Pos

Jejak Sang Ayah Mengantarkan Abi Menjadi Santri Nurul Jadid

www.nuruljadid.net– Semangat baru terpancar dari wajah Ahmad Nabirullah, bocah asal Kanigaran yang akrab disapa Abi, saat resmi menyandang status santri baru di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Kamis (02/07/26). Bagi Abi, hari itu bukan sekadar awal tahun ajaran, melainkan babak baru yang menyambungkan jejak ayahnya sebagai alumni pondok yang sama.

Abi adalah generasi kedua dalam keluarganya yang mengabdikan diri menjadi santri. Jauh sebelum ia mengenakan seragam dan membawa koper ke asrama, keputusan untuk mondok sebenarnya datang bukan dari keinginannya sendiri, melainkan dorongan dari orang tua yang ingin melanjutkan tradisi keluarga.

Namun, seiring waktu, sesuatu berubah dalam diri Abi. Rasa penasaran perlahan tumbuh menjadi semangat yang tulus. “Tadinya nurut sama kemauan orang tua buat mondok, tapi lama-lama jadi kepingin sendiri karena kepo suasana pondok,” ujar Abi.

Pilihan SMP, Bukan MTs

Sebagai lulusan Sekolah Dasar (SD), keluarga Abi sengaja mengarahkannya untuk masuk SMP Nurul Jadid, bukan MTs Nurul Jadid. Pertimbangannya sederhana namun matang: menghindari kebingungan mata pelajaran akibat perbedaan latar belakang pendidikan dasar.

“Saya dan keluarga pikir lebih baik Abi masuk di SMP Nurul Jadid karena dia lulusan Sekolah Dasar bukan Madrasah Ibtidaiyah, kalau daftar di MTs Nurul Jadid khawatir Abi susah beradaptasi dengan perubahan drastis. Alasan lain karena ayahnya alumni SMP Nurul Jadid,” jelas Lia Anggra Sari, ibunda Abi.

Jejak Sang Ayah yang Jadi Alasan Kuat

Keputusan itu tak lepas dari sosok Hamzah Umar Saifullah, ayah Abi, yang sejak lama bertekad menjadikan anak-anaknya santri seperti dirinya. Sebagai alumni SMP Nurul Jadid, Hamzah telah mengenal betul seluk-beluk kehidupan pesantren, dan meyakini Nurul Jadid sebagai salah satu pondok pesantren terpercaya di Probolinggo. Keyakinan itu turut disuarakan Bu Lia kepada para calon wali santri yang masih ragu menentukan pesantren bagi anaknya.

“Buat calon wali santri yang masih kebingungan, Nurul Jadid adalah pilihan terbaik yang bisa saya sarankan. Di sini standar pendidikannya sudah melampaui standar pendidikan pesantren dan fasilitas serta layanannya sangatlah oke,” tuturnya.

Doa di Ujung Perpisahan

Sebelum benar-benar melepas putra kesayangannya menempuh hidup baru di pondok, pasangan Hamzah dan Lia menitipkan harapan dan doa tulus untuk masa depan Abi.

“Saya harap semoga Abi bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya, baik dari akhlak, ibadah, dan ilmu yang diperoleh, juga dipermudah dalam proses belajar. Dan semoga Abi mendapat barokah para masyayikh Pondok Pesantren Nurul Jadid,” ucap keduanya.

Kisah Abi menjadi gambaran kecil dari banyak santri lain: perjalanan yang berawal dari tuntutan keluarga, namun berakhir menjadi pilihan hati yang tulus untuk menuntut ilmu dan mencari berkah di pesantren.

Pewarta : Reva Evelina Nabila
Editor    : Maria Al Faradela