Di Ospektren 2025, Ny. Muthmainnah Terangkan Etika Akademik dan Cara Santri Berkawan dengan AI
berita.nuruljadid.net – Topik kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang belakangan ramai diperbincangkan turut menjadi sorotan dalam sesi pematerian Orientasi Pengenalan Kampus dan Pesantren (OSPEKTREN) Universitas Nurul Jadid, Sabtu (20/09/25). Di hadapan para mahasiswi baru yang memadati Aula II Pesantren, Ny. Hj. Muthmainnah Waqid, Wakil Sekretaris Pesantren sekaligus narasumber, membincangkan soal etika akademik dan bagaimana mahasiswi bersikap bijak terhadap AI.
Sejak awal, Ny. Muthmainnah menekankan pentingnya mahasiswi memahami dan menerapkan etika akademik sebagai fondasi sikap, pedoman tindak-tanduk akademik, dan ukuran integritas seorang santri.
“Hal pertama yang akan dilihat dari seseorang adalah akhlak, terutama dari seorang santri. Bukan perkara kepintaran dan prestasinya,” terangnya.
Ny. Muthmainnah memulai sesi dengan analogi sederhana. Beliau mengumpamakan mahasiswi sebagai tamu, sedangkan beliau adalah tuan rumahnya. “Kalau bertamu, yang sopan itu langsung masuk atau tunggu dipersilakan?” tanyanya. Pertanyaan itu segera dijawab serempak oleh para mahasiswi.
Hal yang menyita banyak perhatian adalah penegasan beliau tentang betapa pentingnya menjaga kejujuran dalam akademik. Menurutnya, banyak kebiasaan mahasiswi yang mengandalkan AI untuk menyelesaikan tugas akademik tanpa memahami konteks keilmuan.
“Di zaman sekarang yang fasilitasnya terpenuhi, malah banyak mahasiswi yang membiarkan otaknya kosong dengan bertanya pada AI,” jelasnya.
Bagi Ny. Muthmainnah, kemajuan teknologi bukan menjadi alasan untuk meninggalkan proses berpikir. Beliau tidak menolak AI, tapi memperingatkan bahayanya jika dijadikan alat pelarian dari tanggungjawab akademik.
Dalam forum yang berlangsung sekitar satu jam itu, Ny. Muthmainnah juga menyinggung soal kedisiplinan di pesantren. Beliau tak menampik bahwa hidup di bawah aturan bisa terasa menekan. Tapi, katanya, keterpaksaan kadang perlu untuk membentuk karakter.
“Hidup perlu aturan. Kalau tidak terima, maka meninggal saja,” ujarnya setengah bercanda, setengah serius.
Beliau menggarisbawahi bahwa kode etik mahasiswi bukan sekedar alat kontrol. Tujuannya jelas: memandu perilaku, menjaga nama baik almamater, membentuk pribadi berintegritas, dan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
“Semua ada aturannya. Guru ada kode etiknya. Pengurus ada kode etiknya. Bahkan wilayah pun diatur,” katanya.
Dalam sistem yang berbasis komunitas seperti pesantren, katanya, aturan menjadi tulang punggung yang mencegah kekacauan. Tanpa itu, pesantren akan kehilangan wajahnya sebagai lembaga pendidikan yang menjunjung nilai.
OSPEKTREN kali ini juga melibatkan seluruh mahasiswi baik reguler maupun mahasiswi penerima beasiswa program Kartu Indonesia Pintar (KIP). Berbeda dengan tahun sebelumnya yang dilaksanakan secara terpisah. Kegiatan ini akan berlangsung hingga Senin, 22 September 2025.
Pewatra: Farhah Robbaniyah Izzah Dzikri & Nabilatul Hikmah
Editor: Ahmad Zainul Khofi








