hal tersebut mendapatkan apresiasi dari wali santri.

“Menurut kami fasilitas dan pelayanan yang di sediakan oleh pondok sudah memuaskan. Karena kami tidak perlu mengantre, mungkin hanya menunggu sekitar lima menit, Saya juga pendatang, lalu panitia langsung mengarahkan saya sehingga prosesnya berjalan lebih cepat dan tidak membuat saya kebingungan,” ungkap salah satu wali santri.

Dengan penerapan sistem ini, Pondok Pesantren Nurul Jadid dinilai sukses menjadi contoh pesantren yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan identitasnya. Inovasi ini mendapat apresiasi positif dari para wali santri yang merasakan langsung kemudahan proses administrasi.

 

Pewarta: Isya Ramadhaniati
Editor: Ahmad Zainul Khofi

Di Balik Bersihnya Lantai-lantai PSB Satu Atap

berita.nuruljadid.net – Seorang balita berlari kecil menuju karung sampah berwarna hitam, menggenggam bungkus air gelas plastik di tangannya. Di sampingnya, sang ibu tersenyum dan menjamu tangan belita ke karung sampah tepat di depannya. Di kejauhan, beberapa santri berseragam hijau tua tampak memunguti botol plastik dan bungkus bekas makanan. Hari itu, area Penerimaan Santri Baru (PSB) Satu Atap Pondok Pesantren Nurul Jadid bersih dari sampah berserakan sedikitpun, Senin (07/07/25).

Mereka disebut Santri Kalpataru, satuan kecil santri pecinta lingkungan yang tahun ini turun langsung di PSB Satu Atap. Bukan sekadar memungut sampah, mereka juga membawa misi menghidupkan kembali kesadaran ekologis di tengah hiruk-pikuk ribuan wali santri yang datang dari berbagai penjuru.

“Dulu, habis PSB, lantai-lantai penuh plastik dan sisa makanan. Sekarang, bersih,” ujar Ahmad Rifaldi, Komandan Kalpataru, saat ditemui di gerbang masuk PSB Satu Atap. Ia tampak masih mengenakan rompi bertuliskan “Santri Kalpataru,” dengan tangan kiri membawa kantong besar berisi kumpulan sampah yang telah dipungutnya.

Gerakan yang mereka sebut Layanan Hijau (Green Service) ini lahir dari keprihatinan atas kebiasaan membuang sampah sembarangan, terutama di momentum besar seperti PSB. Maka, sejak hari pertama PSB Satu Atap, tim Kalpataru disebar ke berbagai titik. Tugas mereka sederhana namun strategis, mereka berkeliling membawa tempat sampah portabel, memisahkan sampah organik dan anorganik, serta, yang terpenting, memberi edukasi pada tamu yang memadati halaman area PSB Satu Atap.

“Bukan menyuruh, tapi menunjukkan,” kata Rifaldi. “Kami percaya, ketika orang melihat yang muda peduli, mereka akan ikut menjaga.”

Dan benar saja. Pemandangan menarik terjadi di hari kedua. Seorang ayah yang baru saja mengantarkan anaknya ke ruang registrasi, mendekati anggota Kalpataru. Ia bertanya, “Ini botol plastik masuk mana, Mas?” Sejurus kemudian, ia mengantarkan bungkus air itu ke tempat yang tepat.

Gerakan kecil itu menjalar cepat. Di berbagai sudut, para tamu, wali santri, bahkan anak-anak kecil ikut menjaga kebersihan. Bukan karena ada larangan keras, tapi karena mereka merasa ini adalah ruang bersama yang layak dijaga.

Menurut Rifaldi, keberhasilan Layanan Hijau tak lepas dari pendekatan persuasif. Tidak ada spanduk peringatan keras. Tidak ada suara marah-marah. Hanya aksi nyata dan wajah ramah.

“Ini bukan soal kebersihan saja,” ujar Rifaldi. “Tapi tentang pendidikan sosial. Kami ingin tunjukkan bahwa pesantren bukan sekadar tempat ibadah dan belajar, tapi juga tempat merawat bumi.”

Hari itu, terik panas matahari yang mengendap di dinding-dinding ruang registrasi tak menghambat keringat santri Kalpataru menyucur deras. Halaman pesantren tetap bersih. Tak ada sampah berserakan. Hanya suara anak-anak yang berlarian, petugas-petugas PSB yang melayani dan para santri Kalpataru yang tetap berjalan nikmat dengan karung dan alat pemungut sampahnya.

Pewarta: Ahmad Zainul Khofi
Editor: Ponirin Mika