Banjir, Keangkuhan dan Keserakahan

Fenomena banjir bukanlah takdir yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Banjir merupakan sebuah kejadian akibat dari keserakahan dan keangkuhan manusia. Manusia yang berprilaku tidak terdidik dan memelihara kesombongan, melahirkan arogansi dan ketamakan. Dengan sikap seperti itu, akan menimbulkan kemurkaan kemurkaan alam. dalam sejarah, peristiwa banjir Nabi Nuh memang sangat fenomenal dan masih tetap menjadi perbincangan umat beragama sampai sekarang. Alquran dan Injil memang menceritakan banjir zaman Nabi Nuh ini. Alquran juga menceriterakan tentang umat Nabi Luth yang gemar melakukan homoseks dan akhirnya ditimpa gempa dahsyat yang diikuti dengan hujan batu. Namun, apakah banjir zaman Nabi Nuh terjadi semata-mata karena kutukan Tuhan?  mungkin saat ini, perilaku biadab manusia berbeda dengan zaman Nabi Nuh dan Nabi Luth, akan tetapi nilai kedurhakaannya bisa saja melebihi. prilaku manusia modern, terkadang bisa jauh lebih jahat dari pada perilaku manusia terdahulu. untuk itu, fenomena kemurkaan alam tidak bisa di pahami sebagi takdir, lebih dekat akiba kepada kebiadaban manusia atas prilaku tidak terpujinya.

Kesombongan membuat lupa diri, lupa akan statusnya sebagai hamba Tuhan, padahal tak seorangpun mempunyai kuasa selain atas pertolonganNya. Sikap seperti inilah yang merusak pangkat manusia dihadapan Tuhan sebagai mahluk paripurna. Keistimewaan akal yang diberikan Tuhan, di harapkan mampu mengarahkannya menjadi mahluk yang bisa menjadi wakil Tuhan di muka bumi.

Keserakahan atau ketamakan salah satu sifat “binatang” karena dengan sikap ini tidak akan mengenal arti kebersamaan, kesetaraan dan empati. Justru akan menuntun untuk membangkitkan rasa ego pada akhirnya akan menghilangkan sifat kemanusiaan.

Banjir dalam agama tidak hanya bisa di maknai adalah ujian Tuhan, namun bisa mempunyai arti sebagai balasan (azab) Tuhan bagi manusia yang sudah melupakan kewajibannya. Kewajiban kepada tugasnya untuk menjaga kelestarian lingkungan, lebih-lebih melupakan tugasnya sebagai hamba Tuhan sebagi mahluk beribadah.

Dalam alqur’an Allah berfirman yang artinya “ janganlah engkau membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya” . Imam Abu Bakar Ibnu Ayyassy Al-Kuufi, ketika ditanya tentang firman ini beliau berkata “sesungguhnya Allah mengutus Nabi Muhammad SAW kepada umat manusia sewaktu mereka dalam keadaan rusak, maka Allah memperbaiki mereka dengan petunjuk yang di bawa oleh Nabi Muhammad SAW.

Kerusakan sebab keserakahan

Karena sebab utama dari kerusakan adalah ulah perbuatan manusia dengan segala bentuknya, mereka tidak mampu mengoptimalkan juga memaksimalkan potensi akal dengan baik. Segala tindak tanduk perbuatannya tak beroreintasi kepada kemaslahatan ammah, justru prilakunya mengundang kemarahan Allah.

larangan atas perbuatan ini sangat tegas, berarti ada konsekwensi logis yang akan terjadi apabila manusia tidak melaksanakan perintah ini dengan baik. Terbentuknya manusia menjadi khalifah karena manusia adalah mahluk paripurna dengan kesempurnaan potensi yang diberikan Allah. Tugas untuk memakmurkan alam bukan tanpa alasan, karena dengan cara memakmurkan ini segala mahluk bisa menikmati suguhan-suguhan Allah di muka bumi. Namun jika segala ciptakan Allah di muka bumi rusak akan mengakibatkan seluruh elemen akan kebingungan. Kebingungan tersebut karena mencari tanaman-tanaman dan tetumbuhan yang layak akan mengalami kesulitan. Inilah subtansi dari perintah Allah terhadap manusia untuk menjaga dan memilihara lingkungan dengan baik.

Prilaku yang menyebabkan kerusakan dan keserakahan merupakan prilaku orang munafik, orang yang mempunyai nilai keimanan yang sangat rendah. Kemunafikan membawa keserakahan dan keserakan membawa kebiadaban, semua ini membuat mahluk akan menjauhi Tuhan Yang Maha indah. Orang munafik tidak akan membuat kedamaian dan ketentraman, karena antara hati dan ucapannya akan mencelakai lingkungan sekitar. Begitu juga fenomena banjir, ia tidak mungkin akan terjadi apabila seseorang menjunjung tinggi sikap terpuji. Ahlak terpuji bukan hanya di praktikkan kepada Allah semata, melainkan kepada sesama manusia dan lingkungan sekitar. Tidak salah jika ada seseorang yang berpendapat bahwa “ tidak sempurna keimanan seseorang, jika ia tidak menjaga lestarinya lingkungan” .

Banjir dan keangkuhan 

Ketiga hal ini, tidak bisa di pisahkan sehingga gejala alam akan membawa kepada kemudaratan. Bisa saja, segala upaya untuk meminimalisir banjir sudah dilakukannya, dengan dinamisasi sungai dan membuat alat-alat modern agar banjir tak lagi terjadi. Namun karena keangkuhan sikap dan hatinya, ia seakan mampu melakukan semuanya tanpa pertolongan Allah, maka karena sikap ini membuat murka Allah terjadi sehingga Allah memperingati dengan cara mendatangkan banjir agar ia kembali sadar bahwa kekuasaan Allah di atas segalanya.

Negeri yang damai dan terpelihara dari musibah, apabila orang-orangnya menyadari bahwa segala upaya dan kemapuan intelektualitasnya hanya sebagai sarana doa kepada Allah. Bukan di yakini sebagi tuhan, sehingga akal menjadi di pertuhankan. Allah berjanji akan menyelamatkan suatu negeri jika di negeri itu banyak orang yang beriman. Ciri-ciri orang yang beriman tidak hanya mereka yang berdikir di masjid-masjid juga bukan orang memakai gamis dan berkalung tasbih. Tapi mereka yang mampu melakukan interaksi vertikal dan horisontal. Interaksi kepada Allah dengan wujud ibadah mahdhahnya dan interaksi horisontal mampu melakukan hubungan baik kepada sesama manusia dan lingkungannya. Iman yang baik berimplikasi kepada prilaku baik, seperti ini wujud mahluk paripurna.

Mari kita kembali merenungkan, terhadap sikap kita, pengusaha  dan para pemimpin bangsa ini. Bangsa yang selalu gaduh dalam persoalan politik, keyakinan dan mencari jawara. Perbedaan sebuah keniscayaan, jika cara menyikapi dengan perilaku tak terpuji maka bisa menodai terhadap kebenaran. Akhirnya jika sebuah kebenaran tidak lagi menjadi kiblat dari segala pergerakan dan perjuangan, maka akan lahir kebiadaban-kebiadaban. Tanpa di sadari bahwa ada takdir Allah yang kita lawan, akhirnya segala hukuman Allah harus diterima dengan lapang dada, sebagai bentuk hamba yang beriman. Akhirnya semua adalah akibat ulah kebiadaban manusia, dengan pola pikir, prilaku dan keyakinannya yang jauh menyimpang dari kebenaran. Wallahu’alam

Penulis : Ponirin Mika (Sekretaris Biro Kepesantrenan PP. Nurul Jadid, dan Anggota Komunitas Critical Social Research, Paiton, Probolinggo)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply