Ikhtiar Pesantren Nurul Jadid Merawat Dakwah di Ruang Digital
www.nuruljadid.net– Di era ketika algoritma media sosial bergerak lebih cepat daripada ruang diskusi kelas, lembaga pendidikan Islam tradisional dihadapkan pada satu tantangan besar: bagaimana tetap relevan tanpa kehilangan jati diri? Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, memilih untuk tidak menjadi penonton pasif. Lewat program rutin Sekolah Kehumasan, pesantren ini sedang menyusun ulang strategi komunikasi mereka di era kecerdasan buatan dan tsunami informasi.
Langkah ini bukan sekadar pelatihan teknis musiman. Di bawah komando Divisi Hubungan Masyarakat (Humas) dan Informasi Komunikasi (Infokom), Sekolah Kehumasan dirancang sebagai kawah candradimuka untuk mencetak kader-kader informasi yang tidak hanya cakap digital, tetapi juga adaptif terhadap perubahan zaman.
Selama ini, humas di lembaga institusi pendidikan keagamaan sering kali dipersepsikan secara sempit—hanya sebagai penerima tamu, pembuat rilis seremonial, atau dokumentator kegiatan. Namun, paradigma usang itu kini sedang didekonstruksi secara total di Nurul Jadid.
Kepala Humas dan Infokom PP Nurul Jadid, Ponirin Mika, menegaskan bahwa lanskap media hari ini menuntut humas untuk melompat lebih jauh. Di era di mana misinformasi bisa menyebar dalam hitungan detik, humas pesantren harus bertransformasi menjadi benteng pertahanan sekaligus produsen konten yang ofensif dalam menyebarkan kebaikan.
“Tugas humas di era saat ini tidak hanya sebagai simbol atau penerima tamu semata,” ujar Ustadz Ponirin Mika dengan nada tegas. “Lebih dari itu, humas adalah penggerak opini publik yang positif dan garda terdepan dalam menjaga reputasi serta nilai-nilai lembaga.”
Argumen Ponirin beralasan. Kompleksitas tantangan digital saat ini membutuhkan respons yang terstruktur. Oleh sebab itu, kurikulum Sekolah Kehumasan di PP Nurul Jadid sengaja disusun secara komprehensif. Para peserta—yang terdiri dari perwakilan tiap lembaga pendidikan dan santri yang berminat—tidak hanya diajari cara menulis berita (straight news), melainkan juga dibekali ilmu manajemen krisis, analisis media, videografi, hingga pemahaman mendalam tentang etika komunikasi publik digital.
Namun, di atas semua keterampilan teknis modern tersebut, ada satu benang merah yang tidak boleh putus: nilai kepesantrenan. Di sinilah letak keunikan kehumasan berbasis pesantren dibandingkan dengan humas korporat atau instansi pemerintahan.
Ponirin Mika menambahkan bahwa setiap konten, unggahan, maupun grafis yang diproduksi oleh media sosial pesantren mengemban misi teologis yang berat. Media sosial bukan sekadar alat untuk menaikkan citra (branding), melainkan perluasan dari mimbar dakwah visual.
“Humas bertugas menjadikan media sosial pesantren sebagai alat untuk berdakwah, menyebarkan nilai-nilai kebaikan dan kedamaian sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW,” pungkas Ponirin.
Dalam konteks jurnalisme pesantren, ini berarti penyebaran konten harus mengedepankan prinsip tabayyun (verifikasi), kesantunan dalam berbahasa, serta inklusivitas. Pesantren ingin memastikan bahwa algoritma media sosial yang cenderung memecah belah, dapat diredam dengan konten-konten yang menyejukkan dan membawa kemaslahatan bagi umat.
Melalui konsistensi penyelenggaraan Sekolah Kehumasan ini, PP Nurul Jadid sebenarnya sedang melakukan investasi jangka panjang. Output yang diincar bukan sekadar tumpukan dokumentasi foto yang rapi di laman website resmi, melainkan lahirnya ekosistem digital yang sehat di lingkungan pesantren.
Dengan melatih para guru, staf, dan santri, Nurul Jadid tengah mendistribusikan peran humas ke setiap lini. Ketika setiap elemen pesantren telah melek digital dan memahami prinsip komunikasi publik, maka narasi Islam yang rahmatan lil ‘alamin—yang ramah, mendidik, dan beradab—akan bergaung lebih nyaring di ruang publik digital yang kian bising.
Pewarta : Ponirin Mika



Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!