Lewat Simulasi, Santri Baru Belajar Membangun Pesantren Ramah Santri

www.nuruljadid.net– Suasana berbeda tampak pada sesi materi Pesantren Ramah Santri dalam rangkaian Orientasi Santri Baru (OSABAR) 2026 Pondok Pesantren Nurul Jadid, Ahad (12/7/2026). Di penghujung materi, peserta tingkat SLTP tidak hanya menerima pemaparan teori, tetapi juga diajak mempraktikkan secara langsung melalui simulasi berbagai bentuk perundungan (bullying) yang kerap terjadi di lingkungan sekitar.

Simulasi yang dipandu oleh Wakil Lembaga Konseling Pesantren (LKP) bersama pemateri Ning Muthaminnah Waqid atau akrab di sapa Ning Iin tersebut bertujuan memperkuat pemahaman santri baru dalam mengenali perilaku perundungan, memahami dampaknya, sekaligus mengetahui cara menyikapi dan mencegahnya sesuai nilai-nilai kepesantrenan.

Melalui beberapa ilustrasi kasus, para peserta diminta mengidentifikasi tindakan yang termasuk bullying, peran korban, pelaku, maupun saksi, serta langkah yang tepat untuk menghentikan tindakan tersebut. Kegiatan berlangsung interaktif dengan melibatkan peserta secara langsung sehingga materi lebih mudah dipahami.

Ning Iin menjelaskan bahwa menciptakan lingkungan pesantren yang aman bukan hanya menjadi tanggung jawab pengurus atau kakak asuh, melainkan seluruh warga pesantren.

“Sikap saling memahami harus dipupuk oleh setiap orang. Yang muda harus menghormati yang lebih tua, sedangkan kakak asuh yang lebih tua juga harus menghargai adik-adiknya,” dawuh Ning Iin.

Beliau juga mengapresiasi dedikasi para kakak asuh yang selama pelaksanaan OSABAR telah mendampingi ribuan santri baru dengan penuh kesabaran dan tanggung jawab.

“Bayangkan saja, ketika seseorang yang belum pernah menikah, apalagi memiliki anak, kemudian diamanahi menjadi kakak asuh untuk merawat, menuntun, dan menjadi panutan bagi anak orang lain. Ditambah lagi, jumlah adik santri yang harus didampingi mencapai ribuan,” tutur beliau.

Melalui simulasi tersebut, peserta tampak antusias menyampaikan pendapat dan berdiskusi mengenai solusi terhadap berbagai bentuk perundungan yang diperagakan. Pendekatan praktik ini diharapkan mampu membangun keberanian santri untuk saling mengingatkan, melindungi teman, serta tidak menjadi pelaku maupun pembiar terhadap tindakan bullying.

Dengan adanya sesi praktik ini, materi Pesantren Ramah Santri tidak berhenti pada pemahaman konseptual, tetapi juga membentuk kesiapan peserta dalam menerapkan budaya saling menghargai, menghormati, dan menjaga sesama selama menjalani kehidupan di Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Pewarta : Maria Al Faradela
Editor : Ponirin Mika

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *